Ilmu Tawarikhul Mutun

237

BAB I

PENDAHULUAN

Pemahaman hadits memerlukan metode yang tepat melalui pendekatan yang komprehensif, baik tekstual maupun kontekstual dengan berbagai bentuk dan kaidah-kaidahnya. Jika ilmu hadits hanya diolah dengan pendekatan tekstualis, seperti filosofis, atau yuridis teologis saja, maka ilmu hadits tidak dapat berkembang. Salah satu model pengembangan masalah ini adalah menggunakan pendekatan interdisipliner, atau ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya. Setidaknya ada dua sistem nilai yang diterapkan pada makna hadits yang berinteraksi, baik interaksi antara hadits dengan hadits, atau hadits dengan kasus yang melingkari. Dua sistem itu adalah sistem internal dan sistem eksternal

Sistem internal adalah semua sistem nilai yang dibawakan oleh sebuah hadits, ketika ia diterapkan pada satu makna, atau pada maksud hadits yang dituju. Nilai itu terlihat ketika hadits itu diberi interpretasi seperti nilai akidah, hukum fiqh, akhlak, nasihat, do’a dan sebagainya. Dalam istilah lain, sistem internal mencakup juga pola pikir, kerangka rujukan, struktur kognitif, atau juga sikap yang dikandung oleh matan hadits. Sedangkan sistem eksternal terdiri atas unsur-unsur yang ada dalam lingkungan di luar isi matan hadits. Lingkungan itu, termasuk struktur yang mendorong munculnya matan hadits, atau kejadian yang melatarbelakangi tampilnya sebuah hadits, atau jawaban Rasulullah yang muncul karena pertanyaan sahabat.

Sistem eksternal juga bisa disebut dengan sisi historisitas hadits dalam memahami konteks hadits. Dalam mengetahui historis hadits itulah ada dua disiplin ilmu paling tidak yang harus dipelajari yaitu Ilmu Asbabul Wurud dan Ilmu Tawarikhul Mutun. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai disiplin Ilmu yang kedua yaitu Ilmu Tawarikhul Mutun.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian, Objek dan Urgensi Ilmu Tawarikhul Mutun
  • Pengertian Ilmu Tawarikhul Mutun

Tawarikhul mutun merupakan bentuk idhofah dari dua kata yaitu tawarikh (تواريخ) dan mutun (متون). Tawarikh adalah bentuk jamak (plural) dari tarikh (تاريخ). Sementara mutun ialah salah satu dari bentuk jamak matn (متن)[1]. Dua kata tersebut memiliki dua aspek pengertian, baik dari segi bahasa (etimologis) maupun dari segi istilah (terminologis).

Istilah tarikh berasal dari Bahasa Arab yang artinya menurut lughat (bahasa) adalah ‘ketentuan masa’. Arti menurut istilah adalah ‘keterangan yang menerangkan hal-ihwal umat dan segala sesuatu yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada’. Selain itu juga dipakai dalam arti perhitungan tahun dan buku sejarah dengan tahunnya. Adapun Ilmu Tarikh itu sendiri adalah suatu pengetahuan yang bermanfaat untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau dalam kehidupan umat dan keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang masih ada (sedang terjadi) di dalam kehidupannya. Tarikh diambil dari tiga peringatan, yaitu peringatan yang sungguh-sungguh tertulis, peringatan dari keturunan (silsilah), dan peringatan yang terdapat pada benda-benda pada masa purba.[2]

Pengertian al-matn atau matan sendiri dalam kerangka etimologi adalah punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi[3]Matn kitab berarti yang tidak bersifat komentar dan bukan tambahan-tambahan penjelasan. Matn dalam ilmu hadits adalah: mā yantahiy ilayhi as-sanad min al-kalām, yakni: sabda Nabi yang disebut setelah sanad, atau penghubung sanad, atau materi hadits[4]. Dengan kata lain matn adalah redaksi hadits yang menjadi unsur pendukung pengertiannya.[5]

Tawarikhul mutun merupakan disiplin ilmu yang membahas tentang sejarah matan-matan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ilmu ini seimbang dengan ilmu tawarikhun nuzul yang sering dipakai dalam istilah ilmu al-Qur’an, dalam definisinya menurut T.M. Hasbi ash-Shiddieqy dikatakan:

علم تاريخ المتون هو علم يعرف به تاريخ ورود الحديث الشريف

Ilmu tawarikhul mutun adalah ilmu yang mana dengan dia bisa diketahui akan sejarah datangnya hadits Nabi yang mulia (Nabi menyabdakan haditsnya)[6]

  • Objek Ilmu Tawarikhul Mutun

Hal-hal yang menjadi objek dari kajian ilmu tawarikhul mutun ini dapat ditentukan dengan melihat dari definisi yang telah dipaparkan di atas. Pengertian tersebut menyuratkan bahwa objek sasaran ilmu ini berupa tarikh (sejarah) kapan suatu matan hadits disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Letak perbedaannya dengan asbabul wurud[7] adalah jika ilmu asbabi wurudi’l hadits itu titik beratnya membahas tentang latar belakang dan sebab-sebab lahirnya hadits (dengan kata lain mengapa Nabi bersabda atau berbuat demikian), sementara ilmu tawarikhul mutun menitikberatkan pembahasannya kepada kapan atau di waktu apa hadits itu diucapkan atau perbuatan itu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menurut Abdul Mustaqim, sebenarnya dalam konteks ilmu tawarikhul mutun perlu juga dikembangkan teori kategori hadits-hadits makkiyah dan madaniyah, sebagaimana kajian ulumul qur’an. Sebab boleh jadi masing-masing redaksional memiliki kekhususan redaksi maupun isi kandungan. Hal ini akan membantu mencari mana hadits yang nasikh dan mana hadits yang mansukh. Di samping itu, pengetahuan hadits makkiyah dan madaniyah juga akan memberikan informasi tentang bagaimana evolusi perkembangan syari’at Islam.[8]

  • Urgensi Ilmu Tawarikhul Mutun

Penelitian terhadap hadits sangat diperlukan, karena hadits sampai kepada umat Islam melalui jalur dan jalan periwayatan yang panjang. Sehingga wajar apabila terdapat kesalahan-kesalahan terhadap pemahaman hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut. Hadits tidak bertambah jumlahnya setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam terus berkembang sehubungan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu di dalam memahami hadits diperlukan metode pemahaman yang tepat melalui pendekatan yang komprehensif, baik tekstual maupun kontekstual dengan berbagai bentuk dan kaidah-kaidahnya.[9]

Pemahaman hadits dengan pendekatan kontekstual inilah di antaranya dengan melalui ilmu asbabul wurud dan ilmu tawarikhul mutun. Hal tersebut terutama berkaitan erat dengan hadits-hadits hukum. Sebab adakalanya hadits hukum yang disampaikan atau dilakukan oleh Rasulullah bersifat kasuistik, kultural bahkan temporal. Maka dari itu, pemahaman sisi historis suatu matan hadits tidak bisa dilepaskan begitu saja agar terhindar dari kesalahpahaman memahami hadits dan ketidaktahuan bahwa hukum tersebut telah terhapuskan. Pemahaman hadits yang mengabaikan peranan tawarikhul mutun dan asbabul wurud akan cenderung bersifat kaku, literalis-skriptualis, bahkan terkadang kurang akomodatif terhadap perkembangan zaman.

Urgensi ilmu tawarikh al-mutun antara lain sebagai berikut:

  1. Peran yang paling utama adalah sebagai alat bantu mengetahui nasikh dan mansukh hadits[10] yang tentu akan sangat berpengaruh dalam pengambilan istinbat hukum dalam Islam. Nasakh merupakan salah satu cara menyelesaikan problem hadits maqbul yang saling berlawanan (mukhtalif).[11]
  2. Mengetahui  secara detail kapan dan pada momentum apa sebuah matan hadits dikeluarkan oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jika dikembangkan teori kategori hadits-hadits makkiyah dan madaniyah seperti yang telah dibahas di atas maka bisa jadi ada ciri-ciri khusus pada masing-masing periode seperti halnya Al-Qur’an karena hadits pada hakikatnya juga merupakan wahyu.
  3. Sebagai sarana dalam memahami hadits agar terhindar dari kesalahpahaman (misunderstanding) dalam menangkap maksud suatu hadit Misalnya hadits

“إِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هذا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفاجِرِ

Sungguh Allah akan  menolong agama ini dengan seorang yang fajir

Hadits ini terjadi dalam perang Khaibar ketika ada seorang laki-laki yang ikut berperang dengan gagah berani tetapi Rasulullah menyebutkan bahwa ia adalah ahli neraka. Ternyata orang tersebut akhirnya bunuh diri.[12]

