Obrolan Tiga Jendela

Gegara kesindir ama mensyennya Pak Syam. Jaraway kebanyakan ngereblog. haha.. Memang, move on dari MP itu belum sukses sepenuhnya *eeaa. Jadi ini Fajar memaksakan diri harus nulis. Sebenernya banyak ide dah loncat-loncat di kepala menunggu dieksekusi, tapi tiap kali mau nulis dan ngadep lappy, bubar jalan.. hehehe. Dari kemarin nulis, dapet separuh trus mandeg, dapet separuh mandeg lagi, ga kelanjut. Ditambah ga kuat ngadep lappy kelamaan. hihihi. Sekarang ini bisa deselesein juga ternyata. haha.

Sebelumnya mau mengucapkan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ayah Pak Syam di tanah suci. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil maa’i watstsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas, wa adkhilhul jannata, wa a’idhu min ‘adzaabil qabri. Semoga merupakan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Indah sekali wafat di baitullah dan dishalatkan di sana.. =’)

Image

Baiklah, aku mau cerita. Akhir November tahun lalu Fajar pergi ke Jakarta dan sempat main ke rumah pemilik tiga jendela (Ai @akuaisemangka Sari Yulianti) *telat banget ceritanya baru sekarang.. haha. Beginilah masih susah move on dari MP. haghag. Akhirnyaa.. aku bisa ketemu tiga jendela itu, dari dulu penasaran.. Sebenere mau ketemu Ai apa tiga jendelanya yak. qiqiqi *gagalpaham. Nah, sewaktu di sana obrolan yang cukup membekas ya ga jauh-jauh dari tulis-menulis, hehe. Ai yang bercita-cita jadi penulis dan memang telah nerbitin buku pun sudah ikut juga di beberapa antologi hari itu harusnya pergi ke acara salah satu penerbit tapi ga jadi. hihihi

Kami pun berbincang tentang beberapa penulis yang sudah lama malang melintang di dunia olah kata rangkai aksara itu. Terutama penulis-penulis genre fiksi. Aku mungkin sudah terlalu sering bilang ke Ai, kalo aku ga begitu suka baca buku fiksi. hehe. Ai pun dulu begitu (inget tulisannya di MP). Tapi karena pilihannya menjadi penulis di ranah fiksi jadi ya mau tak mau Ai musti kudu wajib melahap banyak buku ‘aliran’ fiksi.

Tentang fiksi ini, aku masih ingat dulu guru pelajaran Bahasa Indonesiaku di SMA mengajarkan bahwa imajinasi kita harus diasah dengan mempelajari banyak hal. Membaca banyak peristiwa dan berani keluar dari ‘zona nyaman’ kita. Jika mau membuat cerita berlatar tempat A, ya kita harus pelajari dan kenal betul tempat A bagaimana, meskipun kita belum pernah benar-benar berada di tempat itu. Lalu karakter orang juga harus banyak kita pelajari walaupun kita belum pernah menjumpai orang semacam itu di kehidupan nyata. Profesi pun begitu. Eksplorasi kita harus luas. Begitu yang disampaikan beliau.

Ada yang lucu sih waktu itu, bu guru sambil bercanda dan senyum berujar bahwa tak begitu suka majalah An-Nida *lirik enje.. peace njee =p dan bilangnya sambil menatap ke arahku, aku balik senyum aja. haha. Lha, yang pake jilbab di kelasku memang tak banyak dan yang waktu itu antusias dengan pelajaran beliau ya sepertinya aku. Mau tak mau tatapan itu pun mengarah padaku. hihihi. Beliau berpendapat bahwa karakter tokoh-tokoh di cerpen An-Nida terlalu ‘melangit’, begitu ‘wah’, kayak ga mungkin ada di kenyataan. Dalam hati aku antara sepakat dan tidak sepakat dengan pernyataan beliau. Sepakat dengan ga begitu suka majalah An-Nida karena memang dasarnya aku ga begitu suka baca fiksi dan kurang suka tema-tema yang diangkat di cerpen-cerpennya. Ini subjektif aku banget. hahaha. Tapi ga sepakat kalo dianggap tokoh-tokoh yang ada di cerpen itu ga mungkin ada di kenyataan. Nyatanya aku pernah menjumpai ‘sosok-sosok langitan’ itu di kehidupan nyata. Tapi aku sendiri memang lebih sreg jika sebuah tulisan tak melulu sosok tokoh yang baiiiik banget. Untuk mewarnai kita. hehe. *IMO

