Permintaan Sederhana

Image

malam cinta,

saat ini aku begitu merindukanmu.. entah mengapa
meski setiap saat kita berjumpa pun semua seolah biasa
tak banyak hal istimewa yang kita cipta
namun setiap detiknya membuat kenangan yang istimewa

cinta, aku pernah begitu takut kehilanganmu
sangat takut
bahkan ketakutan itu membuat kita tak bertegur sapa sekian lama
tersiksa.. pasti.
menatap
berpapasan
tapi bahkan tak bisa sepatah kata pun terucap
senyap
seolah dunia disempitkan di hadapan kita
sesak
pengap

luka dan kembali luka kurasa
tak kunjung kering
kadang kembali tergores
perih sekali

yah, itu egoku
hanya memikirkan apa rasaku
tanpa mengingat kau punya luka lebih dalam
lebih lama
lebih pedih
dengan cinta yang jauh lebih besar bagiku
menerimaku seburuk apapun aku
semengecewakan apapun diriku padamu
aku bahkan tak bisa berucap maaf dan terima kasih
aku hanya mampu menangis dalam do’a

aku pernah berpikir
mungkin melepasmu lah yang terbaik
hanya berharap lengkung bahagia di wajahmu
setelah ribuan hari engkau bergumul dengan perih

namun, kata seseorang

“Cinta dan melepas itu dua hal yang berbeda.

Terkadang kita melepas seseorang karena suatu sebab,

atau mendekap seseorang karena suatu sebab,

sedang cinta bisa tetap ada dalam dua keadaan itu”

Aku tentu berharap bisa mencintaimu dalam dekapanku.
Namun, semua kuserahkan padamu.. jikapun harus melepasmu..
cinta tetap bisa ada pada keadaan itu bukan?
apapun.. asal engkau bahagia..

Dan semoga ini bukan mimpi..
ternyata aku masih bisa terus mendekapmu,
meski kita berurai air mata

argh, maafkan aku
permintaan sederhanamu pun belum sanggup aku wujudkan
tapi aku akan berusaha sekuat mungkin

ah iya,
memang tak ada badai yang tak berlalu, cinta

kita tentu tak pernah tau apa yang akan terjadi di hadapan
tapi semua akan menjadi mudah kini
insyaAllaah
karena semua itu kita coba lakukan bukan karena siapa-siapa
tapi karenaNya
untukNya
entah kelak kita akan berhadapan dengan takdir macam apa
kini saatnya berbenah, bukan?!

aku akan berusaha memupuk terus cinta ini..
karena Ia yang memerintahkannya padaku

semoga apapun badai yang menghadang
bahtera kita mampu menerjang

cinta

ingat selalu, ada dua telinga dan satu hati ini tempatmu berbagi
(yang tak hanya sekali dua kali kau bilang ini satu-satunya, kepada siapa lagi engkau bisa berkisah)

cinta, uhibbuki fillaah

Advertisements

Tingkatan dan Tahapan Tazkiyatun Nafs

*kangeeeeen jogjaaaa.. ='(

nCes_Chan

Kajian Jum’at Pagi
25 Januari 2013
Tema : Tazkiyatun Nafs #2

Oleh : Ustadz Sholihun

Tingkatan dan Tahapan Tazkiyatun Nafs
heart_cloud
Berbicara tentang tingkatan Iman itu memiliki derajat,dan derajat keimanan itu sesuai dengan seseorang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan, hanya saja tidak seorangpun tahu mengetahui derajat keimanannya di sisi Allah karena itu hanya hak –Nya Allah swt. Ibn ‘Athoilah memberikan pandangan bagaimana mengetahui derajat iman seseorang, tingkatan-tingakatan iman ini dapat dilihat dari
1. sur’atul istjabah — respon seseorang ketika menghadapi kebaikan, tidak terburu-buru menjalankan perintah dan tidak menunda melaksanakan kebaikan. Ada kesempatan ia langsung mengambil kebaikan itu.
2. kebencian dia terhadap keburukan sebagaimana kebencian ia sekiranya ia dilemparkan ke api neraka. Sehingga berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya, jangankan berfikir terbetik dalam hati pun tidak, karena keburukan itu dianggap sebagai neraka.
Al Hujurat : 7
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah…

View original post 1,060 more words

Jarview of Ginger Love [bukan ripiu hihi]

A novel by Haya Najma

Image

“Saya tidak menginginkan macam-macam dalam mencari pendamping hidup. Hanya agama dan akhlak yang baik, serta menerima saya dan keluarga saya apa adanya.”

