Arungi

Sahabat, kehidupan yang kita jalani saat ini bisa jadi bukan yang kita inginkan lima atau sepuluh tahun lalu, bahkan sekarang. Mungkin bukan juga yang kita sukai untuk dikerjakan. Bisa juga kita berada dalam kondisi yang tidak bisa memilih “mengerjakan apa yang kita sukai”. Namun, tetap selalu bisa memutuskan untuk memilih “menyukai apa yang kita kerjakan”, bukan?

Seringkali manusia dihadapkan pada situasi harus menjalankan apa-apa yang menjadi kewajiban terhadap orang sekitarnya meski itu kemudian membuatnya sejenak bahkan selamanya melupakan apa cita-cita pun impian yang sangat ia harapkan.

Bersyukurlah kita sebagai Muslim, yang apapun jika kita niatkan sebagai ibadah tak pernah sia-sia. Sekecil apapun itu, sebosan apapun rutinitas itu. Namun selalu akan bernilai ibadah jika kita meniatkannya dan menjalankan sesuai “petunjuk jalan”Nya.

Yah, ad-dunya daarul imtihan… di sinilah tempat kita selalu akan diuji. Lolos dari satu ujian akan berlanjut ke ujian selanjutnya yang lebih dan lebih berat lagi. Lantunkan do’a agar kita terus bertambah tangguh menghadapi ujian yang lebih terjal bukan meminta agar ujian itu diperingan. Karena itu berarti kita menjadi sosok yang lebih kuat dan berusaha lebih layak lagi menjadi hambaNya, menggapai ridhaNya, menjumpa wajahNya kelak, beroleh ampunan dan rahmatNya, menempati syurgaNya.

Sahabat, pintal terus impianmu. Mungkin sempat tertahan karena tanggung jawab yang harus dipikul di hadapan tak memungkinkan mengejar impianmu yang engkau suka. Tapi, sekali lagi, jangan pernah lelah berbaik sangka padaNya. Kejar impianmu, tertunda itu biasa, tapi patah arang itu pantang. Pintal terus impian-impianmu, meski benang-benangnya sempat patah. Jangan berhenti. Anyam terus citamu, meski bambu itu sempat koyak.

Image
Ada rasa bahagia ketika tahu engkau akhirnya lebih memilih tempat yang satu itu, karena sependek yang kutahu kau “lebih menyukai” berada di sana. Itu lebih sesuai dengan “dunia”mu.

Namun yang kuharap hanya satu hal, di manapun engkau berada. Apapun hasilnya. KeberkahanNya lah yang melingkupimu. Dalam keberkahan, kondisi sulit pun akan menyenangkan, in syaa Allaah. Kondisi sedihpun akan tetap mengulaskan senyum. Karena engkau masih manusia, susah sedih gundah, wajar bukan?

Dan bagaimanapun nanti, nikmatilah takdir yang telah Ia gariskan. Kita memang punya ingin, tapi Ia jauh lebih mengetahui yang kita butuhkan. Ah, tentu kau lebih memahaminya. Dan telah terlalu sering mendengar pun membaca hal ini. Tak apa kan kutulis lagi, semoga kau tak bosan.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.. Khoirunnas anfauhum linnas.. Yang utama, menjadi yang bermanfaatlah, entah sebagai apa. Jalani proses yang baik, hingga beroleh hasil baik. Dan kelak, ketika kau tengok ke belakang apa yang telah kau tempuh. Kau tak pernah menyesal atas langkah yang telah kau tapaki, karena semuanya menuju kepada mengharap keridhaanNya.

Semangat dan terus semangat. Bersabar dalam ketha’atan, bersabar dalam menjauhi maksiat, dan bersabar dalam setiap musibah yang menimpa.

Bersyukur atas setiap nikmat, terutama nikmat Iman dan Islam yang kita miliki. Hal termahal yang Ia karuniakan. Anugrah terindah yang kita miliki. Genggam terus, rawat, pupuk baik-baik hingga kelak kedua kaki melangkah di syurgaNya.

Apapun dan siapapun boleh pergi, hilang. Tapi bukan keyakinan, keimanan. Keislaman.
=)

Selain kumpulan masalah, hidup adalah arena persaingan Kompetisi dan persaingan melekat dalam urat-urat kehidupan kita. Itu hukum naluriah yang menyatu bersama alam. Tetapi ada kalanya kita patah dan merasa tak mampu menang. Kalah itu biasa. Tapi mengalah sebelum berjuang itu mencederai keutamaan.

Kalaulah tak ada persaingan, kita tak tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Mana yang baik dan mana yang lebih baik. Tanpakompetisi, kita tidak akan tahu mana yang unggul dan mana yang datar. Tapi ada kalanya kita enggan memompa minat dan semangat. Merasa terlalu berat untuk bersaing. Padahal boleh jadi kita tak sekadar itu, kita hanya salah menghargai diri.

Hidup sebagai kumpulan masalah tak boleh melemahkan tekad.

-Ahmad Zairowi A.M : tarbawi 265-

*ditemani secangkir kopi yang membuatku mengingatmu dan menuliskan ini. Kau tahu akhir-akhir ini aku harus banyak bersahabat dengan kopi untuk mengganjal mataku. haha. Agar tugas-tugas menggunung itu tidak kuhadapi dengan “ketiduran” wkwk.

SmangaaD, sobat…
niatkan semua untuk ibadah..
dan tersenyumlah.. cerialah.. =D

Dan maaf, karena aku sangat menyebalkan beberapa saat ini. Tumpukan tugas memang sering membuat aku menjadi makhluk yang aneh. hahaha. Yang akhirnya berbuah menyakiti perasaan orang-orang terdekatku tanpa aku bermaksud begitu.
Ah, tapi kau pasti telah memaafkan jauh sebelum kupinta. Terima kasih.

#sekalian pemanasan mau nulis.. haghaghag.

gambar dari sini

Advertisements

18 thoughts on “Arungi

  1. subhanallah…
    tulisannya pas banget dg kondisi aku yg sedang ikhtiar mendapatkan cita-cita,,,,
    ujian memang kerap menghampiri. ya, aku sadar itu biasa,,, tapi selalu saja meski jiwa sadar… tapi kesedihan tetap meliputi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s