*nduduls

aaahh.. maen ke blognya yuri jadi berjubel2 pengen nulis isi seminar quran kemarin..
woy.. ga boleh nulis sebelum kerjaan hari ini kelar dulu..!
#NtMS

*nyampah

*menuh2in reader orang

Advertisements

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Rohingya ?

ada ‘fajar’nya di siniiii.. *kumat

 

do’a kami untukmu Rohingya =’)

Membaca Rindu

20161120200143-1-pengungsian-muslim-rohingya-di-myanmar-terbakar-009-nfi

Letupan itu kembali membumi ketika jilatan sang api memburu sebagian waktu kita. Lahir dari tubuh-tubuh rapuh yang disiksa pada sebuah prosa penindasan yang begitu panjang. Kembali aku mengangkasakan catatan waktu ini pada subuh-subuh tanpa ujung yang pasti. Bertemankan peluru-peluru yang setiap saat memburu tubuh dan jiwa yang tak pernah merdeka ini. Kawan, apakah sampai padamu berita tentang Rohingya ?

Ketika beribu orang tua pulang ke rumahnya dengan darah yang masih segar. Layangkan seribu ingatan tentang junta-junta yang tak beradab dan tak punya rasa. Darah segar itu seolah meneteskan dan tengah mengisahkan rindunya yang tak berujung pada tanah kelahirannya. Terusir pada beberapa fragmen lalu terbuang meninggalkan kata pada sebentuk jawaban yang membuat kita termenung bersama. Kawan, apakah sampai padamu berita tentang Rohingya ?

Aku tengah berdiri tegak diantara bau anyir yang entah mengapa membuat bulu kuduk ini serasa berdiri. Kekal pada setiap titiknya ketika mayat-mayat tanpa nama terus membisikkan nama Rohingya…

View original post 270 more words

Ruang Bagi Bakat Terpendam [copas]

Judul: Sketsa Angin di Atas Pasir

Karya: Elaine Firdausza, dkk

Penyunting: Emzzy Azzam

Isi: 175 halaman

Penerbit: Inzpirazone Publisher

Cetakan: 1, Maret 2011

INILAH, Sketsa Angin di Atas Pasir (SADAP) – Kumpulan Puisi. Elaine Firdausza dan kawan-kawan membagi larik-larik syair mereka dalam 129 judul puisi.

19 orang telah menampilkan buah karya dari proses kreatif. Mereka kumpulkan puisinya secara berenteng, dari teman ke teman, lewat pergaulan antarkawan. Kita membaca spirit kebebasan yang sederhana.

Dari 19 nama itu, didapati biodata ringkas 16 pengumpul puisi dalam antologi SADAP ini (halaman 169-175). Mereka adalah Izel Muhammad dari Sumenep, Arif Fitra Kurniawan (Semarang), Yadhi Rusmiadi Jashar (Banding Agung), Uum G Karyanto (Majalaya), Efvhan Fajrullah (Palembang), Muhammad Haddiy (Lombok Barat), Husni Hamisi (Ternate).

Hyla Shane Gerhana (Malang), Fitri Meida (Bandung), Romel Panarta (Sawahlunto), Fran Keni Tamara (Surabaya), Lentera Al Jazhiran (Blitar), D Dudu AR (Tasikmalaya), Khalifa Rafa Az-Zahra (Surakarta), Jaraway Al-Fajr (Magelang), Elaine Firdausza (Blitar). Sedangkan Daffodilslife, Wild Rose, dan Raja Syahir tidak tercantumkan biodata mereka.

Beberapa puisi dalam SADAP menampilkan tema penyemangat atas keadaan. Seperti membuka ruang katarsis dijejali berlimpahnya diksi yang dipilih para penulis dari dalam kamus Indonesia.

Puisi-puisi dalam SADAP dibuat penuh semangat. Tampak beberapa di antaranya melontarkan artikula yang hiruk-pikuk mendominir awalan, tetapi tetap menyisakan cara berteori kreasi ala gaya puisi lama zamannya almarhum Sutan Takdir Alisjahbana dulu. Di antaranya, yang berikut ini.

