Wanita Tiang Negara? Ndak Iyo? =D

Hadis palsu ada kalanya populer di masyarakat, bahkan menjadi dasar amalan ibadah mereka yang kurang jeli dan tidak memperhatikan keotentikan suatu hadis. Untuk menyikapi permasalah tersebut, maka Ali Mustafa Yaqub menyusun sebuah buku yang membahas kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hadis-hadis palsu populer di masyarakat tetapi setelah diadakan penelitian ternyata hadis tersebut bermasalah, dalam arti lemah bahkan sangat lemah.

Salah satunya adalah…

Hadis palsu “Wanita Tiang Negara”

Hadis yang dimaksud, bunyinya sebagai berikut:

المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت البلا د واذا فسدت فسدت البلا د

“wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik,

dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula”

Ali telah mencoba membuka kitab-kitab hadis, khususnya kitab hadis masyhur, seperti al-Maqashid al-Hasanah karya al-Sakhawi (w. 906 H.), al­-Durar al-Muntatsirah karya al-Suyuti (w. 911 H.), al-Ghammaz ‘ala al-Lammaz karya al-Samhudi (w. 911 H.), Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits karya Ibn Daiba’ (w. 944 H.), Asna al-Mathalib karya Muhammad Darwisy al-Hut (w. 1276 H.), Kasyf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas karya al-‘Aljuni (w. 1162 H.) dan lain-lain. Ternyata ia tidak menemukan hadis tersebut. Demikian pula dalam kitab-kitab hadis yang lain, seperti al-Kutub al-Sittah.

Karenanya untuk sementara ia berkesimpulan bahwa ungkapan di atas, adalah hadis palsu. Ia tidak lebih dari sekedar kata-kata hikmah yang diucapkan oleh seorang tokoh atau ulama.

sumber tulisan di atas dari sini 

Image
Hihi.. kelengkapan judul postingan di atas.. sebenere gini..

Wanita Tiang Negara? Ndak Iyo Kuwi Hadits? =D

(Wanita Tiang Negara? Apa Iya Itu Hadits? =D )

saya jadi inget perbincangan saya sama Dinzul di postingan ini
waktu itu saya ngeshare smsnya si Arwyn tentang perempuan

Kunci perbaikan bangsa ini terletak pada perempuan..
Pada penjagaan diri dan kehormatannya..
Pada rahim subur yang akan melahirkan generasi yang lebih baik dan pemimpin-pemimpin selanjutnya..
Pada kelembutan dan kasih sayangnya yang mampu membelai dan menentramkan semesta..

Salam hormat padamu, perempuan..

-jan ’13-

[Arwyn]

terus Dinar komen

perempuan itu kunci apa tiang??
kayaknya tiang dah, kalo kata temen saya perempuan itu tiang negara oleh karna itu ia merupakan tiang rumah tangga, maka untuk tegaknya sebuah rumah tangga tentu tidak akan cukup hanya “satu tiang” yang menopangnya, jadi diperlukan tiang2 lainnya untuk membantu menahan beban atap rumah tangga..
betul atau tidak?? tau dah,, haha cuman nerusin omngan temen

trus kureply

kenapa bukan dua2nya? hahaha

intinya kan sama.. kecuali itu istilah dalam quran atau hadits yang ga boleh diutak-atik.. ya kan? =D
cuma dilihat pake istilah yang berbeda dengan sudut pandang titik tekan yang agak beda tapi substansinya sama..
ya ga?
=D

Waktu komen itu muncul, saya memang bener-bener ga ngeh kalo ada yang sampai menganggap kalimat

الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ

Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik

dan apabila wanita rusak maka negara pun akan rusak

merupakan hadits.

Saya sih mikirnya itu cuma kata-kata mutiara saja, jadi ya sah-sah saja ketika si Arwyn memakai istilah lain yaitu kunci perbaikan bangsa..

Nah.. saya baru ngeh sekarang… kalau kalimat “wanita tiang negara” itu bahkan ada yang mengira itu hadits.. saking populernya..

Makanya ini saya copykan penjelasan.. dan sumbernya dinukil dari bukunya Ustadz Ali Mustafa Yaqub yang cukup getol menjelaskan tentang hadits-hadits palsu..

Postingan tentang acara “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI dengan narasumber Prof. DR. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA hafizhahullah ada di postingan Pak Iwan ini >> Hadits-Hadits Palsu dan Lemah Seputar Ramadhan di situ ada page 1-8. Silakan kalau mau membaca.. sangat bermanfaat, in syaa Allaah.. 

Semoga kita terhindar jauh-jauh dari yang disebutkan dalam hadits mutawatir :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka.”

wal ‘iyadzu billah

So, kalopun mau pake kata-kata mutiara ini.. silakan.. maknanya bagus.. tapi jangan pernah dinisbatkan kepada Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam..

wallaahu a’lam..

=)

#foto jepretannya adikq..

39 thoughts on “Wanita Tiang Negara? Ndak Iyo? =D

    • hehe.. padahal kedudukannya jauh berbeda..
      sejatinya perkataan Rasulullaah merupakan wahyu yang diilhamkan oleh Allaah.. =)
      jadi tak pernah bisa disamakan dengan kata2 mutiara siapapun..

    • hahaha.. aseli iseng tadi dini hari gugling tentang wanita tiang negara gegara liat gambar tiang =)))
      masa iya ini hadits.. penasaran lah dimulai.. qeqe

      wa anti fajazaakillaahu khairan =)

  1. Iseng aja bisa bermanfaat gini, apalagi gak iseng :)
    Lanjut, gan!

    Begitu juga dengan kalimat mutiara: “Surga berada di telapak kaki ibu” yang lebih nge-top dianggap sebagai hadits. Maknanya sih bagus, tapi itu bukan hadits, sebab lafadz al-jannatu tahta aqdamil ummahat itu tidak ditemukan rujukannya di dalam kitab-kitab hadits yang muktamad.

