LDK : Akankah Hanya Menjadi Fondasi yang Tak Kunjung Kokoh Berdiri?

Babak 1 : Aku Anak Rohis… (lho?!)


Apa yang terbayang kalau mendengar kata-kata Lembaga Dakwah Kampus?? Mungkin bagi sebagian atau bahkan mayoritas kalangan mahasiswa, ia [LDK :red] merupakan sebuah lembaga berisi kumpulan orang-orang ‘alim’ yang udah sangat menguasai ilmu dien, tempat ‘nongkrong’nya aja di masjid, kumpulan ikhwan-ikhwan kebanjiran (bercelana cingkrang maksudnya), dan akhwat-akhwat jilbab besar..hoho… Jadi ingat nasyid itu lho..-aku anak rohis, selalu optimis, walaupun berkantong tipis, tetap aktivis- (eh..bener ga ya liriknya…?!? lupa-e).


Citra yang tertanam dari label ADK pun kesan eksklusif. Mereka yang akrab luar biasa (tiap ketemu aja cipika-cipiki) dengan sesama ‘orang-orang’ masjid, tapi kalau dengan yang lain tiba-tiba jadi seorang yang ‘disegani’ (maksudnya orang-orang jadi segan buat deket-deket…, hehe). Trus kalo udah acara dari LDK, ya…pastinya ga jauh-jauh dari kajian dan kajian. Bukan hal yang salah sih…tapi apa iya da’i se-eksklusif itu? Apa iya dakwah sesempit itu?

Mari kita coba tengok sejenak sejarah berdirinya sang ‘fondasi’ dakwah kampus [LDK :red] yang mulai merebak di sekitar tahun 90-an. Berawal sebagai sebuah semangat ‘kembali ke masjid’ dari para syuyukh dakwah kampus, berkembang menjadi lahirnya Lembaga Dakwah Kampus _lembaga legal yang diakui oleh birokrasi kampus_ kegiatan-kegiatannya yang notabene merupakan kegiatan dalam rangka dakwah ilalloh di wilayah kampus diizinkan dan ‘dilindungi’ oleh rektorat, dekanat, pengurus jurusan. Bahkan didanai kampus. Sungguh pencapaian luar biasa yang tentunya lahir dari perjuangan yang tidak mudah pula. Hal yang tak mungkin terjadi terjadi pada masa orba, dimana kekuatan Islam dianggap berpotensi mengancam stabilitas negara (masih ingat peristiwa tragedi Tanjung Priok?!).

Lalu apa sih yang mereka [sesepuh dakwah kampus] harapkan dari lahirnya Lembaga Dakwah Kampus ini? Apa fungsi sesungguhnya? Hal ini tentu tak lepas dari fungsi kampus sendiri sebagai bagian dari kaum intelektual, cendekiawan negeri ini. Tak jauh juga dari fungsi mahasiswa, pemuda, sebagai generasi penerus yang merupakan calon-calon pemimpin masa depan, calon pengisi peran-peran pembangun bangsa dan peradaban. Elemen yang masih senantiasa dianggap netral, tidak terpengaruh kepentingan-kepentingan tertentu, masih dipercaya sebagai yang mewakili kondisi masyarakat, mendengar suara keroncongan perut rakyat, dan yang berani menyuarakan. Kritis yang senantiasa ilmiah.

Dari fungsi strategis nan istimewa inilah, tidak mungkin tidak, gerakan dakwah harus diperjuangkan di lahan subur ini. Sebuah gerakan yang membawa ‘isu besar’ : dari masjid kita bangun sejarah peradaban bangsa dan umat manusia.



[“Awalnya adalah revolusi dengan semangat meletup-letup,
setelah itu adalah kerja membangun dengan kesabaran berlipat-lipat.
Tadinya hanya satu kalimat singkat,
seterusnya adalah konsistensi hingga akhir hayat.
Sebelumnya hanya lintasan ide dalam pikiran,
selanjutnya adalah penelitian pembuktian yang menuntut ketekunan panjang.
Jika semangat itu seperti sungai maka kesabaran harus seperti samudera”]


Babak 2 : Gerbong Besar Itu Bernama LDK…[Menuju Stasiun Impian]


Arahan besar dakwah kampus yang tentunya diperankan oleh aktor utama “sang LDK” yaitu suplai afiliator Islam dan transformasi Islam masyarakat kampus. Afiliator Islam –> mereka yang berafiliasi pada Islam, belum tentu harus mereka yang sudah menjadi kader. Afiliator-afiliator Islam inilah yang nantinya akan mengisi posisi-posisi strategis dalam usaha membangun peradaban dan mewarnai di situ dengan ‘shibghotalloh’. Dan dakwah kampus diharapkan berfungsi mencetaknya. Transformasi Islam masyarakat kampus –> bisa diistilahkan dengan Islamisasi kampus, pastinya jauh dari Islamfobia -baik oleh non muslim atau bahkan umat muslim sendiri di kampus-.

Fungsi utama yang harus diampu oleh LDK itu sendiri, minimal ada 2 hal utama yaitu kaderisasi dan syi’ar. Kaderisasi itu peran ke dalam, kalau syi’ar ke luar.

Kaderisasi…

Kader merupakan aset termahal dari gerakan dakwah, bukan lembaga, fasilitas, atau dana sekalipun. Begitu pula dakwah kampus. Sebuah pekerjaan yang tak akan selesai dalam 4 tahun [masa kuliah :red], apalagi hanya 1 kepengurusan. Oleh karenanya ‘aset termahal’ ini merupakan aset yang harus diutamakan ‘kelestariannya’. Tongkat estafet ini akan terus digulirkan, maka kita harus menyiapkan sprinter selanjutnya yang akan melanjutkan ke garis finish. Karena ketika dakwah kampus tak ada kader, layaknya kereta yang tak ada masinis dan bahan bakarnya. Kereta dakwah yang salah satu gerbongnya LDK, akan berhenti sebelum sampai ke pemberhentian terakhir, stasiun impian.

