Kitab untuk Sang Ustadz [siapa mau ikuuuut? ayoo ikuutan =D]

“Saya mencoba menawar agar pembeliannya bisa dicicil sejuta per bulan…” Ujar Solikhun, ustad muda yang kerap jadi rujukan para aktivis Islam di Yogyakarta. “Tapi tidak diperkenankan. Harus tunai Rp 7 juta.”


Ilustrasi bukan kitab dimaksud, diambil dari http://kitaabun.com
Keinginan ustad yang menggeluti kajian fikih secara komprehensif dan lintas mazhab ini adalah menuntaskan kedahagaannya akan sebuah hadis. Satu hadis yang diperselisihkan derajatnya oleh para pakar hadis kontemporer, semisal al-Albani dan al-Arnauth. Kitab Ta’liq Musnad Imam Ahmad seharga 7 juta rupiah harus dipesannya ke Timur Tengah. Sayang, keinginan Solikhun untuk sementara ini terpendam.

Meski berpendidikan formal tidak sampai jenjang SMA, jangan salah sangka pada gairah ustad dari Jawa Timur ini dalam mereguk ilmu. Keingintahuannya soal hadis di atas menggambarkan bagaimana ia takpuas dengan keterangan yang sepotong-potong.
Suatu ketika, ia pernah bercerita harus merogoh isi dompetnya untuk membeli kitab (Solikhun hanya membeli kitab rujukan dalam bahasa aslinya, Arab) seharga yang bikin mahasiswa mengernyitkan dahi. Tanpa ada beban, ia relakan uang yang ada untuk memenuhi hasrat mencari ilmu agama.
Kitab 7 juta (kalau taksalah karya Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth) terdiri dari 51 jilid. Ia merupakan referensi yang rencananya akan digunakan Solikhun buat mengajar dan sekaligus menulis. Sebuah tema thaharah tengah dia coba rampungkan untuk buku pembelajar Islam awal. Begitu pun tema-tema yang lain. “Saya sudah membuat outlinenya, Mas.”
Sebagai penghematan, menurutnya, bisa saja kitab itu ia unduh dari Maktabah Syamilah. Tapi untuk dikaji, format kitab—apalagi hingga 51 jilid—lebih memadai dalam bentuk konvensional, cetak. Malam Ramadhan kemarin, saya bisa merasakan getirnya hasrat menuntut ilmunya yang belum padam meski kitab incarannya belum teraih.
Sungguh saya kadang merasa malu pada ustad ini. Cita-cita dan himmahnya (passion) mencari ilmu begitu mewarisi seorang sarjana mumpuni. Takberlebihan ketika Daud Rasyid, salah satu doktor hadis yang dimiliki negeri ini, mengomentari kemenggebuan Solikhun dalam mencari hadis dimaksud di atas. “Yang Antum ingin ketahui itu sebenarnya bahan kajian di pascasarjana Al Azhar.”
Tentu, Solikhun tidak berniat jumawa atau gagah-gagahan mencari kitab demi popularitas. Ia justru sosok bersahaja yang rela keluarkan dana pribadinya demi ilmu. Sementara beberapa koleganya memilih berdakwah di parlemen, ia terus membina anak-anak muda dengan tsaqafah dasar secara runut dan sistematis. Sebuah pilihan yang mestinya ada perhatian dari komponen umat.
Semisal persuaan malam itu saya punya dana berlebih sesuai harga kitab yang diburunya, takragu diwakafkan pada Solikhun. Atau paling tidak, saya bisa membantu membelikan beberapa jilid, yang sisanya saya berharap ada empati serupa dari beberapa rekan yang memiliki rezeki lebih. Wakaf ataupun infak buku kepada seorang ustad atau guru yang teruji ketulusannya berbagi ilmu, sungguh sebuah aktivitas agung. Terlebih di Ramadhan.
Maka, diam-diam, saya taksampaikan pada sang Ustad ajakan dan lontaran ini: wakaf buku berjamaah guna membelikannya kita Ta’liq tadi. Saya tahu, ia takenak kalau diberitahukan. Selaku umat yang butuh pencerahan ilmu agama, zalim rasanya kita hanya mendengar kajian-kajian Ustad Solikhun sementara kita takmau tahu ia begitu memikirkan sebuah kitab yang dipandangnya amat penting namun sayang belum mampu terbeli.
Anda tergerak? Ayo kita bantu diam-diam dalam kejutan produktif, sebelum kitab itu kian naik hargannya. Kontak e-mail saya saja buat tanya soal teknisnya. []

Catatan:
Semalam (25/7), kepada saya Ustad Solikhun hanya singgung angka 7 juta. Angka ini sudah lama (karena beliau juga pernah bilang di beberapa bulan sebelumnya), maka dalam gerakan ini kita cadangkan kenaikan harga kertas dan bea kirim dari Timur Tengah. Saya hitung-hitung kebutuhan untuk 51 jilid kira-kira Rp 200 ribu/jilid. Tentu wakaf pembaca budiman tidak dibatasi. BIlapun dana terhimpun dari wakif berlebih, rencananya akan kami persilakan ke Ustad Solikhun untuk membeli kitab yang masuk dalam prioritas berikutnya, insya Allah.

GERAKAN WAKAF KITAB Bisa dikirim ke Rek. BRI Syariah cab. Jogja 1003752522 atas nama Muhammad Adhi Fibrian Ali Saifulloh. Tuliskan keterangan “Wakaf Kitab” saat mentransfer ya. Kontak pengelola gerakan: Brian (0857 2975 1825)

#fajar copas dari blognya pak Yusuf Maulana editor pro-u di sini
___________________________________________________________________________________

teman-teman yang sering ke lapak fajar mungkin sudah tak asing dengan nama ustadz Sholihun ini. Beliau ustadz di jogja yang paling fajar favoritkan. Yang pertama mengenalkan cinta pada kitab, kesungguhan cinta pada ilmu-ilmu ‘ulama. Fajar sering mengistilahkan beliau dengan “ustadz kitab berjalan”. Ngefans berat deh ah.. hehehe.. Pagi ngisi sore siang ngisi sore ngisi dari berbagai kitab pun ngalir aja.. masyaAllaah. dan daya ingat belaiau itu luar biasa. dari kitab apa gitu tau. Meski secara formal beliau tak pernah mengenyam bangku kuliahan. Tapi ilmunya luaaaarrr biasa. Manteb. Wawasan mengenai dakwah kampus pun ke
ren. Dan dakwah sya’bi pun TOP BEGETE. Beliau wawasannya sangat luas mengenai persoalan-persoalan real yang ada di masyarakat dan bagaimana kita harus menyikapinya secara kultural.