  1. Alat bantu dalam melacak autentisitas hadits dengan melihat latar belakang sejarah kemunculan matan. Hal ini penting dalam kritik matan hadits. Seperti hadits di nomor 3, dalam redaksi di Shahih Muslim disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di Perang Hunain sementara dalam redaksi di Shahih Bukhari terjadi di Perang Khaibar. Dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, Imam an-Nawawi mengutip perkataan al-Qadhi Iyadh bahwa yang benar adalah pada waktu Perang Khaibar.[13]
  2. Memperkaya khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam kajian hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta kajian sejarah Islam pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seperti yang dilakukan oleh Imam al-Bulqini pada bab terakhir dari kitab Mahasinul Ishthilah (Bab Taariikh Mutta’alliq bil Mutuun), di dalamnya terdapat beberapa hal yang terjadi pada masa hijrah, tahun pertama Hijriah, berurutan hingga tahun ke sepuluh setelah hijrah (10 Hijriah).[14] Juga terdapat urutan istri yang dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.[15]

  1. Metode yang Digunakan dalam Ilmu Tawarikhul Mutun

Terdapat beberapa metode pada kajian tawarikhul mutun yang dapat digunakan untuk mengetahui kapan suatu hadits disabdakan atau dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Menurut Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tadribur Rawi yang merangkum dari penjelasan Imam Al-Bulqini di kitab Mahasinul Ishthilah,  jalan-jalan untuk mengenal tarikh ini ialah[16]:

  1. Dengan terdapat perkataan:

أَوَّلُ مَا كَانَ كَذَا

“Permulaan yang terjadi adalah begini”[17]

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah yaitu:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

 “Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat pertama kali menerima wahyu adalah mimpi yang baik (HR. Bukhari-Muslim)

Dan seperti hadits:

أَوَّلُ مَا نَهَانِي عَنْهُ رَبِّي بَعْدَ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ شُرْبُ الْخَمْرِ وَمُلَاحَاةُ الرِّجَالِ

 “Pertama-tama sesuatu yang dilarang aku daripadanya oleh Tuhanku sesudah dilarang menyembah berhala, ialah: meminum khamr dan membenci orang”(HR. Ibnu Majah)

  1. Terdapat kata-kata الْقَبْلِيَّة qabliyah (sebelum) seperti hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu yaitu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَانَا أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ، أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ، ثُمَّ رَأَيْتُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِعَامٍّ يَسْتَقْبِلُهَا

“Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang kami untuk membelakangi kiblat atau menghadapnya dengan kemaluan-kemaluan kami saat buang air. Kemudian aku melihat nabi, setahun sebelum beliau wafat, beliau menghadap kiblat ketika buang air” (HR. Ahmad, Abu Daud dan selainnya)

  1. Terdapat kata-kata الْبَعْدِيَّة ba’diyah (sesudah) seperti hadis Jarir radhiallahu anhu:

أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَمْسَحُ عَلَى الْخُفِّ، فَقِيلَ لَهُ: أَقَبْلَ نُزُولِ سُورَةِ الْمَائِدَةِ أَمْ بَعْدَهَا؟ فَقَالَ: مَا أَسْلَمْتُ إِلَّا بَعْدَ نُزُولِ سُورَةِ الْمَائِدَةِ

“Sesungguhnya Jarir telah melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengusap atas Khuffnya. Maka seseorang bertanya: Apakah sebelum turun surat al Maidah ataukah sesudahnya? Maka Jarir menjawab: aku tiada memeluk agama Islam melainkan sesudah turun surah al Maidah” (HR. Bukhari)

  1. Dengan perkataan آخَرِ الْأَمْرَيْنِakhirul amraini” seperti dalam hadis Jabir bin Abdullah:

كَانَ آخِرُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

 “Sesungguhnya, keputusan terakhir dari dua perkara yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tidak adanya wudhu terhadap segala sesuatu yang disentuh api (dimasak/dibakar).” (Diriwayatkan perawi yang empat dan Ibnu Hibban)

  1. Terdapat kata-kata yang menunjukkan waktu بِذِكْرِ السَّنَةِ وَالشَّهْرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ. Misalnya “sebulan sesudah/sebelumnya”, “setahun sesudah/sebelumnya” dan lain sebagainya.

Seperti hadits Buraidah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ الْفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوءٍ وَاحِدٍ

“Konon Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwudhu untuk tiap-tiap shalat. Tatkala pada tahun kemenangan (yaumul fath), beliau menjalankan beberapa shalat dengan satu kali wudhu” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Juga seperti hadis Abdullah bin Ukaeini:

أَتَانَا كِتَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ مَوْتِهِ بِشَهْرٍ: أَنْ لَا تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمِيتَةِ بِإِهَابٍ وَلَا عَصَبٍ

 “Sebulan sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, beliau mengirim surat kepada kami supaya jangan mengambil faidah dari bangkai, baik kulitnya maupun urat besarnya” (HR. Al-Khomsah/Ahmad dan Ashabus sunan).[18]

  1. Tokoh-tokoh dan Kitab yang terkait dengan Ilmu Tawarikhul Mutun

Ulama yang dianggap promotor dalam ilmu Tawarikhul Mutun ialah Imam Sirajuddin Abu Hafsh ‘Amar bin Salar Al-Bulqiny[19]. Beliau memiliki kitab yang bernama ”محاسن الاصطلاح في تضمين كتاب ابن الصلاح” Mahasinul Ishthilah fii Tadhmin Kitab Ibnu Shalah yang merupakan kitab dalam bentuk ringkasan (ikhtisar) Muqaddimah Ibnu Shalah. Kitab ini meski berupa ringkasan, namun banyak memberikan ulasan penting, catatan, dan beberapa penjelasan tambahan. Pada bagian terakhir kitab tersebut ada bab “التاريخ المتعلِّق بالمتون”. Yang kemudian dirangkum oleh Imam As-Suyuthi dalam Tadribur Rawi pada bab “معرفة تواريخ المتون” yang merupakan bagian ke-sembilan puluh dari kitab tersebut. Uniknya, Tadribur Rawi ini merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Imam an-Nawawi yaitu Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifat Sunan al-Basyir wa al-Nadzir, dan kitab tersebut adalah ringkasan dari kitab Imam an-Nawawi sendiri yang berjudul Al-Irsyad. Sementara Al-Irsyad ini ialah kitab ikhtishar juga dari Muqaddimah Ibnu Shalah.

  1. Contoh-contoh Tawarikhul Mutun

Tarikh dari suatu matan bisa diketahui dari dalam matan sebuah hadits itu sendiri. Seperti hadits dari  Abu Umamah Al-Bahili;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي خُطْبَتِهِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَقُولُ ‏”‏ لاَ تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئًا مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا ‏”‏ ‏.‏ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الطَّعَامُ؟ قَالَ ‏”‏ ذَاكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا ‏”‏

Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ketika khutbahnya pada tahun haji wada’: Wanita dilarang menginfakkan sesuatu apa pun dari harta suaminya melainkan dengan seizinnya. Dikatakan: Tidak pula makanan wahi Rasulullah? Beliau bersabda: itu adalah harta kami yang paling utama” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)[20]

Hadits ini dengan jelas dan tegas menerangkan sejarah akan adanya hadits  yaitu pada saat nabi menyabdakan haditsnya ketika beliau sedang khutbah Haji Wada’ yang dilakukan pada tahun 10 Hijriah.

Contoh lain adalah hadits yang telah disinggung pada pembahasan urgensi ilmu tawarikh al-mutun. Teks lengkap hadits adalah sebagai berikut:

حديث أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: شَهِدْنا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم خَيْبَرَ، فَقالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الإِسْلامَ: هذا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَلَمّا حَضَرَ الْقِتالُ قاتَلَ الرَّجُلُ قِتالاً شَديدًا فَأَصابَتْهُ جِراحَةٌ، فَقِيلَ يا رَسُولَ اللهِ الَّذِي قُلْتَ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّه قَدْ قاتَلَ الْيَوْمَ قِتالاً شَدِيدًا، وَقَدْ مَاتَ، فَقالَ صلى الله عليه وسلم: إِلى النَّارِ قَالَ فَكادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتابَ؛ فَبَيْنَما هُمْ عَلى ذلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِراحًا شَدِيدًا، فَلَمّا كانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلى الْجِراحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ: فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِذلِكَ، فَقالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ أَمَرَ بِلالاً فَنادى في النَّاسِ: إِنَّه لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هذا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفاجِرِ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; “Ketika kami sedang ikut dalam perang Khaibar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata kepada seseorang yang mengaku dirinya telah masuk Islam; “Orang ini termasuk penduduk neraka”. Ketika terjadi peperangan orang tadi berperang dengan sangat berani lalu dia terluka kemudian dikatakan (kepada Beliau); “Wahai Rasulullah, orang yang Baginda maksudkan tadi sebagai penduduk neraka, dia telah berperang hari ini dengan sangat berani dan dia telah gugur”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia akan masuk neraka”. (Abu Hurairah) berkata; “Orang-orang semuanya menjadi ragu. Ketika dalam keraguan seperti itu, ada orang yang mengabarkan bahwa orang yang berperang tadi tidaklah mati melainkan setelah mendapatkan luka yang sangat parah namun ketika pada malam harinya dia tidak sabar atas luka yang dideritanya hingga akhirnya dia bunuh diri. Kejadian ini kemudian dikabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang benar-benar patuh Islam dan sungguh Allah akan  menolong agama ini dengan seorang yang fajir (yang tidak jujur imannya)” [21]

Hadits tersebut muttafaq ‘alaih namun merupakan lafadz dari Imam Bukhari dalam kitab shahihnya pada bagian Kitab Jihad (56) yaitu pada Bab “Allah Akan  Menolong Agama Ini dengan Seorang yang Fajir” (182), nomor hadits 3062.[22] Sementara dalam Shahih Muslim yang penomorannya oleh Imam Nawawi terdapat pada Kitab Iman bab yang sudah disebutkan di atas nomor hadits 178 -dengan lafadz yang sedikit berbeda dari yang dikeluarkan Imam Bukhari-. Hadits di atas secara jelas menyebutkan sababul wurud hadits yang sekaligus juga terdapat tarikh matan di dalamnya.

