Mengumpulkan Yang Terserak

“Ketika saya tidak menyikapi apa yang terjadi dengan cara saya, saya merasa bersalah”. Ini jawaban yang diberikan pak Taufiq Ismail ketika ditanya bagaimana bisa karya-kaya beliau tetap kekinian _sesuai dengan kondisi dalam rentang waktu yang ada_ meski usia beliau tidak bisa dikatakan muda lagi, 75 tahun. Puisi-puisi beliau yang selalu menggugah, peka terhadap permasalahan ada di negeri kita ini. Itulah cara beliau “menyikapi dengan caranya”, apa-apa yang terjadi di sekitarnya.

Sejak kecil membaca merupakan keseharian beliau, jalan hidupnya… SASTRA. Meski memang kita tahu, tak akan bisa “kenyang” dengan menjadikan sastra itu jalan hidup. Beliau pun termasuk para pemuda yang ikut bergerak “meruntuhkan” pemerintahan ORLA dulu, saat aksi turun ke jalan, beliau sambil membuat puisi apa yang terjadi di situ.

Teringat sebuah nasehat seorang kolumnis di surat kabar, “dengan sastra membuat kita lebih peka, lebih jeli terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita”. Namun tetap dalam kerangka pemikiran global. Jadi, memperhatikan hal kecil tapi tetap dalam koridor “hal besar”. Hampir sama dengan fotrografer. Mereka yang ahli dalam fotografi, lebih sering menyampaikan pesan melalui hal-hal sepele, namun memberi makna yang mendalam. Ya, hal-hal kecil yang kadang dilupakan orang-orang pada umumnya, hal-hal kecil yang dianggap biasa saja bagi sebagian besar yang melihat, namun ternyata dengan sastra bisa tersampaikan pesan moral yang bisa jadi mengubah pemikiran yang membaca. Bukan berarti terlalu berlebihan dalam memandang sesuatu, hanya saja mengemas pesan dengan rasa. Bukan sekedar dengan fakta.

Bukankah hikmah itu sesuatu milik mukmin yang terserak, silakan diambil di mana saja yang bisa kita dapatkan, layaknya kepingan-kepingan puzzle yang tersebar di berbagai celah kemungkinan. Tapi bagaimanapun, memang kadar keimanan sangat mempengaruhi bagaimana seeorang bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian. Dengan kejadian yang sama, tiap orang berbeda dalam memperoleh kadar hikmah dan menyikapinya. Prinsip yang harus kita tetap pegang, tetaplah setia pada kebenaran meski harus melawan arus, tergilas roda zaman, dikucilkan, atau terasing di negeri sendiri. Dalam salah satu statusnya seorang kawan pernah menulis, “walau harus hancur tergilas zaman, kita akan tetap setia pada kebaikan, benar kan?” bagiku itu kurang tepat, yang paling pas adalah “walau harus hancur tergilas zaman, kita akan tetap setia pada kebenaran.” Karena belum tentu sesuatu yang dianggap baik itu benar, tapi sesuatu yang benar pasti baik. Dan kebenaran multaq adalah quran dan sunnah rasulullaah saw.

Ada sebuah judul tarbawi yang menarik untuk dimaknai, “bukan suasana yang harus diganti, tapi rasa yang harus diperbaiki”. Atau di salah satu bukunya Anis Matta pernah mengutarakan, tulislah apa yang kau rasakan, bukan yang kau pikirkan. Di sini kekuatan hati sebagai panglima dalam kita mengemas kebenaran yang akan disampaikan. Yah, seperti sosok di atas yang sangat saya kagumi, pak Taufiq Ismail, beliau menulis karya, dengan RASA. Kebenaran yang terungkap, meski pahit namun menyentuh hati yang membacanya. Dari hati tersambung ke hati. menjadikan ruh dalam setiap potongan fragmen yang tertampil di tulisan-tulisan beliau. Lantang menyeru kebenaran, dengan penuh kelembutan. Di situlah titik sulitnya. Tegak menghadapi tiran dengan keindahan. Di situlah simpul rumitnya.

Ketika hati yang berpaut, maka ruh lah yang berpadu, bukan sekedar logika. Karna ada begitu banyak rasa yang kadang tak masuk logika.

