Menyalakan Lilin Bersama Raja’ ibn Haiwah

[Salim A. Fillah]

“Assalamu’alaikum, wahai Raja!”
-Sa’d ibn Abi Waqqash, ketika membai’at Mu’awiyah ibn Abi Sufyan-

Al Imam Ibnul Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 3/405 merekam adegan pembai’atan Mu’awiyah oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash ini. Awalnya Mu’awiyah marah. “Apa salahnya Anda memanggilku Amirul Mukminin?”, katanya. “Demi Allah”, kata Sa’d, “Aku tidak suka memperoleh apa yang kau dapat dengan cara yang kau gunakan!”

Ya, wajar bagi Sa’d mengatakan demikian. Beberapa hari sebelumnya, sang keponakan, Hasyim ibn ‘Utbah ibn Abi Waqqash menghadapnya disertai perwakilan berbagai kabilah. “Demi Allah wahai Paman”, kata Hasyim, “Ada seratus ribu pedang terhunus yang berpendapat bahwa engkaulah yang paling berhak memegang kepemimpinan kaum muslimin!” Sang keponakan mungkin benar. Dari kesepuluh sahabat Rasulullah yang beliau jamin ke surga, tinggal Sa’d ibn Abi Waqqash yang kini masih hidup.

Ketika itu, Sa’d menunduk dan menitikkan air mata. “Demi Allah Ananda”, jawabnya sambil menatap lekat mereka yang hadir dengan mata berkaca-kaca, “Aku hanya menginginkan satu saja dari seratus ribu pedang itu; yang jika kupukulkan pada seorang mukmin pedang itu takkan berdaya; tapi jika kupukulkan pada musuh Allah maka ia akan membelah dengan ketajamannya.” Kata-kata Sa’d, paman kebanggaan Sang Nabi ini, diabadikan oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah 8/72.

Mungkin sejak itulah, Mu’awiyah menyadari bahwa dia memang seorang raja, dan Daulah ‘Umayyah yang didirikannya adalah sebuah kerajaan. Bukan Khilafah. Apalagi setelah sampai kepadanya riwayat tentang nubuwat Rasulullah yang berbunyi, “Khilafah sepeninggalku tigapuluh tahun lamanya. Setelah itu akan datang masa kerajaan.” Maka satu saat diapun berkata, “Aku adalah raja pertama!” Kalimat ini beserta penjelasannya bisa kita rujuk dalam karya Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/254, dan karya Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah 8/135.

DARI KHILAFAH KE MULK

Maka berakhir sudah masa Khilafah dan datanglah masa kerajaan; Daulah Bani ‘Umayyah. Sistem Mulk atau Monarki, yang telah ribuan tahun mengisi kehidupan manusia –jauh mendahului demokrasi awal yang konon lahir di Athena- dengan berbagai kebaikan dan keburukannya kini menaungi sekaligus mengangkangi kaum muslimin. Sistem ini, yang direpresentasikan dua kekuatan dunia di masa Sang Nabi; Romawi dan Persia, kini memerancah negeri Islam. Segala tata kehidupan yang indah dan meriah di bawah Khilafah berubah drastis sejak berdirinya Daulah ‘Umayyah ini.

Abul A’la Al Maududi dalam Al Khilafah wal Mulk mendata berbagai perubahan itu menjadi pokok-pokok pembahasan yang diuraikan begitu luas dengan berbagai riwayat dan analisis. Beberapa yang bisa kita lihat di sana adalah; perubahan aturan pengangkatan, perubahan cara hidup, perubahan anggaran dan Baitul Maal, hilangnya kebebasan berpendapat, hilangnya kemerdekaan peradilan, berakhirnya pemerintahan berdasar Syuraa, munculnya fanatik kesukuan, dan hilangnya kekuasaan hukum. Penjelasan gamblang oleh beliau bisa kita seksamai dalam Al Khilafah wal Mulk 183-204.

Dari sederet perubahan yang menimbulkan banyak masalah itu, fenomena kebobrokan paling mencolok adalah soal merembakanya kezhaliman. Untuk sekedar mengambil misal, di masa kekuasaan Mu’awiyah terjadilah hal ini: Muhammad ibn Abi Bakr, saudara ‘Aisyah, ipar Sang Nabi, dibunuh dan jasadnya dimasukkan ke dalam bangkai keledai lalu dibakar. Peristiwa menyesakkan ini termaktub dalam karya Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/235; At Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk 4/79; Ibn Al Atsir, Al Kamil 3/180; dan Ibn Khaldun, At Tarikh 2/182.

