Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

#entah kenapa lagi pengen dengerin lagu ini….

*mau nulis jurnal tentang”nya” tapi lum nemu kata2.. -halah-

Advertisements

Sudahi

boleh aku bertanya?
tentang nada yang tak sempat kau rangkaikan
tentang sajak yang tak sanggup kau gubahkan

katamu,
ada sesendok cemas,
ada seiris ragu,
ada secuplik gelebah


lihat aku..
ini pundakku tuk sandarmu
ini telingaku tuk dengarkan pedihmu
ini hatiku tuk tampung keluhmu
ini tanganku tuk usap air matamu
ini candaku tuk ceriakanmu
ini senyumku tuk semangatimu

jangan berhenti melangkah
yakinlah
di sana ada selaksa bahagia


#untuk seseorang yang pernah menangis di pundakku…


#gambar dari sini dan sini

Kisah Cinta Sejati di Mavi Marmara

Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana tragedi kemanusiaan Freedom Flotilla mengalihkan perhatian dunia Mei tahun lalu. Membuka mata batin setiap manusia yang masih memiliki nurani akan kebiadaban Israel la’natullaah ‘alayhim. Misi kemanusiaan pun mereka “eksekusi” dengan persenjataan lengkap dengan berbagai alibi pun alasan untuk menutupi. Sembilan orang dari Turki akhirnya menjadi bagian para syuhada (insya Allaah) dalam misi itu.

Sedikit ingin meneropong salah satu kisah heroik yang sempat terekam dalam ingatan mba Santi Soekanto (Relawan Sahabat Al-Aqsho) yang ikut di kapal Mavi Marmara bersama suami dan rombongan lain dari Indonesia. Kisah ini diungkap dalam acara “Caravan From Gaza”.

Sosok wanita tangguh yang bernama Çigdem. Beliau adalah istri dari salah seorang dari 9 syuhada Mavi Marmara yang bernama Çetin Topçuoglu, 54 tahun, dari Adana. Bekas pemain sepak bola amatir dan juara Tae Kwon Do, yang pernah melatih Tim Nasional Tae Kwon Do Turki.
Çigdem ikut di kapal Mavi Marmara, dan bertugas sebagai amirah (pemimpin) di kabin perempuan.

Begitu luar biasa beliau dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin dari awal perjalanan hingga tiba waktu penyerangan dini hari itu. Perhatiannya pada setiap anggota tim relawan Freedom Flotilla di kapal Mavi Marmara sangatlah besar. Setiap waktu makan selalu semua diingatkan untuk makan dan ditanya satu per satu sudah makan atau belum. Dalam membantu menyediakan kebutuhan logistik lain pun begitu. Semangat beliau pun luar biasa menular pada setiap anggota tim di kapal itu. Tak kenal lelah meski kurang istirahat.

Hingga tiba waktu dini hari penyerangan itu tiba. 30 Mei 2010. Sebagai amirah, beliau mengkomando mengarahkan semua perempuan yang ada di kapal Mavi Marmara itu untuk turun ke dek paling bawah (tempat yang dirasa paling aman). Beliau berkeliling ke seluruh bagian kapal untuk mencari setiap wanita dan mengantar ke dek bawah.

Ada 1 orang yang menolak untuk turun karena memang wartawati dan memohon dengan sangat untuk tetap diizinkan di atas. Beliau pun mengizinkan sambil terus mengawasi kondisinya dari jarak yang mungkin. Sambil tetap menjaga yang ada di dek bawah.

Dan akhirnya tentara Israel pun masuk ke kapal. Beliau melihat langsung sang suami tercinta adalah orang pertama yang ditembak dari jarak dekat dan syahid seketika (insya Allaah).

Namun, bukan berarti hal itu baginya menjadi sebuah alasan untuk sejenak melupakan dan lalai dari tanggung jawabnya sebagai amirah. Beliau tetap menjalankan tugasnya terus berkeliling seluruh bagian kapan mencari perempuan yang ada dan terus mengkomando dek bawah yang berisi para perempuan di kapal itu.

