harapanmu padaku

kau pernah berharap aku seperti pohon jambu itu
yang sering dilempari anak-anak batu pun kerikil
tulus membalasnya dengan buah yang manis

kau pernah berharap aku seperti pohon padi itu
yang semakin berisi semakin menunduk
padi yang bernas, bukan yang separuh isi

kau pernah berharap aku seperti pohon kelapa itu
yang tiap bagiannya bisa diambil manfaatnya
menyebar kemana sang ombak membawa buahnya

kau pernah berharap aku seperti pohon jati itu
kokoh berdiri menantang waktu
saat air terbatas, mampu beradaptasi ranggaskan daun-daunnya

kau pernah berharap aku seperti pohon bambu itu
meski di dalamnya ada ruas-ruas kosong, sanggup menjadi banyak hal
ketika beradu dua bambu saling bergesekan bisa menghasilkan suara merdu

kau pernah berharap aku seperti pohon pisang itu
yang tak kenal musim untuk menghasilkan pisang ranum
belum akan mati sebelum memiliki anak dan berbuah


ah, nikmatnya belajar darimu
nasihat-nasihat yang tak terduga muncul dari banyak makhluqNya
tak ada yang sia-sia penciptaanNya

meski aku masih jauh dari harapan itu…
=)


dari Ai :

dan aku pun berharap kau jadi pohon mangrove itu
tetap tegar meski senantiasa diterjang ombak
memberi rumah yang nyaman untuk ikan2 kecil


#gambar poon pisang special buat si momon aka mba pechi.. noh.. abisin tu pisang =))
nyomot di sini
Advertisements

-sebuah pengakuan- tentang bola, cinta negriku dan khan yunis

Akupun suka bola.

Aku bahkan suka main bola.

Permainan Timnas luar biasa di final kemarin.

Tak seperti piala dunia yang biasanya pertandingan finalnya kadang kalah seru dengan semifinal. Tapi pertandingan tadi malam sungguh, benar-benar puncak dari AFF yang sesungguhnya. Pertandingan terbaik selama AFF -menurut aku-. Dan sesuai lah dengan judulnya “final”.

Lalu, apa yang dimaksud dengan..

-Sebuah Pengakuan-

Aku mau minta maaf, karena sengaja buat postingan yang bikin semua terperangah.. he? Agresi Militer hari ketiga?

Koq bisa??

Tapi review itu asli dari sumber infopalestina.com tanggal 28 & 29 Desember 2010.

Sama sekali ga ada yang takedit. baru diposting kemarin dan hari sebelumnya. lihat tanggal merah itu. Atau silakan meluncur ke sumbernya. Hanya memang, itu tentang kupas tuntas Agresi Militer pada tahun 2008 lalu. Saat orang lain sedang asyik dengan momen tahun baru hijriyahnya.

Kenapa aku sengaja posting review itu?

Judulnya aku buat salah dengan 2010, sengaja ngetes ketelitian temen2 *pletaaakkk.. [ampun dah.. n_nv]

Suraki fajar… huuuuuuuuu *peace ah..

Yup, maksudku seperti replynya Anaz :

“tapi bagaimanapun jua satu hal yang membuat ironi saya

betapa media begitu mudah menggiring kita…

kurangnya informasi membuat kita gak tahu apa-apa dan jadi gak peduli…

banyak peristiwa yang sangat membuat hati pilu, tapi kita malah cenderung untuk bersenang-senang…

melupakan waktu untuk bermuhasabah”

Peristiwa yang SESUNGGUHNYA terjadi beberapa hari ini di Palestina memang “tak sebesar” Agresi sewaktu 2008 itu.

Saat kita mungkin mabuk dengan euforia kepahlawanan dalam permainan bola, di sana Pasukan Israel Serbu Penjara Ofer, Puluhan Tahanan Palestina Terluka.

Pasukan penjajah Zionis Israel “Nachshon”, Rabu (29/12) petang, menyerbu penjara militer Ofer dan melepaskan tembakan gas air ke arah para tahanan hingga mengakibatkan puluhan dari mereka terluka.

dan sebelumnya

Gaza – Infopalestina: Sumber medis Palestina, Selasa (28/12) mengumumkan, seorang warga Gaza, Hasan Abu Rauk (22 tahun) meninggal syahid akibat tembakan mariam dan gas air mata kea rah warga di Khanyunis. Sementara itu, empat orang lainya dilaporkan mengalami sesak napas akibat tembakan gas air mata.

Adham Abu Salmiyah, jubir emergency Palestina dalam pernyataan persnya kemarin mengatakan, Hasan Abu Rauk meninggal syahid dengan luka di wajah dan kedua kakinya akibat tembakan brutal serdadu Zionis serta rudal mariam ke arah warga. Sementara yang terluka dan sesak napas sudah dievakuasi ke rumah sakit.

Dengan meninggalnya Abu Rauk, maka jumlah syuhada yang meninggal dalam tiga hari ini bertambah menjadi tiga orang, menyusul syahidnya dua mujahid Al-Quds dalam bentrokan senjata dengan serdadu Zionis, Ahad (26/12). (asy)

Berita tentang itu juga ada di jurnalku Tanah Airku… Aku Padamu….

Sebuah renungan terutama untuk diriku sendiri.

Apakah harus menunggu sesuatu yang “besar”, banyak korban baru kita akan tergerak mengingatnya?! Haruskah agresi itu terulang atau tragedi Mavi marmara terjadi lagi atau.. kalo bahasa provokativ proaktiv temenku halah– “atau musti nunggu Al-Aqsho hancur baru kita tergerak memperjuangkannya?

Memang, tak hanya Palestina.. bukan berarti pula aku melebihkan Palestina dari wilayah-wilayah muslim yang lain yang tertindas. Tapi jika Palestina saja kita lupa, padahal Al-Aqsha ada di sana, bagaimana dengan Kashmir, Xinjiang, Pattani, Moro, Afganistan, Iraq, dsb. Mana kita tau kabar SESUNGGUHNYA dari saudara kita di sana.

INI NASIONALISMEKU.

Aku cinta Indonesia…. aku sangat bangga ketika Timnas menunjukkan jati dirinya di bawah asuhan Riedl, yang membuktikan memang PSSI dan terutama Nurdin Halid sangat bobrok-sebobrok2nya. Dan momen ini bisa jadi kebangkitan persepakbolaan neger kita. Sangat geram aku, ketika kemarin bola jadi dipolitisasi, ada sarapan bareng yang ternyata ganggu jadwal latihan fisik, ada istighosah yang ternyata juga itu di belakang hal-hal ga penting itu terjadi cek-cok antara manager timnas dan pelatih.