Demikian hal yang tak kalah kejam terjadi pada sahabat kesayangan Nabi, ‘Ammar ibn Yassir, ‘Amr ibn Hamk, dan lainnya sebagaimana diabadikan para ‘Alim sejarawan semisal: Ahmad, Al Musnad 6538, 6929; Ibn Sa’d, Ath Thabaqat 3/253, 6/25; Ibn Katsir, Al Bidayah 8/48; dan Ibn Hajar Al ‘Asqalani, Tahdzibut Tahdzib 8/24. Juga tentang dikubur hidup-hidupnya seorang ‘alim lagi shalih bernama Hujur ibn ‘Adi yang membuat ‘Aisyah, Hasan Al Bashri, dan para sahabat mulia memprote keras Mu’awiyah; Ini bisa kita lihat dalam anggitan Ath Thabari, At Tarikh 4/190-207; Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab I/135; Ibn Al Atsir, Al Kamil 3/234-242; Ibn Katsir, Al Bidayah 8/50-55; dan Ibn Khaldun, At Tarikh 3/14.

Di masa Yazid ibn Mu’awiyah, yang ditunjuk oleh ayahnya menjadi penguasa dan menjadi bukti teguh berakhirnya Khilafah dan mulainya Mulk, kita tahu sejarah kekuasaan semakin tak enak dibaca. Katakanlah kita abai atas perdebatan apakah tindakan cucu tercinta Rasulullah Husain ibn ‘Ali itu sah ataukah tidak; apa yang terjadi kemudian sungguh adalah tragedi. Detail pembantaian keluarga mulia dan bagaimana perlakuan kejam itu tidak saya sampaikan di sini; cukup mohon periksa jika ada luang ke halaman-halaman ini; Ath Thabari, At Tarikh 4/309; Ibnu Atsir, Al Kamil 3/282-299; Ibn Katsir, Al Bidayah 8/170-204.

Kalaupun kita menerima riwayat bahwa Yazid tak punya niat membunuh Al Husain dan menyesali kejadian itu, kita masih bertanya; mengapa dia tak bertindak sedikitpun terhadap para pelakunya? Dan, kejadian paling memilukan di masa Yazid terjadi di tahun 73 H; penyerbuan Madinah, kota yang dijamin Sang Nabi dengan sabdanya dalam riwayat Al Bukhari, Muslim, Ahmad, dan An Nasa’i, “Tak seorangpun memperlakukan Madinah dengan kejahatan melainkan Allah pasti ak
an lumerkan di dalam neraka seperti lumernya timah hitam.”

Berdasar riwayat Az Zuhri; atas tuduhan pemberontakan yang dipimpin walinya, ‘Abdullah ibn Hanzhalah, kota Madinah ditaklukkan dan para pasukan diizinkan melakukan apapun sesukanya selama tiga hari hingga tiap sudutnya dirampok habis-habisan. Tujuh ribu orang asyraf dari kalangan keluarga Nabi, sahabat dan putra-putranya terbunuh. Ibnu Katsir bahkanmenulis bahwa seribu wanita hamil tanpa pernikahan dari kejadian di hari-hari itu. Rincian kejadian ini bisa kita periksa dalam; Ath Thabari, At Tarikh 4/372-379; Ibn Al Atsir, Al Kamil 3/310-313; dan Ibn Katsir, Al Bidayah 8/219-221, dan 372.

KONSPIRASI KESHALIHAN DI TENGAH KERUSAKAN

Dengan maksud tak memperpanjang daftar hal-hal yang menggidikkan ini, mari melompat ke saat-saat menjelang tampilnya ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Ya, di sana masih ada Al Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafi, seorang ‘alim yang punya andil merumuskan sistem harakat untuk mushhaf yang kita baca. Tapi bukankah dia seperti kata ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz sendiri, “Andai ummat-ummat dan bangsa datang dengan segala kejahatan mereka; dan kita Bani ‘Umayyah datang dengan Al Hajjaj seorang, demi Allah takkan ada yang bisa mengalahkan kita.”

