Hidup Denganmu, Mati Bersamamu

Image

“Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”

emang sepertinya lebih banyak yang ga nyadar kalo dirinya bodoh ya, dibanding yang sadar kalo bodoh. etapi fajar nyadar kalo bodoh koq.. cuman bukan urusan yang kek di lirik lagunya Noah tadi ntu yak.. plis deh.. hahaha

kemarin ga sengaja liat di tipi lagu ini, denger isi liriknya trus bengong.. kesian amat kalo ada yang begitu beneran.. sebegitu gila dan bodohnya plus ga dimengerti dan ga disadari.. hanya karena seseorang.. cuma gegara manusia.. aih.. jangan sampe deh ya.

Tulisan ini bukan mau ngebahas ntu.. tapi mau ngebahas sebuah cerita tentang.. eng ing eng.. “hidup denganmu, mati bersamamu” eeeaaa
*halah ini sih udah ditulis di judul.. haghag..

Ini sebuah kisah yang diceritain ustadz Sholihuddin Al-Hafidz.. pas kuliah shubuh waktu i’tikaf di Jogokariyan. Kenapa baru cerita sekarang?! Ya gegara lagu ntu, jadi inget lagi isi kuliah shubuh ini.. hehehe.. Ustadz dapat kisah ini ketika beliau jadi imam tarawih di Masjid agungnya daerah Minomartani (utara terminal concat). Tarawih di momen spesial itu khusus mengundang Ustadz Ahmad Al Habsyi sebagai penceramah dan diimami ustadz Sholihuddin dengan 1 juz tarawihnya..manteb dah.

Ustadz Ahmad Al Habsyi di kesempatan itu memberikan sebuah cerita nyata tentang 3 orang santri dari pondok pesantren yang blio asuh. Beliau memiliki pondok pesantren yang cukup jauh dari kota. Di situ mendidik para penghafal-penghafal quran yang masih belia. Pada suatu ketika ada perlombaan semacam MTQ begitu, sehingga harus mengirimkan perwakilan santri-santrinya untuk mengikuti lomba tersebut.

Akhirnya dipilihlah 3 orang anak mengikuti acara tersebut. Anak pertama memiliki hafalan 10 juz, yang kedua 20 juz dan yang ketiga hafal keseluruhan Al-quran. Untuk menuju kota dari pondok itu, mereka harus menggunakan transportasi perahu karena harus melalui sungai. Tibalah hari ketika mereka berangkat dan menaiki perahu, qardarallah perahu yang menjadi sarana perjalanan mereka mengalami kecelakaan dan mereka tenggelam.

Tim SAR pun melakukan pencarian para korban tenggelam termasuk 3 anak ini. Sehari, dua hari, bahkan tiga hari mayat mereka belum ditemukan. Hingga sepekan akhirnya tim SAR menemukan jasad ketiga anak ini. Anak pertama yang hafal 10 juz, ditemukan dalam kondisi sangat baik tak seperti mayat tenggelam pada umumnya yang menggembung, bengkak atau bahkan membusuk. Tidak sama sekali. Seperti baru tertidur saja, dan indahnya dia tersenyum. MasyaAllaah.. *merinding. Dan anak kedua yang hafal 20 juz dalam kondisi yang hampir sama ditambah aroma harum yang ada pada dirinya..

Lalu bagaimana dengan anak yang kertiga. Hampir sama juga, tapi ada satu hal yang menggetarkan.. dia menggenggam erat al-quran nya. di dekap di dadanya. Tim SAR pun tak bisa melepas Al-quran dari jasad bocah itu. Seolah-olah ingin mengabarkan pada dunia, ia hidup bersama al-quran dan matipun dengannya.. MasyaAllah.

Ketika ibu dari anak ini hadir dan melihat kondisi sang anak ia pun menangis haru dan tersenyum, lalu berkata kepada jasad anak itu.. “Nak, ibu ridha atas apapun ketetapan Allaah, titip salam untuk rasulullaah ya Nak” Dan tiba-tiba mushaf itu bisa terlepas dari genggaman sang anak, sehingga jenazahnya bisa dimakamkan. *huaaa ga terasa ni air mata meleleh-leleh dengerin kuliah Shubuh kali itu. Bergetar maluuu. Mungkin itu kuliah shubuh paling mengharukan diantara 10 hari kami di situ. Banyak yang mengusap air matanya, terdiam berdo’a.

Tentu lahir dari ibu yang luar biasa, anak pengafal quran ini.. Seperti biasa masjid Jogokariyan, saat sholat Shubuh selalu banyak jama’ahnya, beda tipis lah ama pas sholat tarawihnya. Sampe bawah pelataran musti digelar tiker. Dan memang didominasi ibu-ibu. Hingga ustadz Sholihuddin pun menyapa ibu-ibu di situ, dan semua jama’ah tentunya. Siapa coba yang ga mau punya anak-anak seperti itu? Yang hidupnya bersama al-quran dan matipun akan dibersamai quran, insyaAllaah..beroleh syafaatnya, pembelaannya.. Maka mari didik anak-anak kita dengan qur’an. Aamiin.. Semoga ya Ustadz.. semoga..

*keknya baru pernah cerita ini ke 1 orang doang.. hoho..
*masih tetep merinding dan tertampar mengingat kisah ini
*menasihati diri sendiri..

#seperti biasa males mbaca lagi apalagi ngedit.. hehehe. langsung posting.. qiqi *dudul

Advertisements

46 thoughts on “Hidup Denganmu, Mati Bersamamu

  1. eng ing eng … Fajar jangan segila itu. Sudah, makan dulu sanaahhh … he he he …

    *kayaknya berita tentang tim SAR yang mencari perahu yang tenggelam itu pernah saya dengar di televisi …

  2. aku merinding jar..kamu rajin-rajin nulis hasil kajian begini ya..biar aku kesamber ilmunya juga

    JKFS ya jar..someday aku ke jogja kita esti beneran ketemu trus aku diajak ke masjid jogokariyan dong *kedip kedip*

  3. Mengharukan hiks…hiks… Hidup bersamamu matipun bersamamu… Al-Qur’an… Subhanallah semoga kita pun khusnul khotimah bersama Al-Qur’an… Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s