Brankas Memori

Yanu pernah menulis di sini tentang memori :


”Sebuah kisah masa lalu hadir di benakku.. saat ku lihat surau itu menyibak lembaran masa yang indah.. bersama sahabatku..”

-Edcoustic, Sepotong Episode-


Memori manusia itu unik, khususnya –setidaknya saya- mereka yang bergolongan darah O. Lupa? Agaknya sudah biasa, sampai kadang memarahi diri sendiri karenanya. Memori milik saya khususnya, aneh. Lupa? Itu seperti hobi, sampai-sampai hati sering menangis, kenapa harus lupa terhadap hal-hal sepenting itu. Tapi ada yang berbeda. Memori saya seperti berkunci. Apa-apa yang pernah terekam akan terus tersimpan namun seperti terpendam. Kalau-kalau satu waktu ada pemicunya, seluruh rekaman itu terputar ulang seperti film yang ada di kotak-kotak televisi.

Pemicu itu bisa apa saja, bisa kata, suara, bisa juga foto. Seringnya kata-kata. Walaupun juga sering pemicu itu muncul, tak seluruh film memori itu terputar, hanya sebagian, atau malahan yang terputar bukan film memori yang tepat (loh).

_________________________________________________________________________

Mungkin karena sama-sama punya golongan darah O, atau punya karakter yang cukup mirip (entahlah) tapi saya juga merasakan hal yang sama tentang memori seperti penggalan tulisan yang saya kutip milik Yanu di atas.

Pernah mendengar suatu kalimat berbunyi

“Sejatinya bukan nama, tanggal, tempat, atau kata-kata yang membuat kita begitu lama menyimpan sebuah memori tetapi ‘rasa’. Perasaan bahagia, perasaan sedih sekalipun atau apapun yang membuat sebuah kenangan itu begitu istimewa bagi kita sehingga ada terus dalam ingatan.”


Ya, mungkin kalimat itu ada benarnya. Bahwa sejatinya belum tentu dengan siapa, atau berada di mana atau di tanggal berapa tapi apa yang kita rasakan saat itu menjadikan sebuah memori begitu tersimpan rapi dalam brankas memori. Bisa selalu kita ingat, atau harus ada pemicu untuk kita memutar kembali rekaman-remakan peristiwa yang pernah kita alami.

Bisa jadi pula di area brankas itu, kita punya kemampuan untuk memilih dan memilah mana ingatan yang masih akan kita simpan atau tidak. Meski kadang tak bisa memilih. Sesuatu yang ingin sekali kita lupakan justru tergambar jelas dalam ingatan kita, namun yang ingin kita ingat-ingat meski dengan berbagai cara tetap tidak bisa memunculkan kembali ingatan itu.

Bagaimanapun, semua itu selayaknya kita syukuri sebagai nikmat dari Allah bagi kita. Karena jika kita mau sedikit saja bersyukur atas begitu banyak nikmatNya, maka akan begitu banyak hikmah yang bisa kita temukan dari ingat atau lupanya diri kita terhadap sesuatu atau banyak hal.



#dan aku, sedang berupaya mencari hikmah ingatan ini.

gambar dari sini

2 thoughts on “Brankas Memori

  1. akuai said: inget apa sih mba? mwahahaha… ketauan kan ngikutin jejakku, sembunyi2 postingnya :))menyenangkan, kan? jadi lebih plong curhatnya. haha

    hihihi.. inget tentang yang mirip Ai.. sama tentang apel.. hahahaha =Dyeee.. awalnya ga ngikutin jejakmu.. awalnya nyoba2.. trus iseng ngeliat jurnal2 orang.. ternyata ai dari lama bikin ginian.. ekekehooh.. beneeer banget =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s