Kembali ke tiga jendela *haiyah hihihi. Nahh, Ai menceritakan beberapa penulis novel Islami yang bisa menembus penerbit yang ‘sulit tertembus’. Murid les Ai pernah bercerita kalau teman-temannya sekarang gemar membaca novel dari penerbit itu. Tapi memang muatan di novel-novel itu ‘begitu’. Makanya salut juga bisa menembus penerbit semacam itu, menyusupkan nilai-nilai & prinsip Islami tanpa label Islam. Kita memang patut bersyukur tren baca anak-anak muda sekarang melesat pesat, namun juga perlu khawatir muatan apa yang masuk dan dicerna oleh mereka generasi penerima tongkat estafet itu *tsaah. Nilai-nilai seperti apa yang akan tertanam dalam benak mereka. Apakah nilai-nilai kebaikan & kebenaran atau justru hal-hal yang tak sadar menjerumuskan semacam pemikiran ‘sipilis’ (sekularisme pluralisme liberalisme). hehehe. Aku punya adik kecil yang beranjak remaja jadi ama beginian agak geram. haha

Alangkah indahnya jika setiap kita memilih ranah perjuangan masing-masing dan bersungguh-sungguh di situ, membawa misi kebenaran. =D

Begitu juga para da’i yang memilih berjuang di dunia kepenulisan fiksi ini. Bahwa ada sebuah cita mewarnai dengan ‘shibghatallah’ di area yang kini banyak dilahap anak-anak muda kita, sepatutnya tujuan itu tak pupus. Perjuangan di bidang ini tentu tak mudah, eksplorasinya musti manteb, apalagi harus berkejar-kejaran dengan ‘celupan-celupan’ lain yang tak kalah sungguh-sungguh dalam membawa nilai-nilai mereka.

Sampai di bagian ini, aku ingat satu ujaran “dulu novel yang beraroma pornografi ditulis oleh novelis laki-laki, kini justru yang menulisnya adalah perempuan menjadi best seller pula”. Aku lupa ini kata-kata siapa.. hehe n_nv peace.

Tentang ketidaksukaanku terhadap fiksi, eum.. ini sih bagiku sudah sampai ke ‘level’ hal prinsip. hehehe. Dulu aku suka membuat cerpen dan membacanya. Novel 5 cm, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi bisa kulalap dalam 2 atau 3 hari. Kumpulan cerpen dulu paling kusuka adalah tentang kumpulan cerpen yang bercerita tentang Palestina, Bosnia, Kashmir, dan semacamnya. Tapi, tetap saja lebih menyukai bacaan non fiksi. Apalagi ketika kini, beroleh kajian dari beberapa ustadz, mengada-adakan cerita itu tidak boleh. Dan para pendongeng ini pun yang mengakibatkan betapa banyak hadits-hadits dan kisah-kisah palsu yang beredar luas di kalangan umat Muslim. Miris rasanya. Dan aku lebih memilih menghindarinya. =D

Oiya, terakhir.. dulu Suryaq merekomendasikan buku dongeng anak 365 Hari Bersama Rasulullah saw, dan 365 Hari bersama Shahabat Rasul *lupa judulnya. Penerbitnya Gramedia. Pernah dinobatkan jadi buku terjemahan terbaik di IBF 2010 kalo ga salah inget. Nah, buku ini nih dongeng untuk anak, tapi bersumber dari hadits-hadits shahih. Keren ga tuh, Ini yang Fajar cari dan dari dulu pengen banget bisa dongeng dengan sumber benar. Jadi inget paniknya mau ngisi TPA ndongeng musti baca tafsir dulu. hahaha. Makanya dari dulu ngincer banget Kitab Shahih Bukhari & Muslim, buat bisa bercerita ke anak-anakku kelak *tsaah.. hahaha. Tambah ni Bang Hendra postingnya sekarang-sekarang ni tentang kisah-kisah lemah & palsu. Wuih, padahal itu yang sering tertanam di benakku, ternyata ga bener, aku ga mau dong nyeritain anak pake hal yang ga bener. Masuk kategori pendusta ntar *ngeri.. hehehe. =D