Contoh terakhir adalah sepasang hadits yang merupakan nasikh dan mansukh, yakni diriwayatkan bahwa Syidad bin Aus pada masa-masa penaklukan kota Makkah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika Rasul melihat seseorang berbekam pada siang hari bulan Ramadhan maka beliau berkata:

 “‏ أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ ‏”‏

“Orang yang melakukan bekam dan orang yang dibekam batal puasanya”

Dan hadits dari Ibnu Abbas:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ مُحْرِمٌ ‏

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, padahal beliau sedang berpuasa dan berihram”

Hadits yang pertama (Hadits Syidad) itu terjadi pada masa-masa penaklukan kota Makkah yaitu pada tahun 8 Hijriah, dan hadits kedua (hadits Ibnu Abbas) terjadi pada waktu Haji Wada’ yaitu pada tahun 10 Hijriah. Jadi, hadits kedua merupakan nasikh bagi hadits yang pertama.[23]


 

BAB III

KESIMPULAN

Ilmu tawarikhul mutun adalah ilmu yang mana dengan dia bisa diketahui akan sejarah datangnya hadits Nabi yang mulia. Objek sasaran ilmu ini berupa tarikh (sejarah) kapan suatu matan hadits disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Letak perbedaannya dengan asbabul wurud adalah jika ilmu asbabi wurudi’l hadits itu titik beratnya membahas tentang latar belakang dan sebab-sebab lahirnya hadits, sementara ilmu tawarikhul mutun menitikberatkan pembahasannya kepada kapan atau di waktu apa hadits itu diucapkan atau perbuatan itu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Urgensi ilmu tawarikh al-mutun antara lain:

  1. Sebagai alat bantu mengetahui nasikh dan mansukh hadits
  2. Mengetahui  secara detail kapan dan pada momentum apa sebuah matan hadits dikeluarkan.
  3. Sebagai sarana dalam memahami hadits agar terhindar dari kesalahpahaman dalam menangkap maksud suatu hadits.
  4. Alat bantu dalam melacak autentisitas hadits .
  5. Memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Jalan-jalan untuk mengenal tarikh ini ialah dengan terdapat perkataan “awwala maa kaana kadza”, terdapat kata-kata qabliyah (sebelum), terdapat kata-kata ba’diyah (sesudah), dengan perkataan “akhirul amraini”, terdapat kata-kata yang menunjukkan waktu. Ulama yang dianggap promotor dalam ilmu Tawarikhul Mutun ialah Imam Sirajuddin Abu Hafsh ‘Amar bin Salar Al-Bulqiny dengan kitabnya Mahasinul Ishthilah fii Tadhmin Kitab Ibnu Shalah.

[1] Ada bentuk jamak yang lain yaitu mitan (متان). (Lihat: Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits, terj. H.M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 12).

[2] Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 1.

[3]Kata dasar matn dalam Bahasa Arab berarti “punggung jalan” atau “bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas”. Apabila dirangkai menjadi matn al-hadits, menurut al-Thiby seperti yang dinukil oleh Musfir al-Damini, adalah :

الفاظ الحديث التي تتقوم بها المعانى

“Kata-kata hadis yang dengannya terbentuk akan makna-makna

Definsi ini sejalan dengan Ibnu al-Atsir al-Jazari (w.606H) bahwa setiap matan hadis tersusun atas elemen lafal (teks) dan elemen makna (konsep). Dengan demikian, komposisi ungkapan matan hadis pada hakikatnya adalah pencerminan konsep idea yang intinya dirumuskan berbentuk teks. Teksmatan juga disebut dengan nash al-hadits atau nash al-riwayah. (Lihat: Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2004), hlm. 13).

[4] M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Ulumul Hadis, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2010) hlm. 36.

[5] Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits, … (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hlm. 12.

[6]T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits jilid II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm 302.

[7]Lihat: Fatchur Rahman, Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 330.

[8] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’ani al-Hadis, (Yogyakarta : Idea Press, 2008), hlm. 16.

[9]Yunahar Ilyas dan M. Mas’udi, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis. Cet. I, (Yogyakarta: LPPI, 1996) hlm. 174.

[10] Al-Bulqini menyampaikan bahwa:

فَوَائِدُهُ كَثِيرَةٌ، وَلَهُ نَفْعٌ فِي مَعْرِفَةِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ

Faidahnya banyak serta bermanfaat besar dalam mengetahui nasikh dan mansukh.” (Lihat: Sirajuddin Al-Bulqini, Muqaddimah Ibnu Shalah wa Mahasinul Ishthilah, pentahqiq Aisyah Abdurrahman, (Fes: Darul Ma’arif, 1990) hlm. 714). Kalimat al-Bulqini tersebut juga dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tadribur Rawi pada bagian ke-sembilan puluh “Mengenal Tawarikul Mutun”(Lihat: Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarah Taqribun Nawawi, (Riyadh: Maktabah Al-Kautsar, 1415H) hal. 930).

[11]Lihat: Fatchur Rahman, Ikhtishar …, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 151.

[12]Lihat: Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Dimasyqi, Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rasul jilid I, (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm. 419-420.

[13]Lihat: Imam An-Nawawi, Shahiih Muslim Bi Syarhin-Nawawi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi, Terjemah Syarah Shahiih Muslim, (Jakarta Selatan: Mustaqiim, 2004), hlm. 723

[14]Lihat: Sirajuddin Al-Bulqini, Muqaddimah …, pentahqiq Aisyah Abdurrahman, (Fes: Darul Ma’arif, 1990) hlm. 719-722.

[15] Ibid, hlm 723.

[16]Lihat: Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi …, (Riyadh: Maktabah Al-Kautsar, 1415H) hal. 930-932.

[17]Di antara ulama yang menyusun “hadits-hadits awwaliyah” dalam satu bab tersendiri ialah Imam Ibnu Abi Syaibah

[18]Menurut ulama madzhab Maliki dan ulama Madzhab Hambali hadits ini me-nasakh hadits-hadits lain yang muncul sebelumnya. Karena, hadits ini muncul di akhir umur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hadits ini menunjukkan bahwa penggunaan kulit bangkai sebelum itu hanyalah suatu rukhshah. Namun menurut pendapat Prof. Wahbah Zuhaili, pendapat yang rajih ialah pendapat ulama Hanafi dan Syafi’I, bahwa samak adalah salah satu cara penyucian. Sebab hadits Ibnu Ukaim dipertikaikan. Al-Hazimi dalam kitabnya, an-Nasikh wal Mansukh wa Tariq al-Inshaf fihi mengatakan bahwa hadits Ibnu Ukaim merupakan dalil yang menunjukkan terjadinya nasakh, jika memang hadits itu benar. Tetapi hadits itu riwayatnya dipertikaikan dan ia tidak dapat menandingi keshahihan hadits Maimunah. (Lihat: Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., Fiqih Islam Wa Adillatuhu 1, (Jakarta: Gema Insani, 2010) hlm. 213-215.

[19]Fatchur Rahman, Ikhtishar …, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm. 330.

[20] Manshur bin Hasan al-Abdullah, Syarhul al-Arba’un al-Uswah min al-Hadits al-Waridah fi an-Niswah, terj. Abu Muhammad Suparta, 40 Hadits Pilihan Pembentuk Karakter Muslimah, cet. V (Jakarta: Darul Haq, 2014), hlm. 9.

[21]Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, terj. H. Salim Bahreisy, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan Himpunan Hadits Shahih Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982), hlm. 35-36.

[22]Lihat: Imam Al-Bukhari, Al-Jaami’ Ash-Shahiih Mukhtashar Al-Musnad min Hadiitsi Rasuulillaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam wa Sunanihi wa Ayyaamihi; Al-Juz Ats-Tsaanii,  (Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyah wa Maktabatuha, 1403 H/1983 M), hlm. 376-377.

[23] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd Fii ‘Uluum al-Hadits, terj. Mujiyo, ‘Ulumul Hadis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 349.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Hasjim. 2004. Kritik Matan Hadis. Yogyakarta: Penerbit Teras.

‘Abdul Baqi, Muhammad Fuad. 1982. Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, terj. H. Salim Bahreisy, Al-Lu’Lu’ Wal Marjan Himpunan Hadits Shahih Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim. Surabaya: PT Bina Ilmu.

Al-Abdullah, Manshur bin Hasan. 2014. Syarhul al-Arba’un al-Uswah min al-Hadits al-Waridah fi an-Niswah, terj. Abu Muhammad Suparta, 40 Hadits Pilihan Pembentuk Karakter Muslimah, cet. V. Jakarta: Darul Haq.

