Sebuah drama di secuplik haflah mukhoyyam akhwat…

Sebuah drama di secuplik haflah mukhoyyam akhwat…

Scene 1
Narator : 26 juni 2008, di sebuah sore yang tenang di Kota Magelang… Tiba-tiba terdengar teriakan mengguncang dari sebuah sudut kota itu. Goro-goro…
A : “kebakaran… kebakaran….kebakaran…. “ “Pasar Rejowinangun kebakaran…. Kebakaran….. “
B : “Aduh.. gimana ini daganganku…”
C : “Njenengan liat langsung pas mulai kebakar bu…? Njuk pripun?!? Yang sabar bu…”
Narator : STOP! Sementara, tidak jauh dari situ… Ponco… D : “Sudah… yang penting selamat… Cepat lari dari situ ya… barang-barang ga usah dipikirin…”
Narator : yah… sore itu… langit kota Magelang kemerah-merahan… bukan karena matahari sore memancarkan sinarnya, namun karena pasar terbesar di kota itu hampir seluruh bagiannya terlahap galaknya sang jago merah… Di sela-sela sebagian daerah di kota itu terkena pemadaman PLN, seluruh kekuatan pemadam kebakaran Kota Magelang terpusatkan untuk memadamkan api di pasar itu… saking besarnya api… sampai-sampai harus mengimpor pemadam dari kabupaten Magelang, suara sirine meraung-raung sepanjang sore menuju malam… bahkan sampai jam 4 pagi pun apinya belum padam… # lagu 1 : (lagu tsunami aceh, sherina) TUHAN… marahkah KAU padaku… Inikah akhir duniaku… KAU hempaskan jarimu di kota ini… Tercenganglah sluruh warga… Narator : hari berikutnya…, di sebuah angkot yang berjalan tenang… ada pembicaraan cukup seru… Ponco… K : “Gimana kios njenengan?” L : “ya… rata dengan tanah bu… ludes” K : “Lha, emang kebakarane itu kenapa to?” L : “Kok kebakaran to bu… bukan… itu kan critane gini… Sebelumnya tu sebenere mau ada rencana pembangunan pasar…” Narator : STOP… tunggu… tunggu… REPLAY… L : “Sebelumnya tu sebenere mau ada rencana pembangunan pasar… Tapi ada yang ga setuju… Ya, mungkin… ini mungkin lho… ‘sengaja dibakar’. Biar beres masalahnya.” K : “Masak sih?” M : “Iya, lha wong kemarin ada yang jajan sore jam setengah 4, lah kok liat tulisan ‘awas kebakaran’. Padahal di sebelahnya ga ada tabung gas atau apa, kan aneh…. Kayak sudah di skenariokan gitu mau ada kebakaran…” Narator : Ponco… Narator : Hemmm… rencana pembangunan?! Direncanakan pemerintah?! RABBI… zaman edan macam apa ini??? Sampai rakyat berburuk sangka pada sang pemimpin.. Tapi… saudari-saudariku… ini bukan cerita yang diada-adakan!!! Sungguh… pada 26 Juni 2008, kisah ini benar-benar terjadi… Ya… kepercayaan…, ke-“TSIQOH”-an memang telah tergadaikan dengan materi… keuntungan hasil tender proyek… uang… harta… atas semua kejadian-kejadian yang terjadi ini… masya ALLOH… sedih rasanya… # lagu 2 : (lagu “Ibu Pertiwi”) Kini ibu sedang lara…. Merintih dan berdo’a… Scene 2 Narator : Eit, tapi tunggu dulu ukht… bentar… Kita liat dulu di sebuah dimensi waktu yang berbeda… sekitar 14 abad yang lalu… Saat para shohabat masih sedih baru saja berpisah dengan Rosul SAW yang sangat mereka cintai Ponco… ‘Umar : “Ulurkan tanganmu, aku akan membai’atmu” Abu Bakar : “Justru aku ingin membai’atmu” ‘Umar : “Engkau lebih utama daripadaku” Abu Bakar : “Engkau lebih kuat daripadaku” ‘Umar : “Kekuatanku untukmu bergabung dengan keutamaanmu” # lagu 3 : (nasyid “Sabarlah Saudaraku”, Iziz) Sabarlah wahai saudaraku Tuk menggapai cita Jalan yang kau tempuh sangat panjang Tak sekedar bongkah batu karang… Yakinlah wahai saudaraku Kemenangan kan menjelang Walau tak kita hadapi masanya Tetaplah al-Haq pasti menang… Narator : Ponco… Narator : Hemmm… Subhanalloh… sungguh luar biasa… Apa yang membuat ‘Umar begitu percaya pada kekuatan Abu Bakar, padahal ia mendapatkan pengakuan Rosululloh SAW : “Alloh meletakkan kebenaran di lidah dan hati ‘Umar?” Jawabnya… TSIQOH. Sungguh… bukan sebuah bentuk penghindaran diri dari amanah… Scene 3 Narator : lagi-lagi… Tsiqoh… , berbicara tentang tsiqoh… kita lihat cuplikan ini yuk… Dua orang saudari kita sedang berbincang… Ponco… X : “Yang kami maksud dengan Ats-Tsiqoh adalah : Kepercayaan dan ketenangan (kemantapan hati) seorang jundi