Surat dari Batu Bata ‘tuk Tukang Bangunan


aku tak pernah ucap pinta; bahkan selirih bisik bulir air pada surya yang menjadikannya tiada
akan kau rebahkan bongkahku di mana
selalu kuterima dengan gurat ria di lintas masa

di garda depan menganyam barisan pagar tegar
coba seka isak tawa
seringai mereka yang mengintai penuh curiga
menjaga sepenuh nyala jiwa

di ruang tengah penuh hangat cerita
mengait relung cakap mesra keluarga
penuh ornamen maupun sederhana
namun selalu penuh cinta

di dapur berbaur asap pun uap
berkawan aroma masakan ibu yang sedap
dinanti untuk segera dipungkasi dengan lahap
meski kadang sulang menyergap
ataukah di area paling tak terjamah lasi
fondasi
di bagian yang menguji tulus tanpa batas sisi
menjadi titik tolak tumbuh layaknya embarkasi

jikapun harus kau potong tubuh ini
menggenapi bilangan ganjil dari puing bangunan indah nanti
tak perlu kau tanya lagi

aku siap
# “Sesungguhnya Allaah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shoff [61] : 4)
gambar dari sini
Advertisements

Banyak Hal Baru yang Mengantarkan Kita ke Persimpangan #1

oleh : Ahmad Zairofi A.M.

Bersama kebaruan waktu yang datang menyapa kita, ada berjuta kebaruan lain di luar waktu yang terus mengincar kita. Waktu punya jadwal dan siklusnya untuk hadir dalam satuan-satuannya, dalam momen-momennya. Ada hari baru, ada bulan baru, ada tahun baru, ada dasawarsa baru, ada abad baru. Semua kebaruan waktu tidak sedikitpun bisa kita hindari. Tidak bisa pula kita tolak. Karena waktu tidak pernah berhenti untuk mengganti dirinya, yang lama dengan yang baru. Hari ini menggantikan hari kemarin. Saat ini melanjutkan saat tadi. Begitu dan terus begitu.

Seperti apapun cara kita melalui datangnya waktu-waktu yang baru, semua hanya persinggahan sesaat. Selama apapun waktu baru yang kita habiskan, ia akan segera lewat. Seheboh apapun kita menciptakan suasananya, ia akan cepat berlalu. Segala seremoni yang kita siapkan untuk memeriahkan kedatangan hal yang baru, bila itu berupa momen waktu, akan sangat singkat. Sejujurnya, saat kita menyebut angka pada jam tertentu, satuan detik telah berlalu sebelum kita selesai menyebut pukul berapa saat itu.

Bisa atau tidak, suka atau tidak, kita pasti akan melewati semua waktu baru yang menjadi jatah kita. Bahkan bila pun kita tidak siap melaluinya maka waktu yang akan melalui kita. Kadang itu membuat segalanya terlihat mudah. Tetapi yang tidak mudah, adalah menghadapi apa-apa yang baru dari berbagai hal dalam kehidupan kita. Yaitu apa-apa yang mengisi dimensi waktu dalam hidup ini, yang menyerbu kita, dengan kebaruannya: teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru. Itu lebih sulit untuk kita hadapi ketimbang datangnya tahun baru.

Teknologi baru mewakili semua benda, ataupun cara-cara, atau alat, yang terus-menerus hadir di hadapan kehidupan kita dengan segala temuan-temuan barunya. Dari teknologi kelas tinggi hingga yang sederhana. Budaya baru mewakili semua perilaku, perangai, kebiasaan, kesepakatan akan sebuah nilai di masyarakat, hingga jati diri yang terus hadir dalam formulanya yang baru. Adapun persepsi baru, mewakili segala pengetahuan, ilmu, informasi, dan cara pandang baru. Ketiga hal di atas akan terus menyerbu kita, dalam jumlah satuan-satuan kecil dan besar, yang secara akumulasi sangat banyak.

