Saddudz Dzari’ah [bagian 1]

Kajian Rutin Pagi Hari bersama Ustadz Sholihun
“Penerapan Kaidah Saddudz Dzari’ah Dalam Kehidupan Sehari-Hari” tanggal 10 April 2012

Ini catatan kata-kata ustadz dari rekaman suara yang fajar catet =D *bagian pertama ini belum ada seperempat bagiannya. huehehehe

Insya Allaah tema yang akan kita diskusikan pada pagi hari ini yaitu mengenai tentang saddudz dzari’ah

apakah itu saddudz dzari’ah?
>> tahrimul washilah au man-uha al mu’diyatu ila fi’lin mahdzurin

mengharamkan sarana/ melarang.
melarang atau mengharamkan satu sarana, sebab
al mu’diyatu >> yang bisa mengarahkan
ila fi’lin mahdzurin >> terhadap perbuatan yang dilarang.

Nah, saddudz dzari’ah ini adalah bagian dari sumber hukum di dalam Islam.
Para ulama menetapkan bahwa sumber-sumber hukum di dalam Islam itu ada 10, atau ada yang mengatakan 11.

Yang 4, itu disepakati yaitu Al-quran, as sunnah, al-qiyas dan al-ijma’.
Ini adalah sumber hukum yang disepakati oleh para ulama mengingat bahwa 4 hal ini atau 4 sumber hukum ini sudah mencukupi ketika kemudian seorang ahli ijtihad atau seorang ulama ketika berijtihad bisa menggunakan dasar-dasar dari 4 hal ini. Al-quran dan as sunnah jelas, itu adalah sumber hukum Islam yang pokok. Ini tidak boleh ditinggalkan. Nah, qiyas >> sebuah analogi terhadap suatu keadaan, ini juga disepakati oleh para ulama ahlus sunnah wal jama’ah bahwa itu adalah bagian dari sumber hukum Islam termasuk di dalamnya adalah ijma’ atau konsensus kesepakatan-kesepakatan terhadap satu hukum tertentu.

Nah, adapun yang lain, al-maslahah al-mursalah (kemaslahatan umum), al-istihsan (menganggap baik terhadap suatu keadaan), kemudian al-ishtis_hab (menetapkan hukum kepada asalnya ketika tidak ditemukan dalil), atau kemudian qoulu shohabah (pendapat shahabat), atau yang ke 9 al-urfu wal ‘aadah (yaitu adat atau kebudayaan, tradisi), atau kemudian yang ke10 saddudz dzari’ah ini.

Para imam madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali bahwa saddudz dzari’ah ini adalah satu hal yang penting di dalam menetapkan hukum-hukum di dalam Islam mengingat bahwa ada satu keadaan yang memungkinkan seseorang itu terjerumus kepada sesuatau apa yang diharamkan oleh Allaah subhanahu wata’ala, maka semua sarana yang berkaitan dengan itu juga diharamkan.

Contohnya misalnya : ketika Allaah subhanahu wata’ala, ketika Islam mengharamkan mengenai tentang khalwat. Khalwat antara laki-laki yang sudah baligh dengan seorang wanita yang sudah balighah dan mereka keduanya memiliki kecenderungan saling menyukai dan kemudian mereka berbicara, ngobrol,bercanda di tempat yang sepi. Ga nyaman kalo kemudian itu dilihat oleh orang lain atau bahkan di zaman sekarang ini terang-terangan, gitu kan. tetapi mereka melakukannya itu dengan tujuan-tujuan agar mereka bisa nyaman ngobrol berdua begitu dengan tujuan saling menyukai. Maka khalwat itu diharamkan dalam Islam karena khalwat itu bisa menjerumuskan seseorang itu kepada sesuatu yang diharamkan oleh Allaah subhanahu wata’ala, apakah itu? zina.

Nah, oleh karena itu di dalam satu ayat, Allah subhanahu wata’ala mengatakan
وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓ‌ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فَـٰحِشَةً۬ وَسَآءَ سَبِيلاً۬ (٣٢

“walaataqrobuzzina innahuu kaana faahisyataw wa saaaa’a sabiilaa” >> janganlah kalian melakukan sesuatu perbuatan-perbuatan yang perbuatan itu bisa menjadikan sebab kalian itu berzina.
maka kemudian ibnu katsir dalam tafsirnya ketika menjelaskan ayat ini di surat al-isra 32 ya.. muqoddimatuzzina >> jadi sesuatu yang menghantarkan seseorang kepada zina misalkan, salah satu diantaranya khalwat, kemudian berdua-duaan, atau kemudian mohon maaf ya.. menyentuh, memegang, terus kemudian mencium dan lain sebagainya. Atau hal-hal yang mengawali itu. Para ulama sepakat bahwa itu adalah dosa kecil, tetapi itu diharamkan di dalam Islam, karena itu bisa menghantarkan seseorang menuju kepada apa? yang diharamkan oleh Allaah subhanahu wata’ala. Menuju kepada dosa besar yaitu zina.

Nah, oleh karena itu kemudian, Imam Ahmad bin Hambal, termasuk di dalamnya Imam Malik, menetapkan bahwa saddudz dzari’ah, segala sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allaah subhanahu wata’ala maka itu diharamkan. Nah sehingga hukum washilah itu mengikuti terhadap tujuannya atau sesuatu yang akan mengarahkan kepada akhir dari perjalanan itu. Jadi kalau tujuan akhirnya itu akan haram, maka washilahnya/sarananya pun juga haram.