Sederhana sekali kriteria yang Azi harapkan dalam penantiannya akan seseorang yang akan menjadi tambatan hatinya.
(padahal ini kutipan dalem banget Hay.. hahaha)
Namun, tak sesederhana itu karena ia menyimpan sebuah luka akan kisah lama berupa harapan yang kandas justru di detik-detik kebahagiaan itu begitu dekat di hadapan.

Dalam perjalananya, Azi lalu mengerti ternyata masih ada orang di luar sana yang kisahnya lebih getir, melalui sosok Hanan. Dan itu sedikit mengobati rasa ‘trauma’nya. Bagi kita yang membaca menguatkan lagi sebuah makna “tidak ada alasan untuk tak bersyukur”, karena tiap manusia memiliki jalan ujiannya masing-masing. Emm.. takdir memang tak pernah tertukar.

Ada bagian yang cukup membuat saya merenung di cuplikan kisah ini, pesan moral tentang keagungan ilmu itu juga harus tampak pada akhlak kita. Lagi-lagi tertampar tentang peringatan jangan sampai bertambahnya ilmu tak membuat kita semakin tunduk pada Allaah, namun justru timbul rasa sombong hingga merasa diri paling benar dan enggan menerima nasihat dari mereka yang dirasa ‘tak lebih berilmu’. Seperti filosofi ginger yang Haya ingin munculkan di sini, hangat. Cinta itu hangat. Selayaknya juga ilmu, -terlebih ilmuddin– bisa membawa kehangatan bagi sekitar kita agar bisa mencintai Islam yang begitu agung.

Membaca cerita ini kita seolah diajak belajar, masing-masing orang mungkin memiliki masa lalu yang membawa luka, kisah getir yang sulit untuk dihapus begitu saja, namun juga kita diajak untuk terus berbaik sangka padaNya, bisa jadi yang terbaik sedang disiapkan olehNya hingga bertemu suatu masa seperti ujaran putri kembang jahe
“jadi apakah kau tak menyesal berada di sini?”
“tentu tidak, di sini indah, terlebih karena kau ada di sini, semua menjadi terlihat lebih indah”

Dari sosok Azi dan Hanan kita belajar, meski ada ketertarikan. Ketika bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kaidah syar’i tetap terjalankan. Tiada khalwat. Begitu menjaga. Suka deh. hehehe.

Oiya, di setiap buku, hal yang selalu bikin aku penasaran adalah per bagiannya akan disebut apa oleh sang penulis, dan di sini haya pake istilah ‘ruas’ hihi, jahe banget. Unik. Kreatif.
Yang mau ikutan baca, meluncur aja langsung ke yang nulis di sini =D

Tapi satu hal, menemukan kata ‘Anytime’ di novel ini, haduh Hay, sesuatu banget. Bikin inget (ah, sudahlah). hahaha

Btw, yang paling ‘hangat’ & so sweet teteep yaitu tulisan tangannya Haya

To : Mbakq, Fajar ‘MP’ers
Smoga selalu menerangi lingkungannya
jazakillah khayr Mbak,
Smoga bisa menghibur

Haya Najma

Happy Reading

qiqiqi.. romantis amat.. wekeke..
Wa anti jazaakillaahu khairan Hay

Purwokerto, Baturaden, kopi, detil fotografi, kamera analog, blogging, kucing, ungu, jait-menjait, serba masak & makanan.. hahaha Haya banget deh =))
nek Haya nulis non fiksi kayak apa ya.. hihihi..
maklum Hay, aku nek maca sing fiksi sekali duduk taklalap langsung entek.. wekeke

NB :
eh, buat seseorang yang pernah ga sengaja cerita bahwa pernah sampai tahap itu dan ga jadi (haduh, maaph bikin keceplosan cerita ya), mungkin luka itu begitu dalam dirasakan, dan fajar mungkin tak akan pernah mampu benar-benar ber-empati karena emang ga pernah kek gitu. hehe. hanya bisa kembali berpesan, Allaah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu, insyaAllaah. Tetap semangat perjuangkan cintamu.. eaaa.. hihihi =D

#Haya tanggung jawab kii. aku dadi nulis ngene-an.. haghaghag.. berasa dudu aku.. =))) Aneh..

Eh, iya.. aku isa mbenerke genteng loh.. so, apakah diriku diterima? =)) *salahfokus.. qiqiqi

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك | Secangkir Makna Rasa Surga :)

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

bertambahnya ilmu, tidak menjamin bertambahnya hidayah,

hidayah hanya bisa tertambah dengan memohon pertolongan Allah….

