Banyak Hal Baru yang Mengantarkan Kita ke Persimpangan #1

oleh : Ahmad Zairofi A.M.

Bersama kebaruan waktu yang datang menyapa kita, ada berjuta kebaruan lain di luar waktu yang terus mengincar kita. Waktu punya jadwal dan siklusnya untuk hadir dalam satuan-satuannya, dalam momen-momennya. Ada hari baru, ada bulan baru, ada tahun baru, ada dasawarsa baru, ada abad baru. Semua kebaruan waktu tidak sedikitpun bisa kita hindari. Tidak bisa pula kita tolak. Karena waktu tidak pernah berhenti untuk mengganti dirinya, yang lama dengan yang baru. Hari ini menggantikan hari kemarin. Saat ini melanjutkan saat tadi. Begitu dan terus begitu.

Seperti apapun cara kita melalui datangnya waktu-waktu yang baru, semua hanya persinggahan sesaat. Selama apapun waktu baru yang kita habiskan, ia akan segera lewat. Seheboh apapun kita menciptakan suasananya, ia akan cepat berlalu. Segala seremoni yang kita siapkan untuk memeriahkan kedatangan hal yang baru, bila itu berupa momen waktu, akan sangat singkat. Sejujurnya, saat kita menyebut angka pada jam tertentu, satuan detik telah berlalu sebelum kita selesai menyebut pukul berapa saat itu.

Bisa atau tidak, suka atau tidak, kita pasti akan melewati semua waktu baru yang menjadi jatah kita. Bahkan bila pun kita tidak siap melaluinya maka waktu yang akan melalui kita. Kadang itu membuat segalanya terlihat mudah. Tetapi yang tidak mudah, adalah menghadapi apa-apa yang baru dari berbagai hal dalam kehidupan kita. Yaitu apa-apa yang mengisi dimensi waktu dalam hidup ini, yang menyerbu kita, dengan kebaruannya: teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru. Itu lebih sulit untuk kita hadapi ketimbang datangnya tahun baru.

Teknologi baru mewakili semua benda, ataupun cara-cara, atau alat, yang terus-menerus hadir di hadapan kehidupan kita dengan segala temuan-temuan barunya. Dari teknologi kelas tinggi hingga yang sederhana. Budaya baru mewakili semua perilaku, perangai, kebiasaan, kesepakatan akan sebuah nilai di masyarakat, hingga jati diri yang terus hadir dalam formulanya yang baru. Adapun persepsi baru, mewakili segala pengetahuan, ilmu, informasi, dan cara pandang baru. Ketiga hal di atas akan terus menyerbu kita, dalam jumlah satuan-satuan kecil dan besar, yang secara akumulasi sangat banyak.

Apa yang kita saksikan dari hidup ini sungguh ajaib dan luar biasa. Paduan yang kompleks antara waktu, proses berpengetahuannya manusia, temuan-temuan baru, akan melahirkan -sekali lagi- hal lain yang juga baru: teknologi baru, budaya baru, dan tentu saja persepsi baru. Lalu teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru itu, melahirkan lagi temuan-temuan baru. Begitu seterusnya hidup berjalan. Begitu selanjutnya kebaruan hadir melahirkan kebaruan yang akan melahirkan lagi kebaruan yang baru. Unsur waktu dalam kaitan dengan tiga hal tersebut hanyalah pemberi kesempatan dan rentang masa. Meski akibatnya, suatu jaman yang diisi oleh tiga hal baru tersebut, atau salah satunya, seringkali dinisbahkan kepadanya. Maka kita mengenal istilah jaman batu, misalnya, jaman industri, jaman informasi, dan seterusnya.

Dahulu mobilitas kita lamban, karena hanya kuda kendaraan yang cepat. Tapi begitu manusia menemukan kendaraan, bisa membuat pesawat, perpindahan manusia dari satu belahan bumi ke belahan lainnya mengalami revolusi besar. Cara kita berkomunikasi juga dipengaruhi berbagai temuan teknologi baru. Jarak semakin tidak relevan untuk sekadar bertanya kabar, atau bahkan untuk berbincang serius memutuskan hal serius. Perjalanan massal dalam waktu yang cepat itu, akses komunikasi yang real time ke berbagai penjuru, semua itu melahirkan budaya baru, dan tentu saja persepsi-persepsi baru. Itu baru contoh kecil dari serbuan kebaruan yang dengan deras memasuki kehidupan kita.

Teknologi baru, budaya baru, dan persepsi baru, punya dua sisinya yang unik. Ada banyak orang yang termuliakan. Banyak pula yang terhempaskan, ketika tidak semua kita bisa mulus melaluinya. Itu yang kita maksud dengan ‘banyak hal baru yang mengantarkan kita ke persimpangan’.

-bersambung-

copas dari Tarbawi edisi 264 Muharram 1433 (15 Desember 2011)
#spesial request dari Ai buat diketikin, coz udah 2 bulan ga baca Tarbawi katanya.. haha.. di Gorontalo ga ada yang jual ya Ai.. =p
inget biaya ngetik per kata ada itungannya =))
*dilempar ikan..

20 thoughts on “Banyak Hal Baru yang Mengantarkan Kita ke Persimpangan #1

  1. Mas fajar,, adakah yang bisa kuberikan padamu sebagai rasa terima kasihku padamu selain hatiku? Haghaghag..*beneran pengen nglempar ikan neh. Di sini ikan “dibuang-buang” :DJazakillah yaa..

  2. akuai said: Mas fajar,, adakah yang bisa kuberikan padamu sebagai rasa terima kasihku padamu selain hatiku? Haghaghag..*beneran pengen nglempar ikan neh. Di sini ikan “dibuang-buang” :DJazakillah yaa..

    eaaaaaaa……. kapan aku ketemu ayahmu Ai? *loh =))dateng ke nikahannya Ai maksudnyaaa.. qiqiqi =paku seneeng ikan tauuukk.. gapapa deh ikan aja sini.. =Dwaanti fajazaakillaahu khoyr =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s