Bisa dibayangkan, betapa hancur hatinya saat itu. tepat di depan matanya sang suami ditembak mati tentara zionis la’natullaah. Tapi ia tetap tegar menjalankan amanahnya yang masih berada di pundaknya. Hingga akhirnya kapal dinyatakan “menyerah” dan telah dikuasai oleh tentara Israel. Lalu diarahkan menuju pelabuhan Ashdod. Bisa dibilang amanah beliau “selesai”, baru kemudian beliau mendekati mayat sang suami, mengusap-usap wajahnya, dan akhirnya baru bisa menitikkan air mata.
Sambil dibantu 4 orang laki-laki di kapal itu (termasuk pak Dzikrullah suami mba Santi) mereka menutup mata mayat suaminya dan merapikan wajahnya mengikat dengan sorban.

Betapa…….. luar biasa…
#sahabatq yang menceritakan kisah ini padaq.. membuatq tak tahan menitikkan air mata.. yah.. seperti yang terjadi padanya saat mendengar dari mba Santi di acara “Caravan From Gaza”..


Bukan karena tak cinta..
Justru… inilah cinta luar biasa..

Di Sana Pun Kau Ingat Aku.. *terharu.. -halah-

“Jar ki Emi, pie kabarmu? Aku saiki ning Madinah mengko awan insya Allah ning Mekkah. Rep dido’ake opo?”
(Jar ni Emi, gimana kabarmu? Aku sekarang di Madinah nanti siang insya Allah ke Mekkah. Mau dido’ain apa?)

sms dari nomer “aneh” itu pun masuk ke hape jadulq.. qiqiqi
weleh ni anak.. berangkat umroh kagak pamit.. tiba2 udah bilang ada di Madinah aja.. ehehehe
terharu si dapet sms itu.. sempet2nya ni anak inget nanyain mau dido’ain apa pas udah di sana..

salah satu soulmateq di antara 4 akhwat paling “lama” tinggal di teknik.. hahaha.. P4.. wekeke

dan habis dia sampe ke rumahnya di Rembang sms lain pun sampe
“minggu ngarep ning Jogja yo, ana oleh2 nggo awakmu”
(minggu depan ke Jogja ya, ada oleh2 buat dirimu)

asyiiikkk……

alhamdulillaah..

Emi mbawain aku oleh2 spesial mushaf ijoooooooo..*jingkrak2.. tau aja ni anak kalo mushaf tajwidq ilang di maskam..(jadi susah buat ngapalin.. hiks..) njuk dibawain mushaf cetakan sana deh.. asyiikk..
ini nih.. mushafnya..


tapi keknya kalo di perjalanan musti baca pake kacamata deh.. mushaf itu.


dapet cerita buanyaaaaaaakk dari sana.. hehehe.. uniq2..
hemm.. PR buat pada da’i tentang ilmu dalam berumrah & haji bagi umat Muslim di Indonesia.. banyak fenomena.. *ngelus dada..
sabaaaaarr..

kapan2 deh kalo pengen tak bikin jurnal tentang itu.. smoga..

Kumpulan Arisan Kataq.. =)



Arisan Kata #1

sejenak…

Sejenak sadarkan aku pada wanginya teh seduhanmu, dalam cangkir yang terukir namaku. Aromanya mampu sembunyikan raut masam mukaku pagi ini.

Sejenak lara itu kau hapus dari papan kepura-puraan diriku. Kau kunci ego dan marahku.

Sejenak aku ingat pulang, rindu bermain di batang rindang pohon teduh itu bersamamu. Melihat ibu menenun kain untuk kita. Menikmati masakannya yang jauh dari petaka tabung gas milik mereka.

Arisan Kata #2

[bukan] Hanya Teriakan Semu?

Kau memang takkan pernah pahami kesenduan ini tercipta bagi diri yang muak akan tirani dan kepengecutan sosok-sosok pembebas negeri.

Kau pernah berkata, mereka menyebutnya mantan pejuang, pahlawan.. argh.. buang saja istilah itu ke sisi makam taman Kalibata. Atau di pojok-pojok gubuk reot rakyat jelata. Brak!

Kau diam.. lagi-lagi.. simfoni ini tak kunjung usai, kugubah dalam balutan nuansa syahdu lirih penuh ironi. Sekali lagi, ini bukan buaian lagu nina bobok pengantar bocah manis menemui mimpi. Di malam senyap ditemani sang nyamuk yang terus mengintai dengan berani. Ini hanya teriakan penuh misteri di belantara hutan perjuangan abadi..