(dalam tafsir Al-Fatihah ayat 6, Quran-Cover-to-Cover)

semua harus seimbang…

menuntut ilmu – menjaga ibadah – menjaga Al-Quran di hati..

jangan sampai menuntut ilmu tapi motivasinya dari nafsu, bukan dari hati..

jangan sampai menghafal Quran, motivasinya dari nafsu-dari lingkungan, bukan untuk Allah..

jangan sampai beribadah-berdoa, hanya untuk kepentingan diri sendiri.

padahal doa hakikatnya adalah memposisikan diri seutuhnya sebagai seorang HAMBA, di hadapan ALLAH Sang Pemilik Segala. Tidak ada di dunia ini yang lebih rendah derajatnya selain ‘hamba’, tapi ketika seorang sudah mensaksikan dirinya sebagi HAMBA ALLAH, maka ia memiliki status tertinggi di mata Allah, bersama para penduduk Langit – malaikat-malaikat mulia..

Ya Robb, ampuni aku… betapa lalai lalai lalai lalai lalai lalai lalai T.T

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

via اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك | Secangkir Makna Rasa Surga :).

 

 

*tertampar T_T

*sangat lalai

Dicemburui? *upz

Image

Ada yang bilang ‘cemburu itu tanda bahwa cintamu kuat’.
Ada yang pernah berkata cemburu itu bumbu cinta.

Ada juga yang menyatakan begini
“Cemburu biasanya bermula dari cinta yang membara. Bila dikelola dengan baik, cemburu bisa menyebabkan cinta terus menyala. Cemburu membuat kita dapat merasakan indahnya cinta. Karena cemburu adalah tanda cinta. Cinta sejati selalu membuat pemiliknya tak rela belahan jiwanya bergerak ke lain hati. Demikian pula dengan cinta milik wanita. Bahkan wanita senantiasa menginginkan cinta yang utuh. Wanita selalu mengharap cinta yang tanpa sisa.”

Rasulullaah pun pernah berkata “Pergilah. Ibu kalian sedang cemburu.” ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah cemburu.

Lalu bagaimana rasanya dicemburui?
Fajar tau rasanya kalo itu, tapi ini cemburu yang beda.. haghaghag..
Yang bikin justru ngikik ga abis-abis.. hahaha

Bahagia itu sederhana ketika bapak pulang dari masjid selepas Maghrib berjama’ah dan memanggilku “Mun, ini ubi goreng & pisang goreng”
Serumah juga tau apapun yang berhubungan dengan ubi, bisa membuatku melonjak dan bersorak kegirangan.. haghaghag *dasar anak singkong
Pisang jugaa.. jadi 2 makanan itu (apalagi kalo masih panas.. nyuuummmiii.. bisa bikin klepek2 deh ah.. hahaha)

Dan.. tiba-tiba ibu protes, kenapa cuma aku yang ditawari.. =)))
begitulah rasanya dicemburi.. bikin ngikik ga abis2..
“Ada yang cemburu pak.. hahaha”, komentarku ke bapak..

hari berikutnya ibu ngidam jagung rebus.. dan gantian.. aku yang cemburuuu =)))) *habisnya aku ga begitu suka.. hahaha
cemburu yang aneh
wekekek

maaf, sodara2.. ini postingan asli geje.. haghag..

gambar dari sini

Doa Agar Terhindar dari Banjir

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”

via Doa Agar Terhindar dari Banjir. [barusan baca di Fimadani]

*jadi teringat oleh-oleh dari ustadz Lutfi, pas ke tempat blio kami dapet ‘bonus’ ngehafal do’a ini.. =D berkesan sekali.. pulang ke Magelang langsung dipraktekin.. alhamdulillah beberapa kali ‘manjur’ =)

‘Ar rahah lir r…

‘Ar rahah lir rajuli ghaflah’
(Istirahat bagi seorang pemuda adalah kelalaian)
-Umar Al-Faruq radhiyallahu anhu-

‘laa rahata lil mu’min illa fil jannah’
(tak ada istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga)
-Imam Ahmad rahimahullah-

Qum!

#NtMS

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu « Efrialdy’s Blog

*ngulang reblog karena yang tadi masuk ke reader aneh.. =D

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu

Click to visit the original post

Posted on 26 Mei 2012

Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita telah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

via Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu « Efrialdy’s Blog.

1. Tentang doa selamatan kematian 7, 40, 100 dan 1000 hari

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian pada hari yang ditentukan diatas tersebut bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) maupun Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia (Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192). Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samsara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi :

Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”.

Sedangkan penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari (hari 1,7,4,….1000) terdapat pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi:

 “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.”

2. Tentang selamatan yang biasa disebut Genduri (Kenduri atau Kenduren)

Genduri merupakan upacara ajaran Hindu. Masalah ini terdapat pada kitab sama weda hal. 373 (no.10) yang berbunyi:

Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.

“Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan.

Juga terdapat pada kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’ dan pada Upadesa hal. 34, yang isiya:

a. Dewa Yatnya (selamatan) Yaitu korban suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling-eling) dengan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini (unggahan).

3. Tentang upacara untuk wanita hamil ( Telonan, Mitoni dan Tingkepan)

Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarkat adalah tradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana (garba : perut, Wedana : sedang mengandung). Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan/sesaji  Telonan, Mitoni, Tingkepan.

Intisari dari sesajinya adalah (terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46) :

1.  Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip)

2.   Sambutan, yaitu upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) pada si jabang bayi

3.  Janganan, yaitu upacara suguhan terhadap “Empat Saudara” (sedulur papat) yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu : darah, air, barah, dan ari-ari (orang Jawa menyebut  kakang kawah adi ari-ari)

Hal ini dilakukan untuk panggilan kepada semua kekuatan-kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada ‘Saudara Empat” yang bersama-sama ketika sang bayi dilahirkan, untuk bersama-sama diupacarai, diberi pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu dijaga oleh unsur kekuatan alam.

Sedangkan upacara terhadap ari-ari, ialah setelah ari-ari terlepas dari si bayi lalu dibersihkan dengan air yang kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil atau guci. Ke dalamnya dimasukkah tulisan “Aum” agar sang Hyang Widhi melindungi. Selain itu dimasukkan juga berbagai benda lain sebagai persembahan kepada Hyang Widhi. Kendil kemudian ditanam di pekarangan, dikanan pintu apabila bayinya laki-laki, dikiri pintu apabila bayinya perempuan.

Kendil yang berisi ari-ari ditimbun dengan baik, dan pada malam harinya diberi lampu, selama tiga bulan. Apa yang diperbuat kepada si bayi maka diberlakukan juga kepada Saudara Empat tersebut. Kalau si bayi setelah dimandikan, maka airnya juga disiramkan kepada kendil tersebut. (Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh : Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007)

 *****

Dengan beberapa contoh kasus diatas cukup jelas bagi kita bahwa tradisi-tradisi tersebut sebenarnya berasal dari ajaran agama Hindu. Pada awalnya langkah akulturasi ini dilakukan para ulama pelopor penyebaran Islam di Indonesia (Wali Songo) dengan maksud agar masyarakat Indonesia – yang awalnya memang beragama Hindu – lebih mudah untuk menerima Islam. Namun strategi dakwah ini tentu tidak berhenti sampai disana saja. Keislaman seperti itu butuh ‘pemurnian’ karena seperti sabda Rasulullah :

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).

“Sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad sholullah alaihi wasalam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”(HR Abu dawud , an-Nasa’i, Akhmad)

Baca : Mengapa Islam Bersikap Keras dalam Masalah Bid’ah?

Sebagian saudara-saudara muslim kita mungkin tetap bergigih mempertahankan pencampuran (senkretisasi) ritual hindu –islam tersebut dengan dalih untuk menghormati kebijaksanaan para leluhur/nenek moyang. Namun sebagai muslim yang baik apakah kita akan lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di perintahkan Allah dan RasulNya?

Allah berfirman :

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs Al Baqarah : 170)

Kita tentu tak mau agama kita yang mulia ini mengalami nasib serupa seperti agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen) dimana alasan adat budaya telah mengambil alih dalil-dalil utama kitab suci sendiri. Karena alasan menghormati leluhur dan budaya lokal itulah kenapa umat kristiani sampai hari ini masih memperingati 25 Desember (hari kelahiran  dewa matahari bangsa Romawi)  itu menjadi hari kelahiran Yesus. Baca : Asal-usul Penetapan 25 Desember Sebagai Hari Kelahiran Yesus

Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs Al Baqarah : 42)

Allah menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah?

Selanjutnya Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.(Qs. Albaqarah : 208).

Allah menyuruh kita dalam berislam secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Setengah Islam setengah Hindu.

 *****

Karena seperti yang telah umum diketahui bahwa tradisi-tradisi Islam diatas banyak dilakukan oleh masyarakat Islam yang mengaku dari kalangan nahdliyin (NU), maka kami coba kutipkan beberapa fatwa ulama NU untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan NU tentang pencampuran  (sinkretisasi) ritual islam-hindu ini.

1. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 1 

Keputusan Masalah Diniyyah No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926

Tanya :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

Jawab :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. Tapi banyak mudharatnya .

 2. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 5 

 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M.
Lihat halaman : 58.

Tanya :

Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri upacara peringatan bulan ke tujuh dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?