Al-Bukhari, Imam. 1403 H/1983 M. Al-Jaami’ Ash-Shahiih Mukhtashar Al-Musnad min Hadiitsi Rasuulillaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam wa Sunanihi wa Ayyaamihi; Al-Juz Ats-Tsaanii. Kairo: al-Mathba’ah al-Salafiyah wa Maktabatuha.

Al-Bulqini, Sirajuddin. 1990. Muqaddimah Ibnu Shalah wa Mahasinul Ishthilah, pentahqiq Aisyah Abdurrahman. Fes: Darul Ma’arif.

Chalil, Moenawar. 2001 Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Jilid 1. Jakarta: Gema Insani Press.

Ad-Dimasyqi, Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi. 2003. Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-Hadits Rasul. Jilid I. Jakarta: Kalam Mulia.

Ilyas, Yunahar dan M. Mas’udi. 1996. Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis. Cet. I. Yogyakarta: LPPI.

‘Itr, Nuruddin. 2012. Manhaj an-Naqd Fii ‘Uluum al-Hadits, terj. Mujiyo, ‘Ulumul Hadis, Cet.II. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. 2013. Ushul Al-Hadits, terj. H.M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadits, Cet. V. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Mustaqim, Abdul. 2008. Ilmu Ma’ani al-Hadis. Yogyakarta : Idea Press.

An-Nawawi, Imam. 2004. Shahiih Muslim Bi Syarhin-Nawawi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi, Terjemah Syarah Shahiih Muslim. Jakarta Selatan: Mustaqiim.

Rahman,Fatchur.1974. Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits. Bandung: PT Al-Ma’arif.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1981. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jilid II Jakarta: Bulan Bintang .

Suryadilaga, M. Alfatih dkk. 2010. Ulumul Hadis. Yogyakarta: Penerbit Teras.

As-Suyuthi, Jalaluddin. 1415H. Tadribur Rawi fi Syarah Taqribun Nawawi. Riyadh: Maktabah Al-Kautsar.

Az-Zuhaili, Wahbah. 2010. Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., Fiqih Islam Wa Adillatuhu 1. Jakarta: Gema Insani.

_________________________________________

ini fajar lagi iseng pol-polan posting makalah sendiri.. =))))

gegara galau mau ujian susulan… ehehe..

ternyata begini kalo makalah diposting plus footnote…

yang geje di urutan angkanya.. kenapa jadi 1 semua…. ohoho… susah diedit pula

ya.. ya.. jadi nanti bisa ngoprekin blog lsiqh deh #okesip

Kalau ada yang salah, mohon dikoreksi.. ;)

oya gambarnya itu manuskrip salah satu lembar mahasin al-isthilahnya al-bulqini

*saya lupa donlot dimana*

Satu Milimeter

bismillaah..

Mungkin, saya bisa sedikit memahami kini mengapa Imam Ahmad rahimahullaah lebih memilih tetap teguh dengan prinsipnya meski dengan hal itu siksaan akan semakin kejam dan kematian keji seolah menjemput di hadapan. Padahal ‘rukhshah’ bisa saja beliau ambil, ketika penganiayaan sudah sangat melampaui batas. Dan saya juga mungkin bisa sedikit memahami mengapa para muridnya menasihati agar beliau berkompromi dengan penguasa -mengiyakan bahwa Quran itu makhluk- tapi hati tetap menolak. Para murid itu tahu penyiksaan model bagaimana yang dihadapi gurunya tiap harinya. Akan tetapi jika saja Imam Ahmad memilih rukhshah itu, entah fitnah kesesatan seperti apa yang akan merebak dahsyat seketika itu (fitnah dalam b.arab bukan b.indonesia maksudnya.. hehe). Sang Imam tahu betul, di luar benteng penjara, rakyat Baghdad dengan pena dan kertasnya menunggu kalimat sang Imam sebagai panduan.

Bisa jadi banyak orang bisa memaklumi ketika pilihan ‘keringanan’ yang menjadi keputusan, dengan argumen dalil kebolehan rasulullaah kepada Ammar bin Yasir mengakui keimanan ‘lain’ hanya dalam lisan sebab penyiksaan dahsyat yang ia rasakan. Namun sungguh pilihan beliau rahimahullaah menjawab nasihat para murid dengan bijak dan kapasitas ilmunya “Nah, apakah pantas aku selamat sendirian dan mereka menjadi sesat”

Wahai ustadz Rahmat.. rahimahullaah.. saya merindukan sosok antum, yaa Ustadz. Merindukan tulisan-tulisan semacam tulisan milik antum..

“Atau semangat zaman telah menaklukkan makna hakiki sabda. Akhirnya segalanya boleh kecuali yang bertentangan dengan nafsu mereka. Untuk meyakin-yakinkan publik terkadang mereka mengutip qaidah-qaidah fiqh dan pada saatnya mereka terbentur dengan prinsip: ‘Tak semua khilaf datang dengan (bobot) yang pantas diterima, kecuali khilaf yang berakar pada nalar (yang benar)’.”

Humm.. ketika bidikan menyimpang satu milimeter, apakah peluru yang melesat dari laras juga akan menyimpang satu milimeter dari sasaran?

Jika saya membayangkan seperti di film-film action pembunuhan seseorang, bidikan sniper meleset, menyimpang satu milimeter dari yang seharusnya; maka bukan si target yang terbunuh. Misi gagal. Tak bisa mengulang tembakan kedua karena pasti pasukan pengamanan telah mencari sumber tembakan.

Ah, iya.. seperti tanggapanmu waktu itu, aku ingat betul meski tak menuliskan atau menyimpannya, katamu bukan mengenai sasaran tapi justru merusak apa yang seharusnya utuh.
Waktu itu aku terkesiap. Hanya diam saja dan merenung mendapati tanggapan semacam itu. Aku tak berpikir sejauh itu. Yang terbayang di benakku saat kalimat itu meluncur adalah seseorang yang berlatih menembak, akhirnya sasarannya sama sekali tak tertembak. Melesat jauuuh sekali dari titik sasaran seharusnya. Namun, kau membuka mataku. Hey, ini bukan latihan menembak. Ini tembakan sesungguhnya. Yang di sekitar sasaran itu bisa jadi ada korban yang akan jadi ‘sasaran baru’ berkat satu milimeter. Sayangnya sang sasaran baru itu seharusnya bukan korban, ia mustinya tak terluka sama sekali. Luar biasa bukan dampak dari istilah ‘meleset satu milimeter’ itu. Ya, hanya satu milimeter. Merusak apa yang seharusnya utuh. Ah..

Image

Memang satu milimeter itu pada kenyataannya bisa jadi itu bukan kesengajaan. Mana ada ya, sniper salah tembak sengaja?! hehe. Setiap manusia tak luput dari kesalahan bahkan rasulullaah sekalipun pernah ditegur langsung oleh Allaah melalui firmanNya. Namun kesalahan tetap harus kita sampaikan sebagai sebuah kesalahan. Bukan mencari pembenaran dan pemakluman dari satu milimeter melesetnya laras tanpa kesengajaan itu. Agar orang lain tak menganggap bahwa korban yang jatuh seharusnya adalah sang ‘korban baru’ itu. Agar orang-orang tak menganggap bahwa tak apa hal yang seharusnya utuh itu rusak karena ketidaksengajaan. Jadi kita boleh saja dengan mudah ‘tak sengaja’ merusak lagi di lain kesempatan. Atau mengikuti merusaknya tanpa ketidaksengajaan. Mengerikan, kawan.

Sungguh.. di detik-detik semacam ini, saya begitu merindukan sosok Al-‘Umari cicit Al-Faruq itu.. (Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu). Betapa tegas dan kritisnya beliau dalam menyatakan yang haq. Beliau mengkritisi para ulama yang dianggap telah mendekat pada kekuasaan dengan perkataan ‘kalian mulai condong pada dunia’.

Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan perkataan Al-‘Umari:

“Sungguh termasuk yang melalaikanmu dari jiwamu adalah karena kamu menolak Allah subhanahu wata’ala dengan memperoleh pada sesuatu yang membuatnya marah lalu kamu melakukannya. Kamu tidak memerintah pada yang baik dan tidak melarang kemungkaran, karena takut terhadap makhluk. Padahal makhluk sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk memberi bahaya dan manfaat atasmu. Barangsiapa yang meninggalkan amar ma’ruf dan nahyul munkar karena takut kepada makhluk, akan dicabut kewibawaan dirinya. Hingga ketika ia memerintahkan anaknya, anaknya itu akan menganggap enteng perintahnya.”

Betapa dalam kata-kata Al-‘Umari itu, menampar relung hati ini, apakah diri ini tergolong mereka yang takut kepada makhluk? Dengan sadar atau tanpa sadar membuat Allah marah, murka.. *mewek

Ia sosok yang kritis juga kepada sang amirul mukminin waktu itu, Harun Ar-rasyid. Sampai pernah dikatakan oleh Ar-Rasyid, “Demi Allah, saya tidak tahu ada masalah apa dengan al-Umari. Saya tidak suka datang meminta nasihat kepadanya, tapi saya sangat suka meminta pendapatnya.”

Nasihat kebenaran, memang seringkali pedas di telinga dan hati kita. Membuat kita tak nyaman mendengarnya dan tidak terima atas perlakuan yang seolah kasar. Namun, tengoklah sosok sang khalifah Harun Ar-Rasyid.. dia mempercayai dan memegang pendapat sosok ulama yang bisa jadi begitu pedas dalam menasihatinya.