Kau akan tahu.. ini bukanlah teriakan semu. Pegang kata-kataku!

Arisan Kata #3

ARRGGHH !!!

Getir, kisah Senin pagi membuncahkan sabda benci. Membentuk kolam air mata tanpa kata.

Getir, belang skenario ‘mereka’ yang makin kentara. Membredel janin penegakan Din.

Getir, permadani tersaji bagi pengecut-pengecut negeri. Penolak genta kebenaran membahana.

Getir, sandal keakuan masih melekat dengan pekat. Layaknya duri bertengger di ranting hati.

HAH ! Geram ingin kuungkap. Tatkala handphone penuh permohonan maaf. Sementara umat tengah terlelap !

Arisan Kata #4

lorong ini menuju ke mana kawan?

lorong ini obat bagi pencarian yang tak terperikan
lorong ini bisa jadi menghadapkanmu pada tiang gantungan dan kain kafan
lorong ini bagian catatan perjalanan di kertas pertanggungjawaban mahkamah peradilan

lorong ini dapat membuatmu tercelos ke lubang
lorong ini sanggup meremukkan tulang
lorong ini mengajarkanmu setegar karang

namun ingatlah, lorong ini kan menunjukkanmu pada cahaya
seterang FAJAR menggantikan malam gulita

#tetaplah setia pada kebenaran meski tergilas roda zaman
yakinlah, saat malam semakin kelam, pertanda FAJAR segera datang, kawan

Pendar Fajar

Sepotong,

seiris,

secuil,

atau..

setitik;

hatiku,

ruhku,

ragaku,

atau..

tulangku;

pernahkah?

Sekedar

menengok,

menoleh,

melirik,

atau..

mengedip

pada MEREKA

ya.. MEREKA!!

di titik-titik terjal kemanusiaan

di belokan curam pertempuran aqidah

Kashmir menjerit

Irak bergolak

Pattani terhimpit

Xinjiang diterjang

Gaza merana

HARUSKAH jutaan kafan dihadapkan, untukku melawan?

HARUSKAH buih lelah menghempas karang, untukmu menghadang?

HARUSKAH Al-Quds lebur bak abu, untuk ummat ini bersatu?

aku, kamu…. KITA!!

Kemana hendak kucari obat untuk mata air air mata MEREKA?

Di tumpukan kertas usang makhamah internasional yang tak pernah adil kah?

Gelap, pedih, perih : engsel batin ini celos

tergantung di langit-langit harap, tak kunjung beroleh jawab

Namun, kuyakin

Di balik lorong itu…

Cahaya FAJAR berpendar

tis..tis..tis…

kudengar itu, adakah kau jua mendengarnya teman??

kurasa tidak…

kurasa sama sekali tidak…

karena kutahu, jarang sekali dirimu bisa mendengar hal tersebut

‘memangnya itu apa??’ tanyanya kepadaku…

‘apakah suara tetesan air??’…

‘tetesan air??’ tanyaku keheranan…

‘hanyakah seperti tetesan air dirimu mendengarnya??’

‘padahal itu deburan ombak pengikis karang..’ dalam hatiku bersuara…

‘ataukah gemerisik kantong kresek punya si mbok??’ tanyanya lagi..

‘apa??…suara kantong kresek menurutmu??’..semakin dibuatnya ku terheran-heran..

‘padahal itu adalah suara eratan kawanan pengurai tulang para manusia berselimut kafan‘…ku berbisik lirih…

‘sungguh aku tidak mengerti, memang suara apakah itu??’ seakan menyerah ia mencoba mengerti…

‘cobalah pahami sejenak teman, pastilah dirimu akan dapat menemukan arti suara itu’..semangatku untuknya…

‘hmmm???’…’tidak pernah rasa-rasanya guruku menunjukkan suara seperti ini di sekolah dulu..’..

mencoba ia mengingat kembali pelajaran seni suara yang pernah ia dapatkan di sekolahnya dulu

‘tentu saja tidak..karena kertas-kertas di buku-buku tebalmu tidak pernah bisa bersuara selain suara guratan penamu diatasnya’…

kulihat gurat di keningnya karna mencoba menelisik lebih jauh lorong ingatannya, mencoba mencari bagian yang mungkin celos..

