Dan yang Terbaik…

Tiba-tiba tadi keinget seorang sahabat dan ingin menuliskan tulisan ini untuknya.. =)

Ini kisah sempet takceritain ke temen2 yang ikutan ngebolang ke Pusat Kajian Hadis & LTQ Al-Hikmah waktu itu. Lagi kecapekan nyasar nyariin lokasi Al-Hikmah kami berenti di masjid lantai 2. Sampe ngerepotin orang buat online gugling alamat Al-Hikmah yang bener. ahaha. Habisnya dah capek jalan jauh, ternyata salah yang dituju. Terlalu banyak Al-Hikmah. wekeke. Nah kami berempat seru diskusi di masjid itu sambil mengingat wejangan dari ibunya teh Rie (manteb banget ngasi nasihat2nya *mak jleb jleb) dan obrolan kami pun nyampe ke aku inget kisah ini deh. haha

Sebuah kisah tentang keyakinan..

tentang penjagaan diri ..

tentang menepiskan keraguan.

tentang kesungguhan iman..

Kisah ini diceritakan ustadz Sholihun sewaktu kajian rutin KRQ (Kajian Rumah Qur’an) mbahas adab-adab penghafal quran. Banyak yang mak jleb jleb di kajian itu si, semisal tamparan tentang
“memang kita ini sibuk apa? Berita terbaru PM Palestin Ismail Haniyah baru saja menyelesaikan qiro’atus sab’ah. Lalu kita ama blio, sibukan siapa? dengan Gaza digempur tiap saat seperti itu?” *plaak
qiro’atus sab’ah adalah 7 macam cara baca quran yang dianggap qira’at shahihah (cara baca yang benar) PM Haniyah hafal quran jelaaaas dah luammaa tapi cara membaca dengan 7 macam ini blio selesaikan ketika menjabat sebagai PM Palestina. Luar biasa bukan. Lalu kita itu sibuk ngapain? *jleeeb

Oya, kembali ke yang pengen takceritain. Kali ini ingin menuliskan sebuah kisah seorang muslimah yang luar biasa. Dia seorang santriwati di sebuah pondok yang sangat cerdas. Bahkan mengalahkan kemampuan santriwan2 yang ada di pondok itu. Dia lebih cepat dalam mempelajari qiro’atus sab’ah dibandingkan yang lain. Paling cepat bahkan dibandingkan para santriwan.

Namun, ia diuji Allaah dengan sebuah peristiwa. Ga jadi dikhithbah. Gagal dalam proses sebelum menikah. Ustadz tidak menyebutkan kenapanya. Namun, gagal itu sama sekali tak menyurutkan semangat belajarnya menjaga hafalannya. Dan satu yang utama.. tak menyurutkan sama sekali yakinnya kepada Allaah. Iman kepada qada’ dan qadarnya teruji. Hingga akhirnya ia baru menikah di usia 33 tahun. Bukan usia yang ‘muda’ lagi untuk seorang muslimah menggenapkan separuh dinnya. Namun tak ada secuil keluh pun selama itu atau bahkan sampai merutuki nasib. Ia memegang teguh keyakinannya. Alhamdulillaah, ia akhirnya dianugerahi Allaah suami yang jauh lebih baik dari yang dulu akan mengkhithbahnya tapi ga jadi itu.

Dan ada sebuah kisah mengharukan menjelang pernikahannya, ketika orang tua muslimah itu berpesan kepada pemuda yang akan menggantikan tanggung jawab perwaliannya, blio berpesan “Nak, putriku ini jangan kau beri dunia. Jangan kau beri materi. Dia itu penghafal qur’an. Jadi, satu pesan.. bantu ia menjaga hafalannya.” Sang pemuda itu tak kuasa menahan tangisnya, dan menyanggupi pesan itu dengan tekad kuat membara untuk melaksanakannya. Pemuda yang tadinya belum menghafal qur’an itu, saking ingin komitmen terhadap janjinya, dia pun ikut menghafal qur’an dengan bimbingan sang istri. 6 tahun setelahnya.. alhamdulillaah mereka menjadi pasangan penghafal qur’an. Dan kemudian mendirikan pondok pesantren tahfidz quran. Mencetak hafidz-hafidzah.
=)
Masya Allaah. Indaaaah sekali kisaah ini. Itu romantis banget menurut Fajar. Ahaha *kumat.
Pas denger dari ustadz Sholihun ga kerasa netes ni air mata. Padahal kajiannya baris paling depan tengah pula. Kan maluuu ketauan ma ustadz nangis.. wekeke..