Satu hal yang pasti, bersyukurlah ketika kita melakukan sebuah kesalahan lalu masih ada yang mau menasihati kita. Menegur kita. Bayangkan jika kita berbuat salah lantas semua orang membiarkan kita bergelimang kesalahan entah sadar atau tidak. Tak peduli ketika kita berbuat kemungkaran pun kemaksiatan. Nasihat mungkin pahit, tapi bisa jadi obat untuk kembali menemui kebeningan hati, berkaca pada cermin kebenaran sejati.

Image

Rabbi.. Ampuni kami.. =’)
*menulis sambil menahan derai air mata

#gambar dari instagram adikq.. hehe =D

Lalu, Kau Bertanya untuk Apa?

Image

Beberapa hari yang lalu aku membuka lagi buku yang pernah selesai kubaca tahun lalu. Aku memang suka mengulang membaca buku yang kusuka, karena selalu ada kesan yang berbeda dalam kesempatan yang tak sama jika mengulang bacaan. Tentang buku itu, berkali pun kubaca selalu sukses membuatku meleleh deras. hahaha. Ini ketiga kalinya aku membacanya sampai tuntas buku 323 halaman ini.

Sedikit terusik ketika sampai di halaman aku menemukan kata “burdain”, deg.. Aku tiba-tiba ingat kalau aku lupa (bahasa apapula ini ‘tiba-tiba ingat kalau lupa’ haghag) apa arti bardain. Duh. Dulu pernah nanya, tapi kucoba-coba mengingat jawaban dari yang kutanyain tahun lalu, tetep aja lupa. Langsung panik ngubek-ubek HP, buka satu-satu sms di situ, pegel juga. hahaha. Ga ada. Di draft juga, ga ada. Kucari-cari di buku biasa aku nyoret-nyoret hal baru yang perlu kucatat, ga ada juga. Mau tanya orangnya lagi maluuuu.. hahaha.. *payah. Padahal juga yang ditanyain pasti mau ngejawab lagi, tapi tetep aja malu. Niat ga sih, nanya mulu. wekeke.

Sampe aku putus asa dan akhirnya aku inget, kalo waktu itu smsnya yang udah nangkring beberapa hari di inbox hp kuhapus gegara inbox penuh. Tapi sebelum ngehapus kubaca baik-baik isinya sampai ingat betul. Ternyata, belum satu tahun aja aku udah lupa apa yang aku ingat waktu menghapus itu. Duh, payah. Akhirnya dengan mengesampingkan rasa malu kutanya lagi lah. hehehe. Aku sih tau kalau burdain itu shalat shubuh & ashar tapi lupa beneran itu dari kata apa dan kenapa bisa jadi dua shalat itu disebut burdain. Phyuh..

Eng ing eng.. dijawab lagi lah yang kedua kalinya

“Itu dari kata barada yang artinya dingin. Al-bardu itu dingin, bardain itu dua dingin (dua tepi siang yang dingin, yakni Shubuh dan Ashar). Kalau al-burda atau burdah artinya kain bergaris”

Yay, itu dia sms yang persis dengan jawaban tahun lalu. Aiih Fajar dasar pelupa. *tepok jidad. Hihihi. Kali ini tak mau kulepas, bener-bener kucatat di tempat yang aman. haghag.

Dengan kejadian simpel ini aku merenung, ya Allaah sudah berapa banyak pertanyaanku yang dijawab sungguh-sungguh oleh yang kutanyai tapi kulupakan begitu saja? Lalu sesungguhnya aku bertanya untuk apa? Kalau memang untuk tau dan paham kenapa semudah itu kulupakan? Waktu itu berkali-kali beristighfar. Dan ini pembelajaran berharga untukku. Agar sungguh-sungguh mengikat ilmu dengan merekamnya dalam tulisan karena jika hanya disimpan dalam ingatan, lupa itu niscaya. Bukankah menulis itu juga bagian dari upaya merekam sesuatu lebih lama dalam ingatan kita? hehehe. Makanya jangan males nyatet jaaar.

Bertanyalah untuk menjadi sebuah pemahaman yang kau amalkan, Jar. Karena buah ilmu adalah amal. Jika sungguh-sungguh diamalkan lupa itu akan mudah kau lawan. #NtMS

Obrolan Tiga Jendela

Gegara kesindir ama mensyennya Pak Syam. Jaraway kebanyakan ngereblog. haha.. Memang, move on dari MP itu belum sukses sepenuhnya *eeaa. Jadi ini Fajar memaksakan diri harus nulis. Sebenernya banyak ide dah loncat-loncat di kepala menunggu dieksekusi, tapi tiap kali mau nulis dan ngadep lappy, bubar jalan.. hehehe. Dari kemarin nulis, dapet separuh trus mandeg, dapet separuh mandeg lagi, ga kelanjut. Ditambah ga kuat ngadep lappy kelamaan. hihihi. Sekarang ini bisa deselesein juga ternyata. haha.

Sebelumnya mau mengucapkan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ayah Pak Syam di tanah suci. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil maa’i watstsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas, wa adkhilhul jannata, wa a’idhu min ‘adzaabil qabri. Semoga merupakan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Indah sekali wafat di baitullah dan dishalatkan di sana.. =’)

Image

Baiklah, aku mau cerita. Akhir November tahun lalu Fajar pergi ke Jakarta dan sempat main ke rumah pemilik tiga jendela (Ai @akuaisemangka Sari Yulianti) *telat banget ceritanya baru sekarang.. haha. Beginilah masih susah move on dari MP. haghag. Akhirnyaa.. aku bisa ketemu tiga jendela itu, dari dulu penasaran.. Sebenere mau ketemu Ai apa tiga jendelanya yak. qiqiqi *gagalpaham. Nah, sewaktu di sana obrolan yang cukup membekas ya ga jauh-jauh dari tulis-menulis, hehe. Ai yang bercita-cita jadi penulis dan memang telah nerbitin buku pun sudah ikut juga di beberapa antologi hari itu harusnya pergi ke acara salah satu penerbit tapi ga jadi. hihihi

Kami pun berbincang tentang beberapa penulis yang sudah lama malang melintang di dunia olah kata rangkai aksara itu. Terutama penulis-penulis genre fiksi. Aku mungkin sudah terlalu sering bilang ke Ai, kalo aku ga begitu suka baca buku fiksi. hehe. Ai pun dulu begitu (inget tulisannya di MP). Tapi karena pilihannya menjadi penulis di ranah fiksi jadi ya mau tak mau Ai musti kudu wajib melahap banyak buku ‘aliran’ fiksi.

Tentang fiksi ini, aku masih ingat dulu guru pelajaran Bahasa Indonesiaku di SMA mengajarkan bahwa imajinasi kita harus diasah dengan mempelajari banyak hal. Membaca banyak peristiwa dan berani keluar dari ‘zona nyaman’ kita. Jika mau membuat cerita berlatar tempat A, ya kita harus pelajari dan kenal betul tempat A bagaimana, meskipun kita belum pernah benar-benar berada di tempat itu. Lalu karakter orang juga harus banyak kita pelajari walaupun kita belum pernah menjumpai orang semacam itu di kehidupan nyata. Profesi pun begitu. Eksplorasi kita harus luas. Begitu yang disampaikan beliau.

Ada yang lucu sih waktu itu, bu guru sambil bercanda dan senyum berujar bahwa tak begitu suka majalah An-Nida *lirik enje.. peace njee =p dan bilangnya sambil menatap ke arahku, aku balik senyum aja. haha. Lha, yang pake jilbab di kelasku memang tak banyak dan yang waktu itu antusias dengan pelajaran beliau ya sepertinya aku. Mau tak mau tatapan itu pun mengarah padaku. hihihi. Beliau berpendapat bahwa karakter tokoh-tokoh di cerpen An-Nida terlalu ‘melangit’, begitu ‘wah’, kayak ga mungkin ada di kenyataan. Dalam hati aku antara sepakat dan tidak sepakat dengan pernyataan beliau. Sepakat dengan ga begitu suka majalah An-Nida karena memang dasarnya aku ga begitu suka baca fiksi dan kurang suka tema-tema yang diangkat di cerpen-cerpennya. Ini subjektif aku banget. hahaha. Tapi ga sepakat kalo dianggap tokoh-tokoh yang ada di cerpen itu ga mungkin ada di kenyataan. Nyatanya aku pernah menjumpai ‘sosok-sosok langitan’ itu di kehidupan nyata. Tapi aku sendiri memang lebih sreg jika sebuah tulisan tak melulu sosok tokoh yang baiiiik banget. Untuk mewarnai kita. hehe. *IMO

Kembali ke tiga jendela *haiyah hihihi. Nahh, Ai menceritakan beberapa penulis novel Islami yang bisa menembus penerbit yang ‘sulit tertembus’. Murid les Ai pernah bercerita kalau teman-temannya sekarang gemar membaca novel dari penerbit itu. Tapi memang muatan di novel-novel itu ‘begitu’. Makanya salut juga bisa menembus penerbit semacam itu, menyusupkan nilai-nilai & prinsip Islami tanpa label Islam. Kita memang patut bersyukur tren baca anak-anak muda sekarang melesat pesat, namun juga perlu khawatir muatan apa yang masuk dan dicerna oleh mereka generasi penerima tongkat estafet itu *tsaah. Nilai-nilai seperti apa yang akan tertanam dalam benak mereka. Apakah nilai-nilai kebaikan & kebenaran atau justru hal-hal yang tak sadar menjerumuskan semacam pemikiran ‘sipilis’ (sekularisme pluralisme liberalisme). hehehe. Aku punya adik kecil yang beranjak remaja jadi ama beginian agak geram. haha

Alangkah indahnya jika setiap kita memilih ranah perjuangan masing-masing dan bersungguh-sungguh di situ, membawa misi kebenaran. =D

Begitu juga para da’i yang memilih berjuang di dunia kepenulisan fiksi ini. Bahwa ada sebuah cita mewarnai dengan ‘shibghatallah’ di area yang kini banyak dilahap anak-anak muda kita, sepatutnya tujuan itu tak pupus. Perjuangan di bidang ini tentu tak mudah, eksplorasinya musti manteb, apalagi harus berkejar-kejaran dengan ‘celupan-celupan’ lain yang tak kalah sungguh-sungguh dalam membawa nilai-nilai mereka.