‘mungkinkah.. suara lirih gesekan biola ayah, yang tergantung di sudut ruang itu, tak pernah lagi ia mainkan‘

‘bukan, karena ini dentuman tabuh beduk Shubuh, menyambut cahaya pagi yang gemilang’

aku semakin terheran dibuatnya..

‘ah, aku menyerah.. pening kepalaku.. berikan saja aku obat sakit kepala.’

‘sungguh? benarkah kau tak tau itu apa?’

kesabaranku terusik

‘aku bingung’

‘bukankah itu suara hati nuranimu, teman?’

serasa menghadapkannya di mahkamah kejujuran, memaksanya meyusuri ruang tanya itu

‘sekarang aku paham.. aku tak mendengarnya, karena lama tak menyapanya’

dan aku pun hanya tersenyum atas apa yang ia simpulkan

Arisan Kata #5

untukmu, cinta.. =)

kelebat siluet mentari di hamparan cakrawala tanpa batas

menembus rungkut embun, memecah dingin menusuk tulang..

hangat menyusup.. menorehkan sejuta riang, ceria, bahagia

bergulir hari baru.. menatapmu penuh cinta… ah, indahnya..

gelap pun perlahan beringsut menjauh : rikuh

malaikat bersiap menghadap, melayangkan rekap tiap tingkah polah insan berulah

semangatmu masih sama… berkobar.. bagai petromak yang baru dipompa penuh tenaga

tak cukup poster-poster narsis tuk gambarkan sosokmu, terlalu istimewa

genap empat puluh sembilan tahun lalu engkau terlahir di dunia

perjuanganmu menghadapi hidup… selalu membuatku terpana

pohon kelapa itu jadi
saksi; saat engkau lapar namun hidangan masih berupa gabah

tak sabar kau panjat ia, sejenak lepaskan dahaga dengan kelapa muda

sepeda lapuk itu jadi saksi; saat jalan menuju sekolahmu masih tergelar batu terjal

entah berapa kali kakimu terpatok ular, sampai kini bekasnya masih bisa kulihat jelas

ranjang usang di kamar paling utara itu pun jadi saksi; perjuanganmu lahirkanku

bukan rumah sakit atau klinik mewah milik mereka

sarimi, garam, kecap ini pun jadi saksi; makanan sedap lauk nasi pulen hangat : nikmat

setia menemani kita mengganjal perut, berjingkrak ceria ku saat itu bersamamu

engkau tak pernah bergeming, menghadapi kerasnya hidup..

dan kini cita-citamu terwujud.. menjadi SANG PENDIDIK

do’aku untukmu, wahai wanita tercantik di dunia..

baarakallaahu fii umriki..
=)
uhibbuki fillaah…
ibu..

sudahkah kita belajar;
di gelaran cakrawala sunyi kutub utara, aurora hanyalah fatamorgana
sudahkah kita belajar;
dalam gerak pun gemingnya, siluet takkan hadir tanpa cahaya
sudahkah kita belajar;
tiap ulir cantik kayu ukir, satu waktu pasti lapuk jua
sudahkah kita belajar;
sang malaikat maut, tak pernah lambat jemput nyawa

Lalu; mengapa begitu sulit kita jumpa, rikuh tingkah mengumbar kata
masihkah ada; payung penahan guyur narsis amal, penghancur asa
atau; tinggal redup petromak ikhlas, letih menerangi poster ruh tanpa warna

KITA harus kembali belajar, bahwa semua itu FANA

sudahkah?