kepada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, sebab kepercayaan yang dalam ini akan menciptakan rasa cinta, hormat dan taat.” “Pimpinan adalah bagian dari da’wah, tak ada da’wah bila tanpa kepemimpinan. Dari rasa saling percaya antara pemimpin dengan para jundinya inilah kemudian lahir kekuatan struktur da’wah, pengaturan strateginya dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan, serta kemampuannya menanggulangi segala rintangan dan kesulitan menghadang jalan da’wah.” Y : “hmm… menarik… ‘rasa saling percaya antara pemimpin dengan para jundinya’… “ “Berarti tsiqoh itu 2 arah ya…” X : “yupz.. indah banget ya…” Y : “selain bahwa jundi mempercayai qa’idnya… juga sang pemimpin mempercayai jundi akan kemampuannya melaksanakan tugasnya.. tentu bukan kemudian dilepas begitu saja… tapi kepercayaan dengan pengawasan“ X : “berbasisikan saling tsiqoh antara qiyadah dan junud, tercipta kekuatan system jama’ah…cakep banget dah… jadi inget ayat favoritku tentang uk
huwwah” Y : “Al-Anfaal 62-63 kan… ‘… Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-NYA dan dengan para mu’min dan merukunkan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi ALLOH mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana’. “ X : “He’eh…. Hehe… “ “Tak ada kekuatan yang menjadi pusat kendali tsiqoh yang begitu kuat melebihi tsiqoh kepada Alloh. Bila para hamba telah menyerahkan diri dan menyerahkan amalnya dengan penuh tsiqoh kepada Alloh, tak ada sedikitpun keraguan tersisa untuk bekerja dengan sesame da’i, dengan ketajaman bashirah dan proses pengenalan yang memadai. Kekuatan kotak kepada Alloh, kejujuran, amanah, cinta kasih, kehangatan ukhuwwah, adalah hal-hal yang menyuburkan akar tsiqoh dan menjadikan kerja seberat apapun, resiko perjuangan sepedih apapun dan pengorbanan sebesar apapun tak ada arti. Tak ada gerutuan kepada pemimpin atau bawahan, yang ada syukur, sabar dan sepenanggungan ” Y : “subhanalloh… co cweet… “ X : “jadi malu… jika berkaca pada diri ini… mungkin rasa tsiqoh ke pemimpin bisa kuusahakan dengan akar-akar tsiqoh tadi dan komunikasi yang baik… tapi… satu pertanyaan besar… kan tsiqoh dua arah tu… apakah aku pantas ditsiqohi pemimpinku untuk mengampu amanah-amanahku???… hiks…” Y : “iya ya… apalagi dengan pemimpin tertinggi kita… Yang Maha Tinggi… tempat pusat kendali tsiqoh… Alloh ta’ala… pantaskah aku… kita… ditsiqohi sebagai da’i… pantaskah kita ditsiqohi sebagai kholifah fil ‘ardh… ?? masya ALLOH… Astagfirulloh…” Narator : hemm… pertanyaan yang harus kita renungkan… Ketika para qiyadah da’wah kita sudah mempercayai kita, apakah kita sudah menjalankan sesuai kepercayaan mereka? Dan satu hal paling utama harus kita pertanyakan pada diri… Pantaskah kita ditsiqohi sebagai jundulloh?!? Pantaskah kita ditsiqohi oleh ALLOH sebagai jundiNYA? Sekali lagi… bukan berarti ketika kita merasa belum pantas kemudian lari dari amanah… namun… sudah selayaknya… kita memperbaiki diri untuk terus berjuang mengemban amanah… yang sebelumnya telah ditolak oleh langit dan bumi, kemudian dibebankan di pundak kita… manusia Perjuangan itu… selalu ada awal tapi tak pernah ada akhir… # lagu 4 : (reff nasyid “jejak”, mars Korsad, Shoutul Harokah) Kami adalah tentara Alloh Siap melangkah menuju ke medan juang Walau tertatih kaki ini berjalan Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan Wahai tentara Alloh bertahanlah Jangan menangis walau jasadmu terluka Sebelum engkau bergelar syuhada Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah (3x) ***tebak.. sapa tokoh utamanya? PONCO…hehe..becanda.. piss ^^v Drama ini terinspirasi oleh… buku “Untukmu Kader Dakwah” ust.Rahmat Abdullah… dan kebakaran pasar Rejowinangun yang penuh konspirasi…. (based on true story) halah!..hehe Selesai haflah itu… yang cukup miris… ada kelompok lain yang menampilkan haflah.. kocak-kocakan si… tapi terkesan menyepelekan tsiqoh dan menganggapnya sebagai bahan becandaan… Tapi ada juga yang selesai seluruh haflah… seorang ukh menyalamiku dan berujar… “baarokalloh