Para penulis riwayat menghitung, Al Hajjaj bertanggungjawab atas pembunuhan sekitar 120.000 orang yang kebanyakan adalah ‘ulama dan orang-orang shalih. Belum lagi ketika dia meninggal, masih ada sekitar 80.000 jasad yang ditemukan di penjaranya, mati tanpa peradilan yang hak. Rincian ini bisa kita teliti dalam redaksi Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/353 dan 2/571; Ibn Al Atsir, Al Kamil 4/29 dan 133; Ibn Katsir, Al Bidayah 9/2, 83, 91, 128, 129, dan 131-138; serta Ibn Khaldun, At Tarikh 3/39.

Di antara mereka yang dibunuh Al Hajjaj, terdapat sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti ‘Abdullah ibn Az Zubair ibn Al ‘Awwam, putra Asma’ binti Abi Bakr Ash Shiddiq, An Nu’man ibn Basyir, ‘Abdullah ibn Shafwan, dan ‘Imarah ibn Hazm. Kepala mulia ‘Abdullah yang pernah diciumi Rasulullah itu dipenggal dan dikelilingkan ke berbagai kota; Makkah, Madinah, hingga Damaskus. Jasad-jasad mereka disalibkan di kota Makkah, dijadikan tontonan hingga berbulan lamanya. Keterangan ini bisa kita telusur dalam tulisan Ibn ‘Abdil Barr, Al Isti’aab 1/353-354; Ath Thabari, At Tarikh 5/33-34; Ibn Katsir, Al Bidayah 8/245 dan 332; Ibn Khaldun, At Tarikh 3/39; serta Ibn Sa’d, Ath Thabaqat 6/53.

Selain itu, patut dicatat nama Sa’id ibn Jubair, tabi’in agung, murid kesayangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas yang dikuliti dan disayati dagingnya oleh Al Hajjaj. Juga tindakan dan cercaannya yang mengancami ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Anas ibn Malik, dan Sahl ibn Sa’d As Sa’idi, Radhiyallaahu ‘Anhum. Di masa ini pula para penguasa melaksanakan khuthbah pertama Jum’at sambil duduk, menjadikan caci-maki terhadap ‘Ali ibn Abi Thalib dan keluarganya sebagai rukun khuthbah, dan melangsungkan khuthbah hari raya sebelum shalatnya. Bid’ah-bid’ah yang dahsyat ini bisa kita telusuri dalam anggitan Ibn Al Atsir, Al Kamil 4/119, 300; Ath Thabari, At Tarikh 6/26; dan Ibn Katsir, Al Bidayah 8/258, 10/30-31.

Adakah kerusakan ummat sebesar ini kita temui hari-hari ini?

Itu baru sebagian dari apa yang dilakukan Al Hajjaj. Padahal ada banyak penguasa lain yang menebar kezhaliman pada masa itu. Satu saat, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziiz mengeluh dalam doanya, “Al Hajjaj di ‘Iraq, Al Walid ibn ‘Abdul Malik di Syam, Qurrah ibn Syirk di Mesir, ‘Utsman ibn Hayyan di Madinah, Khalid ibn ‘Abdullah Al Qashri di Makkah! Ya Allah, sepenuh bumi ini telah penuh dengan angkara murka.. Maka selamatkanlah ummat ini!” Doa dan kesaksian ini direkam oleh Ibn Al Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 4/132.

Alhamdulillah. Segala puji bagiNya. Allah menjawab doa ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz itu dengan dirinya. Menakdirkan untuknya 2 tahun masa kekuasaan yang akan menjadi buah bibir sepanjang sejarah. Dua tahun yang menyelamatkan muka Bani ‘Umayyah di hadapan ummat Rasulullah. Dua tahun yang lahir dari ikhtiyar seorang ‘alim yang tak berputus asa terhadap rahmat Allah di tengah sistem monarki yang bobrok. Dari fakta yang kita baca di atas, hampir-hampir saya berkesimpulan; keadaan ummat saat itu di bawah sistem Mulk, jauh lebih menyedihkan dibanding kita di Indonesia kini di bawah demokrasi.

