Ruang Bagi Bakat Terpendam [copas]

Judul: Sketsa Angin di Atas Pasir

Karya: Elaine Firdausza, dkk

Penyunting: Emzzy Azzam

Isi: 175 halaman

Penerbit: Inzpirazone Publisher

Cetakan: 1, Maret 2011

INILAH, Sketsa Angin di Atas Pasir (SADAP) – Kumpulan Puisi. Elaine Firdausza dan kawan-kawan membagi larik-larik syair mereka dalam 129 judul puisi.

19 orang telah menampilkan buah karya dari proses kreatif. Mereka kumpulkan puisinya secara berenteng, dari teman ke teman, lewat pergaulan antarkawan. Kita membaca spirit kebebasan yang sederhana.

Dari 19 nama itu, didapati biodata ringkas 16 pengumpul puisi dalam antologi SADAP ini (halaman 169-175). Mereka adalah Izel Muhammad dari Sumenep, Arif Fitra Kurniawan (Semarang), Yadhi Rusmiadi Jashar (Banding Agung), Uum G Karyanto (Majalaya), Efvhan Fajrullah (Palembang), Muhammad Haddiy (Lombok Barat), Husni Hamisi (Ternate).

Hyla Shane Gerhana (Malang), Fitri Meida (Bandung), Romel Panarta (Sawahlunto), Fran Keni Tamara (Surabaya), Lentera Al Jazhiran (Blitar), D Dudu AR (Tasikmalaya), Khalifa Rafa Az-Zahra (Surakarta), Jaraway Al-Fajr (Magelang), Elaine Firdausza (Blitar). Sedangkan Daffodilslife, Wild Rose, dan Raja Syahir tidak tercantumkan biodata mereka.

Beberapa puisi dalam SADAP menampilkan tema penyemangat atas keadaan. Seperti membuka ruang katarsis dijejali berlimpahnya diksi yang dipilih para penulis dari dalam kamus Indonesia.

Puisi-puisi dalam SADAP dibuat penuh semangat. Tampak beberapa di antaranya melontarkan artikula yang hiruk-pikuk mendominir awalan, tetapi tetap menyisakan cara berteori kreasi ala gaya puisi lama zamannya almarhum Sutan Takdir Alisjahbana dulu. Di antaranya, yang berikut ini.

…ketika kalut itu datang//kadang jadi api//seperti lelucon yang menertawai nafsumu//kadang jadi air//seperti doa bagi yang sudah mati… (Resiliensi Hutan Hujan, Hylla Shane Gerhana: halaman 41)

…jika jasad hanya ingin masuk liang lahat//tak perlu berkorban untuk kebenaran yang terlihat//jika hanya ingin merasakan baunya tanah//tak usah berjuang hingga susah… (Bukan Hidup untuk Mati, Fitri Meida: halaman 83)

…agar bisa hutang saat gak mampu bayar//menjadi tiang untuk bersandar//berbagi suka dan duka, saat dada berdebar//menjadi pembalut luka, waktu diputus pacar//jangan, persahabatan jangan dibuat sukar//lho… nanti bisa bubar… (Sajak Titi Kala Mangsa di Kampus Alamanda, Fran Keni Tamara: halaman 103).

Bagi puisi-puisi SADAP, salah satu komentar terlontar menarik dalam endorsement (halaman 5). Datangnya dari Gunadi Adisasmita, pelaksana fungsi ekonomi dan pensosbud, KBRI, Sana’a, Yaman. Katanya, “Seni adalah bentuk atau ciptaan yang muncul dari pengalaman jiwa seseorang karena ia ingin memberikan bentuk yang kongkrit terhadap yang dirasakannya, sehingga orang lain dapat ikut pula merasakan…”

Pengantar yang ditulis Elaine Firdausza (halaman 6-7), salah seorang penyumbang puisi dalam kumpulan ini, berbunyi: “…puisi ini hadir sebagai ruang bagi para penulis yang memendam bakatnya untuk meramaikan dan sebagai alternatif bacaan yang segar dalam dunia kesusasteraan.”

Judul kumpulan ini, Sketsa Angin di Atas Pasir, menerbitkan kaidah asosiasi: yang untuk kentalnya, bolehlah disebut secara analogisme: satu pantai bahasa yang penuh dengan riak dan gelombang puisi yang tiada sudah-sudahnya. Semangat mengarungi samudera kata-kata dari 19 pelaut syair seolah-olah sesejuk menikmati lagu lama Sheila Majid, Antara Anyer dan Jakarta, akhir tahun 80-an, ciptaan Odie Agam.

(mbs)

via Ruang Bagi Bakat Terpendam.

#Ahaha.. nemu postingan ini jadi inget kalau saya belum punya bukunya.. hadeeeh.. padahal MP sudah tutup.. duuuh.. dulu dah pesen si, tapi lupa belum jadi2 dikirim.. hoho.. ya sudahlah.. mungkin belum berjodoh *halah.. =))

Dua puisi saya yang ada di buku itu :

Aku Masih Setia
elok nian hiperbol mereka atas citra sosok-sosok gubahan sutradara konspirasi dunia
lahirkan eulogi penuh tipu daya
 
adakah serau kan bergerak jadi erat?
bilakah ikatan kembali bernas serupa waktu sang pembawa risalah itu tiba?
 
candamu menamparku
kaki langit Gaza masih menggariskan horizon yang sama : MERAH SAGA
lautan darah masih menggenang di sana
 
janjiku, 
tak akan berpaling, 
bahkan tuk menoleh sekian derajat pun
 
AKU MASIH SETIA
titik
 
#Al-Aqshoku, Palestinaku, engkau masih di dadaku, tak akan berpaling

________________________________________________________________________

Aku Pun Punya Rindu
letih angkasa menanti; rindu layang-layang bocah kampung lilit lembayung cakrawala

kini sepi; terdekap asap beringas pohon-pohon beton bergelantungan pada kaki awan tanpa jeda

 

sipit gawang Gelora menggeriap; rindu gol dari gocek, tendangan, sundulan anak bangsa

kini sunyi; terlelap pulas, jauh riuh gegap gempita sorak sorai membahana

 

pasrah hutan menangkis; rindu musnah pembalak berderai-derai memangkas rindang panorama

kini senyap; terhempas gelombang banjir bandang menerjang, rata, porak-poranda

 

isak tangis bayi menyayat; rindu senyum sahaja sang bunda dengan buaian penuh cinta

kini hening; terlintas sosok muram berdahi penuh kerut yang di benaknya harga susu kian menggila

 

 

bila rindu mereka mulai lesap,

perlahan lenyap tanpa harap,

bak data komputer berangsur terhapus virus pemangsa;

 

 

akupun punya rindu

 

pada diriku, kamu, kita tuk jadi PENGGENGGAM BARA

terasing dari dunia

 

kumohon, bantu aku lepas rindu

26 thoughts on “Ruang Bagi Bakat Terpendam [copas]

  1. widih ketemu blog seorang sastrawan *pembuat puisi* walaupun dulu pernah di teknik *ups* :P

    salam kenal mba fajar :3
    ninggalin jejak duluu mbaa :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s