Jar.. aku malah ga kepikiran… jazaakillah” menanggapi tentang potret kehidupan yang kami tampilkan dalam drama itu… dan setauku, sampai detik ini ghirohnya dalam berjuang masih sangat luar biasa… Mukhoyyam akhwat.. sudah sewajarnya yang dateng di situ mereka adalah para kader da’wah.. Sedikit sedih hanya karena hal-hal sepele banyak yang mengeluh… Apakah ini kader da’wah sekarang..? Makanya ada “ide gila” untuk mengangkat apakah kita pantas ditsiqohi…oleh para qiyadah da’wah kita..? Apakah kita pantas menerima tongkat estafet perjuangan da’wah ini? Bukankah jika nanti para masyayikh da’wah sudah tidak ada… kita2lah yang harus menggantikan mereka? Sudah siapkah kita? Ato..diubah pertanyaannya… sudahkah kita mempersiapkan diri ketika saatnya tiba nanti… Ketika permasalahan umat sudah lebih kompleks… ketika bisa jadi musuh-musuh kita lebih kuat dari saat ini… Sudahkah kita mempersiapkannya… Bisa jadi kita…, aku…, adalah penyebab “tertundanya” kemenangan da’wah… Jangan sampai kita semua hanya “berlindung” dengan kumpulan besar yang disebut “ikhwah”, padahal kita bisa jadi hanya menjadi beban da’wah… Bagaimana jadinya… jika orang-orang yang diharapkan bersama-sama memikul beban da’wah justru membebaninya… Apakah kita akan menjadi seperti yang rosululloh saw sampaikan.. bagaikan hidangan yang diperebutkan dari berbagai penjuru.. jumlah kita tidak sedikit… tapi hanya seperti buih di lautan.. Cuma ngumpul banyak, tapi kosong. Dan dalam hati kita dicampakkan oleh ALLOH penyakit wahn, _hubbud dunya wa karohiyatul maut_, cinta dunia dan takut mati? Na’udzubillah… Dan pantaskah kita ditsiqohi oleh ALLOH.. menjadi jundiNYA? Setelah tak terbilang nikmat yang ALLOH anugerahkan pada kita… setelah tak pernah seper semikrodetikpun kita tidak diperhatikan… setelah berton-ton oksigen yang kita hirup… setelah buanyak do’a kita yang dikabulkanNYA… setelah begitu banyak apa yang kita butuhkan dipenuhiNYA.. Apakah kita masih sering berharap pada selain-NYA? Apakah kita masing sering bersandar bukan pada-NYA? Ato memohon perlindungan pada makhluq? Ato takut pada hamba justru melebihi takut pada Sang Kholiq? Astaghfirulloh… ‘Umar al Faruq ra pernah berkata, “kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketho’atan kita niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka” ‘Umar bin Khoththob lebih khawatir ketidaktho’atan pasukannya pada ALLOH… karena hanya kedekatan kita kepada ALLOH yang mampu mengalahkan kekuatn musuh-musuh ISLAM… Dan bukankan pertolongan ALLOH itu sebanding dengan kelurusan niyat kita…? Janji ALLOH itu pasti.. bahwa ISLAM akan tegak di muka bumi… namun sebuah pertanyaannya apakah kita hanya akan menjadi “saksi sejarah” atau akan jadi “pelaku sejarah” yang akan mengukir sejarah. Menjadi pahlawan besar… bukan pahlawan terkenal… yang dikenal penduduk langit, meskipun tak dikenal penduduk bumi. Dan itu hanya bisa dari kontribusi kita untuk dien ini… Wallohu a’lam bish showwab… Sedikit renungan… Masihkah syurga jadi cita-cita kita? Masihkah kerinduan akan kesyahidan itu ada di hati kita? Masihkah kita ingin memepersembahkan mahkota untuk orang tua kita di yaumul hisab kelak.. dg menjadi ahlul Qur’an? Masihkah kita ingin berlari mengejar ketertinggalan kita dari para rosul…para syuhada? Q ingin bertetangga dengan kalian saudari-saudaraku.. Jika saja rosululloh saw merasa lelah atas semua cacian, himpitan, upaya pembunuhan, penyiksaan para shohabat.. & berhenti berda’wah… Niscaya kita tidak akan menikmati lezatnya IMAN & ISLAM. Apakah kita akan mengecewakan beliau saw, yang saat sakarotul amut kitalah yang disebut… yang nantiakan dengan setia menanti kita di telaga kautsar..? Yuk.. mari kita buat cinta itu berbalas cinta… cinta Rosululloh saw pada umatnya.. kita sambut dengan usaha keras mewujudkan CITA beliau… QP ISTIQOMAH… Saling menasihati dan mendo’akan…. =)

Advertisements

15 thoughts on “Sebuah drama di secuplik haflah mukhoyyam akhwat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s