Yang perlu kita perhatikan dalam hal kaderisasi, bukan semata mengejar aspek kuantitas, namun yang lebih utama adalah kualitasnya. Kalau istilahnya Arya Sandhiyudha [mantan ketua Salam UI] barisan inti penuh berkah. Coba kita lihat QS 3: 146-148. Dalam ayat tersebut Allah memberikan taujih (arahan) bahwa; pertama, Nabi membutuhkan pengikut dalam jumlah yang besar sebagai barisan mujahid fi sabilillah. Kedua, mereka memiliki kualitas yang andal dalam medan perjuangan; tidak mudah lemah (‘adamu al wahn), tidak mudah lesu (‘adamu adh dha’fu), tidak gampang menyerah (‘adamu al istikanah). Ketiga, mereka adalah orang-orang yang menyadari kelemahan dan kesalahan diri. Maka, fokus kerja kaderisasi, yaitu: (1) to raise the quantity (numu al kamiyah), kuantitas (2) to develop the quality (numu an nau’iyah), kualitas (3) to build up the competence (numu al qudrah). *)

Fungsi kaderisasi ini meliputi proses-proses pendataan; rekrutmen kader; ri’ayah (penjagaan) dan tarqiyah (up grading); penataan dan pengkaryaan; serta mutaba’ah (control & monitoring), pokoknya semua hal yang berkaitan dengan pembentukan kader-lah. Untuk mendukung proses-proses tersebut diperlukan pula koordinasi dan komunikasi antar elemen LDK. Dan yang tak kalah penting adanya elemen LDK yang memang bertugas khusus mengampu proses ini. Ada elemen yang khusus mensistemkan bagaimana kaderisasi di LDK, bagaimana alurnya, bagaimana standar mutu kader LDK yang harus dicapai sistem kaderisasi LDK, bagaimana pembagian peran elemen-elemen LDK dalam fungsi kaderisasi, dsb.

# Pendataan
Berbicara mengenai data, tentu bukan hal yang boleh diremehkan. Masih ingat strategi perang Tsun Zu (bener ga ya nulis namanya gini?), dari tiga strategi, yang pertama adalah kenali dirimu. Dua strategi yang lain juga sebenarnya bisa dimasukkan dalam wilayah kerja pendataan yaitu kenali musuhmu dan kenali medan. Dalam hal ‘perang’ dakwah kampus, yang dimaksud dengan kenali dirimu, adalah dengan tahu pasti seberapa besar kekuatan dan potensi kita. Berapa jumlah kader lembaga yang aktif.

Saya katakan yang aktif karena kita perlu hati-hati dengan para pseudo-ADK yang namanya ada di ‘kertas’ tapi ghaib di lapangan. Jangan terkecoh dengan jumlah semu. Ketika kita tahu berapa jumlah kader aktif; kecenderungan, kafaah dan potensinya bagaimana; track record di lapangannya sudah sejauh apa; sudah sampai alur kaderisasi yang mana, maka akan sangat mudah nantinya dalam penataan dan pengkaryaan. Se
hingga ‘perang’ bisa kita menangkan dengan kekuatan optimal.

Kita juga akan tahu, kebutuhan kita akan tambahan kader seberapa besar dan membutuhkan kader yang seperti apa, itu untuk menentukan strategi perekrutan. Jumlah kebutuhan akan tambahan kader ini bisa kita analisis dari apa fungsi dari tiap elemen, perkiraan jumlah orang yang harus mengampu di fungsi itu berapa [yang optimal].

Tentang kenali musuhmu dan kenali medan ini, kita melakukan proses pendataan tentang apa saja hal-hal yang mengancam dakwah kampus ini, seberapa besar kekuatannya dan kita jadi tahu berapa kader yang kita butuhkan dan keder yang seperti apa untuk menghadapi mereka.

Kenali medan –> kita mengenali karakteristik kampus kita. Setiap wilayah kan punya keunikan tersendiri, pastinya treatmentnya tidak akan sama. Tapi di fungsi ini kita baru sekedar mendata. Belum sampai ke proses pemetaan atau strategi ‘perang’. Namun justru data inilah kunci untuk membuka proses-proses selanjutnya. Supaya kita tidak asal berperang tanpa perhitungan. Jangan sampai bukan mati syahid justru mati konyol yang akan kita tuju.

# Rekrutmen
Melakukan rekrutmen seoptimal mungkin. Mengapa seoptimal mungkin, bukan sebanyak mungkin? Jangan sampai nanti kadernya banyak justru sulit mengelola, malah menjadi permasalahan sendiri. Kata kuncinya adalah keoptimalan. Disinilah kekuatan data berperan penting.

Rekrutmen pastinya masuk dalam salah satu bagian alur kaderisasi LDK, dengan berbagai strateginya, dengan berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan. Atau dengan istilah lain dengan berbagai pintu masuknya. Tapi kita jangan lupa peran dari kader yang sudah ada di LDK-lah yang utama untuk fungsi perekrutan. Kaderlah ujung tombak dari proses rekrutmen. Disini dakwah fardhiyah (personal) yang utama. Sebagus apapun acara untuk merekrut kader, kalau ujung tombaknya tak mau berdakwah fardhiyah, maka hasilnya sulit untuk sesuai yang diharapkan. Di sini kualitas kader sangat menunjang.

Satu lagi catatan, dalam rekrutmen kita jangan hanya terpatok pada waktu rekrutmen yang ada pada alur kaderisasi. Tapi rekrutmen selayaknya dilakukan sepanjang masa kepengurusan. Siapa tahu, mutiara indah itu masih tersembunyi di antara tumpukan jerami dan baru mau bergabung di tengah-tengah kepengurusan. Pada fungsi ini, keberhasilan adalah pada terpenuhinya kuantitas kader.

# Ri’ayah dan Tarqiyah (penjagaan dan up grading)
LDK perlu menciptakan sistem ri’ayah yang dapat membantu proses akselerasi kematangan kualitas maupun kompetensi. Ri’ayah yang dilakukan meliputi aspek ma’nawiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Poin pertama dan ketiga sering kurang diperhatikan, lebih banyak ke penjagaan aspek fikriyah. Ini yang perlu diperbaiki.

