Bocah Pengamen Pun Cinta Kebersihan, Kita?

Hari Anak Nasional katanya tanggal 23 Juli (Sabtu kemarin), mengingatkanku untuk menuliskan kisah pertemuanku dengan bocah cilik lincah lucu banyak bicara satu ini.

Dila namanya, kami bertemu saat aku hari Rau sore kemarin ke Jogja. Sampai di terminal Jombor menjelang maghrib. Dan benar saja menunggu bis trans luamanyaa.. Di situlah aku bertemu Dila. Ia bersama ibunya. Dari awal dia masuk ke shelter sudah jadi perhatian karena cerewetnya.. hihihi.. Lucu sekali tingkahnya.. ga bisa diem.. Meski berkali-kali sang ibu menegurnya untuk ‘anteng’. Dia tetap mondar-mandir duduk, berdiri, loncat-loncat, semua dikomentari. Aku cuma tersenyum melihat tingkahnya.

Dan sampai pada adegan yang tak begitu diperhatikan orang waktu itu. Dila melihat ada bungkus snack di dekat pintu keluar shelter. Dia keliatan bengong menatapnya agak lama, lalu dengan semangat mengambilnya. Lalu lari ke luar shelter dan membuang ke tempat sampah. Keren! hehehe.

Akhirnya bus trans berangkat juga. Kami ditakdirkan duduk sebelahan. Horee..
“Dila duduk sendiri.. Dila duduk sendiri.. “
berkali-kali ia merengek pada ibunya.
Dan mulailah celotehnya. Setelah di shelter Condongcatur penumpang agak sepi jadi aku dengan leluasa bisa ngobrol dengan sang ibu dan Dila. Dari tadi cuma bisa ngomong dikit-dikit ama Dila, lha bisnya lagi rame.
Sekilas tadi ada yang tanya ke sang ibu dan kudengar mereka akakn turun di Samorino. Mulailah aksiku.. haha. “Dalemipun Samirono nopo Bu?” (rumahnya Samirono ya Bu?)
“mboten, griyane ting Jomor, ting terminal”
(bukan, rumahnya di Jombor di terminal)
Deg!
Jam segini berarti bukan pulang ke rumah, lalu?!
Ah, rasa penasaranku bertambah.
“o.. niki mboten badhe kondur to Bu?”
(o.. ini bukan mau pulang to Bu?)
“mboten, niki nembe mangkat mba”
(bukan, ini baru berangkat mba)
“koq ndalu-ndalu niki Bu?”
(koq malam-malam ini Bu?)
“enggih, ajeng ngamen”
(iya, mau ngamen)

Nafasku tiba-tiba berat. Ya Allaah.. baru berangkat maghrib untuk ngamen, Dila.. bocah umur 2,5 tahun itu diajak ibunya ngamen di jalanan. Hanya dengan kaos dan celana tipis. Tanpa alas kaki.

Ah, tingkah Dila dari tadi tak pernah bisa diam. Dia bertingkah pura-pura jadi kucing, pura-pura joget monyet. Hahaha.. Lucu sekali. Ingat iklan susu anak di tivi yang anaknya joget-joget lucu itu? nah, Dila mempraktekkan gayanya di bus.

Lalu ia pun bercerita padaku. Bahwa tadi pagi ada ular di terminal.. Hiii.. takut.. katanya, dengan logat masih cadelnya. Dengan bahasa jawa tentunya.
Dan kutanggapi sampai dia tertawa menggemaskan. Penumpang-penumpang lain dan mas-nya yang jagain pintu bus mungkin terheran-heran dengan kami. wekekeke.

Dan pertemuan kami harus berakhir di Shelter depan UNY. Mereka berdua turun, dan aku hanya bisa berpesan pada sang ibu.. “ngatos-atos nggih Bu, mpun ndalu”
(hati-hati ya Bu.. sudah malem)
Selepas mereka berdua turun aku hanya bisa terdiam dan merenung.

Yah, hari anak mungkin tak ada pengaruhnya untuk Dila.
Semoga Allaah menjaganya..

ah,
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
<mendadak inget lagu khas anak jalanan ini>

gambar dari sini

#muuph ga bisa jepret dila langsung.. ga punya alat buat jepretnya.. hehehe

Advertisements

#flotilla2

Komunikasi dengan Satu-satunya Kapal Kemanusiaan Gaza Putus
19 July 2011, 15:26.