‘Alim agung yang ingin saya sebut itu adalah Raja’ ibn Haiwah. Betapa gigih upayanya memasukkan nama ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz sebagai pengganti Sulaiman ibn ‘Abdul Malik, konspirasinya agar Bani ‘Umayyah mau menerima, dan siasatnya agar ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz bersedia bisa kita simak dalam karya Imam ‘Abdullah ibn ‘Abdil Hakam, Al Khalifatul ‘Adil ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, Khamisu Khulafaair Raasyidiin, 43-47; Ibn Al Jauzi, Sirah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz; Khalid Muhammad Khalid, Khulafaaur Rasuul, 673-681.

Maafkan, tentang keadilan yang kemudian tergelar, tentang kemakmuran hingga tak seorangpun bersedia menerima zakat, tentang kesejukan yang kemudian dirasakan setiap jiwa, tentang ketenteraman hingga serigalapun enggan memangsa domba, tentang kezhaliman dan bid’ah-bid’ah yang terhapus.. Maafkan, saya tak ingin mengisahkannya lagi. Kita telah tahu dengan setumpuk rindu. Dan semua itu, Allah kehendaki terjadi atas ikhtiyar seorang Raja’ ibn Haiwah; ‘alim yang tahu bagaimana harus bertindak dalam sistem yang rusak dan keadaan yang bobrok.

KESIMPULAN

Kita kemudian sepakat, baik Mulk maupun demokrasi jauh dari ideal yang kita cit
akan. Keduanya jauh dari Khilafah yang kita rindukan. Tetapi dari ‘alim agung yang bernama Raja’ ibn Haiwah, kita belajar agar tak pernah kehilangan harapan untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan kemashlahatan dalam sistem dan keadaan yang bagaimanapun rusaknya. Demi Allah, seburuk-buruk pencuri adalah pencuri harapan. Oleh karena itulah Rasulullah menyebutkan dalam redaksi Al Bukhari dan Muslim, “Siapa yang mengatakan manusia telah hancur, maka dialah orang yang paling hancur.”

Kita belajar dari Raja’ untuk mengamalkan kaidah ushul; “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh. Apa-apa yang tidak bisa kita raih sepenuhnya, jangan kita tinggalkan sepenuhnya.” Dan Raja’ tidak mengutuk sistem Mulk itu sebagai kekufuran warisan Romawi dan Persia betapapun itu fakta dan betapapun seperti apa kerusakan ummat yang ada di sana. Dia tidak meninggalkannya. Dia terus berikhtiyar di dalamnya. Dia mendekati sang raja, Sulaiman ibn ‘Abdul Malik dan mencari peluang menghadirkan kebajikan dalam tiap kebijakan yang akan ditetapkan.

Dan akhirnya, dengan sebuah konspirasi unik, dia hadirkan ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz untuk ummat di tengah sebuah sistem yang rusak dan keadaan yang bobrok. Raja’ dan bahkan ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz sendiri memang tak kuasa mengubah sistem itu. Ya, mereka tak mampu. Setelah ‘Umar wafat, kembalilah kekuasaan diwariskan turun-temurun, Baitul Maa kembali melayani penguasa, foya-foya istana berjaya, dan kezhaliman merebak di mana-mana. Raja’ dan ‘Umar tidak mampu mengubah sistem itu, tapi mereka telah berbuat apa yang mereka mampu. Dan hingga kini ummat mengenang mereka penuh cinta.

Untuk rekan-rekan yang sepakat, mari nyalakan lilin bersama Raja’ ibn Haiwah. Mari lakukan sesuatu. Bukan hanya mengutuk gelap dan sistem yang tak sreg di hati ini. Mari nyalakan lilin bersama Raja’. Siapa tahu Allah karuniakan kepada kita kesempatan untuk menghadirkan ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz di tengah demokrasi dan kondisi bangsa yang sama-sama tak kita suka ini, sebagaimana dulu Allah karuniakan peluang pada Raja’ dan kawan-kawannya di tengah Mulk yang rusak.