Sebuah rangkaian kehidupan seorang muslimah yang tentu tak mudah untuk dijalani muslimah pada umumnya, jika bukan karena imannya yang luar biasa kokoh. Keyakinannya akan janji Allaah yang tak pernah luntur. Penjagaan dirinya sebagai hamba Allaah yang tak lengah menanti saat yang tepat itu tiba. Tak menghinakan diri atau mengubah yakin itu menjadi ragu, setitik pun. Sebab cintanya pada qur’an. Ah.. *speechless.

Janji Allaah itu pasti, tinggal bagaimana keyakinan kita sanggup untuk diuji. Di kala kuat maupun saat lemah. Karena kita akan diuji di titik-titik terlemah kita. Jika iman kita benar.. tak ada yang perlu dirisaukan, tak ada yang perlu di’galau’kan.
Jujurlah pada niatmu, seberapa engkau sungguh-sungguh untuk mewujudkan apa yang jadi cita-citamu dengan kelurusan niat itu.

Allaah menyiapkan yang jauuuuh lebih baik, baginya..

Image

Spesial untuk sahabatku, yang pernah mengalami kegagalan serupa karena engkau pegang prinsipmu tak mau ke rumah sang “calon” untuk dikenalkan ke keluarganya. Bagimu itu jauh dari syari’at Islam. Sampai sang ayah jatuh sakit. Aku bangga padamu. Meski dengan kelucuanmu, ke’geje’anmu kau selalu bisa menceriakan suasana dan menutupi sedihmu. Tampak ‘gaul’ dan seru. Aku selalu kagum atas sesuatu dalam dirimu, keteguhan prinsipmu atas apa yang kau yakini jika itu sesuatu yang benar. Aku yakin, Allaah telah menyiapkan yang jauuuh lebih baik bagimu, Hunny. Hanya tinggal bagaimana meraut yakin demi yakin itu agar tetap runcing. Tak tumpul digerus waktu yang terus berdetak, berlari kencang. Aih, jadi kangen ‘ngedate’ berdua *eaaa. hahaha..

Oiya, seorang sahabat yang sangat akrab dan kenal betul Fajar pernah juga menasihati setelah 1 tahun dia menikah (*yang dulu fajar bilang sukses nyulik istri orang. lah bisa nginep semalem hahaha. misuanya pas pergi.) “jar, kita tu musti bersyukur, cantik.. enggak. (secaraaa.. ganteng gitu.. haghag) bukan keturunan kyai atau ningrat *haha… kaya juga enggak… jadi orang yang akan menikah dengan kita itu ya melihat diri kita apa adanya tanpa embel2.. ”
Dia menikah dengan ikhwan UGM yang sama sekali belum dikenalnya, dia bukan anak UGM. Fajar justru cukup kenal sama si ikhwan itu. Dan mereka menjadi keluarga dakwah yang amazing lah.. hihihi.. keren. Semoga istiqomah.. =)

bener juga ya kata si Moco “Subhanallah. Dikelilingi org2 luar biasa akan membuatmu tersugesti”

hey.. hey.. ini nulis bukan gegara galau belum nikah. hahaha
lha wong kata teh rie tentang pendapat ibunya habis ketemu Fajar :
“Eh, kata ibu kamu setipe kaya aku, cuek mengalir jalanin hidup” haghaghag… Yup, that’s me.. *lunjak2.. qiqiqi
Ibunya teh rie ini jago banget nebak karakter orang. Ada satu yang ampe nangis dinasihati ma blio gegara paaas banget nasihatnya.. hihihi.
(moga bisa nulis tentang pengalaman ngebolang ntu deh kapan2.. hehehe)

Oiya, tadi fajar habis mampir di salah satu blog favorit Fajar (punya Yuri) di sini (dia yang biasa ngerekam KRPH dijadiin video. Manteb deh..

nah salah satu postingannya gini nih setelah dia baca bukunya mba Asma Nadia yang New catatan Hati Seorang Istri.. kukutip ya..

