Satu Milimeter

bismillaah..

Mungkin, saya bisa sedikit memahami kini mengapa Imam Ahmad rahimahullaah lebih memilih tetap teguh dengan prinsipnya meski dengan hal itu siksaan akan semakin kejam dan kematian keji seolah menjemput di hadapan. Padahal ‘rukhshah’ bisa saja beliau ambil, ketika penganiayaan sudah sangat melampaui batas. Dan saya juga mungkin bisa sedikit memahami mengapa para muridnya menasihati agar beliau berkompromi dengan penguasa -mengiyakan bahwa Quran itu makhluk- tapi hati tetap menolak. Para murid itu tahu penyiksaan model bagaimana yang dihadapi gurunya tiap harinya. Akan tetapi jika saja Imam Ahmad memilih rukhshah itu, entah fitnah kesesatan seperti apa yang akan merebak dahsyat seketika itu (fitnah dalam b.arab bukan b.indonesia maksudnya.. hehe). Sang Imam tahu betul, di luar benteng penjara, rakyat Baghdad dengan pena dan kertasnya menunggu kalimat sang Imam sebagai panduan.

Bisa jadi banyak orang bisa memaklumi ketika pilihan ‘keringanan’ yang menjadi keputusan, dengan argumen dalil kebolehan rasulullaah kepada Ammar bin Yasir mengakui keimanan ‘lain’ hanya dalam lisan sebab penyiksaan dahsyat yang ia rasakan. Namun sungguh pilihan beliau rahimahullaah menjawab nasihat para murid dengan bijak dan kapasitas ilmunya “Nah, apakah pantas aku selamat sendirian dan mereka menjadi sesat”

Wahai ustadz Rahmat.. rahimahullaah.. saya merindukan sosok antum, yaa Ustadz. Merindukan tulisan-tulisan semacam tulisan milik antum..

“Atau semangat zaman telah menaklukkan makna hakiki sabda. Akhirnya segalanya boleh kecuali yang bertentangan dengan nafsu mereka. Untuk meyakin-yakinkan publik terkadang mereka mengutip qaidah-qaidah fiqh dan pada saatnya mereka terbentur dengan prinsip: ‘Tak semua khilaf datang dengan (bobot) yang pantas diterima, kecuali khilaf yang berakar pada nalar (yang benar)’.”

Humm.. ketika bidikan menyimpang satu milimeter, apakah peluru yang melesat dari laras juga akan menyimpang satu milimeter dari sasaran?

Jika saya membayangkan seperti di film-film action pembunuhan seseorang, bidikan sniper meleset, menyimpang satu milimeter dari yang seharusnya; maka bukan si target yang terbunuh. Misi gagal. Tak bisa mengulang tembakan kedua karena pasti pasukan pengamanan telah mencari sumber tembakan.

Ah, iya.. seperti tanggapanmu waktu itu, aku ingat betul meski tak menuliskan atau menyimpannya, katamu bukan mengenai sasaran tapi justru merusak apa yang seharusnya utuh.
Waktu itu aku terkesiap. Hanya diam saja dan merenung mendapati tanggapan semacam itu. Aku tak berpikir sejauh itu. Yang terbayang di benakku saat kalimat itu meluncur adalah seseorang yang berlatih menembak, akhirnya sasarannya sama sekali tak tertembak. Melesat jauuuh sekali dari titik sasaran seharusnya. Namun, kau membuka mataku. Hey, ini bukan latihan menembak. Ini tembakan sesungguhnya. Yang di sekitar sasaran itu bisa jadi ada korban yang akan jadi ‘sasaran baru’ berkat satu milimeter. Sayangnya sang sasaran baru itu seharusnya bukan korban, ia mustinya tak terluka sama sekali. Luar biasa bukan dampak dari istilah ‘meleset satu milimeter’ itu. Ya, hanya satu milimeter. Merusak apa yang seharusnya utuh. Ah..