Oiya dulu fajar juga pernah bilang (di qn kalo ga salah) kalo beliau itu pernah bilang “kitab ini lebih penting dari istrinya” ketika kehilangan sebuah kitab berharga. Sedihnya luar biasa. Begitu cintanya pada ilmu.

Pernah dulu di sebuah tatsqif beliau bercerita penuh canda mengingat-ingat peristiwa beberapa hari sebelumnya, bahwa beliau baru saja minjem uangnya brian (waktu itu brian juga ada di situ) untuk membeli kitab-kitab. “Ya kemarin terpaksa pinjem uang mas Brian, buat beli kitab.” sambil tertawa. Nilainya jutaan waktu itu. Waktu itu fajar hampir nangi dengernya. Tertampar. Belum bisa memprioritaskan dana demi ilmu seperti itu. Dan beliau dengan keterbatasan yang ada tak mengenal kata cukup untuk ilmu yang dimiliki. Pembelajar sejati.

Jadi bagi rekan-rekan yang berkenan untuk ikut serta dalam wakaf ini, fajar seneeeng banget. hehehe. InsyaAllaah akan menjadi amal jariyah dan berbuah ilmu yang bermanfaat. Kitab itu akan dipegang orang yang sangat tepat dan tertularkan ilmunya ke khalayak luas… jadi.. yuuk.. *halah.. hehehe..

Jazaakumullaahu khoyron

Kalo ada yang mau bantuin nyebar silakan.. =) *sangat senang… hehehe *mauuunya..

Advertisements

#PrayForPadang


Keadaan terakhir banjir bandang limau manis

Keadaan trahir bajir bandang limau manis on Twitpic

Info via wartawan Padang TV melalui BBM pkl 18.30 WIB


Galado atau semacam longsor akibat hujan terus menerus dr pagi

Sambut Ramadhan Penuh Cita dan Cinta #2

Oukeh, lanjutan dari jurnal yang di sini nih. maaf telat. hehehe. Kumat malesnya.. =D

Puasa itu wajib bagi setiap Muslim yang sudah mukallaf. anak-anak boleh latihan, tetapi disesuaikan dengan kemampuannya. Jangan sampai anaknya baru 3 tahun orang tuanya nyuruh puasa, bisa sakit, bahaya.

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Al-Baqarah:185. jadi barangsiapa yang sakit atau bepergian boleh tidak puasa lalu mengganti di hari lain.

Lalu bagaimana dengan orang yang sakit flu, atau yang menderita panu di punggungnya? ya ga berlaku. Tapi ada yang bilang, lha di ayatnya cuma sakit, ga ada istilah sakit berat. Trus yang safar dari sini ke jakarta tapi naik bis AC ke jogja lanjut naik pesawat AC juga cuma 50 menit. Nah, untuk yang seperti ini baca ayat ini sampai selesai. masih ada lanjutannya..

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

dari bagian ayat itu bermakna bahwa sakit & safar yang diperbolehkan untuk tidak puasa adalah yang jika puasa itu kesulitan. Bukan yang dibuat-buat sulit.

Mungkin seperti yang sakit gula. Yang gula darahnya dah 600. Atau yang sakit dah mau meninggal tapi ga jadi.

Trus kalo tentang maag? Nah maag ini kata dokter bukan karena telat makan, tapi karena pikiran. Jadi pikirannya dah mau makan tapi ditunda-tunda. kalau puasa kan kita ga mikir makan. Jadi ya bukan masalah.

Dan kalau kita lihat di ayat sebelumnya 184 ada bagian

وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu”

Orang-orang yang berat berpuasa itu antara lain:

1/ wanita hamil dan menyusui [ al-hamil wal murdhi’u *bener ga ya bahasa arabnya ato fajar salah dengar =D]
wajib bayar fidyah. ga usah dobel dengan mengqadha’. rukhshah itu tidak mungkin lebih berat dari kewajibannya. Kalo lebih berat itu hukuman. Bukan rukhshah. Kalo dibayangin sekali punya anak hamil dan menyusui 2 tahun, 3 periode puasa; kalo anaknya 4, 12 tahun gimana cara qadha’nya.

2/ orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh
bukan yang masih ada kemungkinan sembuh. Semisal yang sudah divonis dokter ‘tak ada harapan lagi”.Langsung bayar fidyah.

3/ al-ajuz (orang yang sudah sangat tua)
langsung bayar fidyah.

Sunah-sunah puasa:
1) mengakhirkan makan sahur [ta’khir sahur]
kalo rosulullaah biasanya setelah sahur baca quran sekitar 50 ayat setelah itu tiba waktu shubuh. Nah kalo dikira-kira 50 ayatnya rosulullah itu 10 menit, makanya ada waktu jaga-jaga atau kita istilahkan imsak. Ingat> imsak itu bukan awal waktu puasa.Tapi waktu jaga-jaga.
Imsak itu semacam lampu kuning. Nah kalo lampu kuning itu maknanya apa? biasanya bapak-bapak justru tancap gas. Nah, kalo ada yang udah ambil makan sepiring ayam goreng sayur, dsb baru satu suap imsak. Saatnya tancap gas, bukan malah didiemin tapi diliatiin terus. Masih ada sekitar 10 menit, yang bisa jadi akan habis. Tapi kalo yang sudah jalan pelan-pelan dari jauh. Dah makan sahur dari agak awal, kan bisa berhenti ketika saat imsak itu hadir. kayak mobil dari jauh dah pelan-pelan waktu lampu kuning berhenti ga ketabrak.

2) menyegerakan berbuka [ta’jil pake ‘ain]
bukan ta’jil pake hamzah ya. karena artinya kebalikannya. menunda. Jadi segera berbuka. Jangan sholat maghrib dulu baru buka. Buka segera setelah tiba waktu maghrib lalu sholat.