Aku pun marah. Yang aku pahami dalam setiap tim olahraga, karantina dan disiplin jadwal latihan itu hal yang sangat penting dalam momen-momen pertandingan apapun. Tapi justru banyak yang sok cari muka. Entah apa yang dirasakan Riedl dan apa yang ada di benaknya terhadap orang-orang itu. Entah seberapa marahnya dia diintervensi sana-sini. aku saja geram, apalagi pak pelatih.

Aku cinta Indonesia…. Aku ingin berbuat yang terbaik bagi negriku Indonesia. Dengan apa yang aku punya. Tapi bagi aku, tanah airku adalah dimana ada saudara Muslimku di situ.. di manapun..

Aku suka bola, tapi tak gila bola. aku menikmati melihat permainan bola, bukan melihat tampang pemain bola.

Tapi bukan alasan untuk melenakanku..

Palestin di dadaku..

Al-Aqsho, kebanggaanku..

Kuyakin, ISLAM pasti menang

Di sana ada saudara Muslim kita yang terbunuh oleh zionis laknatullaah.

-hanya sekedar reminder diantara badai bola di negeri kita tercinta-

#disela-sela air mata yang belum kering…. Maafkan aku telah membuat kalian kaget dengan postingan itu…


CATATAN : yang warna merah itu link, yang warna biru itu kutipan berita, yang warna ijo.. pengen aja warnanya ijo.. hehe..

Semangat vs Ngoyo

Ngoyo kalo di-bahasa Indonesia-in apa ya?!
Mm, mungin hampir sama dengan ambisius.. tapi agak beda si.. inilah susahnya nranslate bahasa Jawa ke Indonesia.. hehe, maaf teman-teman yang bukan jawa, bisa dibilang mirip dengan ambisius lah.
[tambahan dari Romi, ngoyo = ngotot, keukeuh]

Kenapa versus semangat?!

Ini habis ngobrol-ngobrol ma saudari-saudariku, dan salah satunya ngebahas ini lah..

Kita itu musti semangat, tapi ga ngoyo

Lalu apa bedanya?!

Kalau ngoyo itu, kita punya keinginan.. dengan cara apapun kita harus mendapat apa yang kita harapkan itu.. entah bagaimana caranya, bisa jadi kita memaksakan orang lain untuk mengikuti apa kehendak kita, memaksakan diri kita untuk mengejar target itu sampai benar-benar terengah-engah, dsb.. bahkan lebih berbahaya lagi bisa dengan menghalalkan segala cara…
Kemudian ketika target yang ingin dicapai tidak terwujud, kita benar-benar kecewa.. sakit hati, resikonya bisa masuk Kramat.. hahaha (Rumah Sakit Jiwa di Magelang :red)

Lalu bagaimana dengan semangat?
Mm, kalau semangat itu.. kita punya target yang ingin dicapai, kita upayakan dengan usaha seoptimal mungkin, kita cintai dan nikmati beramal dalam mencapai target itu.. nikmati prosesnya.. apapun hasilnya.. enjoy aja..
Titik tekan utamanya adalah pada proses..

Dan semangat itu harus terus kita perbaharui setiap harinya, layaknya fajar pagi yang terbit tiap paginya.. cihuy.. hehehe
fajar gtu.. -halah-

jadi, kita mau pilih mana? semangat ato ngoyo?
silakan.. hidup itu pilihan.. hak Anda menentukan pilihan yang akan dipertanggungjawabkan “esok”.

Yang pasti.. Allaah menilai setiap proses yang kita jalankan, bukan hasil yang kita capai.. meskipun ada yang beranggapan, “hasil itu memperlihatkan proses”, tapi belum tentu juga.. hasil itu bisa menggambarkan proses yang telah ditempuh.

Ah, betapa menyenangkan bertemu kalian lagi, saudari-saudariku yang selalu menyemangatiku..

#cuma pengen ngakak pas dibilang, ternyata mba Fajar ga berubah.. [tetep ribut, heboh gtu.. wkwkwkwk.. ga ada aku ga rame.. =))) ]
#smoga masih tetep bisa ngerecokin kalian.. qeqeqe

-sebuah sajak-


Kuatkan ikatan tekad,
angkat tinggi-tinggi bendera harapan.

Berjalanlah menuju Allah..
dengan sungguh-sungguh tanpa lelah.

Jika rasa lemah menyerangmu,
isi jiwamu dengan kekuatan Al-Quran..!

Libas nafsumu, jangan kasih ampun.
Nafsu slalu mengajakmu menuju kebinasaan.!

(Syaikh Muhammad Ahmad al-Rasyid dalam Nahwal Ma’aali)

#sms dari suryaq..
#gambar jepretan adek

bahkan tonggak lurus pun bayangannya masih mungkin bengkok..

saat ini, lebih mendalami lagi makna nasihatnya (sebenarnya nasihatnya untuk orang lain)

“Jangan paksakan orang lain memakai kacamatamu, kawan”

ada juga nasihat dari orang yang berbeda :

“Sungguh pada setiap pijakan yang rapuh, pastilah terdapat pendirian yang lemah! “

membahasakan kebenaran dengan cara yang berbeda untuk masing-masing pribadi….. bukan perkara yang simpel, kawan

selain kita harus punya dasar yang kuat dalam berpijak……

kita pun harus lebih pandai untuk mengolah menjadi sesuai bahasa kaumnya

umm…. inikah yang dinamakan cinta pada kebenaran?
saking cintanya sampai sengantuk ini kagak bisa tidur kepikiran

ah, mungkin belum.. kau belum seperti itu…
kau belum sepantas itu mengistilahkan diri

ketika dipilihkan pada pilihan wortel, telur atau bubuk kopi…..

mana yang akan kau pilih.. ketika kau hadapi kehidupan yang laiknya rebusan air?

pastinya kau berharap menjadi bubuk kopi yang bisa mewarnai air yang ada.. merubahnya beraroma sepertimu

bukan seperti wortel yang dari keras melunak, atau telur yang dari sangat lunak mengeras

wortel dan telur tak merubah air menjadi searoma mereka

begitu rindu rasulullaah saw……

yang sangat ahli untuk bisa memahami “kacamata orang lain”
dan memberi lensa yang tepat bagi siapapun itu

tentunya lensanya berbeda-beda, frame-nya pun tak sama



intinya :

kalo pake logika terbalik…..
“tonggak yang tegakpun bayangannya bisa bengkok, apalagi tonggak yang bengkok
tak mungkin bayangan bisa lurus dari tonggak yang bengkok..
semoga kita punya pijakan yang benar dan kuat.. agar pendirian kita pun kokoh”

#ngumpulin dleminganq tadi malem jadi jurnal..hehehe..

