Gorengan dan Kehidupan


Oleh : Diena Rifa’ah Amaliah

Tau ga (gaaa.. hehehe) makanya ni mo takkasih tau, itu loh.. tulisan Gejeq kemaren di sini ditulis ulang jadi keren ama Rifa
*terharu, jingkrak-jingkrak seneng.. qeqeqe

silakan dinikmati.. (dah diposting di sini)

inspiring by ‘Seni Menggoreng’-nya Mbak Fajar dari kampung MP. ^_^

Sebab hikmah juga dapat datang dari dalam wajan penggorengan…

Sebuah episode di salah satu sudut dapur. Seorang gadis kecil menempel di samping ibunya. Menatap lekat pada berkeping-keping kerupuk mentah yang siap digoreng.

“Ibu,” ujarnya dengan mata membulat, “Goreng kerupuk itu susah yah?”. Sang ibu membelai lembut rambut ekor kuda bocahnya.

“Tidak susah, sayang…” kata Ibu dengan suara lembutnya, “Tapi butuh kesabaran…” katanya sambil menuangkan minyak goreng pada wajan.

“Kenapa tidak langsung digoreng, bu?” tanya si bocah sambil menatap minyak goreng yang masih adem ayem di wajan. Ibu lalu tersenyum tipis dan meminta gadis kecil itu memasukkan kerupuk ke minyak yang belum panas. Setelah beberapa lama, sang ibu kembali memintanya untuk memasukkan kerupuk ke wajan. Mata gadis kecil itu berbinar demi menyaksikan kerupuk mentah tadi langsung mekar dan terlihat gurih, berbeda dengan kerupuk sebelumnya.

Setelah itu, ibu meminta anaknya memakan kedua kerupuk tadi.

“Yang ini keras… Yang ini enak” ujar gadis kecil itu dengan wajah heran

“Yang pertama digoreng tanpa kesabaran…Yang enak itu digoreng dengan sabar…” ibu menjelaskan dengan wajah cerahnya, “Beda khan?” ujarnya kemudian.

————————————————————-

Kawan, hidup kita hampir sama dengan proses penggorengan tadi. Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran. Membutuhkan proses. Terkadang, kita terlampau terburu-buru dengan sesuatu, sehingga hasilnya pun akan alot seperti kerupuk pertama. Atau kita kadang melihat orang lain dengan hasil yang dicapainya, sibuk ber-iri ria dengan hasil tersebut. Tanpa pernah mencoba melihat proses yang dilalui di dalamnya.

Maka jika dalam kehidupan dunia kita harus meyakini proses, maka seperti itu pula ketakwaan. Seorang guru menjelaskan kepada saya, “Takwa itu,” ujarnya suatu senja, “Tidak didapatkan begitu saja, tapi diperoleh dengan perjuangan.”

Ya, bahkan ketakwaan pun membutuhkan proses untuk meraihnya. Jangan terlalu cepat takjub dengan kawan yang begitu ringannya bangun shalat malam. Tapi lihatlah bagaimana ia bersusah payah membangun kebiasaan tersebut malam demi malam. Memaksakan matanya untuk tersadar saat orang lain larut dalam tidurnya. Hingga akhirnya ia dapat merasakan kenikmatan berdiri di sepertiga malam.

Jika kita menengok sejarah, maka akan kita dapati bagaimana keluarga Yasir dan Sumayyah –yang namanya menyejarah sebagai syahidah pertama dalam Islam, peroleh janji syurga setelah melewati bengisnya kafir Quraisy menyiksa mereka. Siksaan itu, kawan, adalah proses yang mengantarkan mereka pada hasil yang setinggi-tingginya.

Namun terkadang, proses tidak selalu sejalan dengan hasil yang kita dapat. Terkadang kita sudah mencoba bersabar menunggu minyak hingga panas, tapi ada kalanya kerupuknya malah gosong hasilnya. Yah, proses yang mantap sekalipun masih bisa jadi memberi hasil yang membuat kita nelangsa. Tapi rupanya cukuplah kita menghibur diri dengan ayat cintaNya yang turun dari langit, untuk kita:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(Al-Baqarah: 216)

Lalu sebagai ummat yang percaya pada takdirNya, maka cukuplah pejamkan mata, lalu yakini bahwa apapun yang terjadi adalah kebaikan yang sebenarnya!

Maka jika dulu kita sibuk dengan tujuan, dengan berbagai titik mimpi-mimpi yang ada, maka saat ini, cobalah untuk lebih mengkomplekskan langkah untuk itu. Jika kita dapat memimpikan hasil, maka harus pula kita berani memimpikan proses. Lalu memulai menjalaninya dengan ikhtiar full energy, berdoa dengan segenap pengharapan, lalu tawakkal dengan segala keyakinan. Lalu tunggulah bagaimana Allah menentukan hasilnya pada akhirnya. Lalu percayalah, bahwa yang Dia lihat adalah serangkai perjalanan yang kita lalui, bukan sekadar pada titik akhir tempat kita menambatkan diri. So, keep spirit!

Untuk semua teman sepe
rjuangan di Mixtura, Pharmacy ’07 UH; Selamat menjalani proses kita, Kawan! Semuanya akan baik-baik saja, insya Allah!

(Makassar, 8 Muharram 1432 H)

Pesan sponsor: Besok puasa sunnah Tasu’a dan lusa puasa sunnah Asy Syura yuuuk…! ^_^


#jazaakillaah khoyr buat Rifa.. wah, berbunga-bunga nih malem ini liat tulisan asyik gini.. hihi.. =)

38 thoughts on “Gorengan dan Kehidupan

  1. megalotus said: pertamax! (halah…)heheeh..jadi maluu :-p

    ahahaha.. tadi masih salah edit..qiqiqi dah pertamax aja Rifa ni.. =p*ngasi sapu tangan buat nutupin muka.. wkwk

  2. Mbak jar, tolong di edit yah.. itu tulisan puasa asy syura-nya salah.. yang bener gini ‘Asyura (10 Muharram) trus kalo yang besoknya itu puasa Tasu’a (9 muharram). Hehehehe…

  3. megalotus said: Mbak jar, tolong di edit yah.. itu tulisan puasa asy syura-nya salah.. yang bener gini ‘Asyura (10 Muharram) trus kalo yang besoknya itu puasa Tasu’a (9 muharram). Hehehehe…

    hehehe.. yup2.. sip2..

  4. firdausza said: Subhanallah. Syukran atas ilmunya fajar.

    yup, maha suci Allah mengumpulkan yang terserak dari hikmah2 yang bertebaran mba El.. =)ni tulisannya Rifa’afwan

  5. anotherorion said: oh kirain kowe di deportasi nang makasar mbak ternyata tulisane mbak rifa toh, salam kenalin aja ya

    ketok le maca ra teliti =p hahahapo malah gur maca Makassar-e.. ke wacanen tulisan paling ndhuwur.. qiqiqikuwi Rifa komen pertamax

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s