3) berbuka kurma atau air putih. Atau dengan yang manis-manis tapi alami (belum tersentuh api)
jadi kolak ga termasuk ya ini.
kurma atau yang manis-manis itu bisa dengan cepat mengembalikan kekuatan kita sehingga bisa untuk sholat dan sebagainya. Kalo langsung nasi, energinya ga bisa langsung kembali dari nasi itu. perlu waktu sekitar 2 jam baru jadi energi.

4) baca quran
Ramadhan sering disebut juga Syahrul quran > quran turun pertama pas bulan ramadhan

من قرأ حرفاً من كتاب الله فله به حسنة ، والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول ” ألم” حرف ، ولكن ألف حرف ، ولام حرف ، وميم حرف

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan aliflaammiim itu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

apalagi pas Ramadhan, pahalanya lebih berlipat-lipat lagi.

sebaik-baik waktu baca quran ya ketika qiyamul lail. seperti yang ada dalam surah al-muzzammil

قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا

“bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),”

نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا

“(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,”

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”

Rasulullah kalau sholat malam itu paling sedikit 2,5 jam lah.

5) perbanyak shadaqah

Jangan hanya puasa lahir.
Bulan ramadhan ini kita diperintahkan untuk menahan diri dari hal-hal yang halal. Jika untuk hal-hal halal saja kita bisa menghentikannya apalagi untuk hal yang syubhat terlebih lagi haram.Hingga kita selesai ramadhan ini bisa ‘ka yaumin……… ‘ “sebagai suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Dibawakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Latho-if Al Ma’arif, hal. 373-374).. Itu hanya jika puasa kita benar. Bukan hanya lapar dan dahaga.

Semoga kita disampaikan pada bulan ramadhan. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan pada kita untuk menjalankan puasa 1 bulan penuh dengan optimal dan bukan sekadar puasa lahir saja.

Wallahu a’lam bish showwab
#yang merah itu kalimat tambahannya fajar =p
#gambar dari sini

Sambut Ramadhan Penuh Cita dan Cinta [ustadz Yunahar Ilyas]

Motivasi Ramadhan
Sambut Ramadhan Penuh Cita dan Cinta

Kajian Ahad (Jihad) di Masjid Nurul ‘Ulum SMP N 2 Kota Magelang
Ahad, 15 Juli 2012 pukul 07.00-08.00
Bersama Prof. DR. Yunahar Ilyas,Lc.,M.Ag.

Kalo udah deket puasa begini, komentar orang tu ga sama
Ada yang bilang “Ah, udah puasa lagi” > ada semacam keengganan bertemu Ramadhan
Dan ada yang menyambut dengan syukur dan suka cita.

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا

“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya. ”
{setau fajar pernah baca di sini kalo Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (palsu).
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/190], Abu Ya’la Al-Mushili di dalam Musnadnya [IX/180], dan selain keduanya.
Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Jarir bin Ayyub. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya: Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain mengatakan bahwa dia suka memalsukan hadits. Al-Bukhari, Abu Hatim, dan Abu Zur’ah mengatakan bahwa dia adalah Munkarul Hadits.
Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Jika haditsnya shahih …”(Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa beliau tidak memastikan keshahihan hadits)
Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/103] dan juga Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 74] menghukumi dia (Jarir bin Ayyub) adalah perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-.
Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.}

Kalo yang ada di sini komentar yang mana? Jawab dengan jujur. Siapa yang pengen Ramadhan sepanjang tahun? Yang pasti suka tu pedagang. Pengen kalo bisa sepanjang tahun itu Ramadhan terus, Idul Fitri tiap bulan. Jadi laris manis.

Tapi sebenarnya kalo kita hitung dengan bulan syamsiyah Januari-Desember semua bulan kebagian Ramadhan. Ibadah puasa kita dihitung berdasarkan kalender qomariyah yang setiap bulan kalo ga 29 ya 30 hari. Artinya bulan Januari sampai Desember pernah merasakan Ramadhan.

Kita mustinya bersyukur kalo di Indonesia ini ga terlalu ekstrem perbedaan pergeseran itu. Ga terlalu ekstrem suhu dalam musim-musimnya. Tapi kalau negara dengan 4 musim, terasa sekali perbedaannya.

Saya pernah Ramadhan di Berlin Barat, buka puasa di sana pukul 21:15, shubuhnya pukul 2:30. Pas musim panas. Jadi sahur itu jam 2-an baru berbuka ya pukul 21:15 malem. Tapi pernah juga pas musim dingin di Los Angeles shubuh jam 7 pagi buka jam 5 sore.

Sekarang ini Saudi itu sedang musim panas, saya hari Rabu kemarin baru balik dari sana, suhu ketika Shubuh itu 40 derajat Isya’ juga 40 derajat. Jangan tanya pas tengah hari. Luar biasa panasnya. Nanti Juli lebih panas lagi, Agustus juga lebih lagi. Ada di belahan bumi itu yang kebagian puasa 21 jam. Bayangkan.

Kalo menjelang Ramadhan gini ada berbagai spanduk berbagai macam tulisan. Ada yang “marhaban ya Ramadhan”. Marhaban itu maknanya menyambut dengan senang hati (lapang dada). Tapi ada juga yang nulis “ahlan wa sahlan” kalo ini ga tepat. Karena ahlan wa sahlan itu untuk makhluk yang bernyawa. Ahlan > keluarga. Sahlan > mudah. Jadi ga pas kan kalo menganggap ramadhan sebagai keluarga.

Kalo di luar negeri Eropa atau Amerika gitu di masjid disediain buka, ga cuma ta’jil. Karena mereka memang menunggu-nunggu momen itu. Ada satu kisah mahasiswa asal Arab sedang studi S2 di Amerika kos(homestay) di tempat profesornya. Sebelum bulan Ramadhan datang dia bilang lah sama sang profesor kalau jadwal makannya berubah, karena mau puasa. Dan ga perlu disediain buka puasa karena bukanya di masjid. Nah, tinggal makan sahur aja. Eh si profesor ini bilang “kalo gitu saya ikut”. Dan benar, dari hari pertama dia ikut puasa dan ikut ke masjid untuk berbuka. Tapi di beranda masjid, karena bukan Muslim. Ikut lesehan gitu. Kalo orang Barat kan makan dengan lesehan itu sesuatu yang begitu langka. Dan dia menikmatinya. Kalo pas sholat tiba dia nunggu di luar.