gambar jepretanq lho..hahaha

apa dan adalah

cemburu adalah membakar,
tak akan terpadamkan jika bukan dengan hati teduh tersandar

apa itu cinta?
cinta itu membaca kisah rosul yang mampu membuatmu tertampar menangis tersedu, namun tersenyum dengan janji menggebu.. menapaki jalan itu

apa itu rindu?
rindu itu kau punya rupiah cukup untuk membeli es krim, tapi sahabat yang sangat ingin kau bagi tak ada di sini

sahabat adalah yang sanggup “menamparmu” saat kau melakukan kesalahan, bersedia menemanimu menunggu terbitnya “fajar” menjemput harapan..

apakah sakit? sakit adalah ketika jasad ini mampu berlari, tapi hati ini mati tanpa kekuatan ruhy



apakah cinta?
cinta adalah saat kami tak punya uang, tetap duduk tertawa lepas bersama sahabat

apakah rindu?
rindu adalah ibu tak doyan makan, teringat sang anak di perantauan

apakah cinta?
cinta adalah tak membiarkan sang kawan mencontek dengan memaksanya belajar sebelumnya & mendapat nilai sama

apakah cinta?
cinta adalah bersama berbagi bekal makan siang di hari pertama sekolah karena kau tau dia tak punya

apakah kasih?
kasih adalah ibu hanya membawa satu oleh-oleh dan kau mengalah untuk adikmu, berterimakasih pada ibumu

apakah benci?
benci adalah berusaha mengejar bis terakhir menuju rumah, terengah-engah namun kau lega saat bisa singgah

siapakah kita?
kita adalah “fajar” yang sebentar lagi menjelang, meski kini malam semakin kelam

apakah cemburu?
jika pujian atau cacian lebih kau perhatikan daripada kesungguhan

apakah kehilangan?
kehilangan adalah makan malam bersama keluarga, riuh tawa. tapi ada satu bangku tak ada empunya, karena telah tiada, di dunia



#tiba-tiba ingat coretan-coretan ini, di dinding-dinding mereka… ah, ayolah bangkit!!!

gigitan “apple”?

mari melihat sesuatu, atau seseorang..
secara lebih utuh..

bukan seperti buah apel, yang tergigit..atau bahkan hanya bagian apel yang digigit saja

niscaya tak akan muncul kisah seperti orang buta yang diminta menggambarkan gajah seperti apa.
ada yang bilang panjang…karena hanya pegang hidungnya
ada yang bilang tipis… karena hanya pegang kupingnya
ada yang bilang lengket dan bau… karena hanya pegang kotorannya

dan satu hal… tak bisa kita samakan standar kita pada orang lain tanpa tahu dirinya lebih utuh..
bahkan rasulullaah saw pun dalam menasehati menyesuaikan karakter masing-masing shahabatnya ra

#pengingat untuk diri sendiri


gambar dari sini

SPIRIT

“Apabila bala bencana telah bersangatan menimpamu:
Fikirkan segera Surat Alam Nasyrah;
‘Usrun terjepit di antara dua Yusran,
Kalau itu telah engkau fikirkan, niscaya engkau akan gembira.”


[nyuplik tafsir Al-Azharnya Buya Hamka bagian akhir surat Alam Nasyrah]

Susahnya Pesen Pizza Tahun 2050

Message: Rekaman Percakapan telepon pemesanan Pizza tahun 2050
Operator : Terima kasih anda telah menghubungi Mamarons Pizza, Apakah yang bisa saya….
Konsumen : Heloo, saya mau pesan pizza
Operator : Boleh minta nomor kartu KTP anda pak.
Konsumen : Tunggu, ini nih : 6102049998-45-54610.
Operator : Ok pak Bejo, anda tinggal di jalan hangtuah no. 16, nomor telepon rumah anda 02177726378, kantor anda 021665872673 Hp anda 081127894022, anda menelpon dari mana ?
Konsumen : Dari rumah, eh dari mana kamu tahu semua no telp saya ?
Operator : Oh, kami terhubung ke database pusat pak.
Konsumen : apakah saya bisa memesan Seafood Pizza ?
Operator : Itu bukan ide yang bagus pak.
Konsumen : kenapa ?
Operator : Dari medical record bapak, bapak memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol yang sudah berlebihan
Konsumen : Jadi kamu merekomendasikan apa?
Operator : Mungkin bapak bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza.
Konsumen : Dari mana kamu tahu kalo saya bakal suka itu.
Operator : Hmmm minggu lalu bapak baru meminjam buku yang berjudul Popular Hokkien Dishes dari perpustakaan nasional.
Konsumen : Ok terserah lah, sekalian saya pesan paket keluarga, berapa semuanya?
Operator : Tapi paket keluarga kami tidak akan cukup untuk anak anda yang berjumlah 7 orang PAK. .., total keseluruhan adalah Rp. 190.000,00
Konsumen : Bisa saya bayar dengan Kartu Kredit ?
Operator : Sepertinya bapak harus membayar Cash, kartu Kredit anda telah Over Limit dan anda punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000 sejak bulan agustus lalu, itu belum termasuk denda untuk tunggakan kontrak rumah anda.
Konsumen : ooh ya sudah, nanti saya ke ATM aja untuk narik duit sebelum orang mu datang nganter Pizza.
Operator : Mungkin nggak bisa juga pak, record anda menunjukkan bahwa batas anda menarik uang di ATM telah tercapai.
Konsumen : Sia(ttiiitt sensor)…. udah lah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, berapa lama Pizza diantar ?
Operator : sekitar 45 menit pak, tapi kalo bapak bisa menunggu, bapak bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek bapak.
Konsumen : APA ????
Operator : Menurut catatan kami, anda memiliki motor bebek tahun 2015 dengan no pol B3344CD betul kan pak ?
Konsumen : Sia(tiitt sensor) lo, kagak sopan banget seh buka-buka record gue, blom pernah ngerasain ditonjok ya !!
Operator : Hati-hati dengan ucapan bapak, apakah bapak ingat 15 mei 2010 anda pernah di penjara 3 bulan karena mengucapkan kata kotor kepada seorang polisi ??
Konsumen (Diamm,,,,….)
Operator : Ada yang lain pak ?
Konsumen : tidak ada, eh tapi kalo pesan paket keluarga kan ada gratis cola 3 cup kan ?
Operator : Betul pak, tapi menurut catatan kami anda juga mengidap DIABETES, jadi kami tidak mau mengambil resiko pak…..
Konsumen : KURANG A(tiitt sensor)…. BATALIN AJA SEMUA !
Operator : Terima kasih atas teleponnya pak. Untuk komplain, saran dan kritik anda bisa mengisi form online pada situs kami, username dan passwordnya tercetak pada bagian bawah kotak pizza yang anda pesan… terima kasih anda telah mengubungi Mamarons Pizza….
#cuma intermezzo..lupa dulu ni tulisan dapet darimana..hahahaha
gambar nyomot di sini
padahal aku juga kagak doyan pizza.. anak singkong si..=))

Pesan Terakhir


Sahabat…
Andainya kematian kau tangisi
Pusara kau siram dengan air matamu
Maka diatas tulang belulangku yang telah luluh
Nyalakanlah obor untuk umat ini
Dan
Lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,
Kematianku hanyalah suatu perjalanan
Memenuhi panggilan kekasih yang merindu
Taman-taman indah disyurga Tuhan
Terhampar menanti
Burung-burungnya berpesta menyambutku
Dan berbahagialah hidupku di sana

Sahabat,
Pusaka kegelapan pastikan lebur
Fajarkan menyingsing
Dan alam ini kan disinari cahaya lagi
Relakan lah ruhku terbang menjelang rindunya
Jangan gentar berkelana ke alam abadi
Di sana cahaya fajar memancar.