Dalam fungsi ini juga terdapat proses melakukan rangkaian up grading yang ada di alur kaderisasi secara khusus terhadap kader yang diselaraskan dengan posisinya di LDK, apakah sebagai staf atau sudah dalam level ‘manajer’ [pastinya beda kan kebutuhan staf dan kadept ato kabid]. Kemudian juga manuver strategi-strategi yang sifatnya stuktural maupun kultural untuk percepatan kader dalam memenuhi kualifikasi, misal diskusi ilmiah.

Serta pemberian suplemen terhadap ADK sehingga memenuhi kualifikasi standar ADK. Pemahaman kafa’ah syar’iyah, syaksyiyah da’iyah,dll yang merupakan pemahaman dasar seorang da’i, pemenuhannya bagi kader berpusat pada fungsi ini. Pencapaian target kualitas dan kompetensi kader adalah inti dari poin ini. Semuanya masuk dalam fungsi ri’ayah dan tarqiyah. Bisa dibilang hal tersulit pada fungsi kaderisasi yang membutuhkan porsi cukup besar dalam perumusan dan pemikiran.

# Penataan dan pengkaryaan
Di sini LDK berperan melakukan penataan dan pengkaryaan sehingga setiap ADK terberdayakan sesuai dengan kecenderungan, kafaah dan potensinya. Jangan sampai ada kader yang terlalu ter-vorsir energinya, sementara ada pula yang ga pernah kebagian jatah amal. Ketimpangan ini sangat berbahaya, karena akan berdampak pada psikologis kader. Ada yang merasa terlalu capek, ada yang merasa tidak dipercaya, dsb. Walaupun tidak ada yang ingin hal itu terjadi, tapi secara tidak langsung sering kebijakan di LDK justru mengarah ke hal ini. Ketersediaan data sangat dibutuhkan untuk hal ini.

Selain itu juga harus menjaga secara serius ketersediaan kader/ADK di setiap elemen tidak hanya ketika mau suksesi. Menjaga keseimbangan antara usia amanah dengan usia akademis kader dengan adanya fungsi ini.
Langkah-langkah strategis:
=> Pembacaan/penjaringan potensi kader dengan pengisian form penjaringan potensi (berkaitan dengan fungsi pendataan)
=> Penumbuhan potensi dan aktualisasi dengan cara pelibatan langsung di lapangan sesuai dengan potensi, keinginan, dan kebutuhan lapangan
=> Penataan/plotting kader (penempatan di pos yang sesuai)

# Mutaba’ah (control & monitoring)
Penjabaran dari fungsi ini antara lain yaitu proses-proses sebagai berikut :
# memantau perkembangan setiap ADK sejak awal masuk kepengurusan LDK,
# screening terhadap ADK yang akan menempati posisi strategis lembaga dari sisi kapabilitas kerja lapangannya
# senantiasa mengadakan evaluasi secara intens terutama terhadap progress dan produk-produk riil kaderisasi
# membuat format standar mutaba’ah kader dan lembaga.

Dari seluruh fungsi kaderisasi ini juga membawa misi penting dalam arahan dakwah kampus, mencetak afiliator-afiliator Islam. Ketika masinis itu orang yang handal, bahan bakarnya banyak dan berkualitas tentu kereta akan semakin cepat maju (sebenarnya pemisalan ini kurang tepat, tapi.. ya paling tidak bisa sedikit menggambarkan). Dalam dunia kampus, kita mengenal ada 2 jenis kader –> bergerak dan tetap (istilah saya sih…). Kader bergerak itu maksudnya mahasiswa, yang tidak akan lama berada di kampus biasa diistilahkan ADK (Aktivis Dakwah Kampus), kalau kader tetap yaitu dosen dan karyawan biasa diistilahkan ADKP (Aktivis Dakwah Kampus Permanen).

Oiya, satu catatan lagi, dari fungsi kaderisasi yang sudah dijabarkan panjang diatas bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya kaderisasi ini fungsi yang konkret, bukan abstrak. Memang mungkin bahasanya agak sedikit ‘berat’ jadi terkesan abstrak karena ga ngerti.. tapi sebenarnya wilayah kerjanya sangat jelas dan konkret. Jadi kalau ada yang bilang kaderisasi itu abstrak, jangan percaya! Hoho ^_^
[panjang betul ya baru satu fungsi…,udah gitu bahasanya serius amat…amat aja ga serius…hehe, harap maklum, sudah cukup lama berkutat di area ini…jangan dipikir terlalu berat, kalo udah dijalanin asyik koq..mengelola ‘aset termahal’ gerakan dakwah. Mahasiswa kan cerdas-cerdas ya…piss! Kalo bingung, jongkok..lho ga nyambung ]

Syi’ar…

Fungsi ini bisa dikatakan sama dengan fungsi dakwah itu sendiri –> menyampaikan, menyeru… kepada Islam, keselamatan. Di sinilah peran mewarnai kampus terjabarkan dalam arahan DK transformasi Islam masyarakat kampus. Yang sekaligus mensuplai afiliator-afiliator Islam meskipun belum tentu kader, tapi mereka yang beafiliasi pada Islam, mewujudkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai prinsip hidup yang mereka pegang.

Fungsi syi’ar ini pada khususnya adalah bagi seluruh civitas akademika kampus, dan pada umumnya untuk semua masyarakat. Kepada sesama kader dakwah kita punya kewajiban untuk memenuhi hak ukhuwwah, namun kepada mad’u dakwah kita juga punya kewajiban dakwah selain dari ukhuwwah…

Jika kita lihat arahannya adalah transformasi Islam masyarakat kampus maka jangan sampai kita memandang sempit fungsi syi’ar ini dengan ‘sekedar’ menjadi panitia kajian-kajian atau membagikan buletin-buletin dan menempel mading di kampus. Fungsi syi’ar ini juga melekat pada diri masing-masing ADK untuk bisa menjadi ‘ustadz berjalan’ sesuai dengan kapasitas keilmuannya, juga bagaimana menguasai isu bersama di
lingkungan kampus agar dapat meng-counter isu-isu negatif terhadap Islam sehingga masyarakat kampus tidak menjadi fobia terhadap Islam tapi justru mendekat ke nilai-nilai Islam. Yang paling penting adalah agar masing-masing ADK sanggup menjadi da’i ‘yang sesungguhnya’. Itu yang lebih penting.