Sampe 17 hari begitu terus. Dan di hari ke 17 dia bilang mau ikut masuk. Si mahasiswa kan jawab, ya ga boleh, yang boleh masuk cuma yang Muslim. Lalu sang profesor bertanya, bagaimana caranya biar saya bisa masuk. Ya harus masuk Islam. Ya sudahlah, saya masuk Islam. Akhirnya dituntun untuk bersyahadat, dan bisa masuk ke masjid. Hidayah itu muncul hanya dari karena ikut puasa dan ikut berbuka di masjid, kebersamaan yang dirasakan. Sebelum sholat harus wudhu diajarilah bagaimana. Lalu kalo pas sholat liat aja orang-orang bagaimana. Ikuti saja dulu gerakannya. Akhirnya begitulah dan sang profesor benar-benar masuk Islam. Masya Allah, berkah buka puasa bersama itu. Sangat besar pahala orang yang memberi makan orang berbuka.

Ramadhan > Bulan penuh berkah atau sering disebut Ramadhan Mubarak
Kita review sedikit tentang ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan ini.

Yang pertama Puasa itu sendiri.
Tentang puasa ini, bisa kita lihat perintahnya dalam surah Al-Baqarah ayat 183, 184, 185, 187. Ketika di Makkah belum ada perintah puasa. Ayat-ayat itu turun di Madinah. Jika kita lihat dai Al-Baqarah 183 perintah puasa itu diawali dengan kata “kutiba” (kalau di dalam al-quran kalimat perintah itu ada yang kutiba, ada amara, ada yang dengan fi’il mudhari’ saja) nah maknanya perintah puasa itu sudah ada sebelumnya, di kitab-kitab sebelum quran sudah ada perintah puasa. Seperti perintah perang.

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“… sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu …”

ash-shiyamu > itu artinya al-imsal > menahan
maka dari itu rukun puasa ada 2, yang pertama niat yang kedua adalah imsal (menahan).

1) niat

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan… “

Niat itu di hati bukan di mulut. Ga ada niat itu dilafadzkan. Jika ada yang me
lafadzkan niat itu dalam rangka menyemarakkan dan menyemangati puasa ya boleh saja, tapi itu bukan niat, tradisi saja. Kalo sudah bangun makan sahur itu sudah niat. Silakan saja kalo mau ada yang membaca bacaan niat itu, tapi bukan berarti yang tidak membacanya itu tidak sah puasanya. Itu hanya tradisi saja.

2) imsak (menahan)

Menahan makan, minum, dan yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Nah kalo merokok masuk makan apa minum? Makan rokok, bukan. Minum rokok, ga pas juga. Jadi ada yang ngeles tuh, berarti gapapa puasa ngerokok. Kalo para ulama di kitab-kitab fiqh hal merokok ini dimasukkan dalam kitab minum. Minum asap.

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar …”

Ada shahabat yang lugu jadi bawa benang hitam dan putih ditaro di bawah bantal. Diliat beda ato ga. Bukan seperti itu ya, maknanya adalah fajar.

ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

“… Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam …”

>terbenam matahari. Ketika tiba waktu shalat maghrib, jadi jangan nunggu adzannya, lha nanti muadzinnya batalin dulu makan kolak ama nasi dulu baru adzan repot.

Yang membatalkan puasa :
Makan, minum, merokok (buat yang masih suka buang-buang uang), melakukan hubungan suami-istri > ini bahaya sekali kalau dilanggar karena bukan hanya puasanya yang batal tapi juga harus membayar kafarat membebaskan budak, atau puasa berturut-turut 2 bulan atau memberi makan 60 kali. Jadi yang nikah di bulan Sya’ban hati-hati ini, pengantin baru, mendingan pas puasa jauh-jauhan dulu. Pulang baru pas malem, buka. *lirik rifi, miftah, suci =p

Muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa. Kalau muntah karena mabuk perjalanan itu tidak sengaja, jadi tidak batal puasanya. Kalo ada seseorang yang menderita asma lalu make inhaler itu juga gapapa. Disuntik juga tidak membatalkan puasa, suntik obat itu gapapa. Tapi kalau sampai ke infus itu berarti sakitnya sudah berat. Dan itu masuk seperti makanan ke dalam tubuh, batal.

#baru separo, lagi super males ngetik nih. Ehehehe.. bentar yak, pending. Lanjut di jurnal berikutnya insyaAllaah. =D yang tarhib IKADI Sleman juga pending, belum takketik.. sabar yaa.. yang nungguin hehe

#yang merah itu kalimat tambahannya fajar =p

*huaaaa akhirnya bisa ketemu ustadz Yunahar di Magelang dan fajar duduk paling depan. Uhuuy.. deg2an pol deh ah.. wekekeke..

gambar dari sini

[Aku dan Kain Gendongan] Bocah Kecil Juga Kuat Nggendong Dong

Ahai.. Aku dan kain gendongan punya banyak kenangan tak terlupakan. *eeeaaa Terlebih karena aku anak pertama di keluargaku. Dari mulai adikku yang cowok lahir. Yap, selisih 8 tahun membuatku mau ga mau sudah diajari cara momong adik, gendong lah, nyuapin lah, nyuciin popok lah, ngajak main lah bahkan mandiin juga. ahahaha. Pernah kena timpuk gunting ama dia, ampe berdarah di jidat. Hoaaaa. Hihihi.

Nah.. dari usia 8 tahun inilah aku mulai mahir menggunakan kain gendongan buat nggendong adik..
Berat?! Iyaaaa.. Apalagi dia endut. Aseliii endut bangeeett. qiqiqi.. Buat badan anak berumur 8 tahun waktu itu lumayan ngos-ngosan lah kalau bawa dia jalan-jalan. Tambah badan Fajar kurus kering waktu SD. hahaha. Sampe gulungan di belakang punggung nglungkerinnya ga jelas numpuk-numpuk. haha. Lah gimana enggak, Fajar hobinya pecicilan sama lari-larian ini disuruh anteng jalan pelan-pelan takut lepas bawa anak orang. haghag.

