Faidah Macam Apa?

“Betapa banyak orang yg berbangga dengan perbincangan bersama guru tanpa sedikit pun mendulang faidah darinya lantaran tenggelam dalam hasut untuk menyauk marah dan amarah.. kini kau lihatlah, mereka teperdaya bisikan hati lantas melemparkan para guru ke kancah fitnah”

Ummu Laudza

membaca ini, menengok apa yang sedang ramai diperbincangkan, rasanya nyesek…

ternyata bukan saya saja yang merasa bahwa para thullab sekarang menurut apa yang saya lihat, lebih asik bertanya ke hal-hal yang justru ‘menyeret’ para guru ke kancah ‘fitnah’.

menanyakan hal yang kontekstual tanpa dijelaskan duduk perkara detainya, lalu hasilnya dijadikan hujjah dalam hal-hal yang sifatnya bukan yang ‘umum’

sekarang jadi bertanya-tanya, seberapa banyak pelajar yang memang berniat lurus dan tulus mencari kebenaran, bukan semata-mata pembenaran argumennya.

dan yang lebih disayangkan adalah membawa-bawa nama guru sebagai penguat ‘hujjah’nya

bagi saya yang hanya seorang thuwailibah, hal ini sangat disayangkan. memprihatinkan

semoga dugaan dan isi kutipan di atas tidak benar

*sedang random, padahal ga ikutan nulis random*

Hadits-Hadits Lemah dan Palsu tentang Ramadhan dan Puasa #1 [copas dari Ustadz Anshari Taslim]

Pendahuluan

Dalam pembahasan kali ini saya ingin mengetengahkan beberapa hadits yang tidak bisa dipakai sebagai hujjah dalam hal apapun termasuk untuk fadhilah amal, karena kualitas sanadnya yang palsu atau sangat lemah. Selanjutnya, saya akan memisahkannya dengan hadits-hadits yang tidak terlalu lemah, karena dari segi pendalilan akan berbeda, terutama bagi madzhab yang mengatakan bolehnya mengamalkan hadits dha’if yang tidak terlalu parah kelemahannya untuk fadhilah amal dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Hadits-hadits semacam ini cukup sering didengar dalam berbagai ceramah maupun kajian di bulan Ramadhan disampaikan oleh para ustadz yang mungkin belum mengetahui bahwa itu adalah hadits yang tidak boleh disampaikan kepada umat kecuali dengan menjelaskan kelemahannya.

Hadits-hadits yang masuk kategori ini adalah hadits dengan derajat maudhu’ (palsu) berdasarkan keterangan para ulama di bidang ini. Hadits-hadits palsu Meliputi:
Hadits yang tidak jelas asal usulnya yang bisa disebut oleh para ahli ”Laa ashla lahu” (Tidak ada asalnya). Hadits semacam ini tidak ditemukan dalam kitab yang mu’tabar (dipegang sebagai acuan). Biasanya hanya terdapat dalam kitab-kitab yang berisi nasehat dan ajakan tanpa mencantumkan sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satu kitab yang banyak memuat hadits-hadits model begini adalah kitab Durratun Nashihin, karya Al Khubawi yang cukup terkenal di negeri ini.
Hadits yang terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar dengan sanad yang lengkap, tapi salah satu atau beberapa rawinya dinyatakan sebagai pemalsu hadits, atau pembohong oleh para ulama jarh wa ta’dil.

Haram hukumnya meriwayatkan hadits-hadits palsu kecuali untuk menerangkan kepalsuannya, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, ”Siapa saja yang menceritakan hadits dariku dan dia tahu itu palsu, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.”(HR. Muslim dalam shahihnya dari Samurah bin Jundub dan Al Mughirah bin Syu’bah).

Sedangkan hadits-hadits yang sangat lemah dalam disiplin ilmu hadits ada dua macam:
Matruk, dimana ada rawinya yang terkenal suka berdusta, meski belum pernah ketahuan berdusta dalam hadits dan tak ada yang meriwayatkan hadits itu selain dia, atau terlalu banyak kemaksiatan yang dia kerjakan dan itu diketahui orang banyak.
Mungkar, cirinya, bermuara hanya pada satu orang, meski di bawahnya diriwayatkan oleh banyak orang darinya, dan si muara ini adalah rawi yang dha’if dan atau riwayatnya bertentangan dengan riwayat rawi yang ’adil.

Sebetulnya ada satu lagi yang biasa disebut mathruh, tapi setelah diteliti kategori ini sebenarnya masuk ke dalam matruk.

Hadits yang sangat lemah meskipun banyak tapi derajatnya sama, maka tidak bisa naik derajatnya ke hasan li ghairih, melainkan tetap saja lemah dan tak bisa diamalkan, bahkan untuk fadhilah amal sebagaimana syarat yang diajukan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar.

Beberapa hadits palsu dan amat lemah tentang Ramadhan dan puasa:

1.Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri,

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

”Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Status: Palsu (maudhu’)

Alasan:
Semua jalurnya melalui Abu Bakr An Naqqasy yang disebut oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai Dajjal pemalsu hadits. (Lihat: Tabyin Al-’Ajab, hal. 40-41).
Keterangan:
Hadits ini dibahas panjang lebar oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam risalahnya ”Tabyiinul ’Ajab bimaa warada fii Syahri Rajab”, dan beliau berkesimpulan hadits di atas palsu.

Hadits dengan makna senada juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Fadha`il Al-Awqaat, dengan sanadnya dari Ghanjar, dari Nuh bin Abu Maryam, dari Zaid Al-Ammi, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas. Al-Hafizh memastikannya palsu karena adanya Nuh bin Abu Maryam yang ber-kunyah Abu ’Ishmah. (tabyiin Al-’Ajab, hal. 41).

Akan tetapi Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits dengan lafaz ini hanya dha’if sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhuu’ah, no. 4400. Riwayat yang ia bawakan adalah yang terdapat dalam kitab At-Targhib karya Al-Ashbahani dalam At-Targhib dari Qiran bin Tamam, dari Yunus, dari Al-Hasan (Al-Bashri), Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Demikian nukilan Syekh Al-Albani. Saya temukan hadits ini dalam kitab At-Targhib karya Qawam As-Sunnah Al-Ashbahani dengan sanad sebagai berikut:

أخبرنا عبد الواحد بن علي بن فهد ببغداد، ثنا أبو الفتح بن أبي الفوارس، ثنا عبد الله بن محمد بن جعفر، ثنا عبد الله بن محمد بن زكريا، ثنا يوسف بن إسحاق البابي وكان ثقة، ثنا محمد بن بشير البغدادي، ثنا قران بن تمام، عن يونس، عن الحسن، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

((من صام يوماً من رجب عدل له بصوم سنتين، ومن صام النصف من رجب عدل له بصوم ثلاثين سنة)) .

وقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((رجب شهر الله -عز وجل- وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي)) .

Sanad ini jelas dha’if karena mursal, Hasan Al-Bashri bukan sahabat Nabi, melainkan tabi’in. Juga ada nama Muhammad bin Basyir Al-Bahdadi, yaitu Muhammad bin Basyir bin Marwan bin ‘Atha` Al-Kindi Al-Wa`izh. Biografinya disebut oleh Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (2/98-99) dan menukil dari Ibnu Ma’in yang mengatakannya, “Tidak tsiqah”, juga Ad-Daraquthni yang menyebutnya, “Tidak kuat dalam hadits.”

Dengan demikian hadits ini teranggap sangat lemah. Wallahu a’lam.

  1. Diriwayatkan:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَ صُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَ عَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَ دُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَ ذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
”Tidurnya orang puasa itu adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya akan dilipatgandakan, doanya terkabul dan dosanya terampuni.”

Status hadits: Sangat lemah

Keterangan:
Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Hadits ini sendiri diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam ”Syu’ab Al-Iman” dari Abdullah bin Abu Aufa. Dalam sanad Al-Baihaqi ada nama Sulaiman bin ’Amr An-Nakha’i yang dianggap pemalsu hadits. (Lihat: As-Silsilah Adh-Dha’ifah, no. 4696 dan Faidh Al-Qadir, karya Al-Munawi, juz 6 hal. 378, no. 9293).

Dengan demikian sanad ini palsu.

Tapi hadits ini ada syahid (penguat)nya dijelaskan oleh Syekh Al-Albani secara panjang lebar dalam As-Silsilah Adh-Dha’ifah juz. 10, hal. 230 – 231. Intinya, derajat hadits dengan redaksi di atas tidak sampai palsu, melainkan hanya dha’if jiddan (sangat lemah). Wallahu a’lam.

  1. Hadits:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرانِ
”Barangsiapa bergembira akan datangnya bulan Ramadhan, niscaya Allah akan mengharamkan jasadnya dimakan api neraka.”

Status: Tidak ada asalnya.

Keterangan:
Hadits ini terdapat dalam kitab Durratun Nashihiin, karya Utsman Al-Khubawi yang terkenal memuat banyak hadits palsu dan sangat lemah, meski tak sedikit pula hadits shahih dalam kitab itu.

Berhubung hadits ini tidak bisa ditemukan dalam kitab-kitab yang mu’tabar, maka penulis berkesimpulan hadits ini palsu.

4.Hadits doa malaikat Jibril: ”Ya Allah tahan puasa (jangan terima) umat Muhammad bila memasuki Ramadhan dia belum meminta maaf kepada orangtuanya, atau istri belum minta maaf kepada suami, atau orang-orang terdekat….”

Hadits ini yang belakangan berkembang, setelah mencari-cari ternyata hadits ini tidak ada asalnya. Besar kemungkinan ini diucapkan oleh orang yang hafalannya salah kemudian diforward ke teman-temannya baik via internet maupun mulut ke mulut.

Memang ada hadits doa malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tapi redaksinya bukan demikian, melainkan sebagai berikut:
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallm naik ke mimbr lalu berkta, “Amin, 3X”. Para sahabat bertanya. “Kenapa Anda berkata ‘Amin,(3X), Ya Rasulullah?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril datang kpdku dan berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yzng jika disebut nama engkau namun ia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, lalu Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tapi keluar dari bulan tersebut tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorng yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tapi justru tidak memasukkan ia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.

Hadits ini shahih sebagaimana dijelaskan oleh Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Az-Zawa`id. Perhatikan perbedaan redaksinya dengan yang pertama.

5.Hadits

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Kalau saja para hamba itu tahu apa yang terdapat di Ramadhan niscaya ummatku ini akan berharap Ramadhan itu terjadi sepanjang tahun.”

            Ini adalah potongan hadits yang panjang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya nomor 1886. Juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, no. 3361, Abu Ya’la dalam musnadnya, no. 5273, semua dari jalur Jarir bin Ayyub Al-Bajali, dari Asy-Sya’bi, dari Nafi’ bin Burdah, dari Abu (Ibnu) Mas’ud Al-Ghifari RA.