Ada satu peran lagi yang masuk dalam fungsi ini sebagai pengejewantahannya mentransformasi masyarakat kampus, yaitu fungsi pelayanan umat. Yang dimaksud pelayanan umat di sini tidak hanya ‘sekedar’ peningkatan kualitas sarana beribadah mahdhoh, tapi juga pelayanan terhadap kebutuhan akan majelis ilmu yang memacu pemahaman beribadah, semangat beribadah, dan mengajak orang untuk beribadah. Yang akhirnya membawa mereka menjadi para afiliator Islam. Jika kita ingat kembali kaidah pemimpin sesungguhnya dalam Islam adalah menjadi pelayan dari yang dipimpin, kukan jadi penguasa. Jadi ketika kita ingin memimpin masyarakat kampus, dalam hal ini ‘memerintah’ masyarakat kampus agar menjalankan Islam secara kaaffah, maka kita harus siap menjadi pelayan umat terlebih dahulu. Itu hakikatnya. Tul ga?!

Kalau fungsi kaderisasi bertugas memastikan kereta dakwah ini ada masinis dan bahan bakar yang bermutu (baik jumlah, kualitas, dan kompetensi), maka fungsi syi’ar ini bertugas menjadi agen dan ‘calo-calo’ tiket kereta, yang mencari sebanyak-banyaknya penumpang untuk ikut dalam perjalanan kereta dakwah yang salah satu gerbongnya yaitu LDK. Tentu saja agen-agen dan ‘calo-calo’ ini adalah para kader. Dan selayaknya mencari pembeli tiket, para agen dan calo ini harus sangat ramah, bermuka manis, karena “pelanggan adalah raja”. Apalagi jika kita ingat upah dari apa yang dilakukan dari ‘bisnis’ ini sangat menggiurkan. Coba baca Ash-Shof: 10-13. (beneran, baca ya…rugi kalo ga.. ok?! )

Tentu saja kedua fungsi ini tidak bisa berdiri sendiri –>saling bersinggungan dan berjalan beriringan. Kalau dalam diagram Venn, ada irisan diantara 2 himpunan. (iya ga sih?!… hehe.. lupa…)

Fungsi tambahan…
Di atas tadi saya katakan minimal 2 fungsi utama, karena harapannya tidak hanya 2 fungsi itu saja, tapi minimal 2 fungsi itu ada baru LDK bisa dikatakan LDK… lho… (ya gitu lah.. semoga ngerti maksudnya…). Sementara masih ada fungsi-fungsi lain yang juga idealnya bisa diampu oleh LDK, sekali lagi ini idealnya.. kalau realita belum tentu semua fungsi ini mungkin untuk dilaksanakan.

Semisal fungsi jaringan. Dakwah akan kokoh ketika jaringannya kuat, banyak yang menopang dan saling mendukung dalam visi yang sama. Bisa jadi jaringan ke sesama LDK, lembaga non LDK, lembaga di luar kampus, ke perorangan, dll yang mendukung dakwah.

Ada juga fungsi kemandirian finansial, yang dengan ini LDK tidak hanya tergantung dengan pendanaan dari rektorat, dekanat, atau jurusan, tapi justru mempunyai unit usaha tersendiri yang bisa menghasilakan dana untuk pembiayaan dakwahnya.

Fungsi lainnya adalah pemberdayaan masyarakat. Jadi agar dakwah kampus juga memberi kontribusi untuk pemberdayaan masyarakat kampus atau sekitar kampus. Agar kampus juga punya manfaat yang langsung dirasakan masyarakat. Contohnya dengan program gerakan anak asuh, KKN tematik, dll.

Yang perlu senantiasa diingat, kesemua fungsi itu harus dijalankan dalam rangka membawa gerbong bernama LDK ini menuju stasiun impian..

Babak 3 : Kini…Ada Aral Melintang…AWAS!

Oh.. eL..De..Ka…riwayatmu.. kini.. koq malah nyanyi Bengawan Solo..hehe.. Back to topic… yaitu apa yang terjadi saat ini di LDK. Ternyata di masa sekarang, muncul fenomena-fenomena yang menjadi kendala dalam dakwah kampus di tubuh LDK itu sendiri. Gawat.
Fenomena itu antara lain :

1) Sekuler [dalam tanda petik]

LDK sebagai representasi wajah DK sekaligus wajah umat Islam di kampus saat ini posisinya terjebak menjadi sekuler. Maksudnya sekuler di sini adalah praktik Islam yang mengalami penyempitan makna, atau lebih tepatnya pemisahan makna LDK, ya, tugasnya melakukan pengajian, dan aktivitas-aktivitas ‘ibadah mahdhoh’ di masjid. Selain itu, serahkan saja pada lembaga lain. Jika demikian, maka tak heran jika pengurus LDK diundang oleh lembaga lain ‘hanya’ dalam acara-acara baca do’a dan me-ruqyah orang yang kesurupan jin.*)

Ga salah si… tapi juga harus diperhatikan bahwa jangan sampai itu jadi representasi Islam. Karena Islam itu syamil, kamil dan mutakamil (menyeluruh, sempurna dan menyempurnakan), bukan ‘sekedar’ berkutat di wilayah-wilayah ritual keagamaan. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang berpemikiran sekuler, liberal, bahwa agama hanya ‘berperan’ dalam area ritual peribadatan. Agama itu urusan pribadi, personal, negara tak berhak dan tak berkewajiban atas agama. Berbahaya. Ga bermaksud nakut-nakutin, tapi ya inilah yang terjadi.