Awalnya kalo gendong pake kain gendongan dipasangin ibu buat ngiket belakangnya. Tapi lama-lama bisa sendiri. hihihi. Meski sering ga pas prediksi panjang yang musti disisain. Jadi agak ga enak body *halah musti nggulung banyak atau kurang panjang jadi gampang lepas.. Ribet lah. Atau kasus yang ini nih, posisi kain di depan badan nggantungnya ga pas. Kepanjangan kalo ga kemepeten itu juga bikin kerasa super berat. Kalo ga pas gitu seringnya ga enak di pundak kanan, jadi kerasa tambah berat gegara salah posisi. Heu. Kalo dipasangin ibu sih beda, bisa langsung teplek dan enak gitu di badan *kayak make apa aja ahaha.

Selain buat nggendong juga buat nggedhong. Yap, buat bedhong bayi gitu. ehehe.. Panjang bener yak kain bedongnya. haha. Ga kayak sekarang yang lebih praktis =D. Jadi anget plus kenceng gitu ga gampang lepas bedongannnya. Kayak gini nih adikku yang kecil kalo pas dibedong:

Kembali ke urusan gendong-mengendong. Pas Fajar masih bocah, yang digendong ga cuma adik kandungku yang berjarak 8 tahun itu. Tapi pas aku berumur sekitar 11-12 tahun lahirlah generasi kedua cucu-cucu simbah. Ya, sepupu-sepupuku. Ada 3 orang. Anehnya mereka tuh, tiga-tiganya lengket banget ma aku. Heu. Tambah 1 ponakan dari mba sepupu. Jadi 4 orang, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Kalau aku ke tempat simbah (keluarga paling jauh dari rumah simbah ya kami) mereka nempeeeeel terus deh. Maunya dimong sama mba sepupunya satu ini. Alhasil, ga jauh-jauh lah ama yang namanya kain gendongan. Hohoho. Kenangan yang kadang diinget-inget ngeselin tapi juga nyenengin pas sekeluarga besar bareng-bareng piknik ke pantai. Naik truk. Hahaha. keren kan. Lah mereka tu maunya di truk duduk berdirinya di deketku sambil nengok pemandangan lewat sela-sela kayu pinggir truk. Ga mau lepas. Ahaha. Pas di pantai juga gitu. Jadinya orang tua mereka (om-om, bulik-bulik, mba & mas sepupu) asyik main di pantai aku ni jadi baby sitter seharian. Bagooos.. ahahaha.. sopan bener deh mereka ama bocah. Mentang-mentang aku masih bocah ‘diperdayakan’. haghaghag.

Begitulah kisah klasikku dan kain gendongan. Eh, kalo aku sendiri dulu pas bayi suka diayun pake kain gendongan ini ampe bobo’. Ada satu tempat tidur yang ada besi-besi buat kelambu gitu. Nah, tu kain digantungin di situ. hihihi. Kalo sekarang ya jebol deh tu kain kalo buat nggantung.. haghaghag.. =D

*udah janji ikutan lomba di sini =D
mepet deadline nih. ahaha.. pas tanggal 13 nya
jumlah kata : 497

[Xenophobia] Akan Kubenci Papua, Jika …

Dua P; Palestina dan Papua adalah tempat hatiku terpaut sejak lama. Rasa cinta kepada dua tempat ini merupakan cinta pada impian yang sulit diungkapkan. Memburu kesempatan menemui mereka adalah cita-cita. Berkarya di dua wilayah ini adalah harapan terbesar dalam kontribusi yang ingin kupersembahkan pada tanah air. Bahkan mati syahid di sana (Palestina) adalah cita-cita tertinggi.

Mengenai Palestina, tak perlu lagi kuutarakan mengapa saya begitu getol menyapanya sebagai tanah airku. Terlalu banyak alasan untuk mencintainya. Maka kali ini izinkanlah untuk menorehkan tentang Papua dalam tulisan yang merupakan tumpahan hati ini.

Papua -atau saya ingin menyebutnya Nuu War- seperti yang sering disebut ustadz Fadzlan (da’i ‘Sabun Mandi’ asli sana). Beliau lebih sreg menyebut nama Nuu Waar bagi tanah kelahirannya, bukan Papua atau Irian. “Itu nama Irian dulu, bahasa Irian. Nuu artinya cahaya, waar menyimpan rahasia,” jelasnya ketika menjawab pertanyaan mengapa lebih memilih istilah Nuu War daripada Papua.

Entah kapan tepatnya saya mulai menambatkan hati pada Nuu War ini. Namun memang tak pernah terpikirkan dalam lintasan pikiran sekalipun untuk hidup di kota besar apalagi metropolitan. Sejak di bangku sekolah pun saya termasuk orang yang sangat ingin berpetualang ke daerah pelosok. Jadi ketika mengenal sosok Nuu War beserta seluk beluknya tertanamlah cita-cita untuk mengabdikan diri di sana.

“Mengapa Papua?!” Pertanyaan ini cukup sering diajukan oleh mereka yang mengetahui cita-citaku. Beberapa orang menganggap itu hal ‘gila’. Banyak pula yang terkesan meragukan, tak sedikit yang mewanti-wanti. Melemahkan. Bahkan sampai pada tahap ‘jangan’. Ya, melarang. Tapi apa mau dikata, namanya juga cinta, semakin dilarang semakin menggilainya. *eeaaa

Setidaknya beberapa hal ini yang sering diutarakan agar saya ‘membenci’ Nuu War. Atau paling tidak mengurungkan niat dan menghapus cita-cita tinggal di sana:

1/ Tidak Aman

Berita tentang suasana tak aman di Nuu War tentu sudah bukan barang asing lagi bagi kita. Organisasi Papua Merdekalah yang menurut media merupakan pelaku teror. Korban jiwa tak sedikit. Belum lagi jika ada perang antar suku atau pilkada yang rusuh. Senjata-senjata tradisional jadi alat eksekusi mematikan atas rasa ketidakadilan yang mereka alami.