Sayyid Qutub-1966

Gorengan dan Kehidupan


Oleh : Diena Rifa’ah Amaliah

Tau ga (gaaa.. hehehe) makanya ni mo takkasih tau, itu loh.. tulisan Gejeq kemaren di sini ditulis ulang jadi keren ama Rifa
*terharu, jingkrak-jingkrak seneng.. qeqeqe

silakan dinikmati.. (dah diposting di sini)

inspiring by ‘Seni Menggoreng’-nya Mbak Fajar dari kampung MP. ^_^

Sebab hikmah juga dapat datang dari dalam wajan penggorengan…

Sebuah episode di salah satu sudut dapur. Seorang gadis kecil menempel di samping ibunya. Menatap lekat pada berkeping-keping kerupuk mentah yang siap digoreng.

“Ibu,” ujarnya dengan mata membulat, “Goreng kerupuk itu susah yah?”. Sang ibu membelai lembut rambut ekor kuda bocahnya.

“Tidak susah, sayang…” kata Ibu dengan suara lembutnya, “Tapi butuh kesabaran…” katanya sambil menuangkan minyak goreng pada wajan.

“Kenapa tidak langsung digoreng, bu?” tanya si bocah sambil menatap minyak goreng yang masih adem ayem di wajan. Ibu lalu tersenyum tipis dan meminta gadis kecil itu memasukkan kerupuk ke minyak yang belum panas. Setelah beberapa lama, sang ibu kembali memintanya untuk memasukkan kerupuk ke wajan. Mata gadis kecil itu berbinar demi menyaksikan kerupuk mentah tadi langsung mekar dan terlihat gurih, berbeda dengan kerupuk sebelumnya.

Setelah itu, ibu meminta anaknya memakan kedua kerupuk tadi.

“Yang ini keras… Yang ini enak” ujar gadis kecil itu dengan wajah heran

“Yang pertama digoreng tanpa kesabaran…Yang enak itu digoreng dengan sabar…” ibu menjelaskan dengan wajah cerahnya, “Beda khan?” ujarnya kemudian.

————————————————————-

Kawan, hidup kita hampir sama dengan proses penggorengan tadi. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran. Membutuhkan proses. Terkadang, kita terlampau terburu-buru dengan sesuatu, sehingga hasilnya pun akan alot seperti kerupuk pertama. Atau kita kadang melihat orang lain dengan hasil yang dicapainya, sibuk ber-iri ria dengan hasil tersebut. Tanpa pernah mencoba melihat proses yang dilalui di dalamnya.

Maka jika dalam kehidupan dunia kita harus meyakini proses, maka seperti itu pula ketakwaan. Seorang guru menjelaskan kepada saya, “Takwa itu,” ujarnya suatu senja, “Tidak didapatkan begitu saja, tapi diperoleh dengan perjuangan.”

Ya, bahkan ketakwaan pun membutuhkan proses untuk meraihnya. Jangan terlalu cepat takjub dengan kawan yang begitu ringannya bangun shalat malam. Tapi lihatlah bagaimana ia bersusah payah membangun kebiasaan tersebut malam demi malam. Memaksakan matanya untuk tersadar saat orang lain larut dalam tidurnya. Hingga akhirnya ia dapat merasakan kenikmatan berdiri di sepertiga malam.

Jika kita menengok sejarah, maka akan kita dapati bagaimana keluarga Yasir dan Sumayyah –yang namanya menyejarah sebagai syahidah pertama dalam Islam, peroleh janji syurga setelah melewati bengisnya kafir Quraisy menyiksa mereka. Siksaan itu, kawan, adalah proses yang mengantarkan mereka pada hasil yang setinggi-tingginya.

Namun terkadang, proses tidak selalu sejalan dengan hasil yang kita dapat. Terkadang kita sudah mencoba bersabar menunggu minyak hingga panas, tapi ada kalanya kerupuknya malah gosong hasilnya. Yah, proses yang mantap sekalipun masih bisa jadi memberi hasil yang membuat kita nelangsa. Tapi rupanya cukuplah kita menghibur diri dengan ayat cintaNya yang turun dari langit, untuk kita:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(Al-Baqarah: 216)

Lalu sebagai ummat yang percaya pada takdirNya, maka cukuplah pejamkan mata, lalu yakini bahwa apapun yang terjadi adalah kebaikan yang sebenarnya!

Maka jika dulu kita sibuk dengan tujuan, dengan berbagai titik mimpi-mimpi yang ada, maka saat ini, cobalah untuk lebih mengkomplekskan langkah untuk itu. Jika kita dapat memimpikan hasil, maka harus pula kita berani memimpikan proses. Lalu memulai menjalaninya dengan ikhtiar full energy, berdoa dengan segenap pengharapan, lalu tawakkal dengan segala keyakinan. Lalu tunggulah bagaimana Allah menentukan hasilnya pada akhirnya. Lalu percayalah, bahwa yang Dia lihat adalah serangkai perjalanan yang kita lalui, bukan sekadar pada titik akhir tempat kita menambatkan diri. So, keep spirit!

Untuk semua teman sepe
rjuangan di Mixtura, Pharmacy ’07 UH; Selamat menjalani proses kita, Kawan! Semuanya akan baik-baik saja, insya Allah!

(Makassar, 8 Muharram 1432 H)

Pesan sponsor: Besok puasa sunnah Tasu’a dan lusa puasa sunnah Asy Syura yuuuk…! ^_^


#jazaakillaah khoyr buat Rifa.. wah, berbunga-bunga nih malem ini liat tulisan asyik gini.. hihi.. =)

Muhasabah Awal Tahun 1432 Hijriyah

Hakikatnya, pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang sama: memperkuat dzikrullah, mengingat Allah ta’ala.

Inilah yang disyaratkan Allah ta’la dengan firman-Nya,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran, 3: 190 – 191)

Terlebih lagi bagi kita bangsa Indonesia, dimana pergantian tahun datang setelah melewati masa ujian bencana alam yang cukup berat. Banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta.