Image LDK kalau tetap seperti itu bisa jadi membuat citra yang melekat terhadap Islam adalah bukan sebagai solusi permasalahan umat. Lalu bagaimana nasib fondasi yang telah dibangun oleh masyaikh dakwah kampus? Bukan melebih-lebihkan, namun bagaimana kalau sampai dengan entengnya para ADK ‘melepaskan diri’ dari tanggung jawab meperjuangkan nilai-nilai Islam di kampusnya. Hal ini yang menjadikan munculnya kesan eksklusif pada diri ADK, kayak udah ada labelnya. Sebuah pemelencengan visi membangun peradaban dari kampus yang menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. Hemm… fondasi ini… apakah terdapat keretakan di dalamnya atau bahkan ada keruntuhan.

2) Tidak optimalnya masing-masing fungsi dari LDK

Dari penjelasan diatas fungsi utama LDK ada 2 minimal, yaitu kaderisasi dan syiar. Yang terjadi saat ini, fungsi-fungsi itu tidak optimal bisa dijalankan oleh LDK. Kepahaman ADK tentang fungsi-fungsi ini sangat kurang, karna lambat laun mengalami eliminasi fungsi. Jadi ada yang beranggapan bahwa LDK hanya seperti EO (event organizer). Terlalu terkotak-kotakkan dengan bidang/departemen yang ada. Jadi seolang-olah fungsi kaderisasi hanya “boleh” diampu oleh bidang kaderisasi. Fungsi syi’ar hanya diampu oleh bidang syi’ar atau media. Bukan pemahaman bahwa fungsi itu begitu luas dan maing-masing ADK punya tanggung jawab untuk menjalankan setiap fungsi itu, sesuai kemampuannya, tanpa terkotakkan bidang atau departemen yang ada.

Selain itu juga ketidakoptimalan ini sering terjadi karena kurang jeli dalam melihat sasaran dari fungsi-fungsi itu yang akan diwujudkan dalam agenda dan kegiatan. Jarang dianalisis, ketika ada kajian yang sasarannya semua mahasiswa, siapa saja sih yang hadir. Atau justru hanya pengurus LDK? Bisa jadi hal itu karena metodenya atau materinya kurang pas dengan apa kebutuhan mahasiswa, atau masalah tempat dan pembicara. Kalau memang yang hadir hanya pengurus, kenapa tidak sekalian materinya disesuaikan dengan standar mutu ADK. Diseriusi, dimutaba’aahi, dan terfollow up. Ada mekanisme reward and punishment yang “mendidik. Bukan ‘sekedar’ materi-materi kontemporer. Kurang jeli dalam memetakan sasaran dari setiap agenda yang dilaksanakan.

Harus diakui, bahwa sampai saat ini salah satu kelemahan dari dakwah kita yang lebih banyak berkembang di kampus-kampus sekuler adalah kebelummampuannya menjadi ‘kutub keislaman’ di arena nyata masyarakat. Lembaga-lembaga kajian Islam kita di kampus ini belum diakui sejajar dengan lembaga-lembaga kajian Islam yang benar-benar mengaji Islam. Akhirnya, objek dakwah yang berminat dengan Islam pun seringkali sulit tertarik karena penca
riannya akan ilmu Islam tidak tercapai ketika mendekat ke gerakan dakawah, atau bahkan kecewa setelah bergabung dengan lembaga dakwah karena akhirnya ia hanya dieksploitasi untuk melakukan kerja-kerja organisasi.*)


3) Terjebak dengan “proker tahun lalu”

Sebuah fenomena yang cukup berbahaya adalah proker yang dibuat di LDK seringkali bukan berorientasi pada visi, tujuan; tapi biasanya seperti apa, tahun lalu apa saja; padahal tantangan tiap periode terus berkembang, kondisi menan dakwah terus berubah; namun tetap terjebak dengan paradigma masa lalu. Budaya ‘copy paste’ saja proker tahun lalu ini sangat berbahaya apalagi kepahaman akan fungsi LDK juga kurang. Tak ayal cap ‘sekedar EO’ pun makin kuat tersandang di LDK.

Fenomena ini bisa dilihat ketika anjangsana antar LDK. Biasanya saling tukar proker. Bagus mungkin, untuk beberapa sisi; tapi jangan lupakan untuk saling mengingatkan visi bersama apa yang diusung. Itu jarang sekali dibicarakan. Kalau berbicara tentang proker, sedikit sekali yang bisa diambil karena tiap LDK punya keunikan medan dakwah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal yang aneh lagi adalah pengurus LDK sangat pandai merangkai kata-kata untuk menyusun proker agar tampak ‘wah’ dan berapologi ketika target tidak terpenuhi. Bahasa kasarnya ‘sekedar pemanis bibir’ tapi enggan menggali lebih dalam akar kesalahan.
Keterjebakan ini salah satunya diakibatkan oleh proses transfer antar kepengurusan yang buruk. Sehingga terjadi penghancuran fondasi yang telah dibangun oleh periode sebelumnya dan membiarkan yang setelahnya memulai dari awal lagi untuk membangun fondasi justru dengan bahan baku yang kurang baik kualitasnya.

4) Internal

Permasalahan komunikasi antar LDK, antar elemen LKD, antar qiyadah dan jundinya, sering menjadi kendala dalam optimalisasi kerja-kerja dakwah dalam LDK. Mungkin karena kemajuan teknologi komunikasi yang menjadikan sangat mudahnya menyampaikan informasi jarak jauh, jadi jarang silaturrahim, beda dengan dulu yang ‘jarang HP’ jadi mau gak mau datengi kos atau rumahnya. Seharusnya kemajuan teknologi ini lebih memudahkan untuk lebih komunikatif,jadi potensi tersendiri; tapi sayang kondisinya justru tidak seperti itu.