Sesuatu yang sering disebut ‘nyawa dibayar nyawa’ tentu bagi manusia normal itu menakutkan. Suasana tidak aman. Nyawa yang terancam, dan berbagai hal tidak nyaman lainnya tentang situasi di wilayah itu sering menjadi momok yang disematkan orang-orang untuk menghambat pemburuanku menuju Nuu War.

“Tuh, kamu mau mengabdi di tempat rusuh kayak gitu?”

“Ntar kena bidik panah ato tombaknya lho, serem”

“Tiba-tiba ketembak OPM, gimana?”

Saya bukan orang yang tak punya rasa takut mati sama sekali. Namun tentu, sebagai orang yang beriman saya mempercayai Allah sudah mengatur kapan kematian itu akan menemui saya. Jadi mengapa mengurungkan niat hanya karena takut mati. Dari ketidakamanan itu justru saya berpikir bahwa banyak yang tidak beres di sana. Daerah yang begitu kaya SDA namun pembangunan dan kualitas SDMnya sangat tertinggal.

Pernah saya dengar istilah ‘anak ayam yang mati di lumbung padi’. Ya, mereka berada di ‘lumbung padi’ yang begitu kaya. Namun dikeruk untuk kekayaan asing, untuk dikorupsi oknum pejabat nakal, untuk ‘menyubsidi’ pusat, lalu akhirnya justru kelaparan. Dari bukit emas kini tinggal lembah curam akibat ulah asing dengan bantuan pejabat negeri sendiri. Semua digadaikan karena uang. Termasuk harga diri sebuah daerah bernama Nuu War.

Ketidakadilan inilah pemacu dan pemicu kondisi tidak aman serta keinginan merdeka. Selain campur tangan asing tentunya. Konflik pilkada -karena ulah sang calon kandidat berasal dari partai tertentu lalu terjadi pertikaian- serta perang antar suku utamanya timbul karena tingkat pendidikan di sana sangat rendah. Fasilitas pendidikan sangat minim. Jelas saja jika banyak hal diselesaikan dengan ‘otot’. Bahkan ustadz Fadzlan menyatakan ada upaya untuk menjadikan pemuda Nuu War tetap bodoh dengan membuat mereka mabuk-mabukan. Ada yang menyuplai minuman beralkohol di wilayah itu hingga dengan mudah dijangkau anak mudanya. Mengerikan!

Lalu apakah saya harus diam saja jika mereka yang ingin ‘menghancurkan’ cintaku itu. O.. tentu tidak. Katakan TIDAK!

2/ Terbatasnya akses dan jauh dari fasilitas.

Sekitar satu tahun saya pernah membantu pekerjaan notaris dan oleh bu notaris saya satu waktu ditanya tentang cita-cita. Saya sampaikanlah tentang ‘kegilaan’ saya ingin ke Nuu War, dia kaget dan menyayangkan. “Apa ga sayang kemampuan dan kecerdasanmu jika hanya dibawa ke sana? Kayak dek Fajar bisa lah kerja di kota besar punya penghasilan besar” ucapnya berharap saya memikirkan lagi keinginan itu. Saya hanya tersenyum.

Saat ada tayangan di televisi tentang sulitnya anak-anak di daerah pelosok menjangkau sekolah, harus berjalan begitu jauh melalui tebing curam bahkan harus menyeberang sungai dengan berenang ada komentar dari ibu saya “Kamu mau kerja di daerah begitu? Belum nyampe tempat ngajar dah ambruk” . Ini bukan tanpa alasan, namun memang kondisi fisik saya akhir-akhir ini setelah merasakan banyak penyakit cukup lemah. Jadi tentu saja ada kekhawatiran orang-orang yang menyayangi saya jika saya harus berada di daerah yang akses jalannya sulit.

Belum lagi jika ada tampilan kehidupan suku-suku di Nuu War yang diliput. Rumah-rumah mereka yang ada di pohon tinggi menjulang. Jalan yang sangat sulit dilalui masih harus ‘babat alas’. Belum lagi tak ada listrik, masak juga tak ada kompor.

Namun entah mengapa justru rasa penasaran dan makin cinta yang tertanam. Bukan ketakutan akan kendala-kendala yang sangat mungkin akan dihadapi. Saya merasa makin tertantang. Akan selalu ada jalan, insya Allah. Akan ada kemudahan-kemudahan beserta kesulitan.

Saya pikir di daerah kota besar sudah terlalu banyak ‘lampu sokley‘ yang memberi terang. Padahal cahaya saya hanya 5 Watt, kadang kurang. Tentu tak bisa berbagi cahaya di daerah yang sudah begitu terang benderang. Saya memilih menyalakan 5 Watt milik saya di tempat yang saya pikir masih ‘gelap’.

Ada juga celetukan iseng “ga bisa online nanti loh, sinyal aja ga ada”. Ahaha. Iya sih, memang itu kadang menggalaukan, tapi itulah serunya. Akan terasa sangat indah kesempatan bertemu kota dan sinyal ataupun akses internet. Hahaha. Pasti seru. “Di kotanya ada sinyal juga kalee”, santai jawaban saya tentang itu.

3/ Islam minoritas

“Islam itu minoritas di sana dan kamu dengan jilbab lebarmu akan menjadi orang aneh di sana.” Kalimat ini kadang cukup mengganggu saat didengar. Bagi kebanyakan kita jika menyebut Papua maka yang terbayang adalah budaya paka
ian koteka, budaya adat yang di sekitarnya babi semua, makanannya serba babi dan juga adanya jumlah penderita HIV AIDS yang sangat tinggi karena **** bebas di sana parah. “Lalu kamu, orang Jawa Muslimah berjilbab mau ‘kluyuran’ di daerah seperti itu. Jangan gila deh.” Mungkin itu celetukan yang acap kali mampir.

Baiklah kita luruskan. Sejatinya, Islam telah menjadi bagian integral dari perkembangan masyarakat Papua. Seperti tertulis di buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian karya Ali Athwa (wartawan Suara Hidayatullah), Islam justru datang lebih dulu dibanding Kristen.