…ketika kalut itu datang//kadang jadi api//seperti lelucon yang menertawai nafsumu//kadang jadi air//seperti doa bagi yang sudah mati… (Resiliensi Hutan Hujan, Hylla Shane Gerhana: halaman 41)

…jika jasad hanya ingin masuk liang lahat//tak perlu berkorban untuk kebenaran yang terlihat//jika hanya ingin merasakan baunya tanah//tak usah berjuang hingga susah… (Bukan Hidup untuk Mati, Fitri Meida: halaman 83)

…agar bisa hutang saat gak mampu bayar//menjadi tiang untuk bersandar//berbagi suka dan duka, saat dada berdebar//menjadi pembalut luka, waktu diputus pacar//jangan, persahabatan jangan dibuat sukar//lho… nanti bisa bubar… (Sajak Titi Kala Mangsa di Kampus Alamanda, Fran Keni Tamara: halaman 103).

Bagi puisi-puisi SADAP, salah satu komentar terlontar menarik dalam endorsement (halaman 5). Datangnya dari Gunadi Adisasmita, pelaksana fungsi ekonomi dan pensosbud, KBRI, Sana’a, Yaman. Katanya, “Seni adalah bentuk atau ciptaan yang muncul dari pengalaman jiwa seseorang karena ia ingin memberikan bentuk yang kongkrit terhadap yang dirasakannya, sehingga orang lain dapat ikut pula merasakan…”

Pengantar yang ditulis Elaine Firdausza (halaman 6-7), salah seorang penyumbang puisi dalam kumpulan ini, berbunyi: “…puisi ini hadir sebagai ruang bagi para penulis yang memendam bakatnya untuk meramaikan dan sebagai alternatif bacaan yang segar dalam dunia kesusasteraan.”

Judul kumpulan ini, Sketsa Angin di Atas Pasir, menerbitkan kaidah asosiasi: yang untuk kentalnya, bolehlah disebut secara analogisme: satu pantai bahasa yang penuh dengan riak dan gelombang puisi yang tiada sudah-sudahnya. Semangat mengarungi samudera kata-kata dari 19 pelaut syair seolah-olah sesejuk menikmati lagu lama Sheila Majid, Antara Anyer dan Jakarta, akhir tahun 80-an, ciptaan Odie Agam.

(mbs)

via Ruang Bagi Bakat Terpendam.

#Ahaha.. nemu postingan ini jadi inget kalau saya belum punya bukunya.. hadeeeh.. padahal MP sudah tutup.. duuuh.. dulu dah pesen si, tapi lupa belum jadi2 dikirim.. hoho.. ya sudahlah.. mungkin belum berjodoh *halah.. =))

Dua puisi saya yang ada di buku itu :

Aku Masih Setia
elok nian hiperbol mereka atas citra sosok-sosok gubahan sutradara konspirasi dunia
lahirkan eulogi penuh tipu daya
 
adakah serau kan bergerak jadi erat?
bilakah ikatan kembali bernas serupa waktu sang pembawa risalah itu tiba?
 
candamu menamparku
kaki langit Gaza masih menggariskan horizon yang sama : MERAH SAGA
lautan darah masih menggenang di sana
 
janjiku, 
tak akan berpaling, 
bahkan tuk menoleh sekian derajat pun
 
AKU MASIH SETIA
titik
 
#Al-Aqshoku, Palestinaku, engkau masih di dadaku, tak akan berpaling

________________________________________________________________________

Aku Pun Punya Rindu
letih angkasa menanti; rindu layang-layang bocah kampung lilit lembayung cakrawala

kini sepi; terdekap asap beringas pohon-pohon beton bergelantungan pada kaki awan tanpa jeda

 

sipit gawang Gelora menggeriap; rindu gol dari gocek, tendangan, sundulan anak bangsa

kini sunyi; terlelap pulas, jauh riuh gegap gempita sorak sorai membahana

 

pasrah hutan menangkis; rindu musnah pembalak berderai-derai memangkas rindang panorama

kini senyap; terhempas gelombang banjir bandang menerjang, rata, porak-poranda

 

isak tangis bayi menyayat; rindu senyum sahaja sang bunda dengan buaian penuh cinta

kini hening; terlintas sosok muram berdahi penuh kerut yang di benaknya harga susu kian menggila

 

 

bila rindu mereka mulai lesap,

perlahan lenyap tanpa harap,

bak data komputer berangsur terhapus virus pemangsa;

 

 

akupun punya rindu

 

pada diriku, kamu, kita tuk jadi PENGGENGGAM BARA

terasing dari dunia

 

kumohon, bantu aku lepas rindu

Satu Milimeter

bismillaah..