Jalur lain diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (22/388) melalui jalur Hayyaj bin Bistham, Abbad menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Abu Mas’ud Al-Ghifari RA.

            Hadits ini dha’if bahkan sebagian ulama mengatakannya palsu karena baik Jarir bin Ayyub Al-Bajali maupun Hayyaj bin Bistham adalah dua orang yang lemah dan tak bisa saling menguatkan karena kelemahan mereka termasuk parah. Bahkan Ibnu al-Jauzi memasukkannya dalam kitab Al-Maudhu’at (2/189) dan disetujui oleh Asy-Syaukani dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah (1/88).

Jarir bin Ayyub al-Bajali dianggap Yahya bin Ma’in “tidak ada apa-apanya”, Al-Bukhari menganggapnya “munkarul hadits”, An-Nasa`iy menganggapnya, “matrukul” bahkan Abu Nu’aim mengatakan dia memalsukan hadits. (Lihat: Mizan Al-I’tidal 1/391).

Abu Hatim mengatakan, “dhaiful hadits, munkarul hadits, ditulis haditsnya tapi tidak boleh dijadikan hujjah.”

Abu Zur’ah mengatakan, “munkarul hadits” (Lihat Al-Jarh wa At-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim jilid 2, hal. 502-503).

            Sementara Hayyaj bin Bistham dikatakan lemah oleh Ibnu Ma’in dan Abu Hatim sedangkan Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud mengatakannya matruk. Ibnu Hibban mengatakannya biasa meriwayatkan hadits-hadits yang parah dari orang-orang tisqah. (Lihat Mizan Al-I’tidal 4/318, Al-Majruhin 3/96).

            Dengan demikian status hadits ini sangat lemah sehingga tak bisa dipakai meski dalam fadhilah amal. Wallahu a’lam.

Bersambung insya Allah.

Anshari Taslim, 11 Juni 2015.

______________________________________

Alhamdulillaah Ustadz Anshari posting artikel iniii… beliau Ustadz yang saia ngefans berat ama pembahasan ilmu hadits juga ushul fiqh.. oiya sama satu lagi fiqh, terutama fiqh muamalah…

baarakallahu fiihi

oiya beliau baru launching PO buku baru (meski sebenarnya sudah lama, namun makin dimantabkan dan dicetak ulang lagi). Dulu judulnya Shahih Fadhilah Amal, sekarang “Thariqus Shalihin”

mau? langsung ke fb blio sajaaa

thariqus shalihin

Obatilah Penyakit Itu

“Orang yang tidak mau mentadabburi al-Quran itu immaa dia kafir, immaa dia munafiq. Kalau bukan memang asli kafir, berarti muslim namun munafiq. Ga ada orang yang mukmin (benar-benar beriman) itu malas mentadabburi al-Quran.
Kalau misal dalam sebulan kita malas sekali mentadabburi al-Quran, berarti pasti qolbu kita ada titik-titik kemunafikan. Entah karena kita suka berbohong, entah karena kita suka mengingkari janji, entah karena kita berlaku fajir ketika terjadi sesuatu permasalahan, atau apapun dari sifat-sifat kemunafikan itu ada. Maka harus introspeksi diri.
Sifat kemunafikan itu musuh tadabbur al-Quran. Karena tadabbur al-Quran itu obat, munafik itu penyakit. Penyakit pasti tak mau ada obat yang masuk.”

🌾Ustadz Hasan al-Jaizy🌾
Pada kajian Tafsir Ibnu Katsir pukul 05.20 pagi tadi

IMG-20150320-WA0011

lagi-lagi kejleb…

T_T

Link Audio Kajian Nyantrend (NWD)

Link Audio Kajian Nyantrend

Ustadz Hasan Al-Jaizy

 jadwal

jadwal

[update hari Selasa tanggal 7 April 2015]

Kajian yang baru (mulai 10 Maret 2015):

  1. Weekdays

 

  • Pagi

  • Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’

Menggunakan kitab terjemah Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i

 IMG_20150326_0001

https://archive.org/details/AdDaaWaAdDawaa

Yang sudah di-upload pertemuan 1-3 dari 4 pertemuan

  • Kursus Bahasa Arab

Durusul Lughah, An-Nahwu al-Waadhih, Kitab At-Tashrif

IMG_20150326_0002

 IMG-20150322-WA0018

IMG_20150326_0001 (2)

https://archive.org/details/kursusarabicnyantrend

DL Yang sudah di-upload pertemuan 1-6 dari 7 pertemuan

NW Yang sudah di-upload pertemuan 1-3 dari 4 pertemuan

KT Yang sudah di-upload pertemuan 1-2 dari 3 pertemuan

  • Ushul Fiqh

Menggunakan kitab terjemah “Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Penerbit Media Hidayah berjudul “Ushul Fiqih”

 IMG_20150326_0003

https://archive.org/details/ushulfiqhnwd

Yang sudah di-upload pertemuan 1-6 dari 7 pertemuan

  • Shahih Al-Bukhari al-Jami’

Merupakan kajian hadits yang ada di Kitab “Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtashar min ‘Umuri Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi” (atau dikenal al-Jami’ ash-Shahih/ Shahih al-Bukhari) baik sisi sanad maupun matan.

https://archive.org/details/shahihbukharynwd

Yang sudah di-upload pertemuan 1-5 dari 7 pertemuan

(Sampai pembahasan hadits ke-2)

  • Mushthalah al-Hadits

Menggunakan kitab terjemah “’Ilmu Mushthalah al-Hadits” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Penerbit Media Hidayah berjudul “Mushthalah Hadits”

 IMG_20150326_0005

https://archive.org/details/musthalahnwd

Yang sudah di-upload pertemuan 1-5 dari 7 pertemuan

  • Syarh Matn Abi Syuja’

Menggunakan kitab terjemah “At-Tadzhib fi Adillat Matan al-Ghayat wa at-Taqrib al-Masyhur bi Matan Abi Syuja’ fi al-Fiqh asy-Syafi’i” karya DR. Musthafa Diib Al-Bugha Penerbit Media Zikir berjudul “Fikih Islam Lengkap Penjelasn Hukum-Hukum Islam Madzhab Syafi’i”

 IMG_20150326_0006

https://archive.org/details/matnabysyuja

Yang sudah di-upload pertemuan 1-3 dari 3 pertemuan

  • Malam

 

  • Zaadul Ma’ad

Menggunakan kitab asli beserta terjemah Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Penerbit Griya Ilmu

zaadul-maad-set-griya-ilmu

https://archive.org/details/zadulmaad

Yang sudah di-upload pertemuan 1-11 dari 13 pertemuan

  1. Weekend

  • Syarh Ushul Ats-Tsalatsah

Menggunakan kitab terjemah “Syarh Ushul ats-Tsalatsah” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Penerbit Darul Haq berjudul “Ulasan Tuntas tentang 3 Prinsip Pokok”

ushul ats tsalatsah

https://archive.org/details/syarhushul3

Yang sudah di-upload pertemuan 1-2 dari 3 pertemuan

Kajian yang sudah lama berlangsung (melanjutkan):

  1. Weekdays

  • Tafsir As-Sa’dy

Menggunakan kitab terjemah “Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan” karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Penerbit Darul Haq berjudul “Tafsir Al-Qur’an (1) Surat Al-Fatihah – Ali Imran”

IMG_20150326_0004

https://archive.org/details/sadynwd

Yang sudah di-upload pertemuan 1-42 dari 45 pertemuan

(Sampai ke Tafsir al-Baqoroh 102 1/3 awal)

  1. Andalusia

 

  • Tafsir Al-Qurthuby

Kajian kitab tafsir “Al-Jami’ lil-Ahkami Al-Qur’an” Karya Imam al-Qurthubi

 IMG_20150326_0007

top quality

https://archive.org/details/nyantrendcordoba128

standard quality

https://archive.org/details/nyantrendcordoba32

Yang sudah di-upload pertemuan 1-22 dari 23 pertemuan

  1. Weekend

  • Tafsir Ibnu Katsir

Menggunakan kitab terjemah “Al-Mishbaahul Muniir fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsiir” karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri Penerbit Pustaka Ibnu Katsir berjudul “Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9”

 IMG_20150326_0008

top quality

https://archive.org/details/TafsirIbnuKatsir128

Yang sudah di-upload pertemuan 1-31 dari 36 pertemuan

standard quality

https://archive.org/details/TafsirIbnuKatsir32

Yang sudah di-upload pertemuan 1-30 dari 36 pertemuan

(Juz 30 An-Naba  sampai Ath Thariq, dan Al-Hasyr)

  • Tafsir al-Aisar

Menggunakan kitab terjemah “Aisar At-Tafaasir Likalaamil ‘Aliyyil Kabiir” karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Penerbit Darus Sunnah berjudul “Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar” Jilid 1 dan Jilid 7

 IMG_20150326_0009

IMG_20150326_0010

top quality

https://archive.org/details/TafsirAisar128

standard quality

https://archive.org/details/TafsirAisar32

Yang sudah di-upload pertemuan 1-36 dari 38 pertemuan

(Muqadimah, isti’adzah dan basmalah, al-Fatihah, al-Baqarah 1-71;

al-Mulk, al-Qolam 1-16)

  • Taudhih al-Ahkam Syarah Bulughul Maram

Menggunakan kitab terjemah “Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram” karya Syaikh Al- Abdullah bin Abdurrahman Bassam Penerbit Pustaka Azzam berjudul “Syarah Bulughul Maram Jilid 1”

 IMG_20150326_0011

top quality

https://archive.org/details/TASBM128

Yang sudah di-upload pertemuan 1-9 dan 11-27 dari 28 pertemuan

standard quality

https://archive.org/details/TASBMWeekend

Yang sudah di-upload pertemuan 1-27 dari 28 pertemuan

  • Fawaidul Fawaid

Menggunakan kitab terjemah Fawaidul Fawaid karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i

IMG_20150326_0012

top quality

https://archive.org/details/Fawaid128

Yang sudah di-upload pertemuan 2-9 dan 11-25 dari 27 pertemuan

standard quality

https://archive.org/details/Fawaid32

Yang sudah di-upload pertemuan 2-25 dari 27 pertemuan

(audio pertemuan ke-1 karena angin sangat kencang jadi tidak bisa diupload –kalau ga salah inget-, tapi ada di youtube)

  • Mukhtashar Shahih Bukhari

Menggunakan kitab terjemah “Mukhtashar Shahih Bukhari” yang disusun oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Penerbit Pustaka As Sunnah berjudul “Ringkasan Shahih Bukhari”

buku-ringkasan-shahih-al-bukhari

top quality

https://archive.org/details/mushab128

standard quality

https://archive.org/details/mushab32

Yang sudah di-upload pertemuan 1-8 dari 8 pertemuan

(Hadits 1-21)

  • Hishnul Muslim

Merupakan kajian yang men-syarah kitab Hishnul Muslim

top quality

https://archive.org/details/hishnulmuslim128

standard quality

https://archive.org/details/hishnulmuslim32

Yang sudah di-upload pertemuan 1-8 dari 9 pertemuan

  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhush Shaalihin

Menggunakan kitab terjemah “Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhush Shaalihin” karya Imam an-Nawawi Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i berjudul “Syarah Riyadhush Shalihin”

box_SRS-L_besar

https://archive.org/details/riyadhweekend

Yang sudah di-upload pertemuan 1-27 dari 32 pertemuan

(sampai Hadits ke 37)

Nah, kalau mau menyaksikan seluruh kajiannya sampai yang terakhir diadakan (yaitu pagi tadi) bisa simak link youtube Ustadz Hasan Al-Jaizy

https://www.youtube.com/channel/UCCE_ie7v0Pjfn_uTtfiOGbw/featured

tiap kajian di-streaming via youtube dan otomatis tersimpan di akun youtube beliau.