“Islam adalah agama pertama yang masuk Papua. Orang Islamlah yang mengantar Pendeta Otto Gensller ke Irian tanggal 5 Februari tahun 1885. Saat itu, Syaikh Iskandar Syah dari Samudera Pasai sudah datang, pengaruh Raden Fattah dari Kesultanan Demak juga sudah ada, hubungan Muslim Irian dengan Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku pun erat.”

Menurut ustadz Fadzlan Garamatan, kerajaan-kerajaan Islam saat itu berdiri di berbagai wilayah. “Ada 12 kerajaan, di bagian selatan ada 9, ada pula di utara, termasuk di kawasan Wamena, namanya Kerajaan Abdussalam Nowak. Salah satu keturunan Nowak ini adalah Haji Aipon Asso, tokoh masyarakat Wamena,” urai Fadzlan yang kini tengah melakukan penelitian tentang sejarah Islam di Nuu Waar.*1

Dakwah beliau sungguh menginspirasi saya untuk ikut serta. Ratusan suku telah memeluk Islam melalui perantaraan beliau. Sembilan ratusan masjid telah tersebar di Nuu War, ribuan orang dimandikan secara massal, diajari cara berpakaian, dikhitan, kemudian dituntun mengucapkan kalimah syahadat. Sungguh indah. Dan muslimah asli Nuu War banyak yang sudah mengenakan jilbab. Cantik. Membuat iri wanita-wanita asli Nuu War yang belum berpakaian muslimah. Subhanallah.

Mau ngapain di sana?

“memang ngotot banget mau ke Papua, mau ngapain ke sana?”

Saya hanya menjawab 2 hal ketika ditanya itu.

1. Menegakkan kalimat Allah.

Saudara-saudara sesama Muslim di sana jumlahnya kini telah begitu banyak. Saya ingin berbagi akan ilmu mengenai Islam yang telah saya peroleh di wilayah ber‘lampu sokley’ kuat dan ingin ikut belajar (sejatinya saya pasti akan lebih banyak belajar tentang kehidupan). Tugas dakwah bagi setiap Muslim itu wajib, dan bumi Nuu War juga memiliki hak dakwah.
Sederhana saja.

Saya sangat terinspirasi melihat tayangan di Kick Andy mengenai Aiptu Ma’ruf Suroto yang bertugas di Polsek Sota Kabupaten Merauke sejak 1993. Dengan semangatnya mengabdi pada negeri ini dia setulus hati menjaga wilayah perbatasan dengan Papua Nugini itu dan mengubahnya dari tempat angker menjadi daerah asri tempat bermain dan rekreasi. Yang lebih mencengangkan ternyata dia lahir di Magelang. Kota tempat saya dilahirkan pula. Makin bersemangatlah saya untuk menegakkan kalimat Allah seperti dia menegakkan sumpah setia mengabdi pada negara.

2. Mengajar anak-anak.

Indonesia mengajar begitu menginspirasi saya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Terlebih lagi sistem pendidikan Indonesia masih begitu buruk.

Saya selalu menganggap anak-anak Nuu War itu cerdas. Anggapan saya itu terbukti dalam kisah empat anak Nuu War. Albertina Beanal, Demira Yikwa, Kohoin Marandey berhasil menciptakan dan memenangkan lomba sains dan matematika di Jakarta. Mereka menciptakan Robot Pendeteksi Tsunami. Sementara Christian Murid meraih medali emas pada lomba matematika dan sains tingkat SD se-Asia. Padahal keempat anak itu awalnya adalah anak yang tinggal di pedalaman Papua dan dipilih karena dianggap paling bodoh. Namun, setelah dilatih dan belajar tekun dibawah pengawasan Profesor Yohanes Surya mereka berhasil mengerti tentang fisika dan matematika. Padahal ketika datang ke Jakarta pertama kali mereka tidak bisa berhitung. *2

“Khoirukum man ta’alamal quran wa ‘allamahu“ (sebaik-baik kamu adalah yang belajar Qur’an mengajarkannya). Saya cukup terperanjat ketika mendengar bahwa Gubernur Jawa Barat pernah menyampaikan data di wilayahnya, 50% warganya belum bisa baca Qur’an. Ini di Jawa Barat, daerah dekat ibukota dan cukup terpelajar. Lalu bagaimana dengan Nuu War? Pastinya masih sangat banyak pekerjaan rumah di wilayah itu. Saya ingin ikut ‘belajar kelompok’ menyelesaikannya dengan 5 Watt yang saya punya.

Mengajar Qur’an dan mengajar ilmu apapun yang bermanfaat bagi anak-anak di sana. Saya sangat ingin melakukan itu. Sungguh.

Bagi orang lain mungkin kebahagiaan bisa dirasakan dari sisi materi dan memperoleh ‘benda’ yang mereka harapkan. Sesekali sayapun begitu, bahagia lantaran ‘materi’. Akan tetapi setelah banyak hal dalam hidup, lebih dari cukup untuk memberikan pelajaran bagi saya bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi ilmu dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Ada rasa lapang di dada jika telah berbuat sesuatu bagi orang lain. Bukan melulu memikirkan diri sendiri.

Islam pun mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan saya percaya itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Sesederhana itu.

Ketakutan-ketakutan akan kegagalan dalam mencapai impian pastilah ada dalam setiap diri manusia. Begitupun saya. Namun, ketakutan terbesar adalah jika saya kemudian letih memperjuangkan impian. Letih karena melemah semangatnya oleh kata-kata orang. Karena ketidakpercayaan mereka bahwa saya akan bahagia dalam menjalani impian itu. Dan lebih takut lagi jika suatu saat saya menyerah kalah terhadap omongan-omongan mereka yang menentang impian ‘gila’ itu.