Mungkin, saya bisa sedikit memahami kini mengapa Imam Ahmad rahimahullaah lebih memilih tetap teguh dengan prinsipnya meski dengan hal itu siksaan akan semakin kejam dan kematian keji seolah menjemput di hadapan. Padahal ‘rukhshah’ bisa saja beliau ambil, ketika penganiayaan sudah sangat melampaui batas. Dan saya juga mungkin bisa sedikit memahami mengapa para muridnya menasihati agar beliau berkompromi dengan penguasa -mengiyakan bahwa Quran itu makhluk- tapi hati tetap menolak. Para murid itu tahu penyiksaan model bagaimana yang dihadapi gurunya tiap harinya. Akan tetapi jika saja Imam Ahmad memilih rukhshah itu, entah fitnah kesesatan seperti apa yang akan merebak dahsyat seketika itu (fitnah dalam b.arab bukan b.indonesia maksudnya.. hehe). Sang Imam tahu betul, di luar benteng penjara, rakyat Baghdad dengan pena dan kertasnya menunggu kalimat sang Imam sebagai panduan.

Bisa jadi banyak orang bisa memaklumi ketika pilihan ‘keringanan’ yang menjadi keputusan, dengan argumen dalil kebolehan rasulullaah kepada Ammar bin Yasir mengakui keimanan ‘lain’ hanya dalam lisan sebab penyiksaan dahsyat yang ia rasakan. Namun sungguh pilihan beliau rahimahullaah menjawab nasihat para murid dengan bijak dan kapasitas ilmunya “Nah, apakah pantas aku selamat sendirian dan mereka menjadi sesat”

Wahai ustadz Rahmat.. rahimahullaah.. saya merindukan sosok antum, yaa Ustadz. Merindukan tulisan-tulisan semacam tulisan milik antum..

“Atau semangat zaman telah menaklukkan makna hakiki sabda. Akhirnya segalanya boleh kecuali yang bertentangan dengan nafsu mereka. Untuk meyakin-yakinkan publik terkadang mereka mengutip qaidah-qaidah fiqh dan pada saatnya mereka terbentur dengan prinsip: ‘Tak semua khilaf datang dengan (bobot) yang pantas diterima, kecuali khilaf yang berakar pada nalar (yang benar)’.”

Humm.. ketika bidikan menyimpang satu milimeter, apakah peluru yang melesat dari laras juga akan menyimpang satu milimeter dari sasaran?

Jika saya membayangkan seperti di film-film action pembunuhan seseorang, bidikan sniper meleset, menyimpang satu milimeter dari yang seharusnya; maka bukan si target yang terbunuh. Misi gagal. Tak bisa mengulang tembakan kedua karena pasti pasukan pengamanan telah mencari sumber tembakan.

Ah, iya.. seperti tanggapanmu waktu itu, aku ingat betul meski tak menuliskan atau menyimpannya, katamu bukan mengenai sasaran tapi justru merusak apa yang seharusnya utuh.
Waktu itu aku terkesiap. Hanya diam saja dan merenung mendapati tanggapan semacam itu. Aku tak berpikir sejauh itu. Yang terbayang di benakku saat kalimat itu meluncur adalah seseorang yang berlatih menembak, akhirnya sasarannya sama sekali tak tertembak. Melesat jauuuh sekali dari titik sasaran seharusnya. Namun, kau membuka mataku. Hey, ini bukan latihan menembak. Ini tembakan sesungguhnya. Yang di sekitar sasaran itu bisa jadi ada korban yang akan jadi ‘sasaran baru’ berkat satu milimeter. Sayangnya sang sasaran baru itu seharusnya bukan korban, ia mustinya tak terluka sama sekali. Luar biasa bukan dampak dari istilah ‘meleset satu milimeter’ itu. Ya, hanya satu milimeter. Merusak apa yang seharusnya utuh. Ah..

Image

Memang satu milimeter itu pada kenyataannya bisa jadi itu bukan kesengajaan. Mana ada ya, sniper salah tembak sengaja?! hehe. Setiap manusia tak luput dari kesalahan bahkan rasulullaah sekalipun pernah ditegur langsung oleh Allaah melalui firmanNya. Namun kesalahan tetap harus kita sampaikan sebagai sebuah kesalahan. Bukan mencari pembenaran dan pemakluman dari satu milimeter melesetnya laras tanpa kesengajaan itu. Agar orang lain tak menganggap bahwa korban yang jatuh seharusnya adalah sang ‘korban baru’ itu. Agar orang-orang tak menganggap bahwa tak apa hal yang seharusnya utuh itu rusak karena ketidaksengajaan. Jadi kita boleh saja dengan mudah ‘tak sengaja’ merusak lagi di lain kesempatan. Atau mengikuti merusaknya tanpa ketidaksengajaan. Mengerikan, kawan.