Apa yang kita saksikan dari hidup ini sungguh ajaib dan luar biasa. Paduan yang kompleks antara waktu, proses berpengetahuannya manusia, temuan-temuan baru, akan melahirkan -sekali lagi- hal lain yang juga baru: teknologi baru, budaya baru, dan tentu saja persepsi baru. Lalu teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru itu, melahirkan lagi temuan-temuan baru. Begitu seterusnya hidup berjalan. Begitu selanjutnya kebaruan hadir melahirkan kebaruan yang akan melahirkan lagi kebaruan yang baru. Unsur waktu dalam kaitan dengan tiga hal tersebut hanyalah pemberi kesempatan dan rentang masa. Meski akibatnya, suatu jaman yang diisi oleh tiga hal baru tersebut, atau salah satunya, seringkali dinisbahkan kepadanya. Maka kita mengenal istilah jaman batu, misalnya, jaman industri, jaman informasi, dan seterusnya.

Dahulu mobilitas kita lamban, karena hanya kuda kendaraan yang cepat. Tapi begitu manusia menemukan kendaraan, bisa membuat pesawat, perpindahan manusia dari satu belahan bumi ke belahan lainnya mengalami revolusi besar. Cara kita berkomunikasi juga dipengaruhi berbagai temuan teknologi baru. Jarak semakin tidak relevan untuk sekadar bertanya kabar, atau bahkan untuk berbincang serius memutuskan hal serius. Perjalanan massal dalam waktu yang cepat itu, akses komunikasi yang real time ke berbagai penjuru, semua itu melahirkan budaya baru, dan tentu saja persepsi-persepsi baru. Itu baru contoh kecil dari serbuan kebaruan yang dengan deras memasuki kehidupan kita.

Teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru, punya dua sisinya yang unik. Ada banyak orang yang termuliakan. Banyak pula yang terhempaskan, ketika tidak semua kita bisa mulus melaluinya. Itu yang kita maksud dengan ‘banyak hal baru yang mengantarkan kita ke persimpangan’.

-bersambung-

copas dari Tarbawi edisi 264 Muharram 1433 (15 Desember 2011)
#spesial request dari Ai buat diketikin, coz udah 2 bulan ga baca Tarbawi katanya.. haha.. di Gorontalo ga ada yang jual ya Ai.. =p
inget biaya ngetik per kata ada itungannya =))
*dilempar ikan..

Water Spirit

nemu di devianart foto ini..
keren judulnya..
“Water Spirit”
mengingatkanku sama Water.. hehehe
jar_away tu nama dari jaman SMP..
way nya dulu awalnya sebagai kata ganti water.. =D
aku suka air..
meski matahari dan air tak akan “bersatu”
matahari menguapkan air, meniadakannya..
tapi fajar tetep suka air..
*filosofi yang ga nyambung =))
buat air.. makasih spiritnya.. yang secara tak langsung menyemangati lewat IDq.. haha
#geje
gambar dari sini

Nafas Sepenggal


sudah samarkah ingatanmu?
tentang kita
yang pernah mengikat erat janji
dalam simpul hijau rasa coklat
aku, kamu, dia dan mereka
manis

kutemui engkau
berbeda

“engkau bukan yang dulu lagi, atau yang dulu bukan dirimu?”

atau,
kebat itu celus?
kini
atau…

ah, tak mau lagi berbelit dengan terlalu rumit atau
tak peduli seberapa banyak atau
kucukupi memikirkan atau
sudahi menjadi masa lampau

meski
jika suatu saat nanti
tak lagi ada yang mau menunggui tungku itu
ketika pun semua meluputkan ingatan akan ikatan
sebab bara di dalamnya yang seolah hampir padam
aku tetap di situ
bergeming

dengan nafas sepenggal
mencoba terus meniupnya
agar bara jadi nyala
memanaskan belanga berjelaga
yang mereka memicingkan mata
namun, sejatinya besar kiprahnya