Arisan Kata #6

Aku Pun Punya Rindu

letih angkasa menanti; rindu layang-layang bocah kampung lilit lembayung cakrawala

kini sepi; terdekap asap beringas pohon-pohon beton bergelantungan pada kaki awan tanpa jeda

sipit gawang Gelora menggeriap; rindu gol dari gocek, tendangan, sundulan anak bangsa

kini sunyi; terlelap pulas, jauh riuh gegap gempita sorak sorai membahana

pasrah hutan menangkis; rindu musnah pembalak berderai-derai memangkas rindang panorama

kini senyap; terhempas gelombang banjir bandang menerjang, rata, porak-poranda

isak tangis bayi menyayat; rindu senyum sahaja sang bunda dengan buaian penuh cinta

kini hening; terlintas sosok muram berdahi penuh kerut yang di benaknya harga susu kian menggila

bila rindu mereka mulai lesap,

perlahan lenyap tanpa harap,

bak data komputer berangsur terhapus virus pemangsa;

akupun punya rindu

pada diriku, kamu, kita tuk jadi PENGGENGGAM BARA

terasing dari dunia

kumohon, bantu aku lepas rindu

Arisan Kata #7

SELINTAS sketsa pekat tergurat dalam manuskrip lara, gambarkan angkuh menggulung rasa

SELINTAS apologi berbaris dalam antrian pikir, berjubel bak sampah got arungi sungai ragu

SELINTAS kenakan jubah hipokrit, sadis berjingkat menikam pendar cahaya diorama

SELINTAS gemuruh topan angan terjang remah-remah pelita kesadaran, mendikte pilu

ah, percayalah.. itu hanya selintas, kawan

cermin masih kukuh, kata masih teguh, diri masih utuh, semangat masih penuh

dan kau, masih ceria bukan?

Arisan Kata #8

Ah, Merapi Tak Pernah Ingkar Janji

‘waspada’-lah tanda
ia mengerami magma
tak perlu duapuluhsatu hari
tuk tiba ‘awas’ menetaskan erupsi
ah, merapi tak pernah ingkar janji
mungkin, ia jemu akan cinta buta mereka
darah biru lalai jadikan ia sekutu atas Empunya
kali ini
kiamat kecil pun jemput sang juru kunci
ah, merapi tak pernah ingkar janji
jangan amuk abu menumpuk
jangan kecam darah tertumpah
bukan, ini bukan saat bagi kita lempar handuk
namun, ini momentum kembali sebenarbenar tunduk
sebenarbenar sujud.. padaNYA..

Arisan Kata #9

11 Maret 2011;

kobar amarah ombak membuncah
mengikis angkuh cerabih manusia pongah
jingga senja ini tertunduk berusaha tabah


bencana tak dapat ditolak
maut tak mampu dielak

meski lanyau tersebar di penjuru kota
coba tuk rangkai satu per satu rantai asa

menggayung remah-remah hikmah
mendengar hatif tentang mahabah
yang mungkin sempat tersadap gelebah

Jepang… do’a kami untukmu..

Arisan Kata #10

Sama Dengan Kurung Tutup

mendusin engkau dari tidur panjangmu

menjejak kejur tolak ocehan mereka akan obsolet ayat-ayatNya
ucap sumpah satir menjaga sunah rasulmu

kau tak butuh decak kagum dan angkat topi mereka
pun nyanyian takjub dari rangkaian partitur semu
apalagi hanya lawatan manusia yang dianggap penting oleh dunia

“tak akan terban impianku”
ucapmu di selasar gubukku waktu itu
sambil menatap tongkat kokoh di situ

“aku kan menjaga tegaknya agama ini, meski dengan nyawaku!”
begitu janjimu

=)

Arisan Kata #11

elok nian hiperbol mereka atas citra sosok-sosok gubahan sutradara konspirasi dunia
lahirkan eulogi penuh tipu daya
adakah serau kan bergerak jadi erat?
bilakah ikatan kembali bernas serupa waktu sang pembawa risalah itu tiba?
candamu menamparku

kaki langit Gaza masih menggariskan horizon yang sama : MERAH SAGA
lautan darah masih menggenang di sana

janjiku,
tak akan berpaling,
bahkan tuk menoleh sekian derajat pun
AKU MASIH SETIA
titik
#Al-Aqshoku, Palestinaku, engkau masih di dadaku, tak akan berpaling

Arisan Kata #12

Meski Tak Mampu

hey, lupakah engkau?
batang bambu kokoh itu pun bermula dari rebung ringkih

layakkah kau minta hadiah indah dariNya,
jika sebagai hamba pun kau masih seenaknya?!

saatnya berontak, bongkar benteng angkuh dalam diri
gigit erat dengan gerahammu : kredo sejati
tantang langit dengan tekad pasti
laiknya akar pohon menembus bumi

meski tak mampu mencipta samudra bebas,
jadilah oase kecil bagi gurun yang terhampar luas

Arisan Kata #13

terantuk batu pada langkahmu
terguyur hujan pada gontaimu

dingin…..
letih….
muak….

namun,
kau tak menyerah
tak mau kalah

acuhmu tak senyap
cintamu tak lenyap

demi menganyam harap di tapak para syuhada
demi merajut simpul cita ikatan hati saudara

menyedu sejumput teh pelega dahaga umat
melintasi Januari hingga Desember penuh semangat

BANGKIT!