JAKARTA, Selasa (Sahabatalaqsha.com): Tepat jam 14.58 yang baru lalu, semua komunikasi dengan kapal Dignité alias Al-Karama berbendera Prancis yang berisi 17 orang relawan kemanusiaan sebagian besar berasal dari Prancis, terputus. Semula dijadualkan dua jam dari sekarang kapal itu akan tiba di pelabuhan Gaza.

Komunikasi dengan kapal Dignité alias Al-Karama terputus setelah beberapa menit sebelumnya Sahabat Al-Aqsha masih menerima kabar bahwa empat buah kapal tentara laut Zionis mendekati kapal kemanusiaan itu, di bawah cuaca cerah jam 11 pagi waktu Mediterania.

Beberapa hari belakangan pihak angkatan laut Zionis Israel berkali-kali mengeluarkan ancaman “tidak akan membiarkan satu kapalpun masuk dan berlabuh di Gaza”.

Kapal Dignité alias Al-Karama merupakan satu-satunya kapal Freedom Flotilla 2 (Armada Kebebasan) yang tetap berlayar menuju Gaza dari pelabuhan Yunani. Sepuluh kapal lainnya yang sedianya mengangkut 300-an relawan dari 20 negara, dan membawa berbagai bantuan kemanusiaan, digagalkan berangkat dengan berbagai cara oleh pemerintah Yunani. Satu diantaranya disabot, dalam keadaan poros baling-balingnya patah karena dipotong.

Sabtu lalu Dignité alias Al-Karama berhasil mencapai pulau Kastellorizo dan disambut hangat oleh penduduk pulau di laut Mediterania itu.

Selain para relawan, di kapal itu juga ikut serta wartawan Al-Jazeera dan seorang wartawan harian Israel Haaretz.

Tahun lalu, enam kapal yang berpenumpang sekitar 700 relawan dari 32 negara berangkat dari pelabuhan Antalya, Turki, menuju Gaza diserang dan dibajak oleh ratusan tentara laut Zionis Israel. Sembilan orang relawan Turki mati syahid ditembak tentara Zionis, dan 50 orang luka-luka, termasuk 2 orang asal Indonesia yang tertembak di tangan dan dada.* (Sahabatalaqsha.com)

Kapal Dignité alias Al-Karama, satu-satunya kapal Freedom Flotilla 2 yang tetap berlayar ke Gaza diduga telah dibajak oleh tentara laut Zionis Israel setengah jam yang lalu.

Siap DO?!

“modal kita satu-satunya adalah waktu”


kutipan kalimat ustadz Hart (eh ustadz Hasan Hartanto masudq..qiqi) itu.. benar-benar terngiang di kepala.

Beliau juga menyampaikan tentang betapa banyak waktu dan agenda kita susun begitu rapi.. semua gagal hanya karena hal sepele. Misal hanya karena sakit perut. Yang utama bukanlah manajemen waktu, tapi bagaimana kita “mendekati Allaah ta’ala” agar memberi keberkahan atas waktu-waktu yang kita tempuh.

blio memberi sebuah analogi..
jika kita khawatir terkena DO lalu semangat mengerjakan skripsi atas tenggat waktu yang ada.
kenapa kita lupa akan DO dari dunia yang pasti akan terjadi?! >> kematian
persiapan untuk mati apakah sudah jauh lebih baik dari persiapan untuk pendadaran?



Ustadz Hart juga menceritakan kisah nyata blio ketika sungguh-sungguh memohon pada Allaah ta’ala di tengah kemacetan Jakarta, ingin sampe ke tempat tujuan dan tidak tertinggal takbiratul ihram di masjid itu.
Alhamdulillaah bisa. Padahal kalo dengan itung2an manusia pasti tak akan sampai.

Jadi beliau selalu menasihatkan.. tak ada alasan ga ada waktu untuk baca quran, menghafal quran.. Jika kita mau.. insyaAllaah bisa…

*tertampar

yup.. modal kita itu… waktu.. tak akan pernah kembali dan setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban

kuncinya bukan di manajemen waktu, tapi di keberkahan waktu…

#hiks..
#banguuuuun Jar!!!!