*hanya celoteh seseorang yang biasa berpikir dengan logika untuk belajar mengolah rasa menjadi penuh makna, buka sekedar kata2 atau retorika semu belaka.

#ga tau pengen repost tulisan ini….. =)

Advertisements

43 thoughts on “Mengumpulkan Yang Terserak

  1. hwibntato said: terima kasih tulisanmu, Fajar …senang membacanya …*karena pengaruh kopi tubruk, saya akan menghancurkan lapak ini … he he he … –bercanda–

    sami2 Bang Hend..ah.. masa iya.. wkwkwkwcoba aja kalo berani.. minta ditubruk galangan kapal? *nantang.. haghagahag

  2. berry89 said: masih berusaha membedakan ‘tulislah yang kurasakan, bukan yang kupikirkan’ helep me..

    sama Hay.. qiqiqi.. tapi garis besarnya gini (kalo ga salah).. bahasa Hati adalah bahasa untuk kita berkomunikasi dengan Rabb kita.. logika keimanan pun berkaitan erat dengan hati.. bukan sekedar “logika otak” manusia..saat kita melihat sebuah tulisan hanya dengan “logika otak” kita.. kadang, suara nurani tertutup untuk melihat lebih dalam*ini aku ngomong apa si.. wkwkwk

  3. “tulislah apa yang kau rasakan, bukan yang kau pikirkan. Di sini kekuatan hati sebagai panglima dalam kita mengemas kebenaran yang akan disampaikan”Benar….. rasa hati gak pernah bohong…………

  4. nurfirman40 said: Benar….. rasa hati gak pernah bohong…………

    hati yang senantiasa dekat dengan Rabbnya.. yang bersih.. dan interaksi dengan quran sangat intens..

  5. jaraway said: ni langsung dipraktekin yang di jurnalmu tadi dini hari? wkwkwk=)alhamdulillaah, eh jangan panggil ukhti lah.. geli.. qiqiqi

    GR aja kau..baru pertama kupuji ya? berarti emang baru kali ini aku ngerasa bagus, hahaha (tapi kayanya sebelum-sebelumnya juga aku beberapa kali bilang bagus deh)sengaja..aku tau kamu geli :p

  6. pemikirulung said: GR aja kau..baru pertama kupuji ya? berarti emang baru kali ini aku ngerasa bagus, hahaha (tapi kayanya sebelum-sebelumnya juga aku beberapa kali bilang bagus deh)sengaja..aku tau kamu geli :p

    ya pengen aja reply komenmu gtu =pwkwkwkwlha pas ma postinganmu tadi pagi.. hahaiiiiiiiihhhhhhh… suwit banget bikin geleng2..qiqiqi

  7. jaraway said: ya pengen aja reply komenmu gtu =pwkwkwkwlha pas ma postinganmu tadi pagi.. hahaiiiiiiiihhhhhhh… suwit banget bikin geleng2..qiqiqi

    aku aja ga ngeh jar..sempet mikir baca reply-mu..emang aku post apa tadi pagi? hehelah kamu ini..apa mau ta’ panggil akhi?

  8. pemikirulung said: aku aja ga ngeh jar..sempet mikir baca reply-mu..emang aku post apa tadi pagi? hehelah kamu ini..apa mau ta’ panggil akhi?

    pikun kumate detected..hahahhaauh tuh pagi2 ngomongin kwetiaw. wkwkwboooooleeeeeeehhhhhh *lhoh.. hahhaa

  9. pemikirulung said: lagian sih kamu asal nyambung-nyambungin aja..padahal engga..jadi pikunku kambuh tuhooh..begitu rupanya..kamu iri sama aku yang dipanggil abang ya? :p

    lah daripada reply.. huaaaa makasii Di.. seneng bangeeett deh aku.. ntu kan lebay..hahahahaaku bukan orang iri-an, tapi won g magelang..haha

  10. pemikirulung said: gatau..its a long long time ago..sebelum aku lahir, sebelum ketemu ibuku, heheaku pernah ke magelang sekali-kalinya waktu sd

    owh ngono.. wah pas masih perjaka ting2.. hihihihumm SD pasti dah lupa kek apanya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s