Arisan Kata #14

Duka Khan Yunis

teruntuk MESIU : lirih berucap diri ini padamu dalam hening pertempuran pagi itu lecutkan peluru ini ke pongah jiwa mereka yang memporak-poranda kota tua penuh senandung sejarah para syuhada nyalakan nyali letupkan laju pelor itu

teruntuk BONGKAH BATU : kukuh mengacu kepal ini menembus sangkar sumbang teriak ketakutan mereka akan teguh hantamanmu melesat dari ketapel tanpa nama bahkan angin takjub tertembus tubuhmu lawan tank angkuh itu

Khan Yunis menjadi saksi; laku biadab ruh hewan dalam sosok manusia-manusia bengis tanpa rasa tanpa hati tanpa nurani menulis sepotong bagian novel berjudul : GENOSIDA

pun menjadi aku; dalam nafas berat udara pekat tetap ingin sanggup menerka.. bahwa keyakinan ini takkan terkikis : negriku pasti MERDEKA

satu saat akan tiba hujan takbir membahana tanpa secuilpun bisa kau halangi gegap gempitanya.. ALLAHU AKBAR!




#dan aku, ingin menjadi bagian mereka yang memerdekakanmu, negeriku
>> Al-Aqsho memanggil…

____________________________________________________________________

#cihuy.. pas 17 puisi di 17 tahun adekq.. =)
#gambar dari sini
#kalo mau liat sumber jurnal masing-masing arisan klik judulnya aja.. hehe *promosi

Sama Dengan Kurung Tutup


mendusin engkau dari tidur panjangmu
menjejak kejur tolak ocehan mereka akan obsolet ayat-ayatNya
ucap sumpah satir menjaga sunah rasulmu

kau tak butuh decak kagum dan angkat topi mereka
pun nyanyian takjub dari rangkaian partitur semu
apalagi hanya lawatan manusia yang dianggap penting oleh dunia

“tak akan terban impianku”
ucapmu di selasar gubukku waktu itu
sambil menatap tongkat kokoh di situ

“aku kan menjaga tegaknya agama ini, meski dengan nyawaku!”
begitu janjimu

=)

#arisan kata sepuluh di sini
yeyeyey.. arisanq dah lunas.. hihihi.. 1-14.. lengkap.. qiqiqi

#kangen ma MP..pa kabar smua?

Duka Khan Yunis


teruntuk MESIU : lirih berucap diri ini padamu dalam hening pertempuran pagi itu lecutkan peluru ini ke pongah jiwa mereka yang memporak-poranda kota tua penuh senandung sejarah para syuhada nyalakan nyali letupkan laju pelor itu

teruntuk BONGKAH BATU : kukuh mengacu kepal ini menembus sangkar sumbang teriak ketakutan mereka akan teguh hantamanmu melesat dari ketapel tanpa nama bahkan angin takjub tertembus tubuhmu lawan tank angkuh itu

Khan Yunis menjadi saksi; laku biadab ruh hewan dalam sosok manusia-manusia bengis tanpa rasa tanpa hati tanpa nurani menulis sepotong bagian novel berjudul : GENOSIDA

pun menjadi aku; dalam nafas berat udara pekat tetap ingin sanggup menerka.. bahwa keyakinan ini takkan terkikis : negriku pasti MERDEKA

satu saat akan tiba hujan takbir membahana tanpa secuilpun bisa kau halangi gegap gempitanya.. ALLAHU AKBAR!




#dan aku, ingin menjadi bagian mereka yang memerdekakanmu, negeriku
>> Al-Aqsho memanggil…



#untuk arisan kata 14 di sini
#sebelum ngilang nyelesein PeeR dulu, habis baca berita di sini juga