#ketika rumah hijau rasa coklat itu terasa “kering”, tetap optimis.. ya kan? =)
#nafas sepenggal.. bertahanlah.. n_n/
l-e-p-a-s b-e-b-a-n

gambar dari sini

Dan, Kematian Itu Begitu Dekat

Melihat berita duka itu juga terpampang di grup KMT :

para MUJAHID/AH KMT yang dirahmati Alloh,,,ini ada berita duka

innalillahi wainna ilaihi rojiun, ya robb ampuni dosa bapak saudari kami @ hanif kusuma wardhani (TS 07 UGM), lapangkan kubur beliau jadikan kubur beliau salah satu diantara taman2 syurgaMU,,

semoga keluarga yg ditinggal diberikan kesabaran dan kelapangan menerima ujian Alloh ini,

“Allahummaghfir Lahu, Warhamhu, Wa ‘Aafihi, Wa’fu ‘Anhu. Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Mudkhalahu. Waghsilhu Bilmaa`I Wats Tsalji Wal Baradi, Wa Naqqihi Minal Khathaayaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadha Minad Danasi. Wa Abdilhu Daaran Khairan Min Daarihi, Wa Ahlan Khairan Min Ahlihi, Wa Zaujan Khairan Min Zaujihi. Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idzhu Min ‘Adzaabil Qabri, Au Min ‘Adzaabin Naar

. (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia, dan maafkanlah ia. Muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya. Bersihkanlah ia dengan air, salju, dan air yang sejuk, dan bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan istri di dunia dengan istri yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” Hingga saya (Auf) berangan-angan seandainya saya saja yang menjadi mayit itu.” (HR. Muslim no. 963)

BAGI YANG KELEBIHAN REZEKI bs membantu dg INFAQ TERBAIK lewat saudara Fauzi Ahmad yang malam ini beragkat ke rumah duka di malang,,,

kl pun tidak mohon selipkan doa2 antm di waktu istijab malam ini,,,jazakumullah khoir

#malam ini adek2 KMT berangkat takziyah ke Malang, pengen ikut sebenarnya.. tapi.. huff

#padahal baru sore tadi berbincang dengan Hanif setelah lama tak bertemu karena semenjak bapaknya sakit dia full di Malang (sampai ga ikut wisuda, datang ke Jogja hanya dalam rangka ambil ijazah), kutanyakan kabar kesehatan bapaknya dan dia meminta do’a agar segera disembuhkan oleh Allaah.. Dan ternyata Allaah ta’ala berkehendak lain.
Sabar ya ndhuk… =’)

#bersyukur ruh ukhuwah di KMT masih begitu kental..

Bergegas



tidakkah kau rindu?

pada singgah sejenak
di rindang sengat mentari
di teduh tetangkai peluh
mencecap jerih
mengeja makna

ah, bukankah itu nikmat?
mewarnai kunjungan sesaat
sebelum berpulang ke kampung akhirat
namun, bukan dengan hitam pekat

ucap lagau itu enyahkanlah
atau hanya jadi kemarau
meranggaskan amalmu
merontokkan ikhlasmu

kuharap tak lagi terdengar sorak
yang kian serak
menuai hati-hati rapuh berkertak

ayo, bergegas!

#tiba-tiba ingat nasihat yang katanya perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu >> “Rekreasi terbaik adalah bekerja” (fajar belum ngerti sanadnya sih), jadilah coret-coretan ini barusan.
#ngasal mode : On
#teringat banyak kerjaan menghadang.. hehehe smangaaaaaD n_n/
#gambar dari sini

HADITS NO – 3113 KITAB BUKHARI

Dan telah bercerita kepadaku ‘Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami ‘Abdur Razzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub as-Sakhtiyaniy dan Katsir bin Katsir bin Al Muthallib bin Abi Wada’ah satu sama lain saling melengkapi dari Sa’id bin Jubair berkata Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma;

“Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Isma’il ‘Alaihissalam. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah kemudian Ibrahim ‘Alaihissalam membawanya berserta anaknya Isma’il yang saat itu ibunya masih menyusuinya hingga Ibrahim ‘Alaihissalam menempatkan keduanya dekat Baitullah (Ka’bah) pada sebuah gubuk di atas zamzam di ujung al-masjidil Haram.