Memahami hakikat ini, setiap kita hendaknya mau meluangkan waktu untuk tadzakkur (merenung) dan tafakkur (berpikir). Menyegarkan kembali ruhul ibadah, dengan membiarkan tetesan khauf (takut) membasahi qalbu. Menghirup sejuknya raja’ (berharap), tawakkal (berserah diri), dan khusyu’ (tunduk), dengan raghbah (penuh minat), dan rahbah (cemas).

Pergantian waktu ini, hendaknya kita gunakan untuk inabah (kembali), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), dan istighotsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) kepada Allah Ta’ala.

Mari kita bercermin. Adakah ruhani kita tumbuh subur, ataukah kering kerontang? Nafsu manakah yang menguasai jiwa, apakah nafsu amarah bi-shu—yang selalu mendorong pada kejahatan—, nafsu lawwamah—yang mengombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, ataukah nafsu muthmainnah—yang menentramkan jiwa dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah Ta’la ?

Pergantian tahun ini hendaknya menyadarkan kita, tentang pentingnya ri’ayah ma’nawiyah, pemeliharaan maknawi, agar kita terhindar dari penyakit al-wahn (kelemahan jiwa), hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa mendapat al-ghida (gizi) yang cukup, berupa ibadah yang dibarengi ruh, bukan sekedar rutinitas dan seremonial belaka; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa yang sakit mendapatkan asy-syifa (pengobatan), berupa taubat dan istighfar.

Setahun telah berlalu…

Ada 1700 peluang kewajiban shalat berjamaah. Ia sama dengan 6018 rakaat. Ada peluang 5300 rakaat sunnat rawatib dan witir, ada peluang 420 rakaat qiyamullail, tarawih dan tahajjud…

Berapa banyak peluang di atas yang kita lakukan secara berjamaah? Berapa kali kita shalat berjama’ah di masjid pada barisan pertama? Seberapa besar tingkat kekhusyuan kita dalam shalat-shalat itu? Adakah semua peluang itu mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala?

Ada peluang 92 hari untuk berpuasa Senin dan Kamis, 30 hari peluang berpuasa ayyamul bidh, 1 hari puasa Tasu’a dan 1 hari puasa Asyura

Berapa hari kita isi peluang-peluang itu dengan berpuasa? Berapa banyak kita memanfaatkan fadhilah-nya?

Ingatlah bahwa kekasih kita, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa yang shoum (berpuasa) satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim”.(HR. Bukhari).

Ada peluang 12 kali khatam Al-Qur’an, adakah kita menyempurnakannya dan melakukan tadabbur (perenungan) terhadapnya? Sedangkan satu kali khatam sama dengan 305 juta kebaikan!

Ada peluang 130.000 sedekah wajib yang dapat engkau pergunakan, sebab Rasulullah SAW bersabda,

كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاس عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ

“Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai shadaqah”.(Bukhari Kitab).

Adakah kita telah menunaikan dan memenuhinya? Atau mengupayakannya semaksimal mungkin atau mendekati maksimal? Atau adakah kita telah bertekad dan berniat?

“Beruntung sekali bagi seseorang yang menemukan banyak istighfar dalam lembaran amalnya”.

Ada peluang 50 pekan di mana kita dapat merealisasikan silaturahim dan mengunjungi kerabat, berbakti kepada orang tua, mengunjungi orang sakit dan memenuhi berbagai kepentingan kaum muslimin…

Berapa banyak kita dapat menemukan amal-amal ini? Berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas karena Allah dan tidak tercampur oleh syahwat nafsu atau kompetisi dengan orang lain, atau mengejar popularitas atau gegap gempitanya media, atau ikut-ikutan kepada sufaha (orang-orang yang bodoh dan tidak memperhitungkan akhirat)?

Kemudian, coba kita lihat amal yang sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya? Berapa berat timbangannya, dan berapa banyak pengaruhnya?

Bandingkan antara kebaikan dan keburukan kita? Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak pula yang kita dapatkan?

Ingatlah kepada ucapan Ibnu Mas’ud RA, “Saya tidak pernah menyesali sesuatu yang seperti penyesalanku kepada suatu hari di mana matahari terbenam yang menjadi pertanda ajalku berkurang sementara amalku tidak bertambah”

Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri. Seandainya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami. Sungguh kami termasuk orang merugi…

Oleh : Intimagazine

copas dari sini http://intimagazine.wordpress.com/2010/12/10/muhasabah-awal-tahun-1432-hijriyah/#more-221

Dibalik Seni Menggoreng -Adegan 1- [haisyah.. opo iki Jar..Jar..]

“Kau tahu nak, menggoreng itu juga punya seni”
“mosok si bu?!”
“pertama, pastikan minyaknya cukup tua.. atau cukup panas untuk menggoreng.
Sekarang coba goreng kerupuk ini di minyak yang masih belum panas itu”
Aku pun menjalankan yang diminta ibu.
“Lama banget ni ngembangnya, kinyis2”
“trus tirisin”
kutiriskan kerupuk percobaan pertama itu
“nah, itu kan minyaknya sekarang dah panas, coba goreng kerupuk yang lain”
“woke. Wah, kali ini cepet banget ngembang & matengnya ya”
“dah, tirisin”
selesai sudah percobaan dua model kerupuk ini
“sekarang makan dua-duanya, bandingkan”
“wehehehe.. kriuk-kriuk yang minyaknya dah bener-bener panas Bu”
“beda to?”
“ho’oh”

begitulah kurang lebih percakapanku dengan ibu sewaktu SD dulu
Yah, jika ingin kita ambil hikmah dari seni menggoreng babak 1 ini, (sedikit lebay berimajinasi) untuk menghasilkan suatu hasil yang terbaik yang memroses pun harus matang.
Untuk dapat sukses menjalani proses dari “kerupuk mentah” ke “kerupuk matang” dengan hasil yang kriuk-kriuk mak nyuss, bukan dari ketergesa-gesaan. Tapi dari kesabaran menanti panasnya minyak cukup pas untuk memroses sang kerupuk.
“Proses itu panas, kawan” bukan yang setengah panas atau tiga perempat panas”

Jika kurang panas dan dengan ketergesa-gesaan hasilnya kerupuk yang agak alot dan tak tahan lama.

ini baru adegan 1
#barusan nulis sekelebat duang, 5 menit yang lalu.. muuph2 kalo kata2nya jumpalitan
#adegan 2-nya.. ntar kapan2
gambar dari sini

eh, koq jadi inget ada yang habis nulis tentang “indah pada waktunya” (apa hubungannya yak..)

Besok Puasa Yuukk..

Hadits tentang puasa Asyura

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan puasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharam). Setelah diwajibklan puasa Ramadhan, maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan berbuka (tidak berpuasa) “.


حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

[dari Kitab Bukhari Hadits No 1862]

jalur sanadnya

  • Nama Lengkap : Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Ummu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 58 H
ULAMA KOMENTAR
Shahabat

  • Nama Lengkap : Urwah bin Az Zubair bin Al ‘Awwam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Izzi bin Qu
  • Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Kuniyah : Abu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 93 H
ULAMA KOMENTAR
Al ‘Ajli Tsiqah
Ibnu Hajar Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘Ats Tsiqat’

  • Nama Lengkap : Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab
  • Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan
  • Kuniyah : Abu Bakar
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 124 H
ULAMA KOMENTAR
Ibnu Hajar al ‘Asqalani faqih hafidz mutqin
Adz Dzahabi seorang tokoh

  • Nama Lengkap : Syu’aib bin Abi Hamzah Dinar
  • Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Bisyir
  • Negeri semasa hidup : Syam
  • Wafat : 162 H
ULAMA KOMENTAR
Ahmad bin Hambal tsabat shalih
Yahya bin Ma’in Tsiqah
Ya’kub bin Syaibah Tsiqah
Al ‘Ajli Tsiqah
Abu Hatim Tsiqah
An Nasa’i Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Ibnu Hajar Al Atsqalani tsiqah ahli ibadah
Adz Dzahabi Hafizh

  • Nama Lengkap : Al Hakam bin Nafi’
  • Kalangan : Tabi’ul Atba’ kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Al Yaman
  • Negeri semasa hidup : Syam
  • Wafat : 222 H
ULAMA KOMENTAR
Yahya bin Ma’in Tsiqah
Abu Hatim Ar Rozy Tsiqah Shaduuq
Al ‘Ajli la ba`sa bih
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat

awalnya Rasulullah saw mewajibkan puasa Asyura, namus setelah perintah puasa Ramadhan turun, boleh berpuasa atau berbuka pada hari Asyura

tentang dasar puasa 9 Muharram

Dan Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Umayyah bahwa ia mendengar Abu Ghathafan bin Tharif Al Murri berkata, saya mendengar Abdullah bin Abbas radliallahu ‘anhuma berkata saat Rasulullah shalla
llahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura`dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.


و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ بْنَ طَرِيفٍ الْمُرِّيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[dalam kitab Muslim no 1915]

jalur sanadnya

  • Nama Lengkap : Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu Al ‘Abbas
  • Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
  • Wafat : 68 H
ULAMA KOMENTAR
Ibnu Hajar Al Atsqalani Shahabat
Adz Dzahabi Shahabat

  • Nama Lengkap : Sa’ad bin Tharif
  • Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Kuniyah : Abu Ghathaan
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat :
ULAMA KOMENTAR
Ibnu Hibban mentsiqahkannya
Yahya bin Ma’in Tsiqah
An Nasa’i Tsiqah
Adz Dzahabi Tsiqah

  • Nama Lengkap : Isma’il bin Umayyah bin ‘Amru bin Sa’id bin Al ‘Ash
  • Kalangan : Tabi’in (tdk jumpa Shahabat)
  • Kuniyah :
  • Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
  • Wafat : 144 H
ULAMA KOMENTAR
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Ibnu Hajar al ‘Asqalani Tsiqah Tsabat
Adz Dzahabi Tsiqah

  • Nama Lengkap : Yahya bin Ayyub
  • Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Al ‘Abbas
  • Negeri semasa hidup : Maru
  • Wafat : 168 H
ULAMA KOMENTAR
Ahmad bin Hambal buruk hafalan
Yahya bin Ma’in shalih
Abu Hatim terdapat kejujuran padanya
Abu Daud shalih
An Nasa’i laisa bi qowi
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
Ibnu Sa’d mungkarul hadits
Al Bukhari Tsiqah
Ya’kub bin Sufyan tsiqoh hafidz
Ibrahim Al Harabi Tsiqah
Al ‘Uqaili disebutkan dalam adl dlu’afa
Ibnu ‘Adi Shaduuq
Ibnu Hajar al ‘Asqalani “shuduq, tedapat kesalahan”
Adz Dzahabi shalihul hadits

  • Nama Lengkap : Sa’id bin Abi Maryam Al Hakam bin Muhammad bin Salim
  • Kalangan : Tabi’ul Atba’ kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Muhammad
  • Negeri semasa hidup : Maru
  • Wafat : 224 H
ULAMA KOMENTAR
Al ‘Ajli Tsiqah
Abu Hatim Ar Rozy Tsiqah
Yahya bin Ma’in Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat

  • Nama Lengkap : Al Hasan bin ‘Ali bin Muhammad
  • Kalangan : Tabi’ul Atba’ kalangan pertengahan
  • Kuniyah : Abu ‘Ali
  • Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
  • Wafat : 242 H
ULAMA KOMENTAR
Ya’kub Ibnu Syaibah Tsiqah
An Nasa’i Tsiqah
Abu Bakar Khatib Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam ‘ats tsiqaat
At Tirmidzi Hafizh
Ibnu Hajar al ‘Asqalani Tsiqah Hafidz
Adz Dzahabi Tsabat
Adz Dzahabi Hujjah


ada yang punya sumber lain tentang puasa 9 Muharram? mohon dishare dunkz.. jazaakumullaah khoyr.

Mengumpulkan Yang Terserak

“Ketika saya tidak menyikapi apa yang terjadi dengan cara saya, saya merasa bersalah”. Ini jawaban yang diberikan pak Taufiq Ismail ketika ditanya bagaimana bisa karya-kaya beliau tetap kekinian _sesuai dengan kondisi dalam rentang waktu yang ada_ meski usia beliau tidak bisa dikatakan muda lagi, 75 tahun. Puisi-puisi beliau yang selalu menggugah, peka terhadap permasalahan ada di negeri kita ini. Itulah cara beliau “menyikapi dengan caranya”, apa-apa yang terjadi di sekitarnya.

Sejak kecil membaca merupakan keseharian beliau, jalan hidupnya… SASTRA. Meski memang kita tahu, tak akan bisa “kenyang” dengan menjadikan sastra itu jalan hidup. Beliau pun termasuk para pemuda yang ikut bergerak “meruntuhkan” pemerintahan ORLA dulu, saat aksi turun ke jalan, beliau sambil membuat puisi apa yang terjadi di situ.