Rumput, Ilalang, atau Rerimbun Pohon?

Tree_of_life_by_wtamas

Jangan mau menjadi rumput atau akarnya

Karena hanya akan diinjak

Jangan mau menjadi ilalang atau akarnya

Karena hanya akan ditebang

Jadilah pohon yang rimbun yang insya Allah bisa menaungi banyak orang di situ.

Rumput tak bisa menaungi siapa-siapa kecuali semut.

Dan tetaplah antum akan diinjak.

Ilalang tak bisa menaungi siapa-siapa kecuali ular.

Dan antum akan ditebas.

Tapi ketika antum menjadi pohon yang rimbun banyak ilmunya, antum bisa memberi manfaat kepada banyak orang manfaat tersebut bernilai pahala.

Maka “man salaka thoriqon yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallahu bihi thariqan ilal jannah”

Barangsiapa menempuh jalan menuju ilmu maka insya Allah lebih mudah ke syurga.. Insya Allah.

Sekarang ada beragam jalan menuntu ilmu, Namun tidak semuanya valid. Ada beberapa jalan yang itu hanya sementara saja, jalan instan. Kalau menempuh jalan instan, antum nanti tipis nanti batangnya.

Tapi kalau jalannya kuat dan bener-bener sabar antum mau punya batang yang kuat, akar yang kuat insya Allah. Dan itu kita harapkan terjadi pada kita semua. Insya Allahu ta’ala.

#Ustadz Hasan al-Jaizy#

perkataan Ustadz Hasan di kajian Tafsir al-Aisar Surah al-Qalam 17-33 pagi tadi.

*jleeeb bangeet*

gambar dari sini

Dirasat Sanad Hadits Ketiga Shahih Bukhari al-Jami’ (bag. 1) Kajian Nyantrend Weekdays


Audio kajian Shahih al- Bukhari al-Jami’ Nyantrend Weekdays oleh Ustadz Hasan Al-Jaizy masuk ke Hadits Ketiga, Dirasat Sanad.

IMG-20150403-WA0000

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ ـ وَهُوَ التَّعَبُّدُ ـ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ قَالَ ‏”‏ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ‏”‏‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ‏.‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ‏.‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ ‏{‏اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ‏}‏ ‏”‏‏.‏ فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ ‏”‏ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ‏”‏‏.‏ فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ ‏”‏ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي ‏”‏‏.‏ فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ‏.‏ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ ـ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ ـ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَبَرَ مَا رَأَى‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ ‏”‏‏.‏ قَالَ نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا‏.‏ ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ‏.‏

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.” Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”. Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu.

Catatan dari audio Kajian di atas:

Kita sedang mempelajari hadits yang sangat agung, panjang sekali. Hadits yang menceritakan tentang awal mula turunnya wahyu terhadap Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam dan awal pengutusan Muhammad sebagai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat panjang. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah dari Urwah bin Zubair.

Dalam Shahih Muslim ada 6 sanad dan Imam Muslim meletakkannya menjadi 6 hadits. Dalam Shahih Bukhari ada 4 sanad dan Imam Bukhari meletakkannya menjadi 8 hadits dalam kitabnya tersebut.

Ada semacam kelembutan dalam menceritakan hadits ini.

Berikut Perawi Hadits ketiga tersebut:

  • Yahya bin Bukair

Beliau syaikhnya Imam Bukhari > ada 5 tempat di shahih bukhari dari hadits ini yang diriwayatkan dari Yahya bin Bukair

Seorang perawi guru Imam Bukhari, digunakan periwayatannya oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah.

Lahir 155 H (ada yang mengatakan 154 H). Wafat 231 H. Sezaman dengan Imam asy-Syafi’i.
Kunyah beliau Abu Zakariya. Beliau bernama Yahya, bapaknya bernama Abdullah, kakeknya bernama Bukair {seorang ‘alim diantara ‘ulama hadits}. Jadi nama aslinya Yahya bin ‘Abdillah bin Bukair. Imam Bukhari menisbatkan langsung kepada kakeknya (hal ini tidak masalah, seperti halnya Imam Ahmad bin Hanbal, Hanbal itu nama kakeknya).
Beliau seorang Quraisyi, namun bertempat tinggal di Mesir. Seorang Mufti Mesir, tsiqoh dan luas ilmunya.

Beliau meriwayatkan dari banyak ‘ulama. Diantara para ‘ulama yang beliau meriwayatkan dari mereka:

  • Imam Malik
  • Imam al-Laits bin Sa’d (masuk ke sanad hadits ke 3 ini)
  • Ibnu Majisyun
  • Ibnu Lahi’ah
  • Hammad bin Za’id
  • Ibnu Wahab

Dan banyak lagi.

Para ‘ulama juga banyak yang mengambil riwayat dari Yahya bin Bukair ini, diantaranya:

  • Imam Bukhari
  • Yahya bin Ma’in
  • Abu Zur’ah

Dll

Beliau adalah salah satu perawi al-Muwaththa’ dari Malik. Ada yang mengatakan bahwasanya Yahya bin Bukair ini mendengarkan al-Muwaththa’ dari Imam Malik 7 kali.

Kita akan melihat bagaimana perkataan para ulama hadits mengenai Yahya bin Bukair ini, apakah ada permasalahan terhadap Yahya bin Bukair:

Dikatakan oleh sebagian ulama diantaranya  Abu Hatim ar-Razy : “laa yuhtajju bih” >> tidak dijadikan hujjah (bermakna tidak termasuk dalam kategori perawi maqbul).
Bahkan yang lebih zhahir lagi dan ini yang diperbincangkan para ulama > Imam an-Nasa’i melemahkan Yahya bin Bukair. Mengatakan Yahya bin Bukair itu dha’if. Imam an-Nasa’i adalah salah satu dari ahli hadits yang sangat selektif dalam hal urusan jarh wa ta’dil dalam perawi. Ada yang mengatakan Imam an-Nasa’i lebih ketat dalam menyeleksi perawi dibandingkan Imam Bukhari namun ijtihad Imam Bukhari dalam memilah perawi lebih bagus.

Imam adz-Dzahabi dalam kitab Tarikh al-Islam. mengatakan: “saya tidak tahu apa yang membuat an-Nasa’i mendho’ifkan Yahya bin Bukair dan ini adalah jarh yang mardud (tertolak). Alasannya: syaikhaan (Imam Bukhari dan Imam Muslim) telah berhujjah dengan Yahya bin Bukair; dan aku tidak pernah mengetahui ada satu hadits pun yang diriwayatkan Yahya bin Bukair yang merupakan hadits munkar.”

Alasan ketiga ya jumhur ulama menerima, memuji dan mentsiqohkan Yahya bin Bukair. Jika ada satu atau dua ahli hadits yang berbeda dari pendapat jumhur maka diperlukan jarh mufassar untuk penguatan klaim tersebut. Alasan men-jarh nya apa harus ada. Dan dengan demikian wallaahu a’lam jarh imam an-Nasa’i tidak dianggap.

Ibnu Jauzi menyebutkan Yahya bin Bukair ini dalam kitab beliau Adh-dhuafaa wal matrukin > berarti dianggap dha’if.

Namun wallaahu a’lam pendho’ifan Yahya bin Bukair ini tidak dianggap. Wallaahu a’lam.

Yahya bin Bukair ini dalam hadits ketiga tersebut meriwayatkan dari Al-Laits bin Sa’d.

  • Al-Laits bin Sa’d

Beliau sepantara dengan Imam Malik dari segi hadits dan segi fiqh bahkan lebih baik dari Imam Malik seperti yang dikatakan Imam Syafi’i. Padahal Imam Syafi’i ini murid Imam Malik.

Nama beliau: al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahman al-Fahmi. Beliau penghuni Mesir (seperti halnya Yahya bin Bukair tadi). Seorang tabi’ut tabi’in. 94 H – 175 H. Satu generasi dengan Imam Malik, bedanya Imam Malik di Madinah beliau di Mesir. Kunyahnya Abul Haarits. Cerita tentang beliau ini sangat banyak. Termasuk imam fiqh yang tidak dikenangkan madzhab beliau.

Berikut perkataan para ulama tentang beliau:

Imam asy-Syafi’i berkata: “Saya merasa sangat menyesal tidak bertemu dengan Imam al-Laits, beliau lebih faqih daripada Imam Malik.”

Bahkan muridnya yaitu Yahya bin Bukair tadi (yang juga murid Imam Malik) berkata “al-Laits lebih faqih daripada Malik, namun nasib lebih berpihak pada Imam Malik”

Dan jika di dalam kitab2 Imam Malik ditemukan kalimat “sami’tu man ardho bi ‘ilmihi” (aku mendengar dari orang yang kuridhoi keilmuannya) menurut Ibnu Wahab (murid Imam Malik), tidak lain yang dimaksud adalah Imam al-Laits.
Ibnu Wahab juga berkata seandainya Allahu subhanahu wata’ala tidak membantuku melalui al-Laits dan Malik maka aku akan tersesat.

Imam Ahmad: “Imam al-Laits banyak ilmunya, shahih haditsnya, tidak ada diantara penduduk Mesir yang lebih kredibel daripada beliau”

Beliau berhaji pada tahun 113 H, sekitar 20 th. Ketika berhaji itu bertemu dengan banyak ulama. Belajar, berguru dan meriwayatkan hadits pada ulama yang ada di sana. Diantara ulama yang beliau mencari ilmu darinya ketika berhaji: Atho’ (tabi’in), Nafi’, Ibnu Syihab az-Zuhri.

Dalam sanad hadits ketiga ini antara al-Laits dan Ibnu Syihab ada orang lain. Berarti ketika haji tersebut Ibnu Syihab tidak memperdengarkan hadits tersebut ke Al-Laits.

