FF_Anak Teroris?

Hari ini aku girang sekali, kata nenek kami berangkat mengunjungi ibu. Kakiku tak berhenti berayun-ayun di mobil. Senyum merekah menghiasi muka tembemku.

Ummi…………….

Aku berteriak sambil berlari memeluknya sesampainya di tempat itu.

Rengkuhan hangat dan belaian lembutnya ke kepalaku tak akan pernah tergantikan apapun.

“Sehat to, Le?”

“Iya, Mi…. Sama eyang disuruh banyak ma’em” jawabku sambil melirik nenek.

“Gimana sekolahmu, Le?”

“Aku juara 1 dong

“Alhamdulillah, anak ummi hamba Allah yang pintar”

Tipa-tiba aku terdiam, aku ingat kata-kata tetanggaku kemarin.

“Dasar, anak TERORIS!”

Meski ragu keluar juga kata-kataku,

Mi, Umar mau tanya, boleh?”

“Boleh. Apa, Le?”

“Abi teroris ya, Mi?”

“Kenapa tiba-tiba tanya itu, Le?”

“Kata Budhe Tarmi, Umar anak teroris, Mi.”

Ibuku menghela nafas panjang dan bertutur,

“Sini Le, Ummi pangku.”

Aku langsung meloncat ke pangkuannya.

Ibuku melanjutkan kata-katanya.

Abi wafat karena melindungi kita berdua, waktu itu Umar masih di kandungan Ummi. Abi jadi tameng, agar Ummi tak tertembak. Polisi menggerebek rumah kita, Le. Ternyata yang bertamu di rumah waktu itu buronan yang dituduh teroris. Ummi dan Abi ga tau, Le. Itu juga yang membuat Ummi sekarang ada di sini. Mungkin kata orang-orang Abi teroris; tapi bagi Ummi, Abi-mu mujahid, Le. Ia rela korbankan nyawanya untuk keselamatan kita.”

Aku melihat ada butir-butir air bening di pipi ibuku.

Perlahan kuusap dengan tangan mungilku.

Hari ini takkan pernah kulupakan kunjungan ke sekian kali ke penjara ibuku.

Perkenalkan, nama ibuku Munawaroh.

Dan ayahku MUJAHID, bukan teroris.

Dalam rangka lomba FF punya mba Intan tema Ayah

http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

keterangan

ummi : ibu (ku)

abi : ayah (ku)

Le : panggilan khas Jawa untuk anak laki-laki

Advertisements

FF_Keajaiban Ramadhan

Alhamdulillaah, Allah memberi jalan, shalat 5 waktuku selalu tepat waktu, tarawihku ga bolong, ngajiku juga tiap hari.”

Sujud syukur wanita paruh baya itu lakukan setelah menerima pinjaman untuk melunasi hutang tabungan ibu-ibu PKK di kampungnya. Hari ini, tabungan akan dibagi, semua yang meminjam harus mengembalikan jika tak ingin ‘didemo’ ibu-ibu sekampung.

Karena aturan yang ada, tabungan tak akan dibagi sebelum semua mengembalikan pinjaman. Sementara tabungan itu adalah bekal ibu-ibu di situ berhari raya.

Dia penjual sayur di pasar. Kemarin ia patah arang, terpaksa meminjam ke rentenir. Tak terbayang meminjam ke lintah darat itu, bunga yang harus dibayar sangat besar.

Pagi ini, ia bercerita ke salah seorang tetangga yang juga pengelola tabungan simpan pinjam PKK ibu-ibu di situ. Akhirnya, sang tetangga memakai uang kuliah anaknya untuk dipinjamkan membantu wanita itu.

Setelah sujud syukur, ia pun berlari dengan air mata berurai mengembalikan uang yang kemarin sempat dipinjam ke rentenir. Tanpa bunga.

Sampai detik ini dia masih percaya itu keajaiban Ramadhan. Karunia Allah Yang Maha Memiliki Rizki.

Dalam rangka lomba FF punya mba Intan tema Ramadhan.

FF_Di Perbatasan Ada Cita

Merah putih telah berkibar dengan gagah di tiang bendera sekolah kami. Di hari spesial ini aku bertugas sebagai pembina upacara. Seperti biasa momen-momen upacara istimewa, kepala sekolahlah yang menjadi instruktur upacara.

Sekolah kami adalah satu-satunya SMP yang ada di Suruh Tembawang Kecamatan Entikong Kalimantan Barat. Jaraknya 64 kilometer dari ibukota kecamatan. Tak mudah tinggal di sini, daerah perbatasan dengan Serawak Malaysia. Suruh Tembawanglah yang paling banyak warganya berubah kewarganegaraan menjadi Malaysia di Entikong.

Infrastruktur di sini memang sangat minim, untuk mengambil gaji bulanan saja, kami para PNS harus mengeluarkan dana sedikitnya satu juta rupiah untuk me­nyewa perahu motor. Jadi harus patungan untuk mengirimkan salah satu utusan mengambil gaji kami. Ini tahun ketiga aku ditugaskan dari dinas di daerah ini. Meninggalkan kampung halaman yang kurindukan.

Aku ingat kata-kata pak Hasrul salah seorang warga saat awal aku datang di sini. “Kami bosan dengan janji pemerintah yang katanya akan memajukan daerah di perbatasan, tapi sampai sekarang omong kosong,” kata pria 35 tahun itu. “Padahal setiap presiden sudah pernah ke sini,” lanjutnya.

Saatnya pembacaan naskah proklamasi.

PROKLAMASI

…….

Haru menyeruak di dadaku saat membacakannya. Teringat kisah perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Sesulit apapun, aku tak akan lupakan cita-citaku memajukan daerah terpencil. Mencerdaskan calon-calon pemimpin bangsa di sini. Mendidik mereka untuk mempertahankan iman, meski kesulitan hidup menghadang. Mengajarkan bagaimana akhlak Rasulullah saw.

Aku percaya, harapan itu masih ada. Aku cinta negeri indah Indonesia.

Dalam rangka lomba FF punya mba Intan tema 17 Agustus.

http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF