“Tidak Tahu”


Suatu ketika di masa lalu, saat zaman masih hanya mengenal unta sebagai kendaraan mewah penyeberang gurun, kuda sebagai penakluk perjalanan tercepat dan keledai sebagai transportasi antar desa, seorang lelaki datang ke Madinah. Dia telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, melewati berbagai tempat, mendaki dan menuruni bukit-bukit, dan sehari-hari bermalam dalam selimut di bawah bintang. Misinya datang ke kota itu jelas, di sana ada seorang fakih termasyur: Imam Malik. Sampailah lelaki itu ke tempat sang imam dengan sejuta harapan untuk bisa segera pulang membawa misi yang sukses. Setelah bertemu dengan beliau, lelaki itu berkata:

“Aku mendatangimu dari jarak enam bulan perjalanan, penduduk negeriku memberiku amanah untuk menanyakan suatu masalah kepadamu”.

Imam Malik sendiri telah biasa didatangi seseorang untuk bertanya atau meminta fatwa darinya.

“Katakanlah”, jawab Imam Malik.

Lelaki itu lega, Imam Malik bersedia menjawab pertanyaannya. Lalu dia menceritakan permasalahan yang telah dibawanya dari kampungnya. Selesai menerangkan, lelaki itu menunggu jawaban Imam Malik. Tapi jawaban yang disampaikan Imam Malik benar-benar tak pernah disangkanya.

“Aku tidak tahu”, katanya.


Ha!? Lelaki itu benar-benar terkejut. Dia heran dan tidak percaya. Dia rela melakukan perjalanan yang sangat panjang karena berharap menemukan jawaban pertanyaan yang akan dibawanya pulang untuk melegakan hati penduduk kampungnya. Yang dia dengar adalah bahwa Imam Malik seorang ulama jenius, mengetahui semua hal dan mampu menjawab semua pertanyaan, karena itu dia mendatanginya. Tapi sekarang dia tidak mendapat selain perkataan “tidak tahu”, kok bisa-bisanya, apa-apaan ini?. Lelaki itu gusar dan bingung.

“Lalu apa yang harus kukatakan pada penduduk negeriku jika aku kembali kepada mereka?”, tanyanya.
“Katakan pada mereka, Malik bin Anas berkata kepadaku: Aku tidak tahu.”

Imam Malik, imam madzhab maliki, imam penduduk Hijaz, ulama kelas berat, yang namanya tersohor pada dua masa dinasti kekhalifahan, dari Damaskus sampai Baghdad, yang anak-anak khalifah datang ke rumahnya untuk berguru kepadanya, yang bahkan khalifah sendiri pernah menemuinya secara personal untuk meminta maaf, Malik bin Anas mengatakan “tidak tahu”? Bagaimana bisa demikian? Mengapa dia mengatakan perkataan yang kontra dengan reputasinya?

Jawaban dari pertanyaan itu mudah: karena Imam Malik memang tidak tahu jawabannya. Dan ini sama sekali tidak kontra dengan reputasinya, karena dibutuhkan manajemen hati yang lebih berat untuk bisa mengatakan “tidak tahu”, sehingga ini justru membuktikan kualitas seorang Malik. Seorang guru akan sangat berat mengatakan “tidak tahu” kepada muridnya. Seorang ayah malu untuk mengatakan “tidak tahu” atas pertanyaan anaknya. Seorang suami bahkan akan sangat gengsi mengatakan tidak lebih tahu dari istrinya. Seorang asisten dosen kepada mahasiswa, seorang atasan kepada bawahan, seorang ketua kepada anak buahnya, seorang tokoh publik kepada wartawan, akan merasakan hambatan yang sama beratnya. Bahkan bayangkan ketika kita sedang berkumpul dengan teman-teman kita lalu seseorang yang tidak dikenal bertanya “Apa Anda pernah mendengar tentang peristiwa Chernobil yang menggemparkan dunia?”, sangat sulit untuk menggelengkan kepala.

Perasaan berat itu datang dari ketakutan dan kekhwatiran jatuhnya harga diri. Orang tidak akan lagi menghormati, tidak segan lagi, tidak mengagumi lagi, menganggap bodoh, menurunkan derajat, menganggap tidak kompeten. Tapi selayaknya diketahui bahwa itu semua adalah bagian dari kesombongan. Itu adalah ketakutan yang dibesar-besarkan oleh setan yang mendapat bantuan dari diri sendiri dengan mengiyakannya. Manusia memiliki ego dan ego itulah yang menolak untuk mengatakan “tidak tahu”, karena mengatakannya berarti membuka kelemahan diri.

Logika seperti itu adalah sesat pikir. Orang-orang bijak berfikir yang sebaliknya. Bahwa mereka justru akan jatuh ke dalam kehinaan jika mengatakan yang tidak mereka ketahui atau jika mengelak untuk mengakui kelemahan diri. Kelemahan diri bukan aib, dia adalah kekurangan manusiawi, dan
karena mempunyai kekurangan itulah seorang manusia menjadi manusia. Mengakuinya adalah bukti kebesaran hati. Kemuliaan puncak hanya akan kita dapatkan saat kita telah mengetahui dan mengakui kelemahan kita, dan kebesaran diri adalah dari menyadari kecilnya diri.

(Anindito W.)

#maaph, lagi2 masih ngopas, coz lagi butuh baca lagi ni artikel..
mudah2an malem ini bisa nulis “sesuatu”

gambar nyomot dari sini

42 thoughts on ““Tidak Tahu”

  1. riefighter said: Sekalipun yg tanya murid2 atau ponakan2 atau siapun yg lbh ‘muda’ dr qt?

    akhwat relatif lebih mudah untuk bersikap begitu dibanding ikhwan.. yakin deh.. hehe.. =)

  2. mat2174 said: Aku tidak tahu akan seperti apa dirikutanpa dirimu..*singing (btw lagune sapa yah? perasaan ga ada.)

    yo ra kepiye2, apik2 wae koq, yakin..hahahah*tutup kuping.. siap2 peredam ndak pecah kabeh..hoho

  3. tranparamole said: diset for network…Hmm..Ckckckit must be for everyone

    udah Rom..hehe.. kan suka ada yang liat dari luar, ga enak aja kalo ada yang tau aku sering ngopas tulisannya ni anak.

  4. herlinrahma said: bener tuh,contohnya kalo kita nanya jalan, pasti dijawab sama yg kita tanya, eh ternyata salah…he3

    yup.. betul banget mba..apalagi kalo kita tanya tentang “jalan”hehehe, ampe salah berabe.. =)

  5. luvummi said: Tidak tahu :)Diah biasa jawab itu..klo emang bener2 kaga’ tau..daripada tau2 tapi sotoy :))

    ya udah kalo ga tau, laen kali belajar lagi ya nak.. kan besok dah UAS..hihihiitu makanya takbilang ke Tari, akhwat relatif lebih mudah menyatakan “tidak tahu” daripada ikhwan.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s