Kondisi internal yang bermasalah ini sangat menghambat dakwah itu sendiri. Karena capek ngurusi internal energinya sudah habis untuk memikirkan umat. Selain permasalahan komunikasi juga ada fenomena ketidaktsiqohan terhadap mas’ul. Ada ungkapan bahwa “kepemimpinan dalam dakwah memiliki hak orang tua dengan ikatan hati, hak ustadz karena faktor ifadah ilmiyyah, hak syeikh karena tarbiyah ruhiyah, hak panglima dalam kebijakan umum dakwah, dan dakwah menghimpun semua makna ini.” Fenomena yang ada sekarang fungsi-fungsi mas’ul itu sangat jauh dari kondisi ideal dan akibatnya, jundi pun tidak tsiqoh kepada sang pemimpin. Ada aja alasan untuk menolak ‘amr dari mas’ul.

5) Lain-lain

Sayangnya fenomena-fenomena yang menjadi kendala itu tidak habis sampai di situ. Berikut ini saya ambil dari tulisan salah seorang PH (Pengurus Harian) KMT (Keluarga Muslim Teknik) _Lembaga Dakwah di Fakultas Teknik UGM_ yang ga sengaja taktemuin di kumpulan lembaran-lembaran kertas lama, cuma selembar kertas yang udah lapuk. Beliau mengupas 20 ‘fenomena’, yang harus dihilangkan dari KMT. Memang itu ditulis tahun 2000, tapi saya rasa sampai saat ini masih belum hilang dan harus disampaikan karena cukup mewakili apa yang terjadi di banyak LDK.

Yang (mungkin) keliru dari KMT
-an auto critic for iem and his team-

Pada awalnya, saya terkesan pada tulisan Eep di Republika ba’da Lebaran Qurban kemarin. Melakukan hal yang sama untuk KMT saya pikir sebuah langkah yang cukup bagus buat KMT (dan referensi yang baik untuk KMT-3). Dan, kalau mirip tulisan Eep yaa, emang.
Evaluasi KMT. Itu yang coba saya lakukan, dan mungkin sebagian besar sangat subjektif (meski mencoba objektif dengan masukan dari luar). Dan jelas, ini merupakan otokritik karena saya tidak mengamati dari luar, tapi justru sebagai pelaku aktif bahkan penentu kebijakan. Beberapa hal masih debatable dan discussable, dan itu lebih baik sehingga wacana ke-KMT-an bisa menjadi terbuka dan terdialogkan.
Dan daftar itu adalah sebagai berikut:

1. Menjadikan KMT sebagai sekedar organisasi, bukan sebagai lembaga dakwah. Sehingga kecewa ketika kegiatan gagal tapi tidak sadar ketika tugas dakwah (dengan ajakan, dengan senyum, dengan keramahan, dengan IP) tidak terjalankan.

2. Kerap menjadikan kegiatan sebagai tujuan, buka kegiatan sebagai alat dakwah. Makanya kita lebih panik ketika kegiatan bermasalah, tanpa sadar esensi dari kegiatan.

3. Senang membuat program, kurang bisa membikin agenda. Jadinya program KMT subhanallah, banyak, keren, dan megah tapi…, tanpa konsep or follow up yang jelas.

4. Terlampau mencintai romantisme masa lalu, terus lupa memahaminya sebagai sebuah proses dan eksperimentasi. Misal gini KMT-2 kok lebih kacau dari KMT-1 yang adem ayem.

5. Selalu ingin cepat meraih hasil, melupakan keharusan untuk bersabar. Padahal dakwah akan selalu bertahap tidak langsung jadi. Inget kata Asfan dulu : “KMT bayi kecil yang banyak maunya”

6. Lebih senang membuat kerumunan dan mencintai kuantitas massa, dan melupakan penggalangan barisan dan mencapai kualitas. Emmm…, ketika peserta dikit susah en stress dan lupa yang dikit itu mo diapain.

7. Sibuk berurusan dengan kulit, lupa dengan isi.

8. Cenderung menalar secara simplistis, kurang suka dengan kerumitan dan kecanggihan analisa. Makanya muncul kesimpulan sederhana, si A begini, tanpa paham kenapa si A bisa begitu.

9. Enggan melihat diri sendiri sebagai tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung berharap perubahan dari pemimpin. He he, ini bukan apologi saya. Tapi konsep awal organisasi KMT dulu juga begini, yaitu melepaskan kreativitas dan inovasi personal.

10. Cenderung memahami dan menjalankan dan menjalani segala sesuatu secara parsial, tidak secara integral (kaffah).

11. Senang dengan soal jangka pendek,kurang telaten pada agenda jangka panjang .Eh tahu nggak KMT -4,5,6 mau dibawa kemana ?

12. Senang menghapalkan tujuan dan mengabaikan metode,tidak berusaha memahami tujuan dan merumuskan metode.Kalauitu,saya yang paling suka menghapalkan tujuan dan tetek bengeknya dan benar-benar melupakan metode.Duh!!

13. Senang menawarkan program revolusiner tapi abai membangun infrastruktur revolusi.Hayoo.Pada sadar ndak, seberapa jauh or seberapa kuat kita telah bangun infrastruktur KMT? sehingga kita mo bergerak sehebat itu?

14. Sangat pandai melihat kesalahan orang lain kurang suka melakukan instropeksi. Padahal kita sadar ini ndak islami. Or suka memvonis tapi tidak berlaku adil.Termasuk nyuruh orang muhasabah tapi nggak ngajak muhasabah bareng.