Teringat sebuah nasehat seorang kolumnis di surat kabar, “dengan sastra membuat kita lebih peka, lebih jeli terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita”. Namun tetap dalam kerangka pemikiran global. Jadi, memperhatikan hal kecil tapi tetap dalam koridor “hal besar”. Hampir sama dengan fotrografer. Mereka yang ahli dalam fotografi, lebih sering menyampaikan pesan melalui hal-hal sepele, namun memberi makna yang mendalam. Ya, hal-hal kecil yang kadang dilupakan orang-orang pada umumnya, hal-hal kecil yang dianggap biasa saja bagi sebagian besar yang melihat, namun ternyata dengan sastra bisa tersampaikan pesan moral yang bisa jadi mengubah pemikiran yang membaca. Bukan berarti terlalu berlebihan dalam memandang sesuatu, hanya saja mengemas pesan dengan rasa. Bukan sekedar dengan fakta.

Bukankah hikmah itu sesuatu milik mukmin yang terserak, silakan diambil di mana saja yang bisa kita dapatkan, layaknya kepingan-kepingan puzzle yang tersebar di berbagai celah kemungkinan. Tapi bagaimanapun, memang kadar keimanan sangat mempengaruhi bagaimana seeorang bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian. Dengan kejadian yang sama, tiap orang berbeda dalam memperoleh kadar hikmah dan menyikapinya. Prinsip yang harus kita tetap pegang, tetaplah setia pada kebenaran meski harus melawan arus, tergilas roda zaman, dikucilkan, atau terasing di negeri sendiri. Dalam salah satu statusnya seorang kawan pernah menulis, “walau harus hancur tergilas zaman, kita akan tetap setia pada kebaikan, benar kan?” bagiku itu kurang tepat, yang paling pas adalah “walau harus hancur tergilas zaman, kita akan tetap setia pada kebenaran.” Karena belum tentu sesuatu yang dianggap baik itu benar, tapi sesuatu yang benar pasti baik. Dan kebenaran multaq adalah quran dan sunnah rasulullaah saw.

Ada sebuah judul tarbawi yang menarik untuk dimaknai, “bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki”. Atau di salah satu bukunya Anis Matta pernah mengutarakan, tulislah apa yang kau rasakan, bukan yang kau pikirkan. Di sini kekuatan hati sebagai panglima dalam kita mengemas kebenaran yang akan disampaikan. Yah, seperti sosok di atas yang sangat saya kagumi, pak Taufiq Ismail, beliau menulis karya, dengan RASA. Kebenaran yang terungkap, meski pahit namun menyentuh hati yang membacanya. Dari hati tersambung ke hati. menjadikan ruh dalam setiap potongan fragmen yang tertampil di tulisan-tulisan beliau. Lantang menyeru kebenaran, dengan penuh kelembutan. Di situlah titik sulitnya. Tegak menghadapi tiran dengan keindahan. Di situlah simpul rumitnya.

Ketika hati yang berpaut, maka ruh lah yang berpadu, bukan sekedar logika. Karna ada begitu banyak rasa yang kadang tak masuk logika.

*hanya celoteh seseorang yang biasa berpikir dengan logika untuk belajar mengolah rasa menjadi penuh makna, buka sekedar kata2 atau retorika semu belaka.

#ga tau pengen repost tulisan ini….. =)

Jiwa-jiwa Itukah Kita?

Jiwa-jiwa yang bersih adalah jiwa-jiwa yang peduli akan kebersamaan.

Yang menjadikan kebersamaan sebagai unsur perekat, yang menyatukan tulang-tulang berserakan.
Yang menyayangi kala yang lain membenci, yang menjaga di saat yang lain memangsa.
Semoga jiwa-jiwa itu adalah jiwa-jiwa kita.
Met istirahat :)

#barusan dapet sms dari mba Amir
bikin meleleh.. =’)

Asalkan Kita Ikhlas [copas lagi]

“Asalkan kita ikhlas, Allah pasti memberikan balasan yang baik”.

Kata-kata ini pasti sangat menenangkan pada jiwa-jiwa yang sedang terperangkap dalam kerumitan keadaan, saat amat sangat banyak fitnah bermunculan. Tapi, yakin sudah benar seperti itu?

Bicara tentang keikhlasan berarti bicara tentang kepada siapa seseorang mempersembahkan semua usahanya. Maka ikhlas karena Allah menjadi satu-satunya pilihan sebagai konsekuensi tauhid. Dengan kalimat ikhlas ini, seseorang bahkan rela mengorbankan hidupnya untuk Allah. Tapi, apakah cukup dengan ikhlas?

“La hukma illa lillah”. Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Slogan ini, sebagaimana logika keikhlasan, telah membuat ribuan orang teguh berjuang bahkan sampai dimusuhi sebagian besar manusia. Slogan ini yang membuat ribuan orang itu rela mengorbankan nyawanya untuk Allah, untuk membela kebenaran yang mereka yakini. Dengannya mereka memiliki motivasi beribadah yang luar biasa. Shalat mereka luar biasa, puasa mereka luar biasa, tilawah dan dzikir mereka luar biasa. Benar-benar sebuah pengabdian elite di atas rata-rata.

Syaikh Ahmad Nahrawi mengomentari kalimat ini dengan “kalimat ini maknanya benar, tapi maksudnya salah”. Mengapa ada komentar seperti ini? Karena kalimat itu adalah slogan yang dipakai Khawarij dalam perang mereka melawan para shahabat, para khalifah, dan kaum muslimin. Mereka adalah golongan yang disifati dengan “keluar dari kebenaran, layaknya anak panah yang meluncur dari busurnya”. Mereka adalah paham sesat pertama yang muncul dalam sejarah islam. Padahal mereka adalah orang-orang yang ikhlas menyerahkan dirinya untuk Allah.

Sayangnya kata ikhlas bisa juga dipakai seorang atheis untuk membela pahamnya. Mereka bisa jadi juga tidak menghendaki apapun dari dunia. Kata ikhlas pun bisa dipakai seorang pelaku bid’ah untuk berbuat di luar tuntunan. Mereka juga tidak sedikitpun mengharapkan pujian manusia. Kata ikhlas bisa juga dipakai seorang pengikut golongan sesat untuk mati-matian mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Meskipun kebenaran itu salah dari semua sudut pandang kebenaran.

Maka kalau ikhlas saja sudah cukup, buat apa para ulama menghabiskan ribuan malam mereka untuk menulis puluhan ribu lembar kitab tentang syari’at, kaidah-kaidah, dan batasan-batasan beramal. Buat apa juga mereka berdebat kesana kemari untuk meluruskan pikiran-pikiran menyimpang yang tumbuh di tengah-tengah umat. Buat apa juga para mujahid dikerahkan untuk membasmi orang-orang yang menyimpang, padahal mereka sama-sama ikhlas. Bahkan bisa jadi tingkat keikhlasan pasukan yang berdiri dalam kesesatan lebih besar dari yang berdiri mewakili kebenaran.

