Ndhuk, Le.. Izinkan Ibu Ya

Tok.. tok.. tok..

Assalaamu’alaykum..

Ndhuk, Le.. J

Tak terasa sang waktu begitu cepat bergulir, hingga akhirnya engkau dapat membaca tiap patah kata yang hadir di surat ini. Entah bagaimana keadaanmu ketika membaca surat dari ibumu ini. Semoga rahmat dan rahiim-Nya senantiasa tercurah bagimu, Ndhuk.. Le..

Tiap penggal huruf, kata, kalimat dan paragraf ini kurangkai saat ruh-Nya belum tertiupkan ke dalam jasadmu. Belum terikrarkan janji seorang insan terhadap Rabbnya untuk tak menyekutukan dengan apapun dan nikmat iman itu dirasakan oleh janin berusia empat bulan. Bahkan saat belum ada calon ayah untukmu. Surat ini kusimpan rapat dalam botol cita-citaku atasmu di gundukan pasir harapan akan kegemilangan Islam. Begitu pekat larutan rindu ini akan kehadiranmu. Perjumpaan kita masih tersimpan rapat tanggalnya di lauhul mahfudz kapan akan tiba saat indah itu. Sungguh, ibu rindu. Berdesir menanti persuaan dengan kalian. Rindu layaknya pekat malam pada kemilau cahaya fajar, bagaikan bulir-bulir hujan bagi sang mega. Rindu yang masih kubendung, bagai pucuk daun pada si rindang, penuh cinta, karena banggaku sebagai seorang muslimah yang akan melahirkan prajurit-prajurit Allah, insya Allah. J

Ndhuk, Le..

Dari rentang waktu, jauh sebelum ibu menulis surat ini pun ibu sudah bertekad untuk menempuh profesi termulia seorang wanita bagi kalian. Menjadi ibu sepenuhnya bagi kalian, yang tidak akan membiarkan hak kalian atas 2 tahun disusui ibumu ini terkurangi, insya Allah. Pun tak akan mengizinkan hak asuh kalian menjadi milik pembantu atau orang lain yang interaksi terhadap Quran-nya sangat kurang. Ini janji ibu atas kalian, Ndhuk, Le. Sungguh, ibu hanya berharap kalian akan menjaga Quran dan Sunnah sebagai pelita kehidupan. Smoga ibumu ini bisa mengajarkanmu dekat dengan Quran sejak engkau dalam kandungan. Dan pastinya ayahmulah orang pertama yang akan menjadi pemimpin dan pembimbing ibu untuk bisa melakukannya, insya Allah.

Anak-anakku sayang, maafkan ibumu ini yang mungkin kelak tak akan melarangmu bermain api atau yang mendiamkanmu saat terantuk batu. Itu semata-mata agar engkau tahu nak, bahwa api itu panas, kemudian engkau berhati-hati atasnya, apalagi api neraka. Dan supaya kau tahu terantuk batu itu sakit, maka bijaklah dalam memilih jalan kehidupanmu. Bangkitlah setelah terantuk batu dan kembali langkahkan tapak demi tapak penuh asa.

Mungkin suatu saat kelak ketika kau pulang dalam keada
an menangis karena bertengkar dengan kawanmu, ibu tak akan mengusap tangismu, namun akan memintamu menyelesaikan sengketa dengan kawanmu. Nenekmu dulu mengajarkan ibu begitu, agar putrinya ini kelak bisa menghadapi permasalahannya sendiri, mandiri. Bukan karena aku tak menyayangimu, sungguh. Justru karena besar cintaku padamu, ku ingin engkau setegar karang dihempas ombak dan badai lautan.

Ibumu tak akan pernah menjanjikanmu kehidupan yang menyenangkan di dunia. Ibu berharap kita bisa menikmati pahit getir hidup yang menguatkan perjalanan untuk pulang ke kampung halaman sesungguhnya, akhirat. Dan itu hanya bisa jika kita mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta. Mencintai jalan untuk menuju syurgaNya. Mencintai perjuangan seperti yang dilakukan Rasul-Nya.

Ndhuk, Le.. anak-anakku tersayang,

Ingin sekali suatu saat nanti ibu bercerita padamu kisah perang Badar seperti Pak Harpan pada murid-muridnya..

313 tentara Islam itu mengalahkan ribuan tentara Quraisy bersenjata lengkap. Anak-anakku.. Kekuatan itu dibentuk oleh iman, bukan oleh jumlah tentara. Jadi, ingatlah anak-anakku.. Teguhkan pendirianmu. Kalian harus punya ketekunan. Harus punya keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita. Kalian harus punya keberanian dan pantang menyerah menghadapi tantangan macam apapun. Dan ingat, hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Izinkan ibu untuk kelak berlaku seperti ibunda Asma binti Abu Bakar RA, yang bertutur dengan penuh keyakinan tanpa gentar meski maut putranya tercinta tlah hadir di hadapan.