Maka, akan kubenci Papua jika saya menyerah kalah pada impian. Saya tak berharap itu terjadi. Jadi, bantu saya dengan do’amu ya. Seperti yang dulu pernah saya pinta dalam puisi ini:

meski tak pernah kau temui rintik salju
namun hujan kapas itu menjumpaimu
di malam lengang penenang kalbu
kau berkata “Allah mengabulkan do’aku”

sujud panjangmu menebas rerimbun ragu
yang menggelayut di belenggu masa lalu
satu per satu gugur runtuh membeku
kau berkata “Allah mengabulkan do’aku”

ini tentang duel penjagal harap dan penabur pupuk asa
ini tentang menautkan rantai-rantai rindu pada yang dituju
ini tentang gigil di saat seruNya memanggil
ini tentang serpih yang gigih diuntai agar tetap persih

di tengah syak mereka yang mengepungku
izinkan kupinta do’a darimu

wahai engkau sosok yang berhati jernih

Mungkin banyak yang akan berpikir saya terlalu idealis atau bahkan menertawai jika ternyata saya tak bisa mencapai impian itu. Namun, saya menulis di sini bukan ingin sok bercita-cita ‘besar’. Hanya ingat nasihat seseorang tentang impian:

“Kubawa dalam mimpi, lalu aku terbangun dari tidur. Berharap mimpi itu nyata. Tapi mana ada mimpi dari tidur yang nyata? Kujadikan mimpi itu cita-cita. Kutulis kisahnya. Sehingga kalaupun aku tak sanggup mewujudkan mimpi itu, banyak orang yang tau kisahnya dan mereka beramai-ramai mewujudkan mimpi itu. Jika nanti aku tak bisa menikmati mimpi yang jadi nyata, tak apalah. “
[Ade Nugraha]

*1: http://dakwahafkn.wordpress.com/wawancara/budaya-koteka-adalah-pembodohan/
*2: http://kickandy.com/theshow/1/1/2220/read/BERPRESTASI-DI
-TENGAH-KETERBATASAN

#Tulisan ini diikutkan dalam lomba ini

[Senyumku Untuk Berbagi] Ceria Sepanjang Masa =D

kepada: senyum

aku tak acuh
lebih sering mana
antara bahagia atau duka jadi lantaran
rupa diri ini mewujudkanmu
dalam lukisan di wajahku
satu waktu dan lebih sering dari itu
kau temui aku
layaknya ibun sentuh bentala
merasuk sejuk dinginkan hati tenangkan jiwa
bahkan, kadang engkau muncul bagai petir di hujan lebat
tetiba saja tanpa permisi mengulas paras mukaku dengan sabitmu
aku tersipu jika saat itu muncul tersembul
tak sanggup mengelak

kepada: ceria

aku selalu ingin kau menemaniku
tak peduli badai jenis apa
yang silih berganti hampiri hari-hariku
kuharap kau tak sedetik pun beranjak dari dalam diriku
ah, tapi memang sesekali
engkau harus berpamitan padaku
“sementara saja”, katamu
ada kalanya kau harus sejenak tinggalkanku
mengajarkan makna sabar dari jarak antara kita
tapi kau berjanji akan menyuratiku bukan?!
lewat tingkah polah sosok mungil lincah lucu di sekitarku
hingga saat engkau kembali
mengajakku menikmati syukur

kepada: semangat

hai, kamu.. iya.. kamu..
sejatinya aku tak sanggup lagi gambarkan
tentang betapa aku menyukaimu
kau tau.. kenapa aku begitu sering menyebut namamu?
aku mau kau tak lekang dari jiwaku
jangan pergi-pergi ya
jangan lari-lari
cukup di sini
bersamaku sambut sang tamu agung yang akan tiba
tak lama lagi jumpa
jika ‘Yang Memilikinya’ mengizinkan kita
tinggal jeda setengah bulan di hadapan
aih, senangnya

kepada: dirimu
kau tak lupa cara untuk tersenyum, bukan?



hihihi.. baiklah.. sudah puisinya. Sekarang cerita tentang foto senyum. =D
Foto senyum ini dibuat saat saya umur sekitar 4 tahun kalo ga salah ingat. Jaman dahulu sulit sekali bisa difoto selain ke studio foto. hehehe. Ga punya kamera.. Buat makan aja susah boro-boro kamera.. ahaha. Jadi senang sekali ketika tetangga yang sudah saya anggap budhe saya sendiri itu (yang ada di samping saya) mengajak foto bersama. Dipinjami boneka pula. Sesuatu yang sampai umur itu saya tak punya satu pun. Haghag. Jadilah senyum sumringah itu hadir di tengah-tengah kami.

Rumah “budhe” itu ada di ujung gang buntu rumah orang tua saya. Jadi tetangga sejati dari saya lahir sampai sekarang.. hehe. Di depan rumahnya ada pohon jambu besar dahulu. Saya suka sekali memanjatnya bareng anak-anak sebaya yang lain. Pastinya lebih banyak laki-laki. Makan jambu sepuasnya dan memanjat setinggi-tingginya. Ketika main ke rumah budhe suasana selalu ceria dan tak sulit menghadirkan senyuman manis dalam potongan waktu itu. ahihihi.

Katanya “bahagia itu sederhana”. Melihat foto itu saya seolah diingatkan dengan kalimat tersebut. Senyum tanpa kepura-puraan.. tulus.. ceria. Betapa masa kanak-kanak itu penuh semangat dan keceriaan. Semoga semangat itu tetap melekat meski bukan hidup di era itu lagi. hehehe.


*ikutan lomba Senyumku Untuk Berbagi
meski saya tahu ada satu syarat yang tak terpenuhi jadi bikin pasti ga bakal menang.. hahaha
tapi tetep mau ikuuutaaaaaann nyumbang 5000nya.. hihihi.. makin banyak yang ikut makin banyak yang disumbangin kaaan.. *kedip2 ke panitia.. =D

*padahal aslinya lagi pengen bikin puisi.. ahahaha.. nemu idenya malah di sini
yo wis lah.. sekalian

yukk smangaaaaD menyambut Ramadhan.. =D

ada yang nasihati gini

“Jika tak menanam saat Sya’ban,
bagaimana bisa memanen saat Ramadhan?”

*plaaaaak.. *jleeeeeb…
Mungkin kata-kata itu kurang tepat karena harusnya menanamnya bukan saat sya’ban tapi jauh sebelumya.. tapi jika Sya’ban saja semangat kita tak penuh.. mau dibawa ke mana Ramadhan kita? hoaaaaaa..

sekian.
-the end-
*halah =D