Nha terus bagaimana pengertian saddudz dzari’ah?
Ada 2 kalimat ya
ada kata sadda atau saddu boleh ya, ada kata adz-dzari’ah
sadda atau saddu artinya adalah menutup
dzari’ah, nah ini disampaikan oleh ulama ahli bahasa adalah al-washilah au ath-thariq au as-sabab ilasysyai’ yaitu sarana atau jalan atau sebab menuju kepada sesuatu >> mafsadah au maslahah?, baik itu sesuatu yang merusak atau sesuatu yang maslahat.

nah, akan tetapi kata saddadz dzari’ah atau saddudz dzari’ah ini seringkali diarahkan oleh para ulama ahli fiqh untuk mejelaskan perbuatan-perbuatan yang tidak dibolehkan di dalam Islam. Sehingga kemudian kesimpulan dari saddudz dzari’ah itu adalah menutup sarana/cara untuk mencapai sesuatu. Ucapan atau perbuatan. Sehingga kemudian sesuatu yang mengarah kepada keburukan itu kemudian diharamkan di dalam Islam.
Baik, dasarnya ada beberapa ayat di dalam al-quran. Ini salah satu diantaranya di surat al-An’am ayat yang ke 108, Allaah subhanahu wata’ala berfirman

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٍ۬‌ۗ
“walaa tasubbulladziina yad’una minduunillaahi fayasubbullaaha ‘adu bi ghoiri ‘ilmin.”
walaa tasubbulladziina >> dan janganlah kalian itu mencaci orang-orang yang yad’una minduunillaah (mereka menyembah selain Allaah)
janganlah kalian mencaci non-Muslim. Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, dan agama lainnya. Mereka tidak boleh direndahkan martabatnya, tidak boleh dihina, tidak boleh dicaci. kenapa? fayasubbullaaha
karena ketika seorang Muslim itu mencaci agama orang lain, maka orang itu pun juga akan mencaci agamanya.
bi ghoiri ‘ilmin >> tanpa ilmu
dan tentunya ada pembalasan yang lebih keras (aduwwan)
dan maka kemudian para ‘ulama>> siapapun berdasarkan ayat ini maka tidak diperbolehkan untuk mecaci sesembahan-sesembahan (tuhan-tuhan) selain agama Islam.
ya udah biarkan saja itu keyakinan mereka.

Nah, kata fayasubbu>> fa’ di situ oleh para ulama ahli bahasa bisa diartikan 2
Yang pertama disebut dengan fa’ sababiyah >> apa yang dimaksudkan dengan fa’ yang memiliki arti sebab? fayasubbullaaha > karena sebab cacian kalian kepada tuhan-tuhan mereka, orang-orang yang menyembah kepada selain Allaah subhanahu wata’ala, maka itu menjadi sebab mereka non Islam itu mencaci Allaah subhanahu wata’ala. Di dalam kaidah dalam memahami al-quran itu juga ada hal yang dinyatakan oleh para ulama jadi al-‘ibratu bi ‘umumil lafzhi la bi khususis sabab.
Jadi pelajaran yang b
isa diambil dari al-quranul karim adalah dari kalimat-kalimat yang bersifat umum (fi umubilafdzi) laa khususissabab >> tidak hanya berkaitan dengan sebab-sebab yang terjadi pada saat itu.

Ayat ini memang konteknya adalah larangan Allah subhanahu wata’ala kepada orang yang beriman agar mereka tidak mencaci sesembahan tuhan-tuhan selain agama Islam.
Nah, sehingga ayat ini bisa digunakan pada semua persoalan, pada semua keadaan, apapun sebab yang itu bisa mengarahkan kepada sesuatu yang dilarang, maka itu bisa diharamkan di dalam Islam.

#bersambung… =D

38 thoughts on “Saddudz Dzari’ah [bagian 1]

  1. arlynvoleta said: ilustrasinya tu gambar apaan? doko demo doa?

    hehe.. pintu.. maksudq si menggambarkan pintu menuju kegelapan.. musti ditutup.. hehedoko demo doa opo mba?

  2. jaraway said: al-ibratu fi umubilafdzi laa khususissabab.

    mungkin salah ketik, ya …seharusnya: العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السببal-‘ibratu bi ‘umumil lafzhi la bi khususis sabab … (patokan itu dengan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab)

  3. hwwibntato said: mungkin salah ketik, ya …seharusnya: العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السببal-‘ibratu bi ‘umumil lafzhi la bi khususis sabab … (patokan itu dengan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab)

    oiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…*nepok jidad.. =Dmakasiiii bang hend..*segera diganti

  4. tranparamole said: *angguk2pnjlasan yg mantapp.*nunggu contoh2 lainny

    yooii.. ustadz sholihun gituu..*halah..euung.. sik ya.. hehehe kalo udah taktulis linknya di mari deh insyaAllaah

  5. destipurnamasari said: okee… itu yg aku masih 1/2 mbakk . alhamdulillah…semangat mbaakkk fajarrr!!

    masih 1/2 maksude? yooooooooooii.. smaaangaaaD.. kudu diselingi garapan liyane sik.. kemut2 je.. =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s