Waktu itu di Makkah tidak ada seorangpun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim menempatkan keduanya disana dan meninggalkan semacam karung berisi kurma dan kantung/geriba berisi air. Kemudian Ibrahim pergi untuk meninggalkan keduanya. Maka Ibu Isma’il mengikutinya seraya berkata; “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana?. Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini”. Ibu Isma’il terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya ibu Isma’il bertanya; “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semuanya ini?”. Ibrahim menjawab: “Ya”. Ibu Isma’il berkata; “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”.

Kemudian ibu Isma’il kembali dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan orang-orang tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdo’a untuk mereka dengan beberapa kalimat do’a dengan mengangkat kedua belah tangannya, katanya: “Rabbi, (“sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu yang disucikan”) hingga sampai kepada (semoga mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur) (QS Ibrahim ayat 37. Kemudian ibu Isma’il mulai menyusui anaknya dan minum dari air persediaan hingga ketika air yang ada pada geriba habis dia menjadi haus begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Isma’il sang bayi yang sedang meronta-ronta”, atau dia berkata dengan redaksi: “Berguling-guling diatas tanah”. Kemudian Hajar pergi meninggalkan Isma’il dan tidak kuat melihat keadaannya.

Maka dia mendatangi bukit Shafaa sebagai gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri disana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafaa dan ketika sampai di lembah dia menyingsingkan ujung pakaiannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu beridiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah). Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah sa’iy yang mesti dilakukan oleh manusia (yang berhajji) antara kedua bukit itu”.

Ketika berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya “diamlah” yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkanya maka dia dapat mendengar suara itu lagi maka dia berkata; “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud meminta pertolongan”. Ternyata suara itu adalah suara malaikat (Jibril ‘Alaihissalam) yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril mengais air dengan tumitnya” atau katanya; dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Ibu Isma’il mulai membuat tampungan air dengan tangannya seperti ini yaitu menciduk air dan memasukkannya ke geriba sedangkan air terus saja memancar dengan deras setelah diciduk”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Ummu Isma’il (Siti Hajar) karena kalau dia membiarkan zamzam” atau sabda Beliau: ” kalau dia tidak segera menampung air tentulah air zamzam itu akan menjadi air yang mengalir”.

Akhirnya dia dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya: “Janganlah kalian takut ditelantarkan karena disini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya”.

Pada saat itu Ka’bah Baitullah posisinya agak tinggi dari permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil, yang apabila datang banjiir akan terkikis dari samping kanan dan kirinya. Ibu Isma’il, Hajar, terus melewati hidup seperti itu hingga kemudian lewat serombongan orang dari suku Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa’ lalu singgah di hilir Makkah kemudian mereka melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar. Mereka berseru; “Burung ini pasti berputar karena mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air. Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air.

Mereka kembali dan mengabarkan keberadaan air lalu mereka mendatangi air. Beliau berkata: “Saat itu Ibu Isma’il sedang berada di dekat air”. Mereka berkata kepadanya; “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini?”. Ibu Isma’il berkata; “Ya boleh tapi kalian tidak berhak memiliki air”. Mereka berkata; “Baiklah”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ibu Isma’il menjadi senang atas peristiwa ini karena ada orang-orang yang tinggal bersamanya”. Akhirnya mereka pun tinggal disana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama di sana”. Ketika para keluarga dari mereka sudah tinggal bersama Hajar dan Isma’il sudah beranjak belia, dia belajar berbahasa arab dari mereka, bahkan menjadi manusia paling berharga dan paling ajaib di kalangan mereka.

Kemudian Isma’il tumbuh menjadi seorang pemuda yang disenangi oleh mereka. Setelah dewasa, mereka menikahkan Isma’il dengan seorang wanita dari mereka dan tak lama kemudian ibu Isma’il meninggal dunia. Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Isma’il menikah untuk mencari tahu apa yang telah ditinggalkannya namun dia tidak menemukan Isma’il. Ibrahim bertanya tentang Isma’il kepada istrinya Isma’il. Istrinya menjawab; “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.

Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Isma’il menjawab; “Kami mengalami banyak keburukan dan hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat”. Istri Isma’il mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata; “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah daun pintu rumahnya”. Ketika Isma’il datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya; “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab; “Ya. Tadi ada orang tua begini begini keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan”. Isma’il bertanya; “Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab; “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu
mengubah daun pintu rumah kamu”. Isma’il berkata; “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu maka itu kembalilah kamu kepada keluargamu”.

Maka Isma’il menceraikan istrinya. Kemudian Isma’il menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah dan setelah itu datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Isma’il hingga akhirnya dia mendatangi istri Isma’il lalu bertanya kepadanya tentang Isma’il. Istrinya menjawab; “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.

Lalu Ibrahim bertanya lagi; “Bagaimana keadaan kalian”. Dia bertanya kepada istrinya Isma’il tentang kehidupan dan keadaan hirup mereka. Istrinya menjawab; “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup”. Istri Isma’il memuji Allah. Ibrahim bertanya; ‘Apa makanan kalian? ‘. Istri Isma’il menjawab; “Daging”. Ibrahim bertanya lagi; “Apa minuman kalian? ‘. Istri Isma’il menjawab; “Air”. Maka Ibrahim berdo’a: “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saat itu tidak ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Ibrahim sudah mendo’akannya”. Dia berkata; “Dan dari doa Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorangpun selain penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air”. Ibrahim selanjutnya berkata; “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh daun pintu rumahnya”. Ketika Isma’il datang, dia berkata: “Apakah ada orang yang datang kepadamu?”. Istrinya menjawab; “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kami”. Istrinya mengagumi Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja”.”. Isma’il bertanya; “Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”. Istrinya menjawab; “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan daun pintu rumah kamu”. Isma’il berkata; “Dialah ayahku dan daun pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu”.

Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka lagi untuk waktu tertentu sebagaimana dikehendaki Allah, lalu datang kembali setelah itu saat Isma’il meletakkan anak panahnya di bawah sebatang pohon dekat zamzam. Ketika dia melihatnya, dia segera menghampirinya dan berbuat sebagaimana layaknya seorang ayah terhadap anaknya dan seorang anak terhadap ayahnya kemudian dia berkata; “Wahai Isma’il, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah”. Isma’il berkata; “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu”. Ibrahim berkata lagi; Apakah kamu akan membantu aku?”. Isma’il berkata; “Ya aku akan membantumu”. Ibrahim berkata; “Allah memerintahkan aku agar membangun rumah di tempat ini”. Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi di banding sekelilingnya”. Perawi berkata; “Dari tempat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah, Isma’il bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Isma’il datang membawa batu ini lalu meletakkannya untuk Ibrahim agar bisa naik di atasnya sementara Isma’il memberikan batu-batu’ Keduanya bekerja sambil mengucapkan kalimat do’a; (“Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.

Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca do’a; (“Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”). (QS. Albaqarah 127)