Sampai di bagian ini, aku ingat satu ujaran “dulu novel yang beraroma pornografi ditulis oleh novelis laki-laki, kini justru yang menulisnya adalah perempuan menjadi best seller pula”. Aku lupa ini kata-kata siapa.. hehe n_nv peace.

Tentang ketidaksukaanku terhadap fiksi, eum.. ini sih bagiku sudah sampai ke ‘level’ hal prinsip. hehehe. Dulu aku suka membuat cerpen dan membacanya. Novel 5 cm, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi bisa kulalap dalam 2 atau 3 hari. Kumpulan cerpen dulu paling kusuka adalah tentang kumpulan cerpen yang bercerita tentang Palestina, Bosnia, Kashmir, dan semacamnya. Tapi, tetap saja lebih menyukai bacaan non fiksi. Apalagi ketika kini, beroleh kajian dari beberapa ustadz, mengada-adakan cerita itu tidak boleh. Dan para pendongeng ini pun yang mengakibatkan betapa banyak hadits-hadits dan kisah-kisah palsu yang beredar luas di kalangan umat Muslim. Miris rasanya. Dan aku lebih memilih menghindarinya. =D

Oiya, terakhir.. dulu Suryaq merekomendasikan buku dongeng anak 365 Hari Bersama Rasulullah saw, dan 365 Hari bersama Shahabat Rasul *lupa judulnya. Penerbitnya Gramedia. Pernah dinobatkan jadi buku terjemahan terbaik di IBF 2010 kalo ga salah inget. Nah, buku ini nih dongeng untuk anak, tapi bersumber dari hadits-hadits shahih. Keren ga tuh, Ini yang Fajar cari dan dari dulu pengen banget bisa dongeng dengan sumber benar. Jadi inget paniknya mau ngisi TPA ndongeng musti baca tafsir dulu. hahaha. Makanya dari dulu ngincer banget Kitab Shahih Bukhari & Muslim, buat bisa bercerita ke anak-anakku kelak *tsaah.. hahaha. Tambah ni Bang Hendra postingnya sekarang-sekarang ni tentang kisah-kisah lemah & palsu. Wuih, padahal itu yang sering tertanam di benakku, ternyata ga bener, aku ga mau dong nyeritain anak pake hal yang ga bener. Masuk kategori pendusta ntar *ngeri.. hehehe. =D

“memilih dan memilah kisah apa yang terukir di ‘batu’ ingatan anak-anak kita, adalah salah satu hal penting yang menentukan ukiran kehidupan mereka kelak”

(kataku.. haghag)

Karena aku merasa masa kecilku ditanamkan dongeng-dongeng tak masuk akal, semacam Kancil Nyolong Timun, Mak Lampir, Mahabarata, dll. Hahaha. Jadi ga heran juga sekarang banyak tokoh ‘selicik’ kancil dalam dongeng itu, menggunakan kecerdasannya untuk mengakali orang lain, menghalalkan segala cara. Banyak juga orang-orang yang menyukai dunia mistis. haghag. Dan banyak pula yang mempercayai dewa-dewa. hadeeeh. Masa kecilku ga keren banget yak. hehehe. =D Maka, aku tak mau terulang hal yang sama pada anak-anakku kelak. Aamiin. Koq jadi serius amat ya ni tulisan. ahahaha.. whatever lah, yang penting aku mulai nulis lagi.. haghag

Buat Ai, moga sukses jadi penulis yang dicintai penduduk langit & bumi.. diberkahi jalan kepenulisannya dan melahirkan karya-karya yang bisa jadi ilmu yang bisa diambil manfaatnya, mengalir terus kebaikan melaluinya, insyaAllah. Semangka.. smangaD kawan.. ;)

NB : spesial buat my lovely hunny yang hari ini ujian tesis.. ciee.. eeaaa.. moga revisinya cepet kelar.. baarakallaahu fiiki =) pokoknya kalo aku ke jogja minta traktir, janji yang dulu ntuh.. hahaha.. kangeeeen.. kapan ‘ngedate’ berdua lagi *uhuuuy.. haghag

Mengusung Makna dalam Untai Aksara

“Kata yang indah sudah membuat jiwa menyukainya, namun jiwa juga butuh isi dan makna yang dibawa oleh kata-kata itu..

Banyak puisi indah tapi tak menyampaikan apapun selain kata yang indah..

Dulu, para penulis puisi menyuarakan idealismenya. Baik idealisme buruk maupun baik. Mereka menuliskan pengetahuannya (baik dan buruk) dalam bentuk puisi. Bahasa merupakan wahana bagi mereka.

Joseph Brodsky di Rusia misalnya, Ibnu Arabi ash-shufi misalnya, Ibnu Qayyim misalnya.. semua berawal dari pengetahuan atau idealisme yang diyakini, lalu menjadikan bahasa sebagai wahana.

Kini -katanya- orang-orang memulai puisi dengan kata-kata dan melupakan idealisme/pengetahuan.”

Aku pernah dinasihati seseorang yang bijak sekali [*haiyah] seperti itu dulu

dan baru-baru ini ditambah deh,

“Seseorang pernah berkata kepada saya, ‘Jika kau menulis puisi, aku katakan kepadamu ucapan al-Bukhari : ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.’”

*hiaaakkdeeezzgg

nampol banget dah tu.

jadi ingat juga tulisan ustadz Salim di #MKMM

“Daya Ketuk membuat pembaca terisnyaf dan tergugah, tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. …

“Fakidusy syai’, laa yu’thi; Yang tak punya, takkan bisa memberi”. Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi, membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti.”

Image

Ahiya, menulis adalah jalan ilmu. Meramu pengetahuan dan idealisme yang kita miliki menjadi rantai aksara yang mengandung makna. Selayaknya seperti itu. Bukan hanya memikat jiwa dengan keindahan kata-kata namun rapuh dan koyak dalam isinya.

Saya selalu kagum pada mereka yang mampu mengusung idealisme dalam rangkaian kalimat yang indah. Bahkan banyak yang mampu menyisipkannya secara begitu halus tanpa pernah kita sadari. Membuat tulisan seperti itu yang tak mudah.

Kita ibaratkan menulis itu menuang ‘isi teko’ kepala kita ke dalam gelas-gelas yang ada. Mereka yang isi tekonya teh, yang akan tertuang adalah teh, yang isinya kopi yang dituang kopi, yang isinya jus sawo juga akan menuang jus sawo *halah. hahaha

Akan tetapi, bagi yang ahli meramu kata dan tetap konsisten membawa pemikiran dan idealismenya, bisa jadi ia memiliki teh dalam tekonya, tapi ia ramu dengan susu menjadi teh tarik yang terasa jauh berbeda rasanya dari teh. haha. Analogi yang aneh. wkwk.

Saya _di beberapa sisi_ menyukai tulisan-tulisan tokoh-tokoh yang berbeda pemikiran prinsip, karena kemasan mereka yang bagus. Akan tetapi bagi apa yang saya yakini, pemikiran mereka tidak benar.

Seperti mungkin pemikir-pemikir ‘kiri’ (sosialis), ada seseorang yang pernah berkata “saya salut dengan cara P.A.T memasukkan pemikiran dengan cara sangat halus dalam tulisan”, lalu gumam saya dalam hati “itulah kenapa kadang aku memilih tidak membaca tulisan-tulisannya atau tokoh-tokoh lain yang berpemikiran sejalan”

Ketika ngobrol dengan Pak Akmal Sjafril dulu, beliau pernah menyinggung tentang ini, “saya heran kenapa banyak yang mengidolakan P.A.T bahkan itu dari kalangan aktivis dakwah kampus, kata-katanya banyak dikutip bahkan dijadikan jargon, seolah kita lupa dengan sejarah, yang kita ingat hanya dia yang ‘terdzolimi’ ORBA, tapi lupa apa yang dilakukan LEKRA pada para penulis-penulis Muslim, pak Taufik Ismail saja tak mau mengakui P.A.T sebagai ‘pahlawan’ dalam hal karya sastra.”