Harfalah (murid Imam Syafi’i): “Imam Syafi’i berkata Imam al-Laits lebih berittiba’ pada atsar daripada Imam Malik”

Lalu kenapa Imam al-Laits tenggelam namanya, karena tidak ‘diangkat’ (dipopulerkan) warisan ilmunya oleh murid-muridnya. Padahal murid2nya banyak.

Al-Laits tiap hari memiliki 4 majelis:

  • Majelis pertama itu khusus untuk shulthon (jadi beliau ulama daulah juga). Jika beliau mengingkari siapapun dalam pemerintahan beliau langsung mengirim surat.
  • Majelis kedua untuk ashabul hadits (takhosus orang yang ingin mendapatkan hadits dari beliau)
  • Majelis ketiga untuk masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya (awam bertanya; ahli menjawab)
  • Majelis keempat yang berkaitan dengan hajat manusia keumuman yang tidak ditanyakan kepada beliau.

Imam al-Laits termasuk orang yang kaya, dalam setahun 80 ribu dinar income beliau. Qutaibah bin Sa’id (guru Imam Bukhari, murid Imam Al-Laits) berkata: “Al-Laits tiap shalat 5 waktu pergi ke masjid jami’ dengan kendaraan”

Beliau bersedekah tiap hari kepada 30 orang miskin.
Beliau seorang ‘karnivorian’ >> selalu makan daging. Abdullah bin Sholih: “Saya bersahabat dengan al-Laits sepanjang 20 tahun, beliau tidak mau makan siang maupun makan malam kecuali bersama manusia makannya (makan bareng-bareng) dan beliau tidak mau makan kecuali dengan daging melainkan saat sakit.”

 bersambung…

  IMG-20150403-WA0002IMG-20150403-WA0001

NB: gambar diagram perbandingan sanad ini, dikumpulkan dari 15 sanad dari Imam Muslim dan Imam Bukhari rahimahumallah.

#entah pengen nulisin ini di blog, soalnya kajian tadi pagi ngena banget.. ahay ini dia sosok Imam Al-Laits rahimahullah.. yang sering sekilas Ustadz sampaikan kalau mencontohkan tokoh fiqh yang madzhab fiqhnya tidak sampai pada kita, padahal sangat bagus.

dan di kajian-kajian sebelumnya sering tertohok dengan kalimat “katanya ingin menjalankan al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih, namun kenal nama-nama ulama salaf saja tidak apalagi profil dan pendapat-pendapatnya?!” Bohong banget itu sih ya *ketohok banget ceritanya* hehe.

Kisah Nyata, Renungan Bagi Orangtua,.. Seperti Inikah Sikap Kita Kepada Anak Kita?

aku juga ingin ‘mempersembahkan’ jubah kemuliaan itu!
T_T
*mbrebes mili*
tabarakallaahu ‘alaih

"Bisa Karena Terbiasa"

Kisah si Umar ,Bocah Umur 10 Tahun Yang Membuat Airmata Menetes..

Mengajarkan-Anak-Membaca-Al-QuranMinggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ…

Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru-buru turun ke masjid karena takut terlambat..dan bener saja sampai di masjid adzan sudah berkumandang…

Karena terlambat saya jadi tidak tahu siapa nama Khatibnya saat itu.. Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yang dipasang di luar ruangan utama masjid.. Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih..dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan..

Tutur katanya lembut namun tegas…dari penampilannya yang menarik tersebut..saya jadi penasaran..apa kira-kira isi khotbahnya…

Ternyata betul dugaan saya!!!…

View original post 908 more words

Ilmu Tawarikhul Mutun

237

BAB I

PENDAHULUAN

Pemahaman hadits memerlukan metode yang tepat melalui pendekatan yang komprehensif, baik tekstual maupun kontekstual dengan berbagai bentuk dan kaidah-kaidahnya. Jika ilmu hadits hanya diolah dengan pendekatan tekstualis, seperti filosofis, atau yuridis teologis saja, maka ilmu hadits tidak dapat berkembang. Salah satu model pengembangan masalah ini adalah menggunakan pendekatan interdisipliner, atau ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya. Setidaknya ada dua sistem nilai yang diterapkan pada makna hadits yang berinteraksi, baik interaksi antara hadits dengan hadits, atau hadits dengan kasus yang melingkari. Dua sistem itu adalah sistem internal dan sistem eksternal

Sistem internal adalah semua sistem nilai yang dibawakan oleh sebuah hadits, ketika ia diterapkan pada satu makna, atau pada maksud hadits yang dituju. Nilai itu terlihat ketika hadits itu diberi interpretasi seperti nilai akidah, hukum fiqh, akhlak, nasihat, do’a dan sebagainya. Dalam istilah lain, sistem internal mencakup juga pola pikir, kerangka rujukan, struktur kognitif, atau juga sikap yang dikandung oleh matan hadits. Sedangkan sistem eksternal terdiri atas unsur-unsur yang ada dalam lingkungan di luar isi matan hadits. Lingkungan itu, termasuk struktur yang mendorong munculnya matan hadits, atau kejadian yang melatarbelakangi tampilnya sebuah hadits, atau jawaban Rasulullah yang muncul karena pertanyaan sahabat.

Sistem eksternal juga bisa disebut dengan sisi historisitas hadits dalam memahami konteks hadits. Dalam mengetahui historis hadits itulah ada dua disiplin ilmu paling tidak yang harus dipelajari yaitu Ilmu Asbabul Wurud dan Ilmu Tawarikhul Mutun. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai disiplin Ilmu yang kedua yaitu Ilmu Tawarikhul Mutun.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian, Objek dan Urgensi Ilmu Tawarikhul Mutun
  • Pengertian Ilmu Tawarikhul Mutun

Tawarikhul mutun merupakan bentuk idhofah dari dua kata yaitu tawarikh (تواريخ) dan mutun (متون). Tawarikh adalah bentuk jamak (plural) dari tarikh (تاريخ). Sementara mutun ialah salah satu dari bentuk jamak matn (متن)[1]. Dua kata tersebut memiliki dua aspek pengertian, baik dari segi bahasa (etimologis) maupun dari segi istilah (terminologis).

Istilah tarikh berasal dari Bahasa Arab yang artinya menurut lughat (bahasa) adalah ‘ketentuan masa’. Arti menurut istilah adalah ‘keterangan yang menerangkan hal-ihwal umat dan segala sesuatu yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada’. Selain itu juga dipakai dalam arti perhitungan tahun dan buku sejarah dengan tahunnya. Adapun Ilmu Tarikh itu sendiri adalah suatu pengetahuan yang bermanfaat untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau dalam kehidupan umat dan keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang masih ada (sedang terjadi) di dalam kehidupannya. Tarikh diambil dari tiga peringatan, yaitu peringatan yang sungguh-sungguh tertulis, peringatan dari keturunan (silsilah), dan peringatan yang terdapat pada benda-benda pada masa purba.[2]

Pengertian al-matn atau matan sendiri dalam kerangka etimologi adalah punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi[3]Matn kitab berarti yang tidak bersifat komentar dan bukan tambahan-tambahan penjelasan. Matn dalam ilmu hadits adalah: mā yantahiy ilayhi as-sanad min al-kalām, yakni: sabda Nabi yang disebut setelah sanad, atau penghubung sanad, atau materi hadits[4]. Dengan kata lain matn adalah redaksi hadits yang menjadi unsur pendukung pengertiannya.[5]

Tawarikhul mutun merupakan disiplin ilmu yang membahas tentang sejarah matan-matan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ilmu ini seimbang dengan ilmu tawarikhun nuzul yang sering dipakai dalam istilah ilmu al-Qur’an, dalam definisinya menurut T.M. Hasbi ash-Shiddieqy dikatakan:

علم تاريخ المتون هو علم يعرف به تاريخ ورود الحديث الشريف

Ilmu tawarikhul mutun adalah ilmu yang mana dengan dia bisa diketahui akan sejarah datangnya hadits Nabi yang mulia (Nabi menyabdakan haditsnya)[6]

  • Objek Ilmu Tawarikhul Mutun

Hal-hal yang menjadi objek dari kajian ilmu tawarikhul mutun ini dapat ditentukan dengan melihat dari definisi yang telah dipaparkan di atas. Pengertian tersebut menyuratkan bahwa objek sasaran ilmu ini berupa tarikh (sejarah) kapan suatu matan hadits disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Letak perbedaannya dengan asbabul wurud[7] adalah jika ilmu asbabi wurudi’l hadits itu titik beratnya membahas tentang latar belakang dan sebab-sebab lahirnya hadits (dengan kata lain mengapa Nabi bersabda atau berbuat demikian), sementara ilmu tawarikhul mutun menitikberatkan pembahasannya kepada kapan atau di waktu apa hadits itu diucapkan atau perbuatan itu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menurut Abdul Mustaqim, sebenarnya dalam konteks ilmu tawarikhul mutun perlu juga dikembangkan teori kategori hadits-hadits makkiyah dan madaniyah, sebagaimana kajian ulumul qur’an. Sebab boleh jadi masing-masing redaksional memiliki kekhususan redaksi maupun isi kandungan. Hal ini akan membantu mencari mana hadits yang nasikh dan mana hadits yang mansukh. Di samping itu, pengetahuan hadits makkiyah dan madaniyah juga akan memberikan informasi tentang bagaimana evolusi perkembangan syari’at Islam.[8]

  • Urgensi Ilmu Tawarikhul Mutun

Penelitian terhadap hadits sangat diperlukan, karena hadits sampai kepada umat Islam melalui jalur dan jalan periwayatan yang panjang. Sehingga wajar apabila terdapat kesalahan-kesalahan terhadap pemahaman hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut. Hadits tidak bertambah jumlahnya setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam terus berkembang sehubungan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu di dalam memahami hadits diperlukan metode pemahaman yang tepat melalui pendekatan yang komprehensif, baik tekstual maupun kontekstual dengan berbagai bentuk dan kaidah-kaidahnya.[9]

Pemahaman hadits dengan pendekatan kontekstual inilah di antaranya dengan melalui ilmu asbabul wurud dan ilmu tawarikhul mutun. Hal tersebut terutama berkaitan erat dengan hadits-hadits hukum. Sebab adakalanya hadits hukum yang disampaikan atau dilakukan oleh Rasulullah bersifat kasuistik, kultural bahkan temporal. Maka dari itu, pemahaman sisi historis suatu matan hadits tidak bisa dilepaskan begitu saja agar terhindar dari kesalahpahaman memahami hadits dan ketidaktahuan bahwa hukum tersebut telah terhapuskan. Pemahaman hadits yang mengabaikan peranan tawarikhul mutun dan asbabul wurud akan cenderung bersifat kaku, literalis-skriptualis, bahkan terkadang kurang akomodatif terhadap perkembangan zaman.