Jawab :

Ya, perbuatan tersebut hukumnya haram karena termasuk tabdzir.

3. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 7 

Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M.
Lihat halaman : 71.

Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya haram, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa’atnya.

Semoga jadi bahan perenungan bagi kita semua. Wassalam..

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu

sinkretisme.. yang berasal dari ajaran Hindu..

 

Efrialdy's Blog

Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita telah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

1. Tentang doa selamatan kematian 7, 40, 100 dan 1000 hari

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian pada hari yang ditentukan diatas tersebut bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) maupun Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang…

View original post 1,321 more words

Muhammad Akhyar: RILIS AKSI PENGGUSURAN KIOS DI STASIUN KA PONDOK CINA 14 JANUARI 2013

Muhammad Akhyar: RILIS AKSI PENGGUSURAN KIOS DI STASIUN KA PONDOK CINA 14 JANUARI 2013.

 

RILIS AKSI PENGGUSURAN KIOS DI STASIUN KA PONDOK CINA 14 JANUARI 2013

14 Januari 2013 Mahasiswa Universitas Indonesia, LBH Jakarta, Dompet Dhuafa, dan Paguyuban Pegiat Usaha Stasiun Se-Jabodetabek melaksanakan aksi di Istana Negara. Puncak aksi ini terjadi karena penggusuran kios resmi yang dilakukan sepihak oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Ketika aksi dilangsungkan, PT KAI melalui Ari Soepradi (Kepala Pengamanan DAOP 1 PT KAI) menyewa preman untuk menggusur kios-kios pedagang di Stasiun KA Pondok Cina . Peristiwa ini terjadi antara pukul 09.30 – 10.00 WIB.

Ketika penggusuran terjadi, penjaga kios sedang melakukan aktivitas berdagang seperti biasa. Preman juga melakukan kekerasan kepada pedagang kios dan memukuli beberapa mahasiswa Universitas Indonesia yang mencoba menghalangi aksi pengrusakan kios oleh preman yang disewa oleh PT KAI. Kebanyakan pedagang yang sedang menjaga kios pada saat itu adalah ibu-ibu, bahkan seorang Mahasiswa UI, M.N. Fitra (FKM UI 2010) kepalanya dipukul dengan linggis dan celananya robek.

Para preman juga merusak gadget yang digunakan untuk merekam pengrusakan dan kekerasan yang dilakukan selama aksi penggusuran berlangsung. Pengrusakan ini melanggar pasal 170 ayat (1) KUHP dengan sanksi maksimal penjara 5 tahun 6 bulan.

Pedagang menuntut sebelum digusurnya kios-kios mereka untuk diadakan dialog dengan Ignatius Jonan (Direktur Utama PT KAI), sebagaimana telah diamanahkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM) beberapa waktu lalu.

 

Oleh : BEM Seluruh Universitas Indonesia

Ibu yang Sekuat Seribu Laki-laki

Image

Oleh : Sulthan Hadi

Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar dan berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di kelompok, sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, ia bertanya pada anak yang baru masuk itu, “Adakah surat yang kamu hapal dalam Al-Qur’an?” “Ya”, jawab anak itu singkat.

“Kalau begitu, coba hafalkan salah satu surat dari Juz ‘Amma?” pinta sang guru. Anak itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih dan benar. Merasa anak tersebut punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, “Apakah kamu juga hapal surat Tabaraka (Al-Mulk)?” “Ya”, jawabnya lagi, dan segera membacanya. Baik dan lancar. Guru itu pun terkagum-kagum dengan kemampuan hapalan si anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.

Dia pun coba bertanya lebih jauh, “Kamu hafal surat An-Nahl?” Ternyata anak itu pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu dia pun mengujinya dengan surat-surat yang lebih panjang, “Apa kamu hapal surat Al-Baqarah?” anak itu kembali mengiyakan dan langsung membacanya tanpa sedikit pun kesalahan. Semakin pennasaran, dan ia ingin menutup rasa penasaran itu dengan pertanyaan terakhir, “Anakku, apakah kamu hapal Al-Qur’an?” “Ya”, tuturnya polos.

Mendengar jawaban itu, seketika ia mengucap, “Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah.

Di saat menjelang maghrib sebelum guru tersebut membubarkan anak-anak mengajinya, secara khusus ia berpesan kepada murid barunya, “Besok, kalau kamu datang kembali ke masjid ini, tolong ajak juga orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.”

