Hari Pahlawan?

katanya sih, besok hari Pahlawan.. hehe
inget pertempuran surabaya.. seruan jihadnya bung Tomo saat itu.. luar biasa..
jadi pengen repost tulisanku 2 tahun yang lalu.. meski mungkin tahun ini akan beda suasananya coz negri kita sedang banyak musibah.. =)
{Ditulis 10 november 2008 sekitar pukul 23:00}
Ingin sejenek rehat, “meluruskan” punggung… beberapa hari ini terasa bagai “terlipat-lipat”. Rebah di depan televisi, berharap ada tontonan yang “bermutu”, kan hari ini kata orang Hari Pahlawan… momen yang luar biasa tentunya, mungkin ada tayangan menarik, sapa tau ada ulasan tentang perjuangan-perjuangan pahlawan zaman kemerdekaan doeloe.
Tapi sayang… yang bisa ditemui justru sinetron-sinetron ga jelas gitu dan lebih parahnya lagi di salah satu stasiun tv ditayangkan hal yang paradoks dengan apa yang terjadi bertahun-tahun silam di negeri ini…
_Dulu di tanggal yang sama, 63 tahun lalu, Bung Tomo membakar semangat para pemuda pejuang di Surabaya untuk mempertahankan negeri ini dari serangan sekutu…sehingga tanggal ini pun diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Ya…dinamakan Hari Pahlawan justru jauh sebelum gelar pahlawan nasional disematkan ke diri Bung Tomo. Gelar itu baru hari ini, 10 November 2008, “dianugerahkan” kepada beliau. Bung Tomo baru 25 tahun waktu itu. Yup..pemuda luar biasa itu baru berusia 25 tahun. Beliau lahir tahun 1520 dan wafat di tanah suci sekitar 20 tahunan silam saat ibadah haji.
Setiap kali melihat tayangan arsip nasional film tentang pertempuran 10 November itu, perasaan mengharu biru selalau menyeruak di dada. Bergetar, saat menyaksikannya. Padahal itu hanya “sekedar” melihat dari film dokumenter, bukan melihat peristiwa atau terjun langsung. Salah satu sebabnya karena waktu itu… satu kalimat yang menggoncangkan dipakai untuk menyeru pasukan untuk maju bertempur, yaitu takbir… ALLOHU AKBAR. Sampai-sampai pernah kubaca di satu buku sejarah sebuah pernyataan, bahwa Bung Tomo tidak bisa membayangkan kalau tidak ada kalimat luar biasa itu <takbir:red> bagaimana beliau akan membangkitkan keberanian pasukan pemuda Surabaya untuk maju bertempur di arena yang sangat tidak seimbang itu.
Kekuatan sekutu waktu itu merupakan kekuatan terbesar yang dikerahkan setelah selesai Perang Dunia II. Dan pasukan sekutu untuk mengalahkan pejuang Surabaya, memerlukan pertempuran yang berlangsung sampai tanggal 30 November. Bukan secara gerilya namun perang terbuka. Sungguh, kekuatan keimanan. Tidak ada kekuatan melebihi Yang Maha Besar. Untuk mengabadikan momen patriotik itu pun dibangun tugu pahlawan di tempat terjadinya pertempuran, di kota Surabaya. Sebuah monumen untuk mengenang mereka-mereka yang berjuang dengan raga dan jiwanya untuk ibu pertiwi._
Tapi apa yang terjadi sekarang, 63 tahun setelah kemerdekaan itu mereka <para pejuang kemerdekaan:red> perjuangkan, ternyata di salah satu stasiun tv malam ini, ditayangkan “perayaan” Hari Pahlawan tepat di tugu pahlawan. Yang isinya pagelaran band yang dihadiri ribuan orang, pemuda-pemudi bangsa ini, generasi saat ini.
Yang pasti lagu-lagunya bukan lagu-lagu kebangsaan yang mengobarkan semangat patriotisme, apalagi takbir yang berkumandang untuk membakar keberanian perjuangan, tapi justru lagu-lagu roman picisan <ini bener ga ya istilahnya?> yang liriknya mungkin justru terjebak ke penghambaan pada makhluq… Itukah yang dimaksud peringatan Hari Pahlawan?!? Na’udzubillah.
Karena kecewa ga dapet “tontonan” yang kuharapkan, takmatiin deh. Trus nengok di rak buku..eh..ada satu buku mungil yang sepertinya cocok dengan momen ini dan mungkin akan menjawab pertanyaan tentang memperingati Hari Pahlawan; bagaimana selayaknya. Dan setelah takbuka..bener… senengnya…