Waktu itu saya merenung, dan menanamkan lagi bahwa kita harus hati-hati memilih dan memilah ‘makanan jiwa’ yang akan kita nikmati. Jika kita ingat sebuah kalimat ‘kamu adalah apa yang kamu baca’, bisa jadi tak sepenuhnya benar tapi juga tak selalu salah. Karena saat berhadapan pada mereka yang hebat dalam mengusung ‘hal tersirat’ (pemikiran, ideologi, dsb) secara begitu halus, pertanyakan kembali pada diri kita, sehebat apa kita untuk menjadi bebal pada hal-hal yang tidak benar menurut Allah? Sepaham apa kita dengan Quran dan sunnah yang harus digunakan sebagai penguji sebuah pemikiran layak tidak hinggap di alam bawah sadar kita, jangan-jangan tameng kita tak terlalu kuat untuk menolak sesuatu yang ‘halus’ dan merasuk ke jiwa kita melalui apa yang kita baca. Kadang, kita harus memilih menjadi ‘katak dalam tempurung’ daripada terlanjur menganut sebuah pemikiran yang tak benar. *IMO. Karena mengubah pemikiran itu, bukan hal yang mudah.

Dan tentang menulis, setelah mengingat berbagai nasihat yang saya kutip di atas, kembali harus berkaca, niat dalam membuat sebuah tulisan (apapun itu) sesungguhnya apa. Sudah benarkah? Atau tanpa makna? Padahal setiap hal akan dipertanggungjawabkan termasuk apa yang kita tuliskan. Saya pernah berpesan ke seorang sahabat, ada hak dakwah dari mereka yang membaca tulisanmu. Saya hanya ingat banyak yang meniru gaya tulisannya waktu itu. Dan saya melihat potensinya besar dalam hal menulis *sok tau. Namun sayang, jika tak membawa ‘pesan’ bagi jiwa yang sesuai haknya. (lagi-lagi ini menurut saya, mungkin buat orang lain beda.. hehe).

Ikhlas dalam menulis _dalam hal ini tujuan yang lurus saat menulis_ tentu harus terus kita upayakan dalam setiap apa yang tertuang.

Wallaahu a’lam

*memohon ampun padaNya atas banyak kesalahan yang diketahui atau tak diketahui dalam membaca pun menulis.

Dan bagi saya, bahagia itu luar biasa jika ada yang menegur saya, ketika saya melakukan kesalahan (baik yang saya sudah tau itu salah ataupun belum). =D

Wahaaa.. tumben Fajar sebegini seriusnya.. tengah malem ga enak badan jadi malah ngoceh begini.. haghag.. mahaaph.. =D *mringis..

*menasihati diri sendiri terutama

#untuk yang saya kutip kata-katanya, terima kasih ya.. =)

gambar dari sini

*seperti biasa nulis, ga dibaca ulang langsung posting.. kebiasaan buruk.. hahaha

Gabung Kelompok Elit Yuk? Mariii.. =D

Ini bukan lagi ngomongin elit a.k.a elik tur alit (b.jawanya jelek banget dan kecil) haghag.. *jadi inget ada yang habis ngatain tulisan tangan Fajar jelek banget. wkwkwk.. iyaaa.. emaaang.. sengajaaa.. =)) *lama ga tulis tangan ancur banget deh ah..

Nah di sini beneran mau ngomongin kelompok elit. Tapi bukan elit secara kedudukan dunia.. hehe..

Tapi golonga elit “orang-orang shalih”. Mau dong gabung? yaeyalah.. aamiin.. =)

Image

Ini tadi ngedengerin lagi rekaman kajian Hadits Ustadz Lutfi tentang Riyadhushshalihin masuk BAB 2 tentang taubat.. nah di intro sebelum masuk ke haditsnya beliau menyampaikan :

Kita katakan bahwa di Riyadhush Shalihin itu kita masuk grupnya orang sholih, kalo grupnya orang sholih maka konsekuensi-konsekuensinya menjadi orang sholih juga ada. Nanti kan ketika kita masuk ke kajian sini, banyak yang ga boleh gitu, banyak permintaan, banyak larangan, banyak juga perintah..
ga enak dong jadi orang sholeh?

contohnya kayak gini

13-

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “والله إني
لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة ” ((رواه البخاري.

13. Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada Allah serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Riwayat Bukhari)

Kan kalo kita mau jadi orang sholeh kan taubat kita atau istighfar kita harus lebih dari 70 kali.
jadi ribet dong
ye iye..
tapi kalo buat orang yang sholeh istighfar tu adalah hal yang mengasyikkan.. yang mengenakkan.
riwayat yang lain kan 100x di hadits ke 14
berarti seratus kali dong tambah waktunya, waktunya tambah diambil lagi..
tambah dalam tanda petik ‘dikekang’ lagi.

Saya kiaskan kayak gini, orang mau jadi presiden.. sebelum dia jadi presiden kan dia mau ke mana aja pergi tinggal jalan doang.. jalan aja..
ketika dia udah jadi presiden, emang ga ada protokol? kan ada protokol. Mau masuk ke lingkungan istana kan protokolnya harus dikawal lah, harus ada ini lah, harus ada itu lah.. tetek bengeknya.
Itu masuk ke lingkungan elit istana.

Nah di sini kita mau masuk ke lingkungan elit orang sholeh. maka juga aturan-aturannya juga ada, nah diantara aturannya ni adalah beristighfar 70 kali. Baru kita bisa masuk ke kelompok yang elit namanya “orang-orang sholih”

So, mau gabung jadi kelompok elit istana? *eh salah fokus..
kelompok elit orang shalih maksudnya.. =D

yuk.. marii.. kita teladani sang pembawa kompas penunjuk jalan kita.. uswatun hasanah kita.. rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam.. =)
presiden aja mau ribet ama protokol istana.. masa kita yang ngaku Ummat Muhammad kagak mau ribet ama ‘protokol’ sunnah beliau.. hehehe..
*mringis..

#pengen posting di 7 Januari.. Water apa kabar ya? hahay.. qiqiqi.. 12 tahun ga ketemu.. dah kek apa sekarang ya.. =D

gambar dari sini

[Xenophobia] Akan Kubenci Papua, Jika …

Dua P; Palestina dan Papua adalah tempat hatiku terpaut sejak lama. Rasa cinta kepada dua tempat ini merupakan cinta pada impian yang sulit diungkapkan. Memburu kesempatan menemui mereka adalah cita-cita. Berkarya di dua wilayah ini adalah harapan terbesar dalam kontribusi yang ingin kupersembahkan pada tanah air. Bahkan mati syahid di sana (Palestina) adalah cita-cita tertinggi.

Mengenai Palestina, tak perlu lagi kuutarakan mengapa saya begitu getol menyapanya sebagai tanah airku. Terlalu banyak alasan untuk mencintainya. Maka kali ini izinkanlah untuk menorehkan tentang Papua dalam tulisan yang merupakan tumpahan hati ini.

Papua -atau saya ingin menyebutnya Nuu War- seperti yang sering disebut ustadz Fadzlan (da’i ‘Sabun Mandi’ asli sana). Beliau lebih sreg menyebut nama Nuu Waar bagi tanah kelahirannya, bukan Papua atau Irian. “Itu nama Irian dulu, bahasa Irian. Nuu artinya cahaya, waar menyimpan rahasia,” jelasnya ketika menjawab pertanyaan mengapa lebih memilih istilah Nuu War daripada Papua.

Entah kapan tepatnya saya mulai menambatkan hati pada Nuu War ini. Namun memang tak pernah terpikirkan dalam lintasan pikiran sekalipun untuk hidup di kota besar apalagi metropolitan. Sejak di bangku sekolah pun saya termasuk orang yang sangat ingin berpetualang ke daerah pelosok. Jadi ketika mengenal sosok Nuu War beserta seluk beluknya tertanamlah cita-cita untuk mengabdikan diri di sana.

“Mengapa Papua?!” Pertanyaan ini cukup sering diajukan oleh mereka yang mengetahui cita-citaku. Beberapa orang menganggap itu hal ‘gila’. Banyak pula yang terkesan meragukan, tak sedikit yang mewanti-wanti. Melemahkan. Bahkan sampai pada tahap ‘jangan’. Ya, melarang. Tapi apa mau dikata, namanya juga cinta, semakin dilarang semakin menggilainya. *eeaaa

Setidaknya beberapa hal ini yang sering diutarakan agar saya ‘membenci’ Nuu War. Atau paling tidak mengurungkan niat dan menghapus cita-cita tinggal di sana:

1/ Tidak Aman

Berita tentang suasana tak aman di Nuu War tentu sudah bukan barang asing lagi bagi kita. Organisasi Papua Merdekalah yang menurut media merupakan pelaku teror. Korban jiwa tak sedikit. Belum lagi jika ada perang antar suku atau pilkada yang rusuh. Senjata-senjata tradisional jadi alat eksekusi mematikan atas rasa ketidakadilan yang mereka alami.

Sesuatu yang sering disebut ‘nyawa dibayar nyawa’ tentu bagi manusia normal itu menakutkan. Suasana tidak aman. Nyawa yang terancam, dan berbagai hal tidak nyaman lainnya tentang situasi di wilayah itu sering menjadi momok yang disematkan orang-orang untuk menghambat pemburuanku menuju Nuu War.