Esok harinya, anak itu kembali datang ke masjid. Kali ini ia bersama ayahnya, seperti pesan si guru ngaji kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, sang guru bertambah penasaran karena sosoknya yang sama sekali tidak memberi kesan alim, terhormat dan pandai. Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa keheranannya terlebih dahulu, “Aku tahu, mungkin Anda tidak percaya bahwa aku ini adalah ayah anak ini. Tapi rasa heran Anda akan aku jawab, bahwa di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki. Aku katakan pada Anda bahwa di rumah, aku masih punya tiga anak lagi yang semuanya hapal Al-Qur’an. Anak perempuanku yang terkecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah hapal juz ‘Amma.”

“Bagaimana ibunya bisa melakukan itu?” tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah mulai bisa bicara, ia mulai pula membimbingnya menghapal Al-Qur’an, dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti, dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan pada mereka, “Siapa yang hapal lebih dulu, dialah yang menentukan menu makan malam kita malam ini,” “Siapa yang paling cepat mengulangi hapalannya, dialah yang berhak memilih kemana kita berlibur pekan depan,” dan “Siapa yang paling dulu mengkhatamkan hapalannya, dialah yang menentukan kemana kita jalan-jalan pada liburan nanti.” Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga terciptalah semangat bersaing dan berlomba di antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hapalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji istrinya.

Sebuah keluarga biasa, yang melahirkan anak-anak yang luar biasa, karena energi seorang ibu yang luar biasa.

Setiap kita, dan semua orang tua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang shalih, cerdas dan membanggakan. Tetapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai dan menghapal Al-Qur’an. Butuh perjuangan. Perlu kekuatan. Mesti tekun dan bersabar melawan rasa letih dan susah, tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, “Di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki.”

Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat dan perkasa. Sebab membuat permulaan yang baik untuk kehidupan anak-anak, sekali lagi tidak mudah. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu saja modal pertamanya adalah keshalihan diri. Tidak ada yang lain.

diambil dari Tarbawi edisi 222 Th. 11, Rabiul Awal 1431, 25 Februari 2010

*memenuhi janji ke Pak Iwan.. di sini buat mosting isi tarbawi dengan tema “Lima Perempuan itu Perdengarkan Al-Qur’an untuk Anak Mereka Sejak dalam Kandungan”
tarbawi ini salah satu edisi yang saya bener-bener harus nyimpen baik-baik karena sering dibuka lagi.. hehehe

buat umminya Taqiy juga yang nge-reblog jurnalnya pak Iwan & umminya Khansa.. hehehe

spesial buat kalian, para ibu & calon ibu jugaaa..=)

gambar dari sini

*menasihati diri sendiri..

Hukum Jual Beli Dinar Menggunakan Fasilitas m-Dinar (Mobile Payment)

yang memilih investasi emas.. ini penting buat dibaca..
jangan sampai terjerumus ke riba… *ngelirik beberapa orang.. hehehe

PKJ 4.0

Pengertian m-Dinar (Mobile Payment)

m-Dinar merupakan salah satu produk tabungan dinar emas yang memiliki fungsi seperti halnya tabungan dalam sistem perbankan umum, baik yang syariah ataupun konvensional (ribawi).

Dari situs dinaremasku.com dijelaskan sebagai berikut:

Tabungan m-Dinar(Online Transactions Record) memungkinkan kita semua pengguna dinar untuk mencicil tabungan, tidak harus dalam kelipatan 1 dinar. Tabungan m-Dinar memiliki prosedur dan mekanisme yang sama dengan tabungan di bank syariah, dilakukan dengan akad mudharabah, jadi akan ada bagi hasil dari tabungan tersebut yang akan masuk secara otomatis setiap awal bulan, insyaAllah. Bedanya dengan tabungan bank, tabungan m-Dinar ini dalam satuan dinar, termasuk bagi hasilnya juga dalam satuan dinar.

Bukti kepemilikan Tabungan m-Dinar adalah berupa nomor rekening m-Dinar dan juga akan dapat buku tabungan m-Dinar, serta histori transaksi ataupun saldo tabungan dapat dipantau di situs http://m-Dinar.com/indo, sama seperti internet banking pada bank.

m-Dinar ini merupakan produk dari Koperasi Daarul Muttaqqiin yang digagas…

View original post 1,578 more words

Mengusung Makna dalam Untai Aksara

“Kata yang indah sudah membuat jiwa menyukainya, namun jiwa juga butuh isi dan makna yang dibawa oleh kata-kata itu..

Banyak puisi indah tapi tak menyampaikan apapun selain kata yang indah..

Dulu, para penulis puisi menyuarakan idealismenya. Baik idealisme buruk maupun baik. Mereka menuliskan pengetahuannya (baik dan buruk) dalam bentuk puisi. Bahasa merupakan wahana bagi mereka.