26 thoughts on “Menyalakan Lilin Bersama Raja’ ibn Haiwah

  1. “adakah kerusakan ummat sebesar ini kita temui hari ini?”jwbnya : “adakah kerusakan yang pernah diberitakan Rasulullah saw. yang lebih besar daripada kerusakan di akhir zaman?”how can anyone think that today is better than those days under the reign of Umayya?Mari nyalakan lilin harapan tapi tetaplah memotret realitas dengan benar. I like this article, but can’t agree with that small part.Syukran for share

  2. elhas said: “adakah kerusakan ummat sebesar ini kita temui hari ini?”jwbnya : “adakah kerusakan yang pernah diberitakan Rasulullah saw. yang lebih besar daripada kerusakan di akhir zaman?”

    mungkin kerusakan besar yang beliau maksudkan di sini adalah, pembunuhan secara keji generasi pertama, generasi terbaik sepanjang sejarah ummat Islam para shabat utama Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam..yup, tapi bener koreksinya..jazaakallaahu khoyrkalo ada kesempatan, insyaAllaah saya sampaikan ke beliau

  3. pemetikbungakematian said: apakah mulk itu sistem seperti shariah dan demokrasi?

    kalo baca di kamus..sistem itusis·tem /sistém/ n 1 perangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas: — pencernaan makanan, pernapasan, dan peredaran darah dl tubuh; — telekomunikasi; 2 susunan yg teratur dr pandangan, teori, asas, dsb: — pemerintahan negara (demokrasi, totaliter, parlementer, dsb); 3 metode: — pendidikan (klasikal, individual, dsb); kita bekerja dng — yg baik; — dan pola permainan kesebelasan itu banyak mengalami perubahan;merujuk dari arti itu, ya.

  4. jaraway said: kalo baca di kamus..sistem itusis·tem /sistém/ n 1 perangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas: — pencernaan makanan, pernapasan, dan peredaran darah dl tubuh; — telekomunikasi; 2 susunan yg teratur dr pandangan, teori, asas, dsb: — pemerintahan negara (demokrasi, totaliter, parlementer, dsb); 3 metode: — pendidikan (klasikal, individual, dsb); kita bekerja dng — yg baik; — dan pola permainan kesebelasan itu banyak mengalami perubahan;merujuk dari arti itu, ya.

    dan apkah mulk saat itu tidak menerapkan shariah Islam dan tlah kafir?

  5. pemetikbungakematian said: dan apkah mulk saat itu tidak menerapkan shariah Islam dan tlah kafir?

    ttg mu’awiyah dan kelompoknya, Rasulullaah salallaahu ‘alayhi wa sallam pernah mengistilahkan mereka fi’ah baghiyah (kelompok pemberontak)Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, ia berkata : Telah mengabarkan kepadakuorang yang lebih baik dariku, yakni Abu Qatadah, bahwa Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam pernah bersabda kepada ‘Ammar ketika ia menggali parit(pada perang Khandaq); sambil mengusap kepalaku (‘Ammar) beliau bersabda : “malang benar nasibmu, hai anak Samiyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak. ” [ HR Muslim 2/2235]Di kalangan ulama yang terpercaya ternyata ada juga yang mengakui kalau Muawiyah tidak mati di atas agama Islam. Ulama yang dimaksud adalah Ali bin Ja’d Abu Hasan Al Baghdadiسمعت أبا عبد الله، وقال له دلويه: سمعت علي بن الجعد يقول: مات والله معاوية على غير الإسلامAku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal] yang berkata Dulwaih berkata aku mendengar dari ‘Ali bin Ja’d yang berkata “demi Allah, Muawiyah mati bukan dalam agama islam” [Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaq bin Hani no 1866]Ahmad bin Hanbal jelas orang yang terpercaya. Dulwaih adalah Ziyad bin ‘Ayub perawi Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Abu Hatim berkata “shaduq” Nasa’i menyatakan tsiqat, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun”. [At Tahdzib juz 3 no 654] Ibnu Hajar berkata “hafizh tsiqat” [At Taqrib 1/317]. Ali bin Ja’d sendiri seorang yang tsiqat, perawi Bukhari dan ‘Abu Dawud, Ibnu Ma’in berkata “tsiqat shaduq”, Abu Zur’ah berkata “shaduq dalam hadis”. Abu Hatim menyatakan ia seorang yang mutqin shaduq. Shalih bin Muhammad menyatakan tsiqat, Nasa’i berkata “shaduq”. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit” [At Tahdzib juz 7 no 502]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/689]. Jika Ali bin Ja’d yang dengan jelas menyatakan Muawiyah mati bukan dalam agama islam tetap dinyatakan tsiqat dan dijadikan hujjah hadisnya, seingat saya salah satu pembatal keIslaman adalahKedelapan: Membela orang-orang musyrik dan menolong mereka dalam melawan orang-orang Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah :وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَBarangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 51) dan mulk di sini adalah sistem untuk melanggengkan kekuasaan pemimpin yang zalim.apakah syariat masih ditegakkan ketika hukum mati begitu mudah dijatuhkan pada para shahabat utama Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam?wallaahu a’lammohon koreksinya…