    • hihi.. lha isi postingannya cuma copas gitu pak.. lak yo iseng.. hihi
      siaap, in syaa Allaah.. cendolnya mana pak? hahaha

      naaah.. yang itu parah tu emang.. udah sangat familier sekalii.. *ngeri deh*

    • tapi Pak Iwan,, ada riwayat yg lebih kuat mengenai sorga dibawh telapak kaki ibu,, walaupun secara redaksi gak langsung ada redaksi surga berada di telapak tadi

      wah2,, masih berkesan ternyata komentar saya
      tapi saya ikut temen aja,, intinya wanita itu tiang rumah tangga,, dan mana ada rumah tiangnya cuman atu alias satu,, minmal yaaa 2 atau 3 bagusnya 4
      hhahha

      • ahiya.. hadits berkaitan dengan Muawiyah bin Jahimah As Sulami radhiyallahu anhu

        di Sunan Nasa’i
        أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْوَرَّاقُ قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ طَلْحَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

        ada kalimat.. فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

        Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdul Wahhab bin Abdul Hakam Al Warraq, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij, ia berkata; telah memberitakan kepadaku Muhammad bin Thalhah yaitu Ibnu Abdullah bin Abdur Rahman dari ayahnya yaitu Thalhah dari Muawiyah bin Jahimah As Salami bahwa Jahimah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; wahai Rasulullah, saya ingin berperang dan datang untuk minta petunjukmu, beliau bertanya: “Apakah engkau masih memiliki ibu?” ia menjawab; ya, beliau bersabda: “Jagalah ia, karena surga itu dibawah kakinya.”

        kalo yang di Sunan Ibnu Majah

        حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الرَّقِّيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْحَرَّانِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ ارْجِعْ فَبَرَّهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ الْجَانِبِ الْآخَرِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهَا فَبَرَّهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ أَمَامِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَيْحَكَ الْزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ الْجَنَّةُ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَمَّالُ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ عَنْ أَبِيهِ طَلْحَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السُّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ بْن مَاجَةَ هَذَا جَاهِمَةُ بْنُ عَبَّاسِ بْنِ مِرْدَاسٍ السُّلَمِيُّ الَّذِي عَاتَبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ

        Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Muhammad bin Ahmad Ar Raqqi; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah Al Harrani dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Thalhah bin Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dari Muawiyah bin Jahimah As Sulami, ia berkata; “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku katakan kepada beliau; ‘Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari ridla Allah dan kehidupan Akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup? ‘ la menjawab; ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari sisi yang lain. Aku katakan’ ‘Wahai Rasulullah! Aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari ridla Allah dan kehidupan akhirat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup? ‘ la menjawab; ‘Ya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kembalilah dan berbaktilah kepadanya.’ Kemudian aku mendatanginya dari sisi depan, aku katakan; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari ridla Allah dan kehidupan akhirat.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup? ‘ la menjawab; ‘Ya! Wahai Rasulullah! ‘ Rasulullah bersabda: ‘Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.’ Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah Al Hammal Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Thalhah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakr bin Shiddiq dari bapaknya, Thalhah dari Mu’awiyah bin Jahimah As Sulami bahwa Jahimah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu ia menyebutkan Hadits yang serupa. Abu Abdilah Ibnu Majah berkata; ‘Ini adalah Jahimah bin Abbas bin Mardas As-Sulami yang mencerca Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat perang Hunain.”

        di Musnad Imam Ahmad

        حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ الْغَزْوَ وَجِئْتُكَ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ الْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلِهَا ثُمَّ الثَّانِيَةَ ثُمَّ الثَّالِثَةَ فِي مَقَاعِدَ شَتَّى كَمِثْلِ هَذَا الْقَوْلِ

        Telah menceritakan kepada kami Rauh berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Thalhah bin Abdullah bin Abdurrahman dari Bapaknya, Thalhah bin Abdullah dari Mu’awiyah bin Jahimah dia telah datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata; wahai Rasulullah! saya ingin berperang dan saya datang kepada anda untuk meminta saran!. (Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) bersabda: “Apakah kamu masih memiliki seorang ibu?” Dia berkata; Ya. Lalu beliau bersabda: “Rawatlah dia, sebab surga itu berada di telapak kakinya” beliau mengucapkannya dua kali, tiga kali, pada tempat yang berbeda-beda, seperti perkataan tersebut.

        *manggut2*
        jazaakallaahu khairaa, Din..

        wahahaha.. =)))
        jadi mau 4 tiangnya Din? *eh.. *ngikik…

      • alhamdulillah dadi emak-emak saiki aku, mbak. makane bloggingpun isine cuma seputar ke emak-emakan. -_-
        ketemu blog e mba fajar jadi berasa diingatkan tentang masa lalu yang kini kusimpangi terlalu jauh.. hiks. piye yo mbak ben iso semangat belajar meneh

        • qiqiqi.. alhamdulillaah..
          yo apik nu.. dadi ibu profesional.. hihihi
          ahahahaha
          masa lau.. ceileeeh..
          eiya ding postinganmu mbiyen kan kerep jleb2.. qiqi
          yuk ah.. hidup hanya sekali.. belajar selamanya.. *iki aku ngomong opo.. *
          qeqeqe

    • alhamdulillaah..
      udah enak perasaan hari ini Ta?
      ehehehe *ga nyambung
      iya.. itu bahayanya.. bahkan yang lebih parah ada yang nulis beberapa hadits dhoif bahkan palsu pake HR Bukhari atau HR Muslim..
      itu dobel2 dustanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s