Kembalikan Permadaniku

Sore ini di beranda kita membelakangi punggung bukit.

Mencoba berbagi remah kisah.

Mengisi degup detak detik berlalu.

Bisikmu lirih, ketika kau bertutur tentang segenggam rindu akan Zamrud Khatulistiwa.

 

Rindu?

Tapi mengapa?

Bukankah engkau tak sedang menjauh dari dekapnya?

 

Binar di matamu

selalu siratkan segumpal semangat yang kian gebu

laiknya bola salju menyeret serpihan es di sekitarmu

untuk ikut menggelinding bersama geloramu.

 

Aku memang di Nusantara, tapi aku takyakin sedang di Zamrud Khatulistiwa.

 

Masih lirih celotehmu mewarnai senja jingga yang jadi kian merona.

 

Konon, negeri ini hijau bak permadani.

 

Oh, jadi itu rindumu. Tentang hijaunya tanah kita.

Hey, ini bukan tentang engkau yang menyukai warna hijau lebih dari warna-warna lainkah?

Kadang aku iri terhadap sang hijau yang selalu kau kagumi.

 

Kamu tahu,

negeri kita ini

kini bukan dikenal dengan Zamrud Khatulistiwa lagi.

Meski dulu kabarnya hijau bak permadani

membentang dari ujung Timur ke Baratnya.

Iya, Timur ke Barat yang dengan pesawat pun perlu sembilan jam melintasinya.

Ah, sebutan itu kini mungkin telah usang, Sobat.

Hijau itu kian berdebu.

Lebih tepat jika julukannya kita ubah menjadi Sang Pengirim Kado

 

Hah? Apalagi itu.

Ide gila macam apa yang terlintas di menara suar kepalamu yang seolah tiap detik berganti arah sorot lampu.

 

Aha, bagaimana tidak.

Kado istimewa negeriku, dialamatkan untuk mereka yang tinggal di jengkal tanahnya.

Bahkan hingga negara tetangga.

Kamu pasti tahu.

Kado itu, asap kebakaran rimbanya.

Hijaunya kini musnah, bertukar kobar nyala api membakar.

Memberangus rerimbun pohonnya menjadi abu, asap, debu.

Hijau permadani yang tinggal secuil itu pun terenggut di tanah Riau.

Sampai-sampai presiden kita meminta maaf dengan santun kepada negeri seberang sana.

Kado yang takpernah diharapkan.

Kiriman yang takpatut disampaikan.

Ke siapapun alamat tujuan.

Tapi, minta maaf untuk apa?

Bukankah oknum mereka juga terlibat membakar permadani negeriku yang telah terkoyak itu?

Jadi ini semacam kiriman yang telah taksengaja dipesan oleh penerima jarak jauhnya.

Meski tak diinginkan.

Lalu, minta maaf untuk apa?

Mestinya kita marah dan tegas melarang siapapun renggut hijau hutan kita.

Membakar lembar permadani khatulistiwa.

Sekali lagi, minta maaf untuk apa?

 

Bagaimana takrindu?

Permadani hijau itu terbakar di bumi Andalas.

Sementara di bumi Borneo tinggal pitak-pitak kawah kersang.

Sekali lagi negeri kita terlalu baik, Sobat.

Mengirim kado pundi-pundi arta melimpah berjuluk investasi batubara.

Sebutan bergengsi yang menyemat rasa bangga di diri mereka si pemilik harta.

Tapi tahukah Sobat, kita menjual permadani berharga kita dengan nilai tak seberapa.

 

Risik dedaunan itu kini tinggal cerita.

Terkepung pekat asap yang berjinjit di cakrawala meningkar riangnya.

Tergusur gerus alat keruk tanah mengikis pokok hingga akar-akarnya.

Menumbangkan harap akan hijau negeriku yang canangkan tanam semilyar pohon, katanya.

 

Pedar ini mungkin bisa pudar

namun kesah akan tetap berkisah.

Walau mentari kini telah melesak

tapi asa tetap menjejak di benak

 

Memanggil dan memanggul pesan lantang bagi semua dirimu:

 

Kembalikan permadaniku!

Kembalikan hijau negeriku!

Kembalikan zamrud khatulistiwaku!

 

tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika di sini

30 Juni 2013

*lupa mindah ke mari

#gambar dari sini

Advertisements

22 thoughts on “Kembalikan Permadaniku

  1. jadi inget… ada keinginan punya lingkungan sekitar tempat tinggal agar lebih hijau tapi urung dilaksanakeun… harus mulai inisiatif dari diri sendiri nih untuk menghijaukan lingkungan… ya to mbak?

    • yap.. masing2 kita..
      tapi emang paling utama kebijakan pemerintah..
      selaju apapun gerakan personal.. nek pembabatan dan alih guna hutan terus terjadi.. yo tetep ngeri naz..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s