  6. jaraway said: Di kalangan ulama yang terpercaya ternyata ada juga yang mengakui kalau Muawiyah tidak mati di atas agama Islam. Ulama yang dimaksud adalah Ali bin Ja’d Abu Hasan Al Baghdadiسمعت أبا عبد الله، وقال له دلويه: سمعت علي بن الجعد يقول: مات والله معاوية على غير الإسلامAku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal] yang berkata Dulwaih berkata aku mendengar dari ‘Ali bin Ja’d yang berkata “demi Allah, Muawiyah mati bukan dalam agama islam” [Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaq bin Hani no 1866]

    subhanallah..ulama yang sakit jiwa yang mengkafirkan shahabat Rasulullah,padahal Rasulullah tlah ridho terhadap mereka,dan ini kedustaan atas nama Imam Ahmad bin Hambal..dalam pemerintahan mulk shariah ISlam masih dipakai dalam hukum tertinggi mereka..ini lah hadist Rasulullah yang berlaku walau penguasanya zalim tapi shariah masih dijunjung kita harus taat kepada mereka..semoga Allah menghindarkan kita dari mencaci shahabat Rasulullah SAW..

  7. jaraway said: apakah syariat masih ditegakkan ketika hukum mati begitu mudah dijatuhkan pada para shahabat utama Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa sallam?

    bila kata2 diatas benar dan shahabat banyak dibunuh dimasa itu, tidaklah serta merta keadaan sebuah pemerintahan itu kafir,pembunuhan hanya dimasukkan dalam dosa besar bukan syirik atau merubah hukum Allah…

  8. Sering kali kita terkecoh oleh logika seseorang seakan bersumber dari ilmu yang dalam dan benar. Padahal tak lebih dari gelora syahwat yang berbalut kata-kata. Antara ilmu yang benar dan syahwat yang dibalut logika itu tipis perbedaanya. Misalnya, ketika Iblis memainkan logikanya untuk meyakinkan Adam dan Hawa agar mereka memakan buah pohon Khuldi (Syajarotul khuld), Iblis mengatakan : Rabb-mu tidak melarang kamu memakan buah pohon itu kecuali agar kamu menjadi malaikat atau kamu kekal di dalam syurga. Bahkan Iblis bersumpah menyebut nama Allah sambil berkata : Aku hanya sekedar memberikan nasihat (QS. Al-A’raf : 20-21). Dengan logika yang seakan benar tersebut, Iblis mampu memperdaya ayah kita Adam dan ibu kita Hawa, sehingga Allah marah pada mereka dan mengeluarkan mereka dari syurga. Begitu pula halnya dengan orang-orang yang syahwat dunianya bergelora melihat kehebatan dan kekayaan Qarun yang luar biasa. Merekapun ingin menjadi seperti Qarun karena melihat dengan haerta dan kekayaan Qarun menjadi orang yang terhormat dan terpandang. Namun, bagi orang yang diberi Allah ilmu yang mendalam akan hakikat dunia dan kehidupan malah berpandangan sebaliknya sambil berkata : Celaka kalian…. Sesungguhnya ganjaran / pahala dari Allah jauh lebih baik bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh. Dan itu hanya diberikan kepada orang yang sabar dalam menjalani berbagai tipuan dunia. (QS. Al-Qashash : 79 – 83). Saudaraku… Memang tipis perbedaan antara ilmu yang menyelamatkan pemiliknya dengan logika Iblis dan syahwat dunia… Namun, keikhlasan, orientasi akhirat dan kesabaran dapat menyelamatkan kita dari tipuan logika Iblis dan syahwat dunia (materialisme). Itulah ilmu yang bermanfaat…. اللهم إنا نعوذ بك من علم لا ينفع ومن نفس لا تشبع ومن عين لا تدمع ومن دعاء لا يستجاب لهBY:H. Fathuddin Ja’far

