Lalu, Kau Bertanya untuk Apa?

Image

Beberapa hari yang lalu aku membuka lagi buku yang pernah selesai kubaca tahun lalu. Aku memang suka mengulang membaca buku yang kusuka, karena selalu ada kesan yang berbeda dalam kesempatan yang tak sama jika mengulang bacaan. Tentang buku itu, berkali pun kubaca selalu sukses membuatku meleleh deras. hahaha. Ini ketiga kalinya aku membacanya sampai tuntas buku 323 halaman ini.

Sedikit terusik ketika sampai di halaman aku menemukan kata “burdain”, deg.. Aku tiba-tiba ingat kalau aku lupa (bahasa apapula ini ‘tiba-tiba ingat kalau lupa’ haghag) apa arti bardain. Duh. Dulu pernah nanya, tapi kucoba-coba mengingat jawaban dari yang kutanyain tahun lalu, tetep aja lupa. Langsung panik ngubek-ubek HP, buka satu-satu sms di situ, pegel juga. hahaha. Ga ada. Di draft juga, ga ada. Kucari-cari di buku biasa aku nyoret-nyoret hal baru yang perlu kucatat, ga ada juga. Mau tanya orangnya lagi maluuuu.. hahaha.. *payah. Padahal juga yang ditanyain pasti mau ngejawab lagi, tapi tetep aja malu. Niat ga sih, nanya mulu. wekeke.

Sampe aku putus asa dan akhirnya aku inget, kalo waktu itu smsnya yang udah nangkring beberapa hari di inbox hp kuhapus gegara inbox penuh. Tapi sebelum ngehapus kubaca baik-baik isinya sampai ingat betul. Ternyata, belum satu tahun aja aku udah lupa apa yang aku ingat waktu menghapus itu. Duh, payah. Akhirnya dengan mengesampingkan rasa malu kutanya lagi lah. hehehe. Aku sih tau kalau burdain itu shalat shubuh & ashar tapi lupa beneran itu dari kata apa dan kenapa bisa jadi dua shalat itu disebut burdain. Phyuh..

Eng ing eng.. dijawab lagi lah yang kedua kalinya

“Itu dari kata barada yang artinya dingin. Al-bardu itu dingin, bardain itu dua dingin (dua tepi siang yang dingin, yakni Shubuh dan Ashar). Kalau al-burda atau burdah artinya kain bergaris”

Yay, itu dia sms yang persis dengan jawaban tahun lalu. Aiih Fajar dasar pelupa. *tepok jidad. Hihihi. Kali ini tak mau kulepas, bener-bener kucatat di tempat yang aman. haghag.

Dengan kejadian simpel ini aku merenung, ya Allaah sudah berapa banyak pertanyaanku yang dijawab sungguh-sungguh oleh yang kutanyai tapi kulupakan begitu saja? Lalu sesungguhnya aku bertanya untuk apa? Kalau memang untuk tau dan paham kenapa semudah itu kulupakan? Waktu itu berkali-kali beristighfar. Dan ini pembelajaran berharga untukku. Agar sungguh-sungguh mengikat ilmu dengan merekamnya dalam tulisan karena jika hanya disimpan dalam ingatan, lupa itu niscaya. Bukankah menulis itu juga bagian dari upaya merekam sesuatu lebih lama dalam ingatan kita? hehehe. Makanya jangan males nyatet jaaar.

Bertanyalah untuk menjadi sebuah pemahaman yang kau amalkan, Jar. Karena buah ilmu adalah amal. Jika sungguh-sungguh diamalkan lupa itu akan mudah kau lawan. #NtMS

Advertisements

40 thoughts on “Lalu, Kau Bertanya untuk Apa?

  1. Bertanyalah untuk menjadi sebuah pemahaman yang kau amalkan, Jar. Karena buah ilmu adalah amal. Jika sungguh-sungguh diamalkan lupa itu akan mudah kau lawan. #NtMS
    suka sekali kalimat terakhirnya… saya termasuk yang pelupa.. akan jadi ingatan mudah2an kalimat terakhir itu.

  2. mampir ing nggone mbake terus tertarik maca bagian celoteh mbake… huhuhu tulisan ini “menjotosku” pula nih mbake…

    tiba-tiba ingat kalau lupa…

    ya lupa kalau udah mengabaikan banget updatean geje berhikmahe mbake huhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s