Joseph Brodsky di Rusia misalnya, Ibnu Arabi ash-shufi misalnya, Ibnu Qayyim misalnya.. semua berawal dari pengetahuan atau idealisme yang diyakini, lalu menjadikan bahasa sebagai wahana.

Kini -katanya- orang-orang memulai puisi dengan kata-kata dan melupakan idealisme/pengetahuan.”

Aku pernah dinasihati seseorang yang bijak sekali [*haiyah] seperti itu dulu

dan baru-baru ini ditambah deh,

“Seseorang pernah berkata kepada saya, ‘Jika kau menulis puisi, aku katakan kepadamu ucapan al-Bukhari : ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.’”

*hiaaakkdeeezzgg

nampol banget dah tu.

jadi ingat juga tulisan ustadz Salim di #MKMM

“Daya Ketuk membuat pembaca terisnyaf dan tergugah, tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. …

“Fakidusy syai’, laa yu’thi; Yang tak punya, takkan bisa memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi, membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti.”

Image

Ahiya, menulis adalah jalan ilmu. Meramu pengetahuan dan idealisme yang kita miliki menjadi rantai aksara yang mengandung makna. Selayaknya seperti itu. Bukan hanya memikat jiwa dengan keindahan kata-kata namun rapuh dan koyak dalam isinya.

Saya selalu kagum pada mereka yang mampu mengusung idealisme dalam rangkaian kalimat yang indah. Bahkan banyak yang mampu menyisipkannya secara begitu halus tanpa pernah kita sadari. Membuat tulisan seperti itu yang tak mudah.

Kita ibaratkan menulis itu menuang ‘isi teko’ kepala kita ke dalam gelas-gelas yang ada. Mereka yang isi tekonya teh, yang akan tertuang adalah teh, yang isinya kopi yang dituang kopi, yang isinya jus sawo juga akan menuang jus sawo *halah. hahaha

Akan tetapi, bagi yang ahli meramu kata dan tetap konsisten membawa pemikiran dan idealismenya, bisa jadi ia memiliki teh dalam tekonya, tapi ia ramu dengan susu menjadi teh tarik yang terasa jauh berbeda rasanya dari teh. haha. Analogi yang aneh. wkwk.

Saya _di beberapa sisi_ menyukai tulisan-tulisan tokoh-tokoh yang berbeda pemikiran prinsip, karena kemasan mereka yang bagus. Akan tetapi bagi apa yang saya yakini, pemikiran mereka tidak benar.

Seperti mungkin pemikir-pemikir ‘kiri’ (sosialis), ada seseorang yang pernah berkata “saya salut dengan cara P.A.T memasukkan pemikiran dengan cara sangat halus dalam tulisan”, lalu gumam saya dalam hati “itulah kenapa kadang aku memilih tidak membaca tulisan-tulisannya atau tokoh-tokoh lain yang berpemikiran sejalan”

Ketika ngobrol dengan Pak Akmal Sjafril dulu, beliau pernah menyinggung tentang ini, “saya heran kenapa banyak yang mengidolakan P.A.T bahkan itu dari kalangan aktivis dakwah kampus, kata-katanya banyak dikutip bahkan dijadikan jargon, seolah kita lupa dengan sejarah, yang kita ingat hanya dia yang ‘terdzolimi’ ORBA, tapi lupa apa yang dilakukan LEKRA pada para penulis-penulis Muslim, pak Taufik Ismail saja tak mau mengakui P.A.T sebagai ‘pahlawan’ dalam hal karya sastra.”

Waktu itu saya merenung, dan menanamkan lagi bahwa kita harus hati-hati memilih dan memilah ‘makanan jiwa’ yang akan kita nikmati. Jika kita ingat sebuah kalimat ‘kamu adalah apa yang kamu baca’, bisa jadi tak sepenuhnya benar tapi juga tak selalu salah. Karena saat berhadapan pada mereka yang hebat dalam mengusung ‘hal tersirat’ (pemikiran, ideologi, dsb) secara begitu halus, pertanyakan kembali pada diri kita, sehebat apa kita untuk menjadi bebal pada hal-hal yang tidak benar menurut Allah? Sepaham apa kita dengan Quran dan sunnah yang harus digunakan sebagai penguji sebuah pemikiran layak tidak hinggap di alam bawah sadar kita, jangan-jangan tameng kita tak terlalu kuat untuk menolak sesuatu yang ‘halus’ dan merasuk ke jiwa kita melalui apa yang kita baca. Kadang, kita harus memilih menjadi ‘katak dalam tempurung’ daripada terlanjur menganut sebuah pemikiran yang tak benar. *IMO. Karena mengubah pemikiran itu, bukan hal yang mudah.