15. Suka mbangun monumen dan nggak senang mbangun pondasi, karena nggak keliatan, karena nggak keren. Nggak ikhlas nih?

Maunya cukup tapi, masya Allah ada tambahan lain …

16. Suka rapat, tapi lipa hasilnya.

17. Suka berpesan lewat buku pesan (en jadi buku ajaib), lupa berkomunikasi dan berinteraksi.

18. Suka bersibuk-sibuk beramanah, lupa mengatur kesibukan dan amanah dengan profesional.

19. Suka mutung dan emosional, tidak dewasa dan rasional.

20. Suka makan, lupa ngasih makan dan bilang makasih.

Udahan deh. Panjang memang. Tapi sungguh, saya ingin mengajak kit amembuang satu per satu, sesuai energi kita dan waktu kita. Selanjutnya terserah kita kan…

DI, 8 April 2000

[Memang, tabi’at jalan dakwah tidak akan pernah mudah, bukan jalan yang bertabur bunga, namun penuh onak duri, bertebaran aral melintang.
Tapi yakinlah, ‘buah’nya akan manis,
meskipun belum tentu bisa kita nikmati di dunia.
Laa haula wa laa quwwata illaa billah…]
Babak 4 : Sebuah “Fajar” Harapan…Judulnya “Pembaharuan”

Bukannya pengen narsis (hehe), tapi mari kita tiru keistiqomahan sang fajar [matahari terbit:red] yang membawa semangat perubahan tiap harinya. Dari gelap ke terang. Beberapa poin yang bisa saya usulkan dan yang bisa kepikiran :

1. Membudayakan tradisi ‘ilmiyyah [membaca, riset, diskusi, menulis, aksi.. hehe]

Sungguh aneh ummat yang ayat pertamanya iqro’, tapi males baca. Baik itu baca yang makananya sempit atau yang maknanya luas; membaca kondisi, perkembangan, dsb. Ini berkaitan dengan poin kedua; riset. Riset kan bentuk membaca juga. Membaca kondisi berbasis data.

Hal yang sudah disebut di bagian atas -permasalahan- adalah kita lebih sering terjebak pada pola-pola simplisitas. Lebih menyukai hal-hal yang instan, males dengan apa yang ‘ribet’. Padahal tantangan zaman terus berkembang, kondisi mad’u juga terus berubah.. jadi, riset adalah hal penting agar kita tidak sekedar bergerak tanpa dasar.

Malu dunk, UGM aja bergerak menuju research university, masa’ LDK ga mau jadi lembaga berbasis riset. Hehe… intinya jangan terlalu senang dengan sesuatu yang instan. Yang sudah ada kayak gitu, proker dulu-dulu juga gitu… ya.. laksanakan kayak gitu… JANGAN.. Hasilnya tidak akan tepat guna dan tepat sasaran.

Tapi..mari alokasikan energi LDK ‘sedikit’ lebih banyak untuk mau ber-‘ribet-ribet’ ber-‘riset-riset’… bukankah yang ‘dilihat’ itu proses, bukan sekedar hasil. Riset disini selain riset kekinian, juga riset kondisi sejarah; penting untuk transformasi spirit generasi pejuang ke generasi pembangun. Sehingga Fiqh Dakwah yang menurut seorang ustadz merupakan proses mempertemukan KEBENARAN dan KETEPATAN [kebenaran hukum ALLOH, ketepatan momen, waktu, peristiwa, medan, metode, dll] bisa kita lakukan di kampus.

Tentang diskusi, merupakan usaha ‘mikir bersama’ berbagi kepahaman yang nantinya akan menghasilkan gerakan bersama dilandasi visi bersama [kebanyakan bersama ni..hehe]. Dari diskusi ini pula akan memperkaya LDK dengan pemikiran-pemikiran brilian yang mungkin belum tergali mendalam karena tersekat batasan program kerja yang sudah terlanjur disususun. Perkuat budaya diskusi ini! Buat saudara-saudara kita “tidak bisa tidur nyenyak”, ikut andil dalam memikirkan kemajuan dakwah di teknik, kemajuan bangsa, dsb.
Poin ke-4 menulis, ini juga tak kalah penting untuk menyeimbangkan dari membaca dan riset. Juga supaya kita lebih produktif, belajar menyuarakan lewat bahasa tulisan. Dengan menulis pun kit dipaksa untuk ‘rakus’ membaca.

Tak kalah penting adalah aksi. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Pemikiran hebat tanpa aksi juga seperti itu jadinya. Yang dimaksud di sini aksi dalam arti luas. Selain aksi yang sering diistilahkan demo, juga aksi yang berwujud kerja nyata. Kerja nyata untuk dakwah di area kampus dan sekitarnya. ALLOHU AKBAR!!

Tapi satu hal yang perlu diingat juga, gerakan mahasiswa _dalam hal ini LDK_ jangan hanya seperti kata Soe Hok Gie, resi yang turun jika muncul penjahat di sebuah kota; menjadi lebih aktif, paradigmatik dan tersistem. Artinya, kita memiliki visi yang jelas untuk melakukan suatu aksi, tidak hanya bereaksi atas suatu kejadian tertentu. Secara sederhana, kita tidak sekedar “menyelamatkan bayi yang setiaphari dibuang di sungai”, tetapi “mencari dan memcegah adanya pembuangan bayi dengan tindaka terprogram, terarah.” *)

Kalau tradisi ‘ilmiyyah ini kita budayakan, niscaya..perubahan besar akan bisa segera kita rasakan. Sebuah perbaikan tentunya. Kuncinya.. KEMAUAN!

2. Paham esensi

Hal ini utama, karena tanpa kepahaman esensi LDK, lambat laun kita akan kehilangan ruh. ‘Amal itu selayaknya didasari kepahaman, buka taqlid buta. Tradisi ‘ilmiyyah tadi diatas, merupakan upaya untuk mengembalikan esensi dakwah kampus. Esensi keberadaan LDK, yang tentunya bukan sekedar event organizer acara-acara keislaman di kampus.
Yang harus pertama kali dipahamkan memang di tataran qiyadah namun bukan berarti melupakan jundi. Jadi kita pun punya dasar ketika mencetuskan kebijakan untuk mengambil fungsi LDK itu yang mana saja. Jangan takut dianggap melangkahi apa yang sudah dirintis oleh para ‘leluhur’. Kalu memang kondisi saat ini hanya bisa untuk fungsi-fungsi tertentu saja, ya.. jalankan dengan optimal.

Jangan memaksakan harus mengampu semua tapi justru semua tidak terampu.. [tau kan maksudnya?!]