و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ وَكَثِيرِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ
أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا فَقَالَتْ لَهُ أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا ثُمَّ رَجَعَتْ فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لَا يَرَوْنَهُ اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ الْبَيْتَ ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ رَبِّ
{ إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ حَتَّى بَلَغَ يَشْكُرُونَ }
وَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تُرْضِعُ إِسْمَاعِيلَ وَتَشْرَبُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ عَطِشَتْ وَعَطِشَ ابْنُهَا وَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتَلَوَّى أَوْ قَالَ يَتَلَبَّطُ فَانْطَلَقَتْ كَرَاهِيَةَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَتْ الصَّفَا أَقْرَبَ جَبَلٍ فِي الْأَرْضِ يَلِيهَا فَقَامَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْ الْوَادِيَ تَنْظُرُ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَهَبَطَتْ مِنْ الصَّفَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْوَادِيَ رَفَعَتْ طَرَفَ دِرْعِهَا ثُمَّ سَعَتْ سَعْيَ الْإِنْسَانِ الْمَجْهُودِ حَتَّى جَاوَزَتْ الْوَادِيَ ثُمَّ أَتَتْ الْمَرْوَةَ فَقَامَتْ عَلَيْهَا وَنَظَرَتْ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَفَعَلَتْ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا فَلَمَّا أَشْرَفَتْ عَلَى الْمَرْوَةِ سَمِعَتْ صَوْتًا فَقَالَتْ صَهٍ تُرِيدُ نَفْسَهَا ثُمَّ تَسَمَّعَتْ فَسَمِعَتْ أَيْضًا فَقَالَتْ قَ
ْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ فَإِذَا هِيَ بِالْمَلَكِ عِنْدَ مَوْضِعِ زَمْزَمَ فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ أَوْ قَالَ بِجَنَاحِهِ حَتَّى ظَهَرَ الْمَاءُ فَجَعَلَتْ تُحَوِّضُهُ وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا وَجَعَلَتْ تَغْرِفُ مِنْ الْمَاءِ فِي سِقَائِهَا وَهُوَ يَفُورُ بَعْدَ مَا تَغْرِفُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنْ الْمَاءِ لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا قَالَ فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا فَقَالَ لَهَا الْمَلَكُ لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ وَكَانَ الْبَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنْ الْأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ تَأْتِيهِ السُّيُولُ فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ فَكَانَتْ كَذَلِكَ حَتَّى مَرَّتْ بِهِمْ رُفْقَةٌ مِنْ جُرْهُمَ أَوْ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ جُرْهُمَ مُقْبِلِينَ مِنْ طَرِيقِ كَدَاءٍ فَنَزَلُوا فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا فَقَالُوا إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ لَعَهْدُنَا بِهَذَا الْوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ فَأَرْسَلُوا جَرِيًّا أَوْ جَرِيَّيْنِ فَإِذَا هُمْ بِالْمَاءِ فَرَجَعُوا فَأَخْبَرُوهُمْ بِالْمَاءِ فَأَقْبَلُوا قَالَ وَأُمُّ إِسْمَاعِيلَ عِنْدَ الْمَاءِ فَقَالُوا أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ فَقَالَتْ نَعَمْ وَلَكِنْ لَا حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الْإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ وَشَبَّ الْغُلَامُ وَتَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا ثُمَّ سَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِشَرٍّ نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ فَشَكَتْ إِلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيْئًا فَقَالَ هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ قَالَ فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَطَلَّقَهَا وَتَزَوَّجَ مِنْهُمْ أُخْرَى فَلَبِثَ عَنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَتَاهُمْ بَعْدُ فَلَمْ يَجِدْهُ فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ فَسَأَلَهَا عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا قَالَ كَيْفَ أَنْتُمْ وَسَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ وَأَثْنَتْ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ مَا طَعَامُكُمْ قَالَتْ اللَّحْمُ قَالَ فَمَا شَرَابُكُمْ قَالَتْ الْمَاءُ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ قَالَ فَهُمَا لَا يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلَامَ وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ قَالَ هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ قَالَ فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلًا لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ قَالَ فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ قَالَ وَتُعِينُنِي قَالَ وَأُعِينُكَ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا قَالَ فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَ
ا الْقَوَاعِدَ مِنْ الْبَيْتِ فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَهُمَا يَقُولَانِ
{ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ }
قَالَ فَجَعَلَا يَبْنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوْلَ الْبَيْتِ وَهُمَا يَقُولَانِ
{ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

sumber

Bintang Kecil.. *haiyah

alhamdulillah telah lahir putra kami yang pertama dengan sehat dan selamat.
mohon do’anya semoga dapat menjadi generasi robbani yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.
boy dan keluarga

_________________________________________________________________________________

tadi dapet sms dari boy..

selamat ya Boy & Evi… =)
ciee.. si bintangbirulangit dah punya bintang junior.. ehehehe
wis ga calon bapak meneh ki.. bapak tenanan.. *loh.. qiqiqi

“Semoga Allah menjadikannya barakah atas kalian dan atas ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

waaaaaaaaah.. ponakanq nambah lagii.. senengnyaa…. kapan tilik bayi ke pwt jar?! eenggg.. -mendadak hening-
eheheheh