Sungguh.. di detik-detik semacam ini, saya begitu merindukan sosok Al-‘Umari cicit Al-Faruq itu.. (Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu). Betapa tegas dan kritisnya beliau dalam menyatakan yang haq. Beliau mengkritisi para ulama yang dianggap telah mendekat pada kekuasaan dengan perkataan ‘kalian mulai condong pada dunia’.

Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan perkataan Al-‘Umari:

“Sungguh termasuk yang melalaikanmu dari jiwamu adalah karena kamu menolak Allah subhanahu wata’ala dengan memperoleh pada sesuatu yang membuatnya marah lalu kamu melakukannya. Kamu tidak memerintah pada yang baik dan tidak melarang kemungkaran, karena takut terhadap makhluk. Padahal makhluk sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk memberi bahaya dan manfaat atasmu. Barangsiapa yang meninggalkan amar ma’ruf dan nahyul munkar karena takut kepada makhluk, akan dicabut kewibawaan dirinya. Hingga ketika ia memerintahkan anaknya, anaknya itu akan menganggap enteng perintahnya.”

Betapa dalam kata-kata Al-‘Umari itu, menampar relung hati ini, apakah diri ini tergolong mereka yang takut kepada makhluk? Dengan sadar atau tanpa sadar membuat Allah marah, murka.. *mewek

Ia sosok yang kritis juga kepada sang amirul mukminin waktu itu, Harun Ar-rasyid. Sampai pernah dikatakan oleh Ar-Rasyid, “Demi Allah, saya tidak tahu ada masalah apa dengan al-Umari. Saya tidak suka datang meminta nasihat kepadanya, tapi saya sangat suka meminta pendapatnya.”

Nasihat kebenaran, memang seringkali pedas di telinga dan hati kita. Membuat kita tak nyaman mendengarnya dan tidak terima atas perlakuan yang seolah kasar. Namun, tengoklah sosok sang khalifah Harun Ar-Rasyid.. dia mempercayai dan memegang pendapat sosok ulama yang bisa jadi begitu pedas dalam menasihatinya.

Satu hal yang pasti, bersyukurlah ketika kita melakukan sebuah kesalahan lalu masih ada yang mau menasihati kita. Menegur kita. Bayangkan jika kita berbuat salah lantas semua orang membiarkan kita bergelimang kesalahan entah sadar atau tidak. Tak peduli ketika kita berbuat kemungkaran pun kemaksiatan. Nasihat mungkin pahit, tapi bisa jadi obat untuk kembali menemui kebeningan hati, berkaca pada cermin kebenaran sejati.

Image

Rabbi.. Ampuni kami.. =’)
*menulis sambil menahan derai air mata

#gambar dari instagram adikq.. hehe =D

Ganteng Euy *dipentung

Image

Aseliii.. Quran itu bikin kegantengan seseorang meningkat berlipat-lipat ratusan persen. Ahahahaha

*Pasang tampang ganteng.. =))

Woy sadaaaar Jar.. dirimu perempuan *tepokjidad.. qeqeqe

[gambar atas tadi dari twitter @sahabatsuriah ]

“Biar kanan kiri pertempuran, terus kuatkan iman dg Tilawah Al-Quran. #Syria

Aih, keren ya.. Maa Syaa Allaah.. Ganteng bener dah, bertempur melawan musuh Allaah di medan jihad dibersamai tilawah quran.. Cakep beneeerr.. *ngiri

Image

Sudahkah hari ini engkau membaca Al-Quran? =)

-pesen dari UGM Menghafal-

Jangan lupa ini hari Jum’at.. Al-Kahfi yuuuk.. hihi

#OneDayOneJuz and more.. and moree..

countdown to Ramadhan..

Image

Jadikan Al-Quran pedoman hidup kita.

Baarakallaahu fiikum.. =)

n_n/

Spesial buat yang di Jogja dan sekitarnya

UNDANGAN 

Seminar Al-Qur’an NASIONAL, Ahad 7 April 2013 pukul 07.30-Dzuhur 

di Gedung Multi Purpose UIN 

Pembicara : Ustadz Hidayat Nur Wahid & Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc Al-Hafidz (ustadznya Winda nih.. hihihi)

Infaq 10ribu. 

Mari “Bumikan Al-Qur’an, Selamatkan Generasi , Muliakan Negeri”

Sebarkan.

Daftar  085729297646