3. Bergerak cepat

Kenapa kuncinya adalah cepat? Seolah-olah melupakan ketepatan. Bukan..bukan itu maksudnya…

Jadi begini.. Kalau kita tidak tepat dan lambat akibatnya akan kacau. Kalau kita tepat tapi lambat, akibatnya sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, kurang optimal juga. Tapi kalau kita tidak tepat namun cepat, kita juga bisa cepat memperbaiki. Dan akhirnya menjadi cepat dan tepat [kayak cerdas cermat aja..hehe].

Biasakan untuk bergerak cepat. Inisiatif..jangan sekedar ‘menunggu bola datang’. Pupuk jiwa pembelajar cepat! Mungkin sekarang kita belum paham, tapi jangan mau berada di kondisi tidak paham itu terus-terusan. Segera belajar untuk jadi pAham.. Karena syurga itu “MAHAL”.

4. Optimis

Dengan bahasa lain berpikir positif [Bedakan dengan apologi] . Bukankah yang berputus asa dari rahmat ALLOH hanyalah orang-orang kafir ? Kitalah yang bisa mengubah kondisi kita & itu insya ALLOH bisa! Masih ingat ayat familiar Ar-Ra’d :11 kan?

Optimis bahwa kondisi yang sudah cukup ‘berbahaya’ ini bisa kita perbaiki bersama. Itu penting! Tularkan optimisme itu ke setiap ADK juga…


5. Berpikir kreatif

Berpikir “out of the box”.. hal yang dikatakan tidak mungkin seringkali hanya belum dicoba. Kreatif di sini tentunya buat hal-hal yang ga ada nash-nya lho.. Jangan kreatif terhadap hal-hal yang sudah jelas hukum dan aturannya dalam qur’an dan sunnah.

Mungkin kesannya ga aplikatif.., ga konkret.., dsb… ya karena persoalan kita sekarang adalah hal-hal mendasar. Tidak bisa tentunya diselesaikan dengan ‘aplikasi sesaat’. Mari berpikir bersama dan jangan mau hal yang instan. Karena imbasnya akan menjadikan kita bergerak tanpa ruh..na’udzubillah.

pemuda… bangkit tegak bentang cakrawalamu
tepiskan kemalasan lepas belenggu dungu
pemuda… asah belati fikir dan akalmu
tunjukkan smangat bagai singa tegar membaja

takkan bebas dunia Islammu hanya dengan ragu
dan termangu menjalin mimpi tanpa gerak maju
takkan tegak dinul Islammu tanpa kerja nyata
dan terjenjang jeratan angan hampa…

pemuda… selalu bertinta emas terukir
berbilang saksi sejarah akan keagungan
pemuda…al Islam membumbung ke langit tinggi
getarkan bumi kokoh ngetuk pintu ar-rasyi

kan terpatri catatan suci bak badar berseri
dan terurai jerat jahili bak khandaq abadi
yakin diri kan tercipta langit khaibar sejati
di naungan asma robbul izzati
(nasyid “seruan”, Izzatul Islam)

Babak 5 : Kerja Besar Tak Bisa Diusung Sendirian

Sekali lagi, kerja besar itu tak bisa diusung sendirian. Mari kita belajar dari semut. Ini takketikin puisinya Abdurrahman Faiz putra Helvy Tiana Rosa, saat ia berumur 8 tahun. Jangan kalah ma Faiz buat mengambil hikmah dari alam, makhluq ciptaan ALLOH.

ODE PARA SEMUT

Di kehidupan para semut
tak satu pun yang tak ikhtiar
tak satu pun yang tak menyapa
tak satu pun yang tak bergiat
semut bergerak cepat

ini jalan berliku
bernama jalan gotong royong
kami susuri bersama
kami kerahkan segenap daya
sambil sesekali menyengat
musuh pemutus jalan kami

ini kami, para semut
makhluk kecil sering tak kau lihat
kadang kami terinjak
di negeri para raksasa
namun kami terus melangkah
mengangkat beban bersama

tak ada yang melemahkan kami
kami terus berjalan
mencari rezeki ke mana saja
tak pernah bermusuhan
bergandengan selamanya
sampai kami mati

kami semut-semut ramah
hidup dengan tubuh teramat kecil
belajarlah dari kebersamaan
dan kebesaran jiwa kami

Babak Belur…waduh… ga ding, Penutup maksudnya

Awalnya bingung mau nulis apa, tapi setelah mulai menggoreskan pena… koq jadi panjang ya?! Ga bermaksud bikin pusing atau bikin ribet, tapi… pengen bikin sedikit lebih paham… semoga saja bukan sebuah kesia-siaan, tapi tekad yang membara untuk terus melakukan perbaikan. Insya ALLOH..

Kalau ada yang mau dikoreksi, saya sangat senang. Jadi, ga usah pake sungkan. Oya, kalau mau lebih dalam lagi, saya sarankan membaca buku Renovasi Dakwah Kampus, Bersihin dari yang Dekil dan Jumud, karya Arya Sandhiyudha mantan ketua Salam UI. Referensi yang cukup bagus untuk acuan Dakwah kampus. Dan buku-buku yang lain tentunya…kan ayat pertama yang turun…”Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq”.
Wallohu a’lam bishshowab.

Jika kau tak tahu ke mana akan melangkah,
maka semua jalan tidak akan membawamu kemana-mana.
Salam JITAQ (JIHAD & TAQWA)
4_7412…

*) dikutip dari buku Renovasi Dakwah Kampus, Bersihin dari yang Dekil dan Jumud, pengarangnya Arya Sandhiyudha


12 thoughts on “LDK : Akankah Hanya Menjadi Fondasi yang Tak Kunjung Kokoh Berdiri?

  1. wah… panjang bgt…tapi sempat baca sekilas…yg “terjebak dgn proker tahun lalu” bener2 bikin senyum…tapi emang ya, copas proker thn lalu atw LDK laen emang bikin mandeg kreatifitasnice post, ga bs comment lebih, bukan aktivis soalnya… masih aktif di kampus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s