The Story of Three Kettle Cafe [TKC]

Berhubung tengah malem gini pengen ketawa tapi ga ada bahan.. *haiyah

jadi ngubek2 tulisannya Yufi lagi.. hahaha.. kan sering tuh dia nulis tentang TKC.. ini nih salah satu ceritanya. Intinya si TKC tu salah satu tempat di SMA adekq buat makan.. warung kek angkringan gtu.. hihihi

akhirnya bisa ngekek juga. lumayan lah daripada lumanyun.. qiqiqi.

=))

______________________________________________________________________

Ini cerita tentang Three Kettle Cafe (disingkat TKC ya). Hari pertama setelah masuk sekolah setelah libur panjaaaaaaaaaaaaang, tepatnya hari Kamis tanggal 8 September 2011, setelah pulang sekolah, aku mampir ke TKC. Haus, mau beli iced tea.

Woow, TKC lagi rame banget. Di sana ada (pake inisial aja deh) F, E, N, dirgan, gandhi, dkk.

Aku: Pak, iced tea satu.

Bapaknya: Dibungkus apa diminum di sini?

Aku: Dibungkus aja Pak.

N: Yuf, dah ngerjain tugasnya pak CKB (Cinta Ketika Bertabih —> coming soon) ?

Aku: Udah.

N: pinjem yuf.

Aku: nggak tak bawa e, di rumah.

N: Yaudah, pulang sana, ngambil, terus balik lagi ke sini.

Aku: WHAT? (tampangnya kayak gini lah —> :O)

yang lain: HAHAHAHAHAHAHA

Dirgan, dan yang lain-lain ikutan ketawa. Sumpah, malu banget habis diketawain sak TKC.

Di pikiranku muncul sebuah WARN, rambu-rambu lalu lintas, alarm, yang berbunyi:

Butir pertama: Sebelum ke TKC, harus liat sikon dulu, rame atau enggak. Kalo rame, harus ngintip dulu, ramenya ada siapa aja.

Butir kedua: Menunda kunjungan eating tour kalo di TKC ada F, E, N.

Butir ketiga: Apabila keadaan sudah aman terkendali, prajurit diperintahkan oleh komandan untuk melakukan genjatan senjata. Langsung capcus ke TKC.

Butir keempat: makan sambil duduk, pake tangan kanana, jangan lupa berdoa.

Butir kelima: Makanan harus habis bis bis. Siapa tau dapet gratisan gara-gara kita makan sambil nyuci piring nya sekalian. Alami, tanpa sabun. Lumayan, penghematan. (kan makannya nasi bungkus to sayaaang)

Ngomong2 soal butir2 yang berjumlah lima, aku jadi inget Pancasila. Ada kejadian lucu yang sangat tidak disengaja saat upacara bendera tertanggal 19 September 2011.

Hari Senin tanggal 19 September 2011 itu hari pertama PMKT (Pendalaman Materi Kelas Tiga. Selama ini, kita ngira kalo itu kepanjangan dari PMKT. Tapi ternyata, gue salah —> nada Agus Ringo. Dan aku lupa apa kepanjangan yang bener.)

Hari ini PMKT nya matematika bab pungsi (persamaan dan fungsi) kuadrat sama pertidaksamaan. kan kalo PMKT jawaban bener dinilai 4, salah -1, trus kosong 0. Pas upacara, temen-temen lagi heboh nyoba memprediksikan nilai mereka masing-masing. Waaah, pada mau nyaingin Joe Sandy nih.

Winda: Tadi, aku njawab 10, yang aku yakin bener 4.

Ufi: Berarti, 4 kali 4 16.

Winda: Iya, 16 dikurangi yang salah jadi 10. Eh, trus dibagi berapa sih?Fahrun: Kan jumlah soalnya 15, berarti totalnya 15 kali 4, 60. Berarti jumlah akhi dibagi 6.

Winda: Dibagi 6? Waduh, nilaiku 1 koma nih.. Gimana nih mbak upik..

Ufi: Podo-podo Win..

Ceremonial berjalan seperti biasa. Cuman nggak ada pengerekan bendera karena hari ini juga mau ada orasi calon ketua osis.

Mbak-mbak MC: Pembacaan Pancasila diikuti seluruh peserta upacara

Bapak-bapak pembina: Pancasila

Anak-anak peserta: Pancasila

Bapak-bapak pembina: Satu. Ketuhanan Yang Maha Esa

Anak-anak peserta: Satu. Ketuhanan Yang Maha Esa

Bapak-bapak pembina: Dua. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Anak-anak peserta: Dua. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Bapak-bapak pembina: Tiga. PERMUSYAWARATAN, tiga, persatuan Indonesia

Anak-anak peserta: Tiga. Persatuan Indonesia

dst, dst.

hehehehe

Back to the topic..