Seandainya semuanya dicukupkan untuk berhenti dalam konsep keikhlasan, tidak perlu ada syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai tuntunan. Maka jika keikhlasan sudah tidak menjadi masalah lagi, jangan berfikir semuanya selesai dan tinggal melenggang ke surga. Keikhlasan bisa membawa bencana ketika seseorang tidak memiliki kapasitas keilmuan untuk memilah mana tindakan yang benar dan mana tindakan yang salah. Siapa bilang bekal perjuangan cukup dengan ikhlas, dari dulu sampai sekarang, bekal perjuangan adalah ilmu.



(Anindito W)

Aku Masih Setia

elok nian hiperbol mereka atas citra sosok-sosok gubahan sutradara konspirasi dunia
lahirkan eulogi penuh tipu daya
adakah serau kan bergerak jadi erat?
bilakah ikatan kembali bernas serupa waktu sang pembawa risalah itu tiba?
candamu menamparku
kaki langit Gaza masih menggariskan horizon yang sama : MERAH SAGA
lautan darah masih menggenang di sana
janjiku,
tak akan berpaling,
bahkan tuk menoleh sekian derajat pun
AKU MASIH SETIA
titik
#Al-Aqshoku, Palestinaku, engkau masih di dadaku, tak akan berpaling

akhirnyaaaa.. ikutan arisan kata lagi.. yang ke 11 di sini

Ketika Harus Membenci(mu)

Pemuda tegap dengan tatapan tajam itu menyunggingkan senyum penuh harap. Wajahnya cerah bak fajar menyingsing, membuat siapapun yang menatap ikut tertular virus bahagia. Langkahnya ringan menuju stasiun Lempuyangan, di siang yang tak begitu terik itu. Dengan jaket, tas ransel, sepatu kats dan topi kostum andalannya; dia membeli tiket kereta api Pramex (Prambanan Express). Ya, Solo tujuannya. Rumah mungil yang sangat ia rindukan untuk disinggahi kembali. Orang tua dan adik-adik yang lama tak ia peluk satu-persatu. Wajah-wajah penuh cinta yang ingin ia temui lagi bukan sekedar lewat suara mereka yang sering didengar dari si Ery, handphone andalan yang sudah dua tahun ini menemani setiap perjalanannya.

Sudah 5 bulan ia tak pulang ke rumah. Entah mengapa, tak seperti biasanya ia memilih pulang di hari Kamis. Bukan Jum’at atau Sabtu seperti dulu saat ia hampir setiap dua pekan sekali pulang. Ada perasaan kuat dalam hatinya yang berkata dia harus pulang hari ini. Sebuah rasa yang ia pun tak bisa mendefinisikannya, bahkan ketika sahabatnya bertanya, “Mengapa hari ini, bukannya besok sore kau ada rapat?”. Dia pun tak tau harus memberi jawaban apa, hanya berjanji akan kembali esok hari ke Jogja, yang jelas hari ini dia ingin pulang. Itu saja. Titik. Sungguh hari itu dia pun merasa aneh dengan ketidaklogisan tindakannya. Tapi tetap tak menciutkan keputusannya untuk akhirnya berangkat ke Solo.

Sengaja ia tak mengabarkan rencana kepulangannya, karena ingin memberi kejutan pada keluarga tercintanya. Dari kota “never ending Asia” dengan pasti kereta itu menuju kota “the spirit of Java”. Pramex saat itu tak begitu penuh penumpang, si Kalengkuning yang kini berubah warna jadi ungu itu agaknya memang tak seperti saat akhir pekan atau waktu berangkat dan pulang kerja yang berjubel di dalamnya para komuter. Pemuda tegap itu bisa duduk dengan cukup nyaman di salah satu bangku sambil menikmati sawah dan pemandangan yang masih hijau sepanjang perjalanan, bukit di arah Selatan daerah Gunung Kidul yang sudah lama sekali ia tak menikmati suasana perjalanan seperti itu. Seulas senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Ah, manis sekali.

Yap, Purwosari. Stasiun inilah tempat ia akan memisahkan diri dari si Kalengkuning yang sudah mimikri menjadi ungu itu. Bergegas ia turun dan berjalan ke arah pintu keluar, sambil menengok ke samping melihat sekilas warung soto langganannya yang sudah lama tak ia sambangi. Dia masih harus berjalan kea rah gerbang depan tepi jalan raya, untuk memperoleh bis kota menuju rumahnya. Namun sebelum ia menunggu bis, sejenak ia menyempatkan membeli makanan kesukaannya di pinggir jalan Slamet Riyadi itu, serabi.

Tak perlu lama menunggu, bus kota yang menuju rumahnya pun tiba. Ia segera naik dan menyerahkan uang pas Rp. 2.500,00. Memang jarak rumahnya tak begitu jauh ditempuh dengan bus kota dari stasiun. Sejenak saja gang menuju rumahnya dudah tampak dari kejauhan. “kiri, pak”. Ia pun turun. Dan melangkah dengan tenang menuju rumah bercat putih dengan sebuah pohon mangga di depan rumah, asri. Tapi langkahnya tak menuju pintu depan, seperti biasa dia lebih memilih lewat pintu belakang rumah karena keluarganya lebih sering berkumpul di belakang sambil bercanda riang.

Pintu bercat hijau itu menunggu untuk diketuk olehnya, tapi penantian itu tak terpenuhi. Tak seperti biasanya ia langsung mendorong pegangan pintu. Ternyata tak terkunci. Lamat-lamat terdengar adzan Ashar dari masjid yang paling dekat dengan rumah itu. Seperti maling saja ia mengendap-ngendap ingin membuat kejutan. Sampailah di dapur. Tapi.. tapi.. tapi.. Bukan dia yang memberi kejutan, justru ia yang terkejut. Amat sangat terkejut. Pemandangan yang ada di hadapannya saat itu adalah hal paling tak ingin dilihat oleh siapapun anak di dunia ini. Ia melihat ibunya sedang berciuman dengan pria yang bukan ayahnya.

Brakk….. jotosan telak di wajah pria itu tak erelakkan. Bogem mentah itu bertubi menghajarnya. Sang pemuda marah, cemburu, benci, sungguh marah. Setelah itu ia pun tak sanggup untuk menatap wajah ibunya, wanita yang sangat ia cintai, dari rahimnya ia lahir, wanita yang mengandungnya dalam kondisi kepayahan. Kini ia tak sanggup menatapnya, ia tak sanggup berkata apa-apa, dan ia pergi dengan kepiluan mendalam, ia memilih kembali ke arah pintu dan pergi.

Nama pemuda itu, Rendra.

#bersambung

#cerita ini hanya fiktif belaka. Tapi terinspirasi dari kisah nyata. Bukan buat lomba. wkwkwk

Tunggu kelanjutan kisahnya.. Ini baru awal.. hehehe

Ngarep kritik dan saran temen2..

gambar nilep dari sini