Buku ini, kumpulan orasi-orasi budaya WS Rendra yang berjudul ‘Megatruh’. Meskipun cukup sering kubaca, tapi selalu ada sensasi baru saat membaca lagi… Dan ternyata lagi, memang salah satu orasi budayanya diutarakan saat memperingati Hari Pahlawan tahun 1997 di Taman Ismail Marzuki. Komentar spontanku, nha..ini baru wujud memperingati Hari Pahlawan; sebuah orasi kebudayaan.
Isinya..sebuah “kritikan halus” atau introspeksi budaya ke pemerintah waktu itu melalui paparan kondisi sejarah. Membandingkan kondisi Jawa di masa lampau <bahkan mungkin sampai sekarang> yang masih menganut sistem “Daulat Raja” atau sering kita dengar istilah raja selalu benar; dengan kondisi “di luar sana” yang sudah ada penghargaan terhadap “Daulat Manusia”. Sebuah pemaparan yang menyatakan bahwa tidak ada contohnya dalam sejarah dunia bahwa pemerintahan yang otoriter bisa memajukan bangsa dalam tataran budaya.
Bisa dibayangkan…orasi itu disampaikan di bulan November 1997 untuk mengkritisi MPR agar mau menghasilkan ketetapan-ketetapan yang mementingkan Daulat Rakyat. Padahal kita tahu, waktu itu orang “berbicara” masih sulit, resikonya penjara bahkan maut. Kondisi bangsa pun dalam krisis moneter dan situasi sospol sedang sangat genting. Tapi Rendra waktu itu, dengan berani menyuarakan Orasi budayanya di taman Ismail Marzuki, 10 November 1997 tepat saat Hari Pahlawan.
Sebuah “peringatan” Hari pahlawan yang sesungguhnya menurutku. Di situlah kita diminta untuk memaknai Hari Pahlawan dengan keberanian untuk memeperjuankan “kemerdekaan” bangsa di hadapan penguasa tiran. Bukan seperti saat ini yang katanya sudah merdeka, reformasi tapi justru para pemudanya memperingati Hari Pahlawan dengan berkerumun, berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan “idola” mereka yang jauh dari kata pantas untuk disebut sebagai idola apalagi pahlawan. Hemm…
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(WS Rendra)
saya ingat sebuah tulisan di bupes KMT yang dulu
<yang ngerasa penulisnya…takkutip gpp ya.. he..>
“Sekarang ini, perjuangan itu kompleks. Bahkan terlalu besar untuk hanya dijalani oleh seorang pejuang. Memang akan selalu muncul seorang pahlawan, namun dibelakangi ada ribuan pejuang. Merekalah pahlawan–pahlawan yang tanpa mereka tidak akan ada pahlawan besar. Jangan pernah berfikir bahwa orang – orang seperti Salahuddin Al-Ayyubi menjebol benteng Byzantium seorang diri. Beliau adalah pahlawan besar kaum muslimin, tapi dia tidak sendirian. Bukan hanya dirinya yang menjadikannya seorang pahlawan.”
masih ada lanjutannya si..tapi lupa..
mari jadi pahlawan-pahlawan itu… berjama’ah… bukan infirodhi..
=)
Advertisements

14 thoughts on “Hari Pahlawan?

  1. hebadaragema4 said: tapi tetep relevan mba…lanjutkan!!!#udah jarang gk baca tulisan bergizi gini

    alhamdulillaah.. =)lebih cepat lebih baik.. qeqeqe..wah, ni belum dikasi vitamin & mineral padahal.. =))

  2. jaraway said: Sebuah “peringatan” Hari pahlawan yang sesungguhnya menurutku. Di situlah kita diminta untuk memaknai Hari Pahlawan dengan keberanian untuk memeperjuankan “kemerdekaan” bangsa di hadapan penguasa tiran. Bukan seperti saat ini yang katanya sudah merdeka, reformasi tapi justru para pemudanya memperingati Hari Pahlawan dengan berkerumun, berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan “idola” mereka yang jauh dari kata pantas untuk disebut sebagai idola apalagi pahlawan.

    setuju ama paragraf ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s