Khuthbah Dzuhur MASK (Masjid Agung Sunda Kelapa)

Tingkatan-tingkatan shaum:
1. Shaum yang paling awam, yaitu meninggalkan makan, minum, bercampur dengan istri dari fajar-petang

2. Shaum tingkat selanjutnya, pada tahap ini, shaum harus bisa diikuti dengan :
Menjaga pandangan (ghadul bashar). Barangsiapa yang dapat meninggalkan pandangan mata yang tidak baik, maka ia akan dikaruniai nikmatnya iman…
Menahan dari pendengaran yang buruk. –>segala sesuatu yang haram diucapkan, maka juga haram untuk didengarkan.
Makanlah seadanya, tidak berlebih-lebihan..

Menjadi seorang ‘alim(ulama) haruslah memiliki kemandirian finansial.. Agar dapat berkata dengan tegas terhadap siapapun.

Pesan Fudhail ibn Iyadh kepada khalifah Harun Ar-Rasyid, ‘anggaplah orang tua di negerimu sebagai orang tuamu sendiri, orang-orang sebayamu sebagai saudaramu sendiri’

Billahittaufiq wal hidayah.. Alhamdulillah, sekian untuk hari ini #khutbahdzuhurMASK

*nyomot dari twit-nya fitrah.. hehehe
dari sini

26 thoughts on “Khuthbah Dzuhur MASK (Masjid Agung Sunda Kelapa)

  1. jaraway said: Pesan Fudhail ibn Iyadh kepada khalifah Harun Ar-Rasyid, ‘anggaplah orang tua di negerimu sebagai orang tuamu sendiri, orang-orang sebayamu sebagai saudaramu sendiri’

    Bener. Terasa banget berkah silah ukhuwwah.

  2. jadi ingat pendapatnya Ibnu Qudamah dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, beliau, membagi 3 tingkatan orang yang berpuasa.Pertama: Puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.Kedua: Puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.Ketiga: Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya kalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan kalbu dari selain Allah secara total. [Mukhtashar Minhajul Qashidin:58]http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/2726/Awas_Puasa_Kita_ZERO_Pahala

  3. kirain mbaknya ada di jakarta, khususnya di MASK…berarti ni kan nerusin reportase to…weeee iya juga ya ada puasa tingkat lanjutan… from beginner, intermediate, advance…*kek nama pelajaran akuntansi keuangan dulu di STAN wekekeke

  4. friewan said: kalau saum tingkat advance itu udah menyentuh perkara ‘hati’ gitu ya? XD

    wuehehehe.. keknya bisa diliat di penjelasannya pak syam ntu deh..

  5. thetrueideas said: jadi ingat pendapatnya Ibnu Qudamah dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, beliau, membagi 3 tingkatan orang yang berpuasa.Pertama: Puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.Kedua: Puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.Ketiga: Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya kalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan kalbu dari selain Allah secara total. [Mukhtashar Minhajul Qashidin:58]http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/2726/Awas_Puasa_Kita_ZERO_Pahala

    waaa.. matur nuwun tambahannya pak syam..jazaakallaahu khoyr.. =)

  6. nanazh said: kirain mbaknya ada di jakarta, khususnya di MASK…berarti ni kan nerusin reportase to…weeee iya juga ya ada puasa tingkat lanjutan… from beginner, intermediate, advance…*kek nama pelajaran akuntansi keuangan dulu di STAN wekekeke

    huehehehe..aku ki ra tek seneng jakarta je.. hihikuwi sing ngrungokke langsung komen ning ndhuwur *ngelirik fitrahehehehe.. ono2 ae.. qiqi

  7. penjelajahsemesta said: Wuih, keren banget ada yg ngebuat levelnya gitu. Kayak game aja. Ada dalilnya gak ya? :)

    lha itu udah dijelasin di komennya pak syam.. hehehePertama: Puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.Kedua: Puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.Ketiga: Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya kalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan kalbu dari selain Allah secara total.[Mukhtashar Minhajul Qashidin:58]ato ada yang mau koreksi.. monggo.. =)

  8. penjelajahsemesta said: Maksudnya dalil dari Al Quran dan Sunnah. Puasa khan termasuk ibadah. Membuat tingkatan2 ibadah tentu membutuhkan dalil dari Sang Pembuat Ibadah, bukan hanya pendapat ulama.. :)

    humm.. iya ya..koq nyari2 sumbernya justru kebanyakan itu dari imam ghozali..dan banyak yang berpaham sufi memakai pembagian itu.. hoho..saya ga tau pak..hehehe..trus gimana ya? *doh fajar.. dudul dipiara

  9. penjelajahsemesta said: Selama tingkatan puasa ini tidak diyakini sebagai bagian dari hukum Islam, ya gpp. Hanya bagian dari ijtihad ulama yg tidak mempengaruhi hukum tentang puasa itu sendiri.

    hoo.. gtu ya.. matur nuwun.. =)*ngangguk2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s