“memilih dan memilah kisah apa yang terukir di ‘batu’ ingatan anak-anak kita, adalah salah satu hal penting yang menentukan ukiran kehidupan mereka kelak”

(kataku.. haghag)

Karena aku merasa masa kecilku ditanamkan dongeng-dongeng tak masuk akal, semacam Kancil Nyolong Timun, Mak Lampir, Mahabarata, dll. Hahaha. Jadi ga heran juga sekarang banyak tokoh ‘selicik’ kancil dalam dongeng itu, menggunakan kecerdasannya untuk mengakali orang lain, menghalalkan segala cara. Banyak juga orang-orang yang menyukai dunia mistis. haghag. Dan banyak pula yang mempercayai dewa-dewa. hadeeeh. Masa kecilku ga keren banget yak. hehehe. =D Maka, aku tak mau terulang hal yang sama pada anak-anakku kelak. Aamiin. Koq jadi serius amat ya ni tulisan. ahahaha.. whatever lah, yang penting aku mulai nulis lagi.. haghag

Buat Ai, moga sukses jadi penulis yang dicintai penduduk langit & bumi.. diberkahi jalan kepenulisannya dan melahirkan karya-karya yang bisa jadi ilmu yang bisa diambil manfaatnya, mengalir terus kebaikan melaluinya, insyaAllah. Semangka.. smangaD kawan.. ;)

NB : spesial buat my lovely hunny yang hari ini ujian tesis.. ciee.. eeaaa.. moga revisinya cepet kelar.. baarakallaahu fiiki =) pokoknya kalo aku ke jogja minta traktir, janji yang dulu ntuh.. hahaha.. kangeeeen.. kapan ‘ngedate’ berdua lagi *uhuuuy.. haghag

60 thoughts on “Obrolan Tiga Jendela

  1. Aku juga lebih suka (beli, dan baca) genre non-fiksi dri SMA mba, tpi tetep baca sih yg fiksi2…
    Alesanku si, klo buku2 fiksi gtu mending minjem drpd beli, kan sekali dua kali abis bacanya… sayang dong duinya hahaha :p
    Tapi, lambat laun kupaksakan jg melahap sastra2 fiksi (pokoknya maksain diri banget, biar kata gak mudeng2 jalan cerita teteeppp aja lanjut bacanya :D), kenapa? soalnya buat menambah kosakata, kan ceritanya jg pengen jadi penulis, gicu…
    auk ah =))

    • nek aku malah kuwalikane dant.. aku luwih gampang mudheng bacaan fiksi.. qiqiqi..
      tapi memaksakan diri nggo melahap bacaan non fiksi.. qeqeqe
      meski ga mudheng & kudu mengulang2 le maca.. hihihi..
      hooh nek bacaan fiksi, hampir kabeh sing takwaca silihan.. =))
      perpus Rohis jaman biyen isine fiksi thok.. =)))
      trus kanca2q akeh duwene fiksi.. ya wis.. qiqi
      paling duwe buku fiksi gur 6 po 7 an.. =D
      hihihi
      okelah dant.. muga dadi penulis sing “keren”.. n_nb

    • kamar yang ada 3 jendelanya.
      Ai kan dulu sering tu kalo posting di blog, keterangan di bawahnya
      “di balik tiga jendela”
      pukul sekian
      gitu..
      fajar penasaran ma 3 jendelanya yang sering disebut2,, haha

  2. ish kenapa banyak yang lupa? haha

    iya ya bener juga #menunduk

    berrti mungkin baiknya terkonstruksi dari kisah nyata kali ya yang dibahasakan dengan indah maksudku dalam bahasa fiksi bukan dalam bahasa resmi yang tak enak :P
    kayak laskar pelangi gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s