Membangun Sambil Merusak [Moh. Natsir]

Kalau seorang membuat satu pekerjaan yang baik dengan cara dan jalan buruk, maka dia membangun sambil merusak atau meruntuh. Dia membangun jembatan-jembatan, jalan-jalan, sekolah-sekolah, masjid-masjid dan lain-lain. Tapi, dia telah merusak manusia yang akan mempergunakan atau memanfaatkan usaha-usaha yang dibangun. Apakah gunanya satu bangunan atau pembangunan, jikalau bersamaan dengan itu atau sesudahnya, rusak pula manusia yang akan menghayati pembangunan itu?

Sekolah apakah lagi yang akan diperbaiki kalau moral anak-anak yang akan dididik itu sudah rusak lebih dahulu? Hal ini akan membawa akibat-akibat yang berantai, sebab anak-anak yang rusak itu akan merusak pula kepada jiran dan lingkungannya. Perkembangan akan berlaku dengan amat cepat. Dengan demikian, maka perbuatan yang demikian tak obahnya seperti orang yang membuka kran air. Kran air itu tak bisa dikuncinya lagi dengan tangannya sendii, air keluar memancur terus menerus sehingga akhirnya menimbulkan semacam banjir yang merusak.

Akhirnya, akan sampailah kepada suatu situasi seperti yang dikemukakan oleh sarjana-sarjana amerika dalam konferensi di Paris setahun yang lalu : Kami sedang menghadapi kehancuran! Bukan kehancuran lantaran bom atom Rusia, tapi dihancurkan oleh bom yang meledak dari dalam, yang dinamakan KEHILANGAN NILAI-NILAI YANG MUTHLAQ.

Tulisan M. Natsir di majalah Suara Masjid 104 Mei 1983

Sub judul dari judul “Pesan dari Mimbar : Ilmu dan Teknologi Saja Ternyata Tidak Cukup”

18 thoughts on “Membangun Sambil Merusak [Moh. Natsir]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s