Urgensi ilmu tawarikh al-mutun antara lain sebagai berikut:

  1. Peran yang paling utama adalah sebagai alat bantu mengetahui nasikh dan mansukh hadits[10] yang tentu akan sangat berpengaruh dalam pengambilan istinbat hukum dalam Islam. Nasakh merupakan salah satu cara menyelesaikan problem hadits maqbul yang saling berlawanan (mukhtalif).[11]
  2. Mengetahui  secara detail kapan dan pada momentum apa sebuah matan hadits dikeluarkan oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jika dikembangkan teori kategori hadits-hadits makkiyah dan madaniyah seperti yang telah dibahas di atas maka bisa jadi ada ciri-ciri khusus pada masing-masing periode seperti halnya Al-Qur’an karena hadits pada hakikatnya juga merupakan wahyu.
  3. Sebagai sarana dalam memahami hadits agar terhindar dari kesalahpahaman (misunderstanding) dalam menangkap maksud suatu hadit Misalnya hadits

“إِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هذا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفاجِرِ

Sungguh Allah akan  menolong agama ini dengan seorang yang fajir

Hadits ini terjadi dalam perang Khaibar ketika ada seorang laki-laki yang ikut berperang dengan gagah berani tetapi Rasulullah menyebutkan bahwa ia adalah ahli neraka. Ternyata orang tersebut akhirnya bunuh diri.[12]

  1. Alat bantu dalam melacak autentisitas hadits dengan melihat latar belakang sejarah kemunculan matan. Hal ini penting dalam kritik matan hadits. Seperti hadits di nomor 3, dalam redaksi di Shahih Muslim disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di Perang Hunain sementara dalam redaksi di Shahih Bukhari terjadi di Perang Khaibar. Dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, Imam an-Nawawi mengutip perkataan al-Qadhi Iyadh bahwa yang benar adalah pada waktu Perang Khaibar.[13]
  2. Memperkaya khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam kajian hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta kajian sejarah Islam pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seperti yang dilakukan oleh Imam al-Bulqini pada bab terakhir dari kitab Mahasinul Ishthilah (Bab Taariikh Mutta’alliq bil Mutuun), di dalamnya terdapat beberapa hal yang terjadi pada masa hijrah, tahun pertama Hijriah, berurutan hingga tahun ke sepuluh setelah hijrah (10 Hijriah).[14] Juga terdapat urutan istri yang dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.[15]

  1. Metode yang Digunakan dalam Ilmu Tawarikhul Mutun

Terdapat beberapa metode pada kajian tawarikhul mutun yang dapat digunakan untuk mengetahui kapan suatu hadits disabdakan atau dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Menurut Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tadribur Rawi yang merangkum dari penjelasan Imam Al-Bulqini di kitab Mahasinul Ishthilah,  jalan-jalan untuk mengenal tarikh ini ialah[16]:

  1. Dengan terdapat perkataan:

أَوَّلُ مَا كَانَ كَذَا

“Permulaan yang terjadi adalah begini”[17]

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah yaitu:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

 “Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat pertama kali menerima wahyu adalah mimpi yang baik (HR. Bukhari-Muslim)

Dan seperti hadits:

أَوَّلُ مَا نَهَانِي عَنْهُ رَبِّي بَعْدَ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ شُرْبُ الْخَمْرِ وَمُلَاحَاةُ الرِّجَالِ

 “Pertama-tama sesuatu yang dilarang aku daripadanya oleh Tuhanku sesudah dilarang menyembah berhala, ialah: meminum khamr dan membenci orang”(HR. Ibnu Majah)

  1. Terdapat kata-kata الْقَبْلِيَّة qabliyah (sebelum) seperti hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu yaitu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَانَا أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ، أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ، ثُمَّ رَأَيْتُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِعَامٍّ يَسْتَقْبِلُهَا

“Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang kami untuk membelakangi kiblat atau menghadapnya dengan kemaluan-kemaluan kami saat buang air. Kemudian aku melihat nabi, setahun sebelum beliau wafat, beliau menghadap kiblat ketika buang air” (HR. Ahmad, Abu Daud dan selainnya)

  1. Terdapat kata-kata الْبَعْدِيَّة ba’diyah (sesudah) seperti hadis Jarir radhiallahu anhu:

أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَمْسَحُ عَلَى الْخُفِّ، فَقِيلَ لَهُ: أَقَبْلَ نُزُولِ سُورَةِ الْمَائِدَةِ أَمْ بَعْدَهَا؟ فَقَالَ: مَا أَسْلَمْتُ إِلَّا بَعْدَ نُزُولِ سُورَةِ الْمَائِدَةِ

“Sesungguhnya Jarir telah melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap atas Khuffnya. Maka seseorang bertanya: Apakah sebelum turun surat al Maidah ataukah sesudahnya? Maka Jarir menjawab: aku tiada memeluk agama Islam melainkan sesudah turun surah al Maidah” (HR. Bukhari)

  1. Dengan perkataan آخَرِ الْأَمْرَيْنِakhirul amraini” seperti dalam hadis Jabir bin Abdullah:

كَانَ آخِرُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

 “Sesungguhnya, keputusan terakhir dari dua perkara yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tidak adanya wudhu terhadap segala sesuatu yang disentuh api (dimasak/dibakar).” (Diriwayatkan perawi yang empat dan Ibnu Hibban)

  1. Terdapat kata-kata yang menunjukkan waktu بِذِكْرِ السَّنَةِ وَالشَّهْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. Misalnya “sebulan sesudah/sebelumnya”, “setahun sesudah/sebelumnya” dan lain sebagainya.

Seperti hadits Buraidah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ

“Konon Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwudhu untuk tiap-tiap shalat. Tatkala pada tahun kemenangan (yaumul fath), beliau menjalankan beberapa shalat dengan satu kali wudhu” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Juga seperti hadis Abdullah bin Ukaeini:

أَتَانَا كِتَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ مَوْتِهِ بِشَهْرٍ: أَنْ لَا تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمِيتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ

 “Sebulan sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, beliau mengirim surat kepada kami supaya jangan mengambil faidah dari bangkai, baik kulitnya maupun urat besarnya” (HR. Al-Khomsah/Ahmad dan Ashabus sunan).[18]

  1. Tokoh-tokoh dan Kitab yang terkait dengan Ilmu Tawarikhul Mutun

Ulama yang dianggap promotor dalam ilmu Tawarikhul Mutun ialah Imam Sirajuddin Abu Hafsh ‘Amar bin Salar Al-Bulqiny[19]. Beliau memiliki kitab yang bernama ”محاسن الاصطلاح في تضمين كتاب ابن الصلاح” Mahasinul Ishthilah fii Tadhmin Kitab Ibnu Shalah yang merupakan kitab dalam bentuk ringkasan (ikhtisar) Muqaddimah Ibnu Shalah. Kitab ini meski berupa ringkasan, namun banyak memberikan ulasan penting, catatan, dan beberapa penjelasan tambahan. Pada bagian terakhir kitab tersebut ada bab “التاريخ المتعلِّق بالمتون”. Yang kemudian dirangkum oleh Imam As-Suyuthi dalam Tadribur Rawi pada bab “معرفة تواريخ المتون” yang merupakan bagian ke-sembilan puluh dari kitab tersebut. Uniknya, Tadribur Rawi ini merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Imam an-Nawawi yaitu Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifat Sunan al-Basyir wa al-Nadzir, dan kitab tersebut adalah ringkasan dari kitab Imam an-Nawawi sendiri yang berjudul Al-Irsyad. Sementara Al-Irsyad ini ialah kitab ikhtishar juga dari Muqaddimah Ibnu Shalah.

  1. Contoh-contoh Tawarikhul Mutun

Tarikh dari suatu matan bisa diketahui dari dalam matan sebuah hadits itu sendiri. Seperti hadits dari  Abu Umamah Al-Bahili;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي خُطْبَتِهِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَقُولُ ‏”‏ لاَ تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئًا مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا ‏”‏ ‏.‏ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الطَّعَامُ؟ قَالَ ‏”‏ ذَاكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا ‏”‏

Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ketika khutbahnya pada tahun haji wada’: Wanita dilarang menginfakkan sesuatu apa pun dari harta suaminya melainkan dengan seizinnya. Dikatakan: Tidak pula makanan wahi Rasulullah? Beliau bersabda: itu adalah harta kami yang paling utama” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)[20]

Hadits ini dengan jelas dan tegas menerangkan sejarah akan adanya hadits  yaitu pada saat nabi menyabdakan haditsnya ketika beliau sedang khutbah Haji Wada’ yang dilakukan pada tahun 10 Hijriah.

Contoh lain adalah hadits yang telah disinggung pada pembahasan urgensi ilmu tawarikh al-mutun. Teks lengkap hadits adalah sebagai berikut:

حديث أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: شَهِدْنا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم خَيْبَرَ، فَقالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الإِسْلامَ: هذا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَلَمّا حَضَرَ الْقِتالُ قاتَلَ الرَّجُلُ قِتالاً شَديدًا فَأَصابَتْهُ جِراحَةٌ، فَقِيلَ يا رَسُولَ اللهِ الَّذِي قُلْتَ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّه قَدْ قاتَلَ الْيَوْمَ قِتالاً شَدِيدًا، وَقَدْ مَاتَ، فَقالَ صلى الله عليه وسلم: إِلى النَّارِ قَالَ فَكادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتابَ؛ فَبَيْنَما هُمْ عَلى ذلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِراحًا شَدِيدًا، فَلَمّا كانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلى الْجِراحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ: فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِذلِكَ، فَقالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ أَمَرَ بِلالاً فَنادى في النَّاسِ: إِنَّه لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هذا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفاجِرِ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; “Ketika kami sedang ikut dalam perang Khaibar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata kepada seseorang yang mengaku dirinya telah masuk Islam; “Orang ini termasuk penduduk neraka”. Ketika terjadi peperangan orang tadi berperang dengan sangat berani lalu dia terluka kemudian dikatakan (kepada Beliau); “Wahai Rasulullah, orang yang Baginda maksudkan tadi sebagai penduduk neraka, dia telah berperang hari ini dengan sangat berani dan dia telah gugur”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia akan masuk neraka”. (Abu Hurairah) berkata; “Orang-orang semuanya menjadi ragu. Ketika dalam keraguan seperti itu, ada orang yang mengabarkan bahwa orang yang berperang tadi tidaklah mati melainkan setelah mendapatkan luka yang sangat parah namun ketika pada malam harinya dia tidak sabar atas luka yang dideritanya hingga akhirnya dia bunuh diri. Kejadian ini kemudian dikabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang benar-benar patuh Islam dan sungguh Allah akan  menolong agama ini dengan seorang yang fajir (yang tidak jujur imannya)” [21]

Hadits tersebut muttafaq ‘alaih namun merupakan lafadz dari Imam Bukhari dalam kitab shahihnya pada bagian Kitab Jihad (56) yaitu pada Bab “Allah Akan  Menolong Agama Ini dengan Seorang yang Fajir” (182), nomor hadits 3062.[22] Sementara dalam Shahih Muslim yang penomorannya oleh Imam Nawawi terdapat pada Kitab Iman bab yang sudah disebutkan di atas nomor hadits 178 -dengan lafadz yang sedikit berbeda dari yang dikeluarkan Imam Bukhari-. Hadits di atas secara jelas menyebutkan sababul wurud hadits yang sekaligus juga terdapat tarikh matan di dalamnya.