  9. jsattaubah said: Untuk dialog lanjutan, biarkan ulama ISLAM yg sholeh dan komprehensif membahasnya.BUkan kita-kita yg tdk bisa melawan hana nafsu yg liar di dunia online.wallohu a’lam.

    ulama yang mana? yang punya otoritas hari ini?setiap nafs pasti punya hawa lah :p

  10. pemetikbungakematian said: ulama yang mana? yang punya otoritas hari ini?setiap nafs pasti punya hawa lah :p

    Alhamdulillah, jk antum sadar.Mana ulama ISLAM itu? Yg bisa diakui oleh semua ummat ISLAM dunia?Sudahlah, jk hanya rangkaian reply tanpa action, untuk apa?Berbuatlah yg bisa antum buat, minimal, kendalikan hawa nafsu ketika online dgn yg bukan mahrom.

  11. jsattaubah said: Alhamdulillah, jk antum sadar.Mana ulama ISLAM itu? Yg bisa diakui oleh semua ummat ISLAM dunia?Sudahlah, jk hanya rangkaian reply tanpa action, untuk apa?Berbuatlah yg bisa antum buat, minimal, kendalikan hawa nafsu ketika online dgn yg bukan mahrom.

    hehehe..makanya mari kembalikan kepada Al-Quran dan Sunnah,bila ulama hari ini tidak punya otoritas bukan nafsu syahwat demokrasi :p

  12. pemetikbungakematian said: subhanallah..ulama yang sakit jiwa yang mengkafirkan shahabat Rasulullah,padahal Rasulullah tlah ridho terhadap mereka,dan ini kedustaan atas nama Imam Ahmad bin Hambal..dalam pemerintahan mulk shariah ISlam masih dipakai dalam hukum tertinggi mereka..ini lah hadist Rasulullah yang berlaku walau penguasanya zalim tapi shariah masih dijunjung kita harus taat kepada mereka..semoga Allah menghindarkan kita dari mencaci shahabat Rasulullah SAW..

    *istighfar berkali2… saya mohon ampun kepada Allaah..karna yang saya ketahui salah..lalu gimana seharusnya pemahaman ttg Mu’awiyah RA?

  13. pemetikbungakematian said: bila kata2 diatas benar dan shahabat banyak dibunuh dimasa itu, tidaklah serta merta keadaan sebuah pemerintahan itu kafir,pembunuhan hanya dimasukkan dalam dosa besar bukan syirik atau merubah hukum Allah…

    begitu ya…*kembali istighfar…

  14. jsattaubah said: Untuk dialog lanjutan, biarkan ulama ISLAM yg sholeh dan komprehensif membahasnya.BUkan kita-kita yg tdk bisa melawan hana nafsu yg liar di dunia online.wallohu a’lam.

    jika memang ada kata2 saya yang salah mohon diluruskan, pak..

  15. jaraway said: alu gimana seharusnya pemahaman ttg Mu’awiyah RA?

    berdebu sehari muawiyah RA bersama Nabi SAW lebih berharga dripada ibadah kita selama 40 tahun.dalam melihat muawiyah RA silahkan rujuk ke kitabnya Ibnu Katsir misalnya..

  16. hadist melalui Imam Ahmad bin Hambal tentang keutamaan Muawiyah RAImam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad-nya, dari Abdurrahman bin Abi Umairah al Azdi, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut Mu’awiyah dan berkata: “Ya, Allah. Jadikanlah ia orang yang menuntun kepada hidayah dan berilah ia hidayah”.

  17. jaraway said: jika memang ada kata2 saya yang salah mohon diluruskan, pak..

    untuk fitnah yg menimpa umat ISLAM di era Utsman rodhiyallohu ‘anh sampe setelahnya, kita2 yg akhir zaman tdk patut menjelek-jelekan mereka krn mereka di ridho-i.Biarkan sejelah berjalan apa adanya, tanpa di tambah-tambahi atau di kompori.Krn memang jk melihat era fitnah di era khalifah Ustman rodhiyallohu ‘anh, miris sekali membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s