“Just be prepared that it’s not all butterflies and rainbows, requires a lot of patience hence the reason for it ‘completing half your deen’.”

dan hikmah lainnya yang kudapat:
betapa dangkal keputusan menikah yang hanya karena karunia cinta yang tiba-tiba Allah beri..
jatuh cinta adalah ujian dari Allah, apakah kita bisa menjaga kesucian diri atau tidak..
sama sekali menikah bukanlah keputusan emosional semata, sebaliknya rasional..
dan serasional-rasionalnya kita memutuskan:
biar Allah yang tuntunkan dan pilihkan yang terbaik (untuk dunia-akhirat kita)..
karena persoalan jatuh cinta di awal, kita tak akan pernah tahu berapa lama umurnya.. sedangkan menikah adalah urusan untuk memutuskan jatuh cinta seumur hidup dengan orang yang sama…
dan bahwa pernikahan itu ternyata bukan sekedar bagaimana menjaga hubungan antara suami dan istri, ya itu penting, tapi ada yang mendasari segalanya:
hubungan individu dengan Robb-nya…
karena pernikahan itu bukan tujuan hidup, tapi…hanya kendaraan menuju Surga…
dan buatku pribadi, sebagai perempuan,
bahwa menikah bukan berpindahnya kebergantungan dari orangtua ke seorang “laki-laki asing”… karena bergantung hanya benar-benar hanya boleh pada Allah, semata-mata.. tidak dapat disandingkan dengan makhluk..
jadi sebenarnya ngga masalah ya nikah atau ngga nikah, hehehe,
walaupun memang untuk masuk surga tidak harus pakai jalur menikah.. tapi hampir semua shahabiyah mendapatkan kemuliannya karena peran mereka sebagai istri dan ibu..
tidakkah kita iri dan ingin bergabung bersama mereka?

(empat baris terakhir itu sering juga terlintas di otakku haghaghag *ngikik | imam nawawi ga nikah tapi menyejarah *pernah lewat di pikiran argumennya ntu.. haghag)

Hihihi.. panjang bener yak.. peace deh.. lama ga nyeloteh (yang bukan geje) selain puisi. *Jadi pengen nulis lagi tapi ganti topik.. hahahaha..

*lagi males ngedit dan ngerapiin tulisan jadi langsung posting.. =D

gambar dari sini

78 thoughts on “Dan yang Terbaik…

    • korelasine..
      bagi mereka yang menghafal quran keutamaan bukan cuma akhirat di dunia juga ana ta Ru..
      tapi si muslimah ini, bisa jadi suatu ketika terbersit..
      “mereka yang tak seshalihah aku sudah memiliki pendamping hidup”
      itu yang berbahaya…
      ada sebersit rasa ujub atas ilmu yang dimiliki..
      dari keluh kesah ujian..

      dan akhirnya kandas di perjuangan menjaga hafalannya..

      wis entuk poine?

      • Sapemikiranku (sing dangkal), yo jodoh kuwi punya porsi peranan takdir yang besar…

        Bahkan memasukan kriteria ‘penghafal Al Qur’an’ ke dalam faktor sudah atau belumnya seseorang menikah justru ‘melemahkan’ kemuliaan penghafal al qur’an itu sendiri

        niatnya akan bergeser secara perspektif…

        Simple’y
        “saya menghafal al qur’an karena Allah” period.

        Bukan
        “menghafal al qur’an adalah nilai lebih dalam dlm pemilihan calon pasangan”

        perspektif di atas boleh dipakai oleh si pemilih, tp tidak oleh si muslimah..

        *dowomen
        *tapidadienaksalingberbagipandangan
        *ojomumetyombakjar

        • ga mumet Ru.. mudheng koq.. hehehe

          yup.. sangaaaat sepakat..

          jodoh itu telah ditetapkan di lauhl mahfudz..
          dan ning pemikiranq pun,,
          iku urusan aqidah.. hoho..

          bukan tentang kriteria si ru…
          tapi masa2 penantian itu.. bisa jadi titik2 lemah seseorang sehingga muncul pertanyaan di dirinya..
          keluhan atas ‘rasa keterlambatan’ itu..
          contoh laine
          mereka yang ga njaga diri sudah pada nikah,, mereka yang pilih jalan pintas ‘pacaran’ po HTS-an.. wis dho nikah,.

          keistiqomahan untuk ga nggubris bisikan2 syaithan kaya ngunu iku si sing ‘ga gampang’.
          coz ga gur siji loro.. hehehe

          ujian keikhlasan emang.. =)

          muga aku ga sampe ngunu.. hahahaha..
          *opone sing rep dibanggake.. pedee.. wkwkw

  1. Menghafal Al-Qur’an hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, kalo diluar alasan itu maka tidak akan bisa langgeng hafalannya.

    mbak Jar, di kasih link-nya dong, kajian2 KRPH tentang menghafal Al-Qur’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s