Dan tentang menulis, setelah mengingat berbagai nasihat yang saya kutip di atas, kembali harus berkaca, niat dalam membuat sebuah tulisan (apapun itu) sesungguhnya apa. Sudah benarkah? Atau tanpa makna? Padahal setiap hal akan dipertanggungjawabkan termasuk apa yang kita tuliskan. Saya pernah berpesan ke seorang sahabat, ada hak dakwah dari mereka yang membaca tulisanmu. Saya hanya ingat banyak yang meniru gaya tulisannya waktu itu. Dan saya melihat potensinya besar dalam hal menulis *sok tau. Namun sayang, jika tak membawa ‘pesan’ bagi jiwa yang sesuai haknya. (lagi-lagi ini menurut saya, mungkin buat orang lain beda.. hehe).

Ikhlas dalam menulis _dalam hal ini tujuan yang lurus saat menulis_ tentu harus terus kita upayakan dalam setiap apa yang tertuang.

Wallaahu a’lam

*memohon ampun padaNya atas banyak kesalahan yang diketahui atau tak diketahui dalam membaca pun menulis.

Dan bagi saya, bahagia itu luar biasa jika ada yang menegur saya, ketika saya melakukan kesalahan (baik yang saya sudah tau itu salah ataupun belum). =D

Wahaaa.. tumben Fajar sebegini seriusnya.. tengah malem ga enak badan jadi malah ngoceh begini.. haghag.. mahaaph.. =D *mringis..

*menasihati diri sendiri terutama

#untuk yang saya kutip kata-katanya, terima kasih ya.. =)

gambar dari sini

*seperti biasa nulis, ga dibaca ulang langsung posting.. kebiasaan buruk.. hahaha

waaaaa.. lumayan belum bisa beli aslinya, download softnya dulu.. hehe =)

طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

(BAGUS & GRATIS) “KAMUS AL-MUNAWWIR” INDONESIA ARAB : Download Kamus Al-Munawwir.PDF karya Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Digital Verbace

 

Buku Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia“Kamus al Munawir” ini adalah kamus bahasa arab – indonesia terlengkap,ada lebih dari 1500 halaman. kamus ini berformat djvu dan sudah ana sertakan djvu readernya di dalam file zip nya.

Buku Kamus Al-Munawwir Arab – Indonesia

Penulis: Achmad Warson Munawwir

Penerbit: Pustaka Progressif
Dimensi: 24,5 x 16 cm x 1.591 hlm, Hard Cover Berat: 2,1 kg

Silahkan download ebooknya dibawah ini :

View original post 311 more words

SALIM MAULA ABU HUDZAIFAH

*saya ga gaul ternyaaattttaaaa..

keren sekali Salim maula Abu Hudzaifah radhiyallaahu anhu ini… masyaAllah..
n_nb

Abudzakira Blog

(PAKAR AL- QUR’AN TERBAIK)

Seorang budak muslim keturunan Persia hidup di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengabdi pada keluarga Abu Hudzaifah.  Perbudakan pada masa itu adalah warisan sistem jahiliyah yang begitu mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya. Manusia yang sejatinya mulia tiba-tiba teronggok seolah-olah menjadi barang dagangan yang bisa dijual kapan saja sesuka hati. Tak ada kemuliaan yang tersisa.

View original post 492 more words

Engkau, Perempuan #NtMS

Image

Kunci perbaikan bangsa ini terletak pada perempuan..
Pada penjagaan diri dan kehormatannya..
Pada rahim subur yang akan melahirkan generasi yang lebih baik dan pemimpin-pemimpin selanjutnya..
Pada kelembutan dan kasih sayangnya yang mampu membelai dan menentramkan semesta..

Salam hormat padamu, perempuan..

-jan ’13-

[Arwyn]

dah lama ga dapet ‘refleksi’ ala Arwyn [yang disebar ke semua kontak di HPnya].. mantan ketum JS satu ini..

dan dapet pas yang ngejleb banget..

tambah tadi baca tulisannya Abine Hanhun a.k.a Aji di sini > Ada Peran Wanita Dalam Setiap Perjuangan

“hendaklah seorang wanita mukminah melakukan amalan-amalan ketaatan yang semakin mendekatkan ketakwaan ia kepada Allah. Setelah itu ia mendidik anak-anaknya dan mengerjakan sesuatu karena mencari ridha Allah.”

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan”

menyenangkan sekali ya, menjadi perempuan.. =)

gambar dari sini

Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran

*membaca ini ke sekian kalinya tetep aja tertampar..

Ulama Sunnah

Disusun oleh: Tim Buletin Al Ilmu

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

View original post 1,627 more words