Image

Memang satu milimeter itu pada kenyataannya bisa jadi itu bukan kesengajaan. Mana ada ya, sniper salah tembak sengaja?! hehe. Setiap manusia tak luput dari kesalahan bahkan rasulullaah sekalipun pernah ditegur langsung oleh Allaah melalui firmanNya. Namun kesalahan tetap harus kita sampaikan sebagai sebuah kesalahan. Bukan mencari pembenaran dan pemakluman dari satu milimeter melesetnya laras tanpa kesengajaan itu. Agar orang lain tak menganggap bahwa korban yang jatuh seharusnya adalah sang ‘korban baru’ itu. Agar orang-orang tak menganggap bahwa tak apa hal yang seharusnya utuh itu rusak karena ketidaksengajaan. Jadi kita boleh saja dengan mudah ‘tak sengaja’ merusak lagi di lain kesempatan. Atau mengikuti merusaknya tanpa ketidaksengajaan. Mengerikan, kawan.

Sungguh.. di detik-detik semacam ini, saya begitu merindukan sosok Al-‘Umari cicit Al-Faruq itu.. (Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu). Betapa tegas dan kritisnya beliau dalam menyatakan yang haq. Beliau mengkritisi para ulama yang dianggap telah mendekat pada kekuasaan dengan perkataan ‘kalian mulai condong pada dunia’.

Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan perkataan Al-‘Umari:

“Sungguh termasuk yang melalaikanmu dari jiwamu adalah karena kamu menolak Allah subhanahu wata’ala dengan memperoleh pada sesuatu yang membuatnya marah lalu kamu melakukannya. Kamu tidak memerintah pada yang baik dan tidak melarang kemungkaran, karena takut terhadap makhluk. Padahal makhluk sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk memberi bahaya dan manfaat atasmu. Barangsiapa yang meninggalkan amar ma’ruf dan nahyul munkar karena takut kepada makhluk, akan dicabut kewibawaan dirinya. Hingga ketika ia memerintahkan anaknya, anaknya itu akan menganggap enteng perintahnya.”

Betapa dalam kata-kata Al-‘Umari itu, menampar relung hati ini, apakah diri ini tergolong mereka yang takut kepada makhluk? Dengan sadar atau tanpa sadar membuat Allah marah, murka.. *mewek

Ia sosok yang kritis juga kepada sang amirul mukminin waktu itu, Harun Ar-rasyid. Sampai pernah dikatakan oleh Ar-Rasyid, “Demi Allah, saya tidak tahu ada masalah apa dengan al-Umari. Saya tidak suka datang meminta nasihat kepadanya, tapi saya sangat suka meminta pendapatnya.”

Nasihat kebenaran, memang seringkali pedas di telinga dan hati kita. Membuat kita tak nyaman mendengarnya dan tidak terima atas perlakuan yang seolah kasar. Namun, tengoklah sosok sang khalifah Harun Ar-Rasyid.. dia mempercayai dan memegang pendapat sosok ulama yang bisa jadi begitu pedas dalam menasihatinya.

Satu hal yang pasti, bersyukurlah ketika kita melakukan sebuah kesalahan lalu masih ada yang mau menasihati kita. Menegur kita. Bayangkan jika kita berbuat salah lantas semua orang membiarkan kita bergelimang kesalahan entah sadar atau tidak. Tak peduli ketika kita berbuat kemungkaran pun kemaksiatan. Nasihat mungkin pahit, tapi bisa jadi obat untuk kembali menemui kebeningan hati, berkaca pada cermin kebenaran sejati.

Image

Rabbi.. Ampuni kami.. =’)
*menulis sambil menahan derai air mata

#gambar dari instagram adikq.. hehe =D

36 thoughts on “Satu Milimeter

  1. Fajar berkata, “Namun kesalahan tetap harus kita sampaikan sebagai sebuah kesalahan. Bukan mencari pembenaran dan pemakluman dari satu milimeter melesetnya laras tanpa kesengajaan itu. Agar orang lain tak menganggap bahwa korban yang jatuh seharusnya adalah sang ‘korban baru’ itu. Agar orang-orang tak menganggap bahwa tak apa hal yang seharusnya utuh itu rusak karena ketidaksengajaan.”

    like this … he he he …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s