Hari berikutnya setelah hari kamis, yaitu hari Jum’at, aku bawa bekal nasi dari rumah untuk menghemat pengeluaran. Hari ini aku KIP, terus temen-temen yang lain ngaak tau pada di mana. Aku jadi sendirian. Aku bingung mau makan dimana. Di kelas, enggak ada temen. Di kantin, kejauhan. Di lapvol, nggak ada temen, malah ndembik. Yaudah deh. Berhubung minumku juga dah habis, aku memutuskan sidang Ad Hoc yang ditandai dengan dipukulkannya palu hakim sebanyak tiga kali. Dok, dok, dok.

Saksi akan memakan bekal nasinya di TKC karena ingin membeli minum di TKC.

Aku dari ruang 106 ke kiri, keluar, belok kiri lagi. Sampe gerbang, belok kiri lagi, teruuus. Nah, ndilalah aku liat F, E, N, lagi ngomong2 gitu rame-rame di gerbang tengah.

YES, berarti TKC aman terkendali.

Aku jalan lagi, belok kanan, pintu gerbang ke kanan, nyebrang.

Aku: Bu, warm tea satu ya.

Aku makan bekalku dengan santai, sambil sesekali menyeruput warm tea ku.

Rizky: Woooi, ada yufi. Halo yuf, lama gak ketemu.

Tadinya aku sendirian di TKC, sekarang ada Rizky sama Lakas.

Aku: Haloo, riz..

Mereka makan, duduk di sebelahku.

Lakas: sst, hijab (sambil bisik-bisik, tapi tph aku juga denger)

Rizky: Ha? opo?

Lakas: hijab

Rizky: opo? ra krungu aku

Lakas: hijab

Rizky: ha?

nggak selesai selesai ni. akhirnya Rizky dong juga

Rizky: hijab? halah, mung yufi wae kok. (ooo, jadi begonooo)

masih lanjut makan dengan santai. TIBA-TIBA

F: YUFI KARTIKA ASTAGHFIRULLAH HAL’ADZIM

Tepuk jidat deh gue, padahal di sana nggak ada nyamuk (apasih). F,E,N udah nongol aja di TKC.

E: Eh, yuf, bawa makanan sendiri di TKC ada pajaknya sini.

Aku masih diam seribu bahasa. Aka langsung mengeluarkan tameng pelindungku. Enak aja, ini makanan gue, gue butuh gizi yang cukup supaya pertumbuhan gue lancar dan ada cukup suplai energi untuk gue beraktivitas dan suplai energi untuk otak. Okay?

N: Woooh, gila. Bawa makanan di sini cuma beli wam tea doang. Kan nggak boleh ya bu ya..

Aku: Nggak pa pa kan ya bu?

Ibunya: Nggak pa pa.

N: Enggak, ibu nya enggak ikhlas itu bilangnya.

oke. abaikan. makan aja.

N: Eh, yuf, besok jadi to les nya di kosan nya F?

Aku: Enggak mau, enak aja masak di kosan nya F.

N: Lha dimana?

Aku: Di kosan ku.

E: Emang kowe ngekos yuf?

Aku: Enggak.

E: Eh, lha piye to, kok radongan.

Rizky: huakakakakak. Rizky nya ngakak coba.

Terus, mereka pesen makanan:

N: pak ceker dibakar satu ya pak.

E: pak, ceker satu, tempe satu.

N: wah, maaf ya pak, di sini lama-lama cuma beli ceker satu (tumben nyadar).

F: pak, tempe satu, ceker satu.

Rizky: pak, CEKER SATU, CEKER SATU.

hahahahaha, laaah jan.

Aku masih makan, nasinya kok banyak ya. selak digarapi meneh.

Beberapa saat kemudian, nasinya habis juga. Sekarang aku nyeruput warm tea ku. Tapi, berhubung aku kenyaaaang sekaliii, dan aku terikat oleh peraturan yang mewajibkanku menghabiskan semua yang aku makan dan minum, aku minumnya pelan-pelan. Kembung.

N: lama banget sih minumnya. Liat to dari tadi kayak gitu tapi nggak sudo-sudo.

E: glegek-glegek.

N: eh, kamu gak napas po? liat tu lho betah banget.

Rizky: Eh, ho o. woi yuf, napas yuf.

N: eh, kan nggak boleh napas dalam gelas to. (emang gimana sih maksudnya? cara minumnya salah ya?)

Karena dilanda protes bertubi-tubi, aku berhenti minum.

E: woo, nggak habiis.

N: woo, harus dihabisin yuf.

Aku: sabar to, ini tu kagi nunggu minumnya turun tau.

Srupuuuuuuut. akhirnya datang juga.

Yes, udah habis.

Aku: Pak, warm tea satu.

Rizky: iya, sama nasi, chicken nugget, tempe juga pak.

:O

18 thoughts on “The Story of Three Kettle Cafe [TKC]

  1. topenkkeren said: (=lgak ana arif, ya? gak seru, ah. iki kan mpne kakange arif. :))

    wuahahaha… jare sopoooo ra ono arif..salah siji seka F, E,N kuwi adhiq =))qeqeqekomplotan dudul wekekeke

  2. hwwibntato said: ho ho ho …lucu, lucu … he he he …*jadi ingat masa SMA lagi … he he he …

    eaaaaaaa….ada sapa tu.. di jaman smanya bang hend… ihiiirr haghaghag..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s