Contoh terakhir adalah sepasang hadits yang merupakan nasikh dan mansukh, yakni diriwayatkan bahwa Syidad bin Aus pada masa-masa penaklukan kota Makkah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Rasul melihat seseorang berbekam pada siang hari bulan Ramadhan maka beliau berkata:

 “‏ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ ‏”‏

“Orang yang melakukan bekam dan orang yang dibekam batal puasanya”

Dan hadits dari Ibnu Abbas:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ مُحْرِمٌ ‏

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, padahal beliau sedang berpuasa dan berihram”

Hadits yang pertama (Hadits Syidad) itu terjadi pada masa-masa penaklukan kota Makkah yaitu pada tahun 8 Hijriah, dan hadits kedua (hadits Ibnu Abbas) terjadi pada waktu Haji Wada’ yaitu pada tahun 10 Hijriah. Jadi, hadits kedua merupakan nasikh bagi hadits yang pertama.[23]


 

BAB III

KESIMPULAN

Ilmu tawarikhul mutun adalah ilmu yang mana dengan dia bisa diketahui akan sejarah datangnya hadits Nabi yang mulia. Objek sasaran ilmu ini berupa tarikh (sejarah) kapan suatu matan hadits disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Letak perbedaannya dengan asbabul wurud adalah jika ilmu asbabi wurudi’l hadits itu titik beratnya membahas tentang latar belakang dan sebab-sebab lahirnya hadits, sementara ilmu tawarikhul mutun menitikberatkan pembahasannya kepada kapan atau di waktu apa hadits itu diucapkan atau perbuatan itu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Urgensi ilmu tawarikh al-mutun antara lain:

  1. Sebagai alat bantu mengetahui nasikh dan mansukh hadits
  2. Mengetahui  secara detail kapan dan pada momentum apa sebuah matan hadits dikeluarkan.
  3. Sebagai sarana dalam memahami hadits agar terhindar dari kesalahpahaman dalam menangkap maksud suatu hadits.
  4. Alat bantu dalam melacak autentisitas hadits .
  5. Memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Jalan-jalan untuk mengenal tarikh ini ialah dengan terdapat perkataan “awwala maa kaana kadza”, terdapat kata-kata qabliyah (sebelum), terdapat kata-kata ba’diyah (sesudah), dengan perkataan “akhirul amraini”, terdapat kata-kata yang menunjukkan waktu. Ulama yang dianggap promotor dalam ilmu Tawarikhul Mutun ialah Imam Sirajuddin Abu Hafsh ‘Amar bin Salar Al-Bulqiny dengan kitabnya Mahasinul Ishthilah fii Tadhmin Kitab Ibnu Shalah.

[1] Ada bentuk jamak yang lain yaitu mitan (متان). (Lihat: Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits, terj. H.M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 12).

[2] Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 1.

[3]Kata dasar matn dalam Bahasa Arab berarti “punggung jalan” atau “bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas”. Apabila dirangkai menjadi matn al-hadits, menurut al-Thiby seperti yang dinukil oleh Musfir al-Damini, adalah :

الفاظ الحديث التي تتقوم بها المعانى

“Kata-kata hadis yang dengannya terbentuk akan makna-makna

Definsi ini sejalan dengan Ibnu al-Atsir al-Jazari (w.606H) bahwa setiap matan hadis tersusun atas elemen lafal (teks) dan elemen makna (konsep). Dengan demikian, komposisi ungkapan matan hadis pada hakikatnya adalah pencerminan konsep idea yang intinya dirumuskan berbentuk teks. Teksmatan juga disebut dengan nash al-hadits atau nash al-riwayah. (Lihat: Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2004), hlm. 13).

[4] M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Ulumul Hadis, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2010) hlm. 36.

[5] Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits, … (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 12.

[6]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits jilid II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm 302.

[7]Lihat: Fatchur Rahman, Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 330.

[8] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’ani al-Hadis, (Yogyakarta : Idea Press, 2008), hlm. 16.

[9]Yunahar Ilyas dan M. Mas’udi, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis. Cet. I, (Yogyakarta: LPPI, 1996) hlm. 174.

[10] Al-Bulqini menyampaikan bahwa:

فَوَائِدُهُ كَثِيرَةٌ، وَلَهُ نَفْعٌ فِي مَعْرِفَةِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ

Faidahnya banyak serta bermanfaat besar dalam mengetahui nasikh dan mansukh.” (Lihat: Sirajuddin Al-Bulqini, Muqaddimah Ibnu Shalah wa Mahasinul Ishthilah, pentahqiq Aisyah Abdurrahman, (Fes: Darul Ma’arif, 1990) hlm. 714). Kalimat al-Bulqini tersebut juga dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tadribur Rawi pada bagian ke-sembilan puluh “Mengenal Tawarikul Mutun”(Lihat: Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarah Taqribun Nawawi, (Riyadh: Maktabah Al-Kautsar, 1415H) hal. 930).

[11]Lihat: Fatchur Rahman, Ikhtishar …, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 151.

[12]Lihat: Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Dimasyqi, Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rasul jilid I, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm. 419-420.

[13]Lihat: Imam An-Nawawi, Shahiih Muslim Bi Syarhin-Nawawi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi, Terjemah Syarah Shahiih Muslim, (Jakarta Selatan: Mustaqiim, 2004), hlm. 723

[14]Lihat: Sirajuddin Al-Bulqini, Muqaddimah …, pentahqiq Aisyah Abdurrahman, (Fes: Darul Ma’arif, 1990) hlm. 719-722.

[15] Ibid, hlm 723.

[16]Lihat: Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi …, (Riyadh: Maktabah Al-Kautsar, 1415H) hal. 930-932.

[17]Di antara ulama yang menyusun “hadits-hadits awwaliyah” dalam satu bab tersendiri ialah Imam Ibnu Abi Syaibah

[18]Menurut ulama madzhab Maliki dan ulama Madzhab Hambali hadits ini me-nasakh hadits-hadits lain yang muncul sebelumnya. Karena, hadits ini muncul di akhir umur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hadits ini menunjukkan bahwa penggunaan kulit bangkai sebelum itu hanyalah suatu rukhshah. Namun menurut pendapat Prof. Wahbah Zuhaili, pendapat yang rajih ialah pendapat ulama Hanafi dan Syafi’I, bahwa samak adalah salah satu cara penyucian. Sebab hadits Ibnu Ukaim dipertikaikan. Al-Hazimi dalam kitabnya, an-Nasikh wal Mansukh wa Tariq al-Inshaf fihi mengatakan bahwa hadits Ibnu Ukaim merupakan dalil yang menunjukkan terjadinya nasakh, jika memang hadits itu benar. Tetapi hadits itu riwayatnya dipertikaikan dan ia tidak dapat menandingi keshahihan hadits Maimunah. (Lihat: Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., Fiqih Islam Wa Adillatuhu 1, (Jakarta: Gema Insani, 2010) hlm. 213-215.

[19]Fatchur Rahman, Ikhtishar …, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 330.

[20] Manshur bin Hasan al-Abdullah, Syarhul al-Arba’un al-Uswah min al-Hadits al-Waridah fi an-Niswah, terj. Abu Muhammad Suparta, 40 Hadits Pilihan Pembentuk Karakter Muslimah, cet. V (Jakarta: Darul Haq, 2014), hlm. 9.

[21]Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, terj. H. Salim Bahreisy, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan Himpunan Hadits Shahih Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982), hlm. 35-36.

[22]Lihat: Imam Al-Bukhari, Al-Jaami’ Ash-Shahiih Mukhtashar Al-Musnad min Hadiitsi Rasuulillaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam wa Sunanihi wa Ayyaamihi; Al-Juz Ats-Tsaanii,  (Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyah wa Maktabatuha, 1403 H/1983 M), hlm. 376-377.

[23] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd Fii ‘Uluum al-Hadits, terj. Mujiyo, ‘Ulumul Hadis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 349.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Hasjim. 2004. Kritik Matan Hadis. Yogyakarta: Penerbit Teras.

‘Abdul Baqi, Muhammad Fuad. 1982. Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, terj. H. Salim Bahreisy, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan Himpunan Hadits Shahih Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim. Surabaya: PT Bina Ilmu.

Al-Abdullah, Manshur bin Hasan. 2014. Syarhul al-Arba’un al-Uswah min al-Hadits al-Waridah fi an-Niswah, terj. Abu Muhammad Suparta, 40 Hadits Pilihan Pembentuk Karakter Muslimah, cet. V. Jakarta: Darul Haq.

Al-Bukhari, Imam. 1403 H/1983 M. Al-Jaami’ Ash-Shahiih Mukhtashar Al-Musnad min Hadiitsi Rasuulillaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam wa Sunanihi wa Ayyaamihi; Al-Juz Ats-Tsaanii. Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyah wa Maktabatuha.

Al-Bulqini, Sirajuddin. 1990. Muqaddimah Ibnu Shalah wa Mahasinul Ishthilah, pentahqiq Aisyah Abdurrahman. Fes: Darul Ma’arif.

Chalil, Moenawar. 2001 Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid 1. Jakarta: Gema Insani Press.

Ad-Dimasyqi, Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi. 2003. Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rasul. Jilid I. Jakarta: Kalam Mulia.

Ilyas, Yunahar dan M. Mas’udi. 1996. Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis. Cet. I. Yogyakarta: LPPI.

‘Itr, Nuruddin. 2012. Manhaj an-Naqd Fii ‘Uluum al-Hadits, terj. Mujiyo, ‘Ulumul Hadis, Cet.II. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. 2013. Ushul Al-Hadits, terj. H.M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadits, Cet. V. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Mustaqim, Abdul. 2008. Ilmu Ma’ani al-Hadis. Yogyakarta : Idea Press.

An-Nawawi, Imam. 2004. Shahiih Muslim Bi Syarhin-Nawawi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi, Terjemah Syarah Shahiih Muslim. Jakarta Selatan: Mustaqiim.

Rahman,Fatchur.1974. Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits. Bandung: PT Al-Ma’arif.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1981. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jilid II Jakarta: Bulan Bintang .