“Demi Allaah, anakku! Kau lebih mengetahui kau di pihak kebenaran dan kepadanya kau bersemi. Karenanya terus tegakkan kebenaran itu, yang telah membuat banyak kawan-kawanmu gugur karena membelanya. Jangan memberi kesempatan budak-budak Bani Umayah untuk menangkapmu. Tapi kalau kau menghendaki dunia, kau adalah sebusuk-busuk hamba Allah. Kau binasakan dirimu dan kawan-kawanmu yang telah gugur. Bila kau mengatakan : aku semula di pihak kebenaran, tetapi setelah kewan-kawanku menjadi lemah, akupun menjadi lemah pula. Bila demikian pendapatmu, itu bukan perbuatan seorang ksatria. Berapa lama lagikah kau masih akan hidup di dunia? Tidak, mati adalah lebih baik bagimu!”

Yang bahkan ketika sang putra berkata “Aku takut dicincang oleh orang-orang Syam itu”. Beliau tetap dalam pendiriannya “Domba yang telah disembelih tidak akan merasa sakit bila dikupas kulitnya.”

Dan ibumu ini berharap kalian akan berlaku seperti Ibnu Zubair yang menghampiri ibunya, mencium keningnya dan berkata, “Demi Allah, Ibu! Inilah pendapatku dan akan kuperjuangkan sampai hari ini. Aku tidak akan pernah terpesona oleh dunia. Aku hanya ingin mengetahui pendapat ibu. Ibu telah mengukuhkan pandanganku. Lihatlah ibu, aku akan terbunuh hari ini. Janganlah bersedih, serahkanlah saja semua urusan ini kepada Allah.”

Ndhuk, Le… izinkan pula ibu bercita-cita meneladani Al-Khansa, yang dengan sepenuh cinta mengorbankan putra-putranya di medan tempur. Mencetak generasi syuhada yang
tak takut akan kematian. Tak gentar saat musuh di pelupuk mata siap menerjang. Berjuang sampai titik darah penghabisan. Demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi dan Islam kembali berjaya memimpin peradaban.

Untuk menutup surat cintaku pada kalian, ibu ingin mengutip pesan Rasulullah SAW teladan terbaik ummat Muslim saat memberi nasihat pada sang ponakan tercinta Abdullah bin ‘Abbas RA, “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Sepenuh cinta dan asa surat ini tertulis untuk kalian, anak-anakku tersayang…

Dari calon ibumu.


#“Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.”

hehe, tergoda juga buat bikin, gara-gara tadi pagi ada provokasi sms dari dia nih, iseng plus ngasal banget bikinnya.. hihi.. buat ikutan di sini

30 thoughts on “Ndhuk, Le.. Izinkan Ibu Ya

  1. jaraway said: “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

    suka banget inih…. :))

  2. jaraway said: Menjadi ibu sepenuhnya bagi kalian, yang tidak akan membiarkan hak kalian atas 2 tahun disusui ibumu ini terkurangi, insya Allah. Pun tak akan mengizinkan hak asuh kalian menjadi milik pembantu atau orang lain yang interaksi terhadap Quran-nya sangat kurang. Ini janji ibu atas kalian, Ndhuk, Le. Sungguh, ibu hanya berharap kalian akan menjaga Quran dan Sunnah sebagai pelita kehidupan.

    Ini yg sedang saya jalankan, meski tiap Sabtu ke TPA tetep tiap malamnya ngajarin dia ngaji. Namun hy menyusi sampai 1 tahun setengah

  3. itapage said: Ini yg sedang saya jalankan, meski tiap Sabtu ke TPA tetep tiap malamnya ngajarin dia ngaji. Namun hy menyusi sampai 1 tahun setengah

    wah..keren mba..LanjutGan! hehe.. putranya berapa mba ta?=)

  4. ada TPA bagian dari KPII (komunitas pelajar mulsim Indo buat UNSW), krn kita gak dpt tmpt di kampus UNSW maka kita pake gedung Konjen RI Sydney. Anaku bercita2 jk py duit byk mau membangun masjid untuk anak2 TPA :-))

  5. itapage said: ada TPA bagian dari KPII (komunitas pelajar mulsim Indo buat UNSW), krn kita gak dpt tmpt di kampus UNSW maka kita pake gedung Konjen RI Sydney. Anaku bercita2 jk py duit byk mau membangun masjid untuk anak2 TPA :-))

    owh gtu.. masyaAllaah..keren.. keren..keren.. dua jempol deh tu buat TPA di sana..sepuluh jempol buat dedek kecil.. smoga cita2nya terwujud.. aamiin..=)like this..hehe

  6. itapage said: hehehe..amin. Thx doanya. Aku jg kebeneran ngajarin ngaji buat ibu2nya, drpd stelah nganter anak pada ngegosip, ya gak?

    wahhhhhhhh………… n_nbhe’eh.. bener..bener..bener.. blajar quraan bareng gtu mba? subhanallaah..=)

  7. itapage said: bener, dulu ibu2 msh pada iqro, dan mereka gak malu tuk memulai dari Iqro 1, dan yg sdh quran jg ngulang iqro 5 demu tajwid & makhrojnya.

    mangstab…. salut ma semangat belajar ibu2nya..iya fajar juga di kampung ngajarin iqro ibu2.. musti sabar..hehe..tapi keren semangat belajar blio2 ntuh..=)

  8. itapage said: iya, krn ngajarin yg tua lbh susah drpd anak2 :-))sukses deh ya….

    hooh.. kalo anak2 cepet nangkepnya.. hihi..aamiin.. mba juga.. moga sukses.. smangaDDD!!!..=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s