Suryadilaga, M. Alfatih dkk. 2010. Ulumul Hadis. Yogyakarta: Penerbit Teras.

As-Suyuthi, Jalaluddin. 1415H. Tadribur Rawi fi Syarah Taqribun Nawawi. Riyadh: Maktabah Al-Kautsar.

Az-Zuhaili, Wahbah. 2010. Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., Fiqih Islam Wa Adillatuhu 1. Jakarta: Gema Insani.

_________________________________________

ini fajar lagi iseng pol-polan posting makalah sendiri.. =))))

gegara galau mau ujian susulan… ehehe..

ternyata begini kalo makalah diposting plus footnote…

yang geje di urutan angkanya.. kenapa jadi 1 semua…. ohoho… susah diedit pula

ya.. ya.. jadi nanti bisa ngoprekin blog lsiqh deh #okesip

Kalau ada yang salah, mohon dikoreksi.. ;)

oya gambarnya itu manuskrip salah satu lembar mahasin al-isthilahnya al-bulqini

*saya lupa donlot dimana*

Di Matamu yang Jendela

Windows_by_MoThEeR_212 juga

di matamu yang jendela
terukir markah perihmu merenda tabah

di matamu yang jendela
pintu menuju hati yang gegar berbalut tegar

di matamu yang jendela
terkobar gelora luruhkan dingin pengepung cita

di matamu yang jendela
ada isyarat yang takmampu tertangkap pancaindra mereka

di matamu yang jendela
terpancar warna sabar yeng terus berpijar bersama do’a

singkirkan dengung yang meraung
menebar ambigu agar engkau pun ragu
kalahkan rasa itu
berbaik sangka selalu di tiap ketetapanNya

rawat baik-baik yakinmu pada janji-janjiNya
meski lebat daun dan ranum buahnya
taksempat kau jumpa
di dunia

dermakanlah mata air air mata itu ke cangkir derana
meski tetes bulirnya tak lagi bundar

tersenyumlah
terlalu banyak hal yang layak disyukuri, bukan?
=)

terus berbaik sangka padaNya, ya..

#akhirnya bisa nulis juga, setelah pengen nulis tapi ga ada ide dan dapet 10 kata dari seorang sahabat untuk dibuat tulisan (jendela, warna, dengung, cangkir, panca, gegar, dingin, bundar, lebat, derma).
sepuluh kata yang belibet buat dirangkai.. haha.. jadinya geje begini.. wkwk
terima kasih, Sobat.. =D

NB:

teringat pernah dapet sebuah sisi lain tadabbur dari Ayat 129 Surah Al-Baqarah

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

ini adalah do’a Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam saat membangun ka’bah…
bisa dibayangkan..
do’a tersebut baru dikabulkan kapan?
yaitu ketika diutus Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam..
berpa jarak antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dengan diutusnya Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam?

kalau dari sini sih 3220 tahun, tapi ga tau juga kan ga ada nash tentang itu.. hehe. Intinya bukan di situ sih..

Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja yang bapaknya Para Nabi, ulul azmi, Khalilullah… yang berdo’a dengan sangat mengagungkan Allaah, melaksanakan adab-adab do’a.. menjalankan perintah Allaah dengan sebaik-baiknya.
do’a blio baru terjawab ribuan tahun setelahnya..

lalu siapakah kita?
ya..
kita sama sekali tak berhak mendikte.. =)

jangan letih berdo’a dengan penuh perasaan harap, cinta, dan takut padaNya..
jangan letih berdo’a dengan penuh perasaan baik sangka kepadaNya..
jangan letih..
iya…

tentang ‘mendikte’ ini terinspirasi sebuah tulisan seorang sahabat..
tetep smangaD, neng shalihah.. ;)

gambar dari sini

Bisa Apa?

kepada kamu, jam dinding tanpa penunjuk waktu

detakmu tetap terdengar
di hening waktu yang tetap berjalan
pada hari-hari yang terus melangkah pelan

mesin di tubuhmu tetap berputar
namun kau tak menunjuk pukul berapa
tanpaku

engkau yang melepasku
kau minta aku menjauhi detakmu
lalu aku bisa apa?

teronggok diam
tak bisa berputar bersamamu
terhempas

detik terasa lambat sekali berjalan
meski detakmu tetap sama
nadanya juga tak berbeda
aku masih mendengarnya dari kejauhan

tentu tak sama jika indra pendengarku tetap ada di sisi
jantung hatimu
berada di dekatmu
bergerak bersamamu
berdetak sesuai iramamu
mengharmonikan rasa, menjalani hari-hari bersama
melintasi detik dengan detakmu
berputar bersama perputaran itu

aku, penunjuk waktu
yang katamu, tak mau lagi mengenalku seumur hidupmu

lalu aku bisa apa?

jika kau ulang hari tanpaku,
engkau tak bisa menunjuk waktu
tapi detakmu tetap lantang tersiar
namun, aku tanpamu tak mampu bergerak lagi..

lalu.. aku bisa apa?

Broken clock

______________________

saat pukul 3 pagi baru bernafas dengan agak normal dan hilang gigil terdengar detak jam begitu jelas, lalu teringat pernah membuat tulisan ini.

dan sejenak berpikir, jam pun bisa apa kalau tak ada baterai… detaknya pun tak akan berbunyi; entah ada ataupun tidak jarum penunjuk waktunya.

seperti halnya manusia.. jika jatah nafasnya telah habis.. detak jantungnya pun kan terhenti..  bisa apa?

lalu, seberapa syukurmu akan nikmat nafas yang Allah anugerahkan padamu, Jar? #mikir

Imam adz-Dzahabi, Ulama Besar Ahli Hadits dan Sejarah Islam

Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah dan kitabnya Siyar A’lam An-Nubala , merupakan salah satu Ulama yang saya sangat mengidolakannya.. Saya ngefans sekali ama blio rahimahullaah.. hehehe

Bagi umat Muslim, mengenal sejarah ulama sangatlah penting. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman ulama dalam belajar dan berdakwah. Ketika kaum liberal meremehkan ulama, maka wajib bagi umat Islam mengenal para ulama.

Salah satu ulama besar dalam Islam adalah Imam adz-Dzahabi. Imam Dzahabi berasal dari negeri Syam. Ia adalah seorang ulama ahli sejarah sekaligus ahli hadits.

Bagi yang serius belajar sejarah, sebuah keharusan untuk mengenal Imam Dzahabi. Sebab ia adalah seorang pakar kenamaan dalam ilmu riwayat dan sejarah.

Imam Dzahabi bernama lengkap Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi al-Dimasyqa al-Syafi’i. Dilahirkan di desa bernama Kafarbatna kota Damaskus pada tahun 13 Rabi’ul Akhir tahun 673 H/ 1274 M.

Keluarganya bukan asli Damaskus, tapi berasal dari negeri Turkmenistan. Keluarganya merupakan keluarga pecinta ilmu. Hingga mendorong adz-Dzahabi untuk mendatangi para masyayikh dari berbagai negeri.

Imam adz-Dzahabi menuntut ilmu sejak usia dini dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu: Ilmu-ilmu al-Qur’an…

View original post 571 more words

[AK-20] Mengeja Lentera

pada gamang merayau terang
merangkai karton menjadi lampion
meramu cerita tentang sepenggal cita
tiga puluh hari mencari cinta akan kalam-Nya

ah,
aku limbung
jiwa sesak batin acak
saat lelah mulai mewabah
ketika jenuh tetiba merengkuh

namun,
kucoba halau risau yang terus berkicau
acuhkan perih luka yang terbuka dan menganga

rintis bongkah pondasi optimis
susun puing demi puing semangat baru
layangkan asa terbang tinggi mengangkasa

teguhkan impian agar tetap berakhir manis
bagai buah naga merah delima
di hati hamba
yang merindu pada-Nya

Rabbi, bimbing kami memahami petunjuk-Mu
mencintai ilmu-Mu
mengharapkan semata ridha-Mu
menapaki jalan utusan-Mu

‘tuk terus meniti din-Mu yang lurus
hingga sang Maut datang menjemput

hamasah 2

mencoba meramaikan arisan kata 20 di sini

*ternyata memulai lagi membuat sajak ituuuuu… tidak mudah.. hoho *nyengir*

jadinya berantakan gini deh.. hihihi =D

Pesan Terakhir Sang Pejalan Jauh

ukhti saudaraku yang aku mendoakan kemuliaan atas ilmu. yang kudoakan tanpa mengurangi kehormatanmu sebagai seorang muslimah…
ukhti saudaraku yang aku mendoakanmu akan imam dalam hidupmu yang mencintai Allah dan RosulNya…
ukhti saudaraku yang aku mendoakanmu agar manisnya ilmu dan iman mampu menyelimuti anak keturunanmu….
ukhti saudaraku yang aku mendoakanmu agar Allah izinkan Al Quran sebagai petunjuk hidup dan penawar luka dan air mata….
ukhti saudaraku. kemarin adalah hari terakhirku berkumpul bersama anak yatim piatu, fakir miskin, dan janda-janda miskin di kota raqqa.
saat perpisahaan sebagian dari mereka memberiku permen dan coklat. dan mereka berkata, “titipkan salamku kepada baginda nabi”
ukhti saudaraku yang aku mendoakan atas kebaikan padamu. akan kutitipkan salam mereka dan salammu atas kesaksianku akan kebaikanmu
ukhti saudaraku yang aku mendoakan keistoqomahan kepadamu, sebelum atau sesudah engkau menikah. agar tetap istiqomah.

Bismillah, inilah pesan singkat seorang muhajirin kpd saudaranya. sekaligus ucapan maaf akan khilaf & kefakiran lisan. mau kau mendengarnya?
ukhti kita memang belum saling kenal. tapi ukhti, jika ini pesan terakhir dari seorang fakir., semoga ukhti bisa ambil ibrah.
ukhti. percayalah kalau yg kita tuju Allah apapun pandangan manusia itu amat kecil. ukhti, kelak bagi para pentalaq dunia ia akan dicaci.
namun ukhti. medan jihad itu keras namun bermartabat. Membenci musuh karena Allah. dan dakwah itu lembut, utamakan akhlak
ukhti. suatu saat akun ini tak memiliki huruf lagi. tapi ukhti, kabarkan kepada yang lainnya bahwa Islam itu indah. cukup Islam ukhti
ukhti tetaplah betprasangka baik kepada ulama harakah apapun, mungkin fakta tak tersampaikan kepada mereka. hingga ringannya lisan.
ukhti. semoga Allah merahmati antum. menjadikan pasangan hidup antum sebagai pasangan dunia akhirat.
ukhti saudaraku yg aku mendoakan kebaikan padamu. 30 negara telah aku lihat dan kutinggali; Allah memilih Syam sebagai pembaringan akhir.
ukhti, jaga senyum org tuamu, saudara muslimmu, dan imam hidupmu kelak. Karena saudaramu banyak kehilangan senyum…
ukhti usap air mata atas tulisan-tulisan ini. Keluarkan air mata akan rasa takut atas tercabutnya iman
ukhti ittaqillah haitsuma kunta.

saudara laki laki mu : muhammad hirohito al indunissy. Wassalamualaikum.

pejalan jauh

ditulis dua hari sebelum gugurnya di medan pertempuran

10 Hari Hafal Al Qur’an (Kisah Ukhti Ummu Zayid)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
=’)

Fathma Alia

Sebuah kisah yang sangat menyentuh dan bisa memacu motivasi saya, kisah yang ditulis oleh  Ir. Amjad Qasim dalam bukunya Kaifa Tachfazh al Qur’an al Karim fii Syahr. Di sini saya tulis ulang dengan harapan dapat menambah motivasi dan kepasrahan diri kita kepada ALLOH dalam menghafal Al Qur’an… amiin… :) Ini kisahnya…

AlhamduliLLAH, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan kuasa-NYA, aku telah khatam menghafal Al Qur’an. Berikut ini pengalamanku, dan aku menghadiahkannya untuk kalian.

Ini adalah masa-masa indah yang berlalu dengan segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah mimpi yang m,enjadi kenyataan. Serta, memori yang selalu menghampiriku.

View original post 2,015 more words

[Download] Rekaman Kajian Nyantrend Weekend & Nyantrend Weekdays

ada yang tertarik ikut belajar juga? =D
silakan..

saya udah download semua dan mendengarkan beberapa kajian beliau..

Blog Abu Umamah™

Download Rekaman Nyantrend Weekend & Weekdays Download Rekaman Nyantrend Weekend & Weekdays

Alhamdulillah, kesempatan kali ini kami hadirkan kehadapan Anda sekalian kumpulan rekaman kajian dari Program Nyantrend Weekend dan Nyantrend Weekdays yang disampaikan oleh Al-Akh Hasan Al-Jaizy. Semoga Bermanfaat.

View original post 67 more words

melebihimu

snow

“Engkau tahu, engkau adalah orang yang paling aku sayangi.

Aku yakin kesedihanku terhadapmu melebihi kesedihanmu terhadap dirimu sendiri. Jika engkau menangisi dirimu dengan air mata, aku menangisimu dengan desir darahku.”

-dr. Raehanul Bahraen-

cinta.. betapa aku ingin kau memahami.. sedihku.. melebihi sedihmu terhadap dirimu sendiri..

mau sampai kapan?

apa kau tak lelah menoreh luka di hati ini?

bukan.. bukan tentang aku dan kamu, tapi kamu dan Dia..

itu saja..

Lelahmu Jadi Lelahku Juga

>ini judul ga ada hubungannya ama lagunya Dee

>judulnya juga bisa jadi ga nyambung ama isinya. hahaha. *geje*

Image

Sesungguhnya lelahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebodohanmu. Lalu mengapa mengeluh saat terlalu lelah dalam belajar?
Sejatinya sakitmu belum ada apa-apanya dari ketidaktahuanmu. Lalu mengapa mengeluh saat tubuh taksehat?

Bukankah kini semakin kau menyadari bahwa dirimu tidak tahu apa-apa?!
Bukankan kini semakin kau berkaca bahwa masih terlalu banyak hal yang harus kau pelajari?!
Lalu mengapa masih terlalu banyak waktu yang kau sia-siakan?
Lalu mengapa masih terlalu banyak alasan yang kau lontarkan?!

Mereka para alim ulama menghabiskan waktu 16jam untuk membaca ketika tak mengajar, lalu kamu?!

Masih mengeluh lelah, capek, padahal waktu tidurmu masih terlalu banyak?
Masih mengeluh sakit ketika terlalu banyak waktumu kau buang sia-sia?

Apa kau lupa ketika berurai air mata, mengulang-ulang sebuah madah, tak kunjung paham.. hingga kau terhenyak.. barangkali karena maksiatmu terlalu banyak, sementara ilmu itu cahaya.. Tak mampu menembus kaca yang terlalu kotor..
Namun mengapa masih sempat kau menggunakan detik-detik hidupmu yang tersisa dengan hal-hal yang tak mendekatkanmu pada-Nya?

Apa kau lupa pertanyaan-pertanyaan para guru akhir-akhir ini.. Kam kitaaban takroiina fil syahri?!
berapa buku yang kau baca dalam satu bulan??
Dan kau masih terlalu santai dengan enggan membuka buku-buku itu.

Lalu mau ke mana engkau, Fajar?
Hendak pergi ke mana?
Menuju apa?
Apakah akan berputar-putar saja tak bergegas melangkah?

Jujurlah pada niatmu!
Jujur pada cita-citamu!
Tak akan sampai tujuanmu dengan kemalasan!
Tak akan terwujud tekadmu dengan penundaan!

Jangan remehkan setiap detik dalam hidupmu, karena ia akan dimintai pertanggungjawaban. Karena ia tak akan pernah kembali… T_T

#Sebuah tulisan untuk menegur diri sendiri

*hitung mundur menuju MID*

Dan.. Ramadhan sebentar lagi.. suguhan apa yang telah kau siapkan menyambut tamu istimewa itu, Jar? *jleb

#foto jepretan adikku.. pake HP.. baguus yaaa.. fajar gitu *kumat narsis* =D

kemantapan hati

Image

pada suatu ketika, perjalanan akan menghadapkan kita dengan persimpangan
itu sebuah keniscayaan
tidak bisa tidak, menyusuri liku hidup akan menghantarkan kita pada simpang yang mungkin bukan hanya dua, bisa jadi tiga atau lebih rute perjalanan
kita tahu persis tidak memilih juga adalah sebuah pilihan
meskipun sejatinya semua telah digariskan

aku memang telah memulai sebuah perjalanan, yang kutahu bekalku belum cukup
istilah yang sering kudengar, perjalanan yang mendahului bekalnya
ah, apa mau dikata sebuah keterlanjuran yang takpernah kurencanakan
hingga sampai pada suatu harap bahwa di sepanjang perjalanan aku mampu meneguk bekal dari oase-oase perhentian
yang semoga cukup untuk menyambung nafas meniti langkah ke depan

dan di episode ini, kutemui sebuah persimpangan yang bahkan aku tak tahu ada berapa banyak cabang rute perjalanan di hadapan
yang pastinya menagih petanggungjawaban
aku tergugu
bingung, katamu

kemantapan hati, itu kata kunci yang kaunasihatkan padaku
setiap pilihan mengandung risiko, itu kemestian
dan kini yang harus kucari adalah kemantapan hati

ah, iya
kemantapan hati hanya akan ada jika aku paham jalan yang akan kutempuh apa risikonya, apa rintangannya, apa baik dan buruknya
kemantapan hati hanya akan ada jika aku memahami apa pilihan yang kuambil
kemantapan hati hanya akan ada jika aku memiliki dasar yang kuat dalam menentukan, bukan sekadar ekspektasi, asumsi sesaat atau perspektif sensasi
bukan juga karena keterpaksaan yang samar maupun terang-terangan

bukan pula menentukan rute hanya berdasarkan siapa yang akan berjalan di rute itu
namun, karena sebuah tujuan jelas dengan jalan yang benar yang ingin kuperjuangkan

kemantapan hati..
semoga segera kutemukan
hingga siap menanggung risiko apapun di perjalanan dan menikmatinya dengan penuh keyakinan
sungguh ingin berbekal sebaik-baiknya
sungguh ingin menjadi golongan yang selamat
sungguh ingin berada dalam jalan yang lurus

do’akan aku sobat..

*celoteh dini hari habis kebanjiran*

ahaha

#fotonya adekq lah.. hehehe

ngomong-ngomong ini tanggal 3 bulan 3.. *njuk ngopo

Genggam di Senandung Cinta untuk Ibunda #2

Image

 

“… dengan senyummu luluh setonggok angkuh

halau segunung risau

hempas sekerat cemas … “

“… dengan usap lembutmu tepis berbagai tangis

tangkis serentetan gigis”

“Perih luka tak lagi terasa gamang pun mendadak tumbang”

Ini kutipan puisi “Genggam” yang alhamdulillaah berhasil memperoleh ini..

sertifikat fajar

hehehe.. dan baru ngeh tadi.. jebulnya yang juara 1 & 2 itu laki-laki semua plus ketua-ketua FLP wilayah.. hadeeeh.. -_-‘

Alhamdulillaah..

buku antologinya sudah terbit.. =D

ada yang mau? qiqiqi  ke sini aja yah..

Judul Buku : Senandung Cinta untuk Ibunda#2 (Antologi Puisi)
Penulis : Asmaida Lubis , Fathor Rozi, Jaraway Al-Fajr, dkk.
Terbit : Februari, 2014
ISBN : 978-602-1363-01-0
Uk. Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 170 Hlm

Harga Buku : Rp. 51.000 ( Untuk tim penulis Rp. 46.000)- Belum Termasuk Ongkir

Promo Pre-Order ( 23 – 28 februari 2014, cetak buku tgl 28 Februari, pengiriman tgl 8 Maret 2014)

Harga 1 buku plus ongkir selama PO; Rp. 58.000 ( untuk tim penulis Rp. 53.000)
Order > 2 buku dapat potongan harga lebih

Pemesanan : via inbox penerbit Asrifa, via sms 085624070744, pin BBM 75AC2BB9

Tentang Buku :

Senandung Cinta untuk Ibunda adalah buku antologi puisi dari para peserta terpilih event menulis “Senandung Cinta untuk Ibunda”.
__________________
Cinta teruntuk ibunda, meski tak seutuhnya bisa dilukiskan dengan kata-kata, karena jasa, pengorbanan dan kasih yang tiada tara. Namun dalam deretan aksara dalam buku ini, senandung cinta ada untukmu wahai ibunda.
[Wien, penulis, Bandung]

__________________
Senandung Cinta untuk Ibunda, sejatinya bukanlah sekedar goresan kata-kata. Ia adalah prasasti yang dipahat atas nama cinta dan rindu. Sebab itu, ia akan mengabadi melintasi usia zaman. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah persembahan sederhana untuk sosok yang tak pernah cukup kata untuk menceritakannya. Senandung Cinta untuk Ibunda, sebuah ungkapan cinta yang sayang untuk dilewatkan!
Selamat kepada para penulis. Semoga setiap amal dan kebaikan yang ada dalam buku ini, sekecil apapun itu, pahalanya juga mengalir untuk Ibu yang telah melahirkan sosok-sosok dalam buku ini!
[Syarif Husni, Cerpenis dan Ketua FLP Mataram, NTB]

_________________