“Tuh, kamu mau mengabdi di tempat rusuh kayak gitu?”

“Ntar kena bidik panah ato tombaknya lho, serem”

“Tiba-tiba ketembak OPM, gimana?”

Saya bukan orang yang tak punya rasa takut mati sama sekali. Namun tentu, sebagai orang yang beriman saya mempercayai Allah sudah mengatur kapan kematian itu akan menemui saya. Jadi mengapa mengurungkan niat hanya karena takut mati. Dari ketidakamanan itu justru saya berpikir bahwa banyak yang tidak beres di sana. Daerah yang begitu kaya SDA namun pembangunan dan kualitas SDMnya sangat tertinggal.

Pernah saya dengar istilah ‘anak ayam yang mati di lumbung padi’. Ya, mereka berada di ‘lumbung padi’ yang begitu kaya. Namun dikeruk untuk kekayaan asing, untuk dikorupsi oknum pejabat nakal, untuk ‘menyubsidi’ pusat, lalu akhirnya justru kelaparan. Dari bukit emas kini tinggal lembah curam akibat ulah asing dengan bantuan pejabat negeri sendiri. Semua digadaikan karena uang. Termasuk harga diri sebuah daerah bernama Nuu War.

Ketidakadilan inilah pemacu dan pemicu kondisi tidak aman serta keinginan merdeka. Selain campur tangan asing tentunya. Konflik pilkada -karena ulah sang calon kandidat berasal dari partai tertentu lalu terjadi pertikaian- serta perang antar suku utamanya timbul karena tingkat pendidikan di sana sangat rendah. Fasilitas pendidikan sangat minim. Jelas saja jika banyak hal diselesaikan dengan ‘otot’. Bahkan ustadz Fadzlan menyatakan ada upaya untuk menjadikan pemuda Nuu War tetap bodoh dengan membuat mereka mabuk-mabukan. Ada yang menyuplai minuman beralkohol di wilayah itu hingga dengan mudah dijangkau anak mudanya. Mengerikan!

Lalu apakah saya harus diam saja jika mereka yang ingin ‘menghancurkan’ cintaku itu. O.. tentu tidak. Katakan TIDAK!

2/ Terbatasnya akses dan jauh dari fasilitas.

Sekitar satu tahun saya pernah membantu pekerjaan notaris dan oleh bu notaris saya satu waktu ditanya tentang cita-cita. Saya sampaikanlah tentang ‘kegilaan’ saya ingin ke Nuu War, dia kaget dan menyayangkan. “Apa ga sayang kemampuan dan kecerdasanmu jika hanya dibawa ke sana? Kayak dek Fajar bisa lah kerja di kota besar punya penghasilan besar” ucapnya berharap saya memikirkan lagi keinginan itu. Saya hanya tersenyum.

Saat ada tayangan di televisi tentang sulitnya anak-anak di daerah pelosok menjangkau sekolah, harus berjalan begitu jauh melalui tebing curam bahkan harus menyeberang sungai dengan berenang ada komentar dari ibu saya “Kamu mau kerja di daerah begitu? Belum nyampe tempat ngajar dah ambruk” . Ini bukan tanpa alasan, namun memang kondisi fisik saya akhir-akhir ini setelah merasakan banyak penyakit cukup lemah. Jadi tentu saja ada kekhawatiran orang-orang yang menyayangi saya jika saya harus berada di daerah yang akses jalannya sulit.

Belum lagi jika ada tampilan kehidupan suku-suku di Nuu War yang diliput. Rumah-rumah mereka yang ada di pohon tinggi menjulang. Jalan yang sangat sulit dilalui masih harus ‘babat alas’. Belum lagi tak ada listrik, masak juga tak ada kompor.

Namun entah mengapa justru rasa penasaran dan makin cinta yang tertanam. Bukan ketakutan akan kendala-kendala yang sangat mungkin akan dihadapi. Saya merasa makin tertantang. Akan selalu ada jalan, insya Allah. Akan ada kemudahan-kemudahan beserta kesulitan.

Saya pikir di daerah kota besar sudah terlalu banyak ‘lampu sokley‘ yang memberi terang. Padahal cahaya saya hanya 5 Watt, kadang kurang. Tentu tak bisa berbagi cahaya di daerah yang sudah begitu terang benderang. Saya memilih menyalakan 5 Watt milik saya di tempat yang saya pikir masih ‘gelap’.

Ada juga celetukan iseng “ga bisa online nanti loh, sinyal aja ga ada”. Ahaha. Iya sih, memang itu kadang menggalaukan, tapi itulah serunya. Akan terasa sangat indah kesempatan bertemu kota dan sinyal ataupun akses internet. Hahaha. Pasti seru. “Di kotanya ada sinyal juga kalee”, santai jawaban saya tentang itu.

3/ Islam minoritas

“Islam itu minoritas di sana dan kamu dengan jilbab lebarmu akan menjadi orang aneh di sana.” Kalimat ini kadang cukup mengganggu saat didengar. Bagi kebanyakan kita jika menyebut Papua maka yang terbayang adalah budaya paka
ian koteka, budaya adat yang di sekitarnya babi semua, makanannya serba babi dan juga adanya jumlah penderita HIV AIDS yang sangat tinggi karena **** bebas di sana parah. “Lalu kamu, orang Jawa Muslimah berjilbab mau ‘kluyuran’ di daerah seperti itu. Jangan gila deh.” Mungkin itu celetukan yang acap kali mampir.

Baiklah kita luruskan. Sejatinya, Islam telah menjadi bagian integral dari perkembangan masyarakat Papua. Seperti tertulis di buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian karya Ali Athwa (wartawan Suara Hidayatullah), Islam justru datang lebih dulu dibanding Kristen.

“Islam adalah agama pertama yang masuk Papua. Orang Islamlah yang mengantar Pendeta Otto Gensller ke Irian tanggal 5 Februari tahun 1885. Saat itu, Syaikh Iskandar Syah dari Samudera Pasai sudah datang, pengaruh Raden Fattah dari Kesultanan Demak juga sudah ada, hubungan Muslim Irian dengan Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku pun erat.”

Menurut ustadz Fadzlan Garamatan, kerajaan-kerajaan Islam saat itu berdiri di berbagai wilayah. “Ada 12 kerajaan, di bagian selatan ada 9, ada pula di utara, termasuk di kawasan Wamena, namanya Kerajaan Abdussalam Nowak. Salah satu keturunan Nowak ini adalah Haji Aipon Asso, tokoh masyarakat Wamena,” urai Fadzlan yang kini tengah melakukan penelitian tentang sejarah Islam di Nuu Waar.*1

Dakwah beliau sungguh menginspirasi saya untuk ikut serta. Ratusan suku telah memeluk Islam melalui perantaraan beliau. Sembilan ratusan masjid telah tersebar di Nuu War, ribuan orang dimandikan secara massal, diajari cara berpakaian, dikhitan, kemudian dituntun mengucapkan kalimah syahadat. Sungguh indah. Dan muslimah asli Nuu War banyak yang sudah mengenakan jilbab. Cantik. Membuat iri wanita-wanita asli Nuu War yang belum berpakaian muslimah. Subhanallah.

Mau ngapain di sana?

“memang ngotot banget mau ke Papua, mau ngapain ke sana?”

Saya hanya menjawab 2 hal ketika ditanya itu.

1. Menegakkan kalimat Allah.

Saudara-saudara sesama Muslim di sana jumlahnya kini telah begitu banyak. Saya ingin berbagi akan ilmu mengenai Islam yang telah saya peroleh di wilayah ber‘lampu sokley’ kuat dan ingin ikut belajar (sejatinya saya pasti akan lebih banyak belajar tentang kehidupan). Tugas dakwah bagi setiap Muslim itu wajib, dan bumi Nuu War juga memiliki hak dakwah.
Sederhana saja.

Saya sangat terinspirasi melihat tayangan di Kick Andy mengenai Aiptu Ma’ruf Suroto yang bertugas di Polsek Sota Kabupaten Merauke sejak 1993. Dengan semangatnya mengabdi pada negeri ini dia setulus hati menjaga wilayah perbatasan dengan Papua Nugini itu dan mengubahnya dari tempat angker menjadi daerah asri tempat bermain dan rekreasi. Yang lebih mencengangkan ternyata dia lahir di Magelang. Kota tempat saya dilahirkan pula. Makin bersemangatlah saya untuk menegakkan kalimat Allah seperti dia menegakkan sumpah setia mengabdi pada negara.

2. Mengajar anak-anak.

Indonesia mengajar begitu menginspirasi saya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan. Terlebih lagi sistem pendidikan Indonesia masih begitu buruk.

Saya selalu menganggap anak-anak Nuu War itu cerdas. Anggapan saya itu terbukti dalam kisah empat anak Nuu War. Albertina Beanal, Demira Yikwa, Kohoin Marandey berhasil menciptakan dan memenangkan lomba sains dan matematika di Jakarta. Mereka menciptakan Robot Pendeteksi Tsunami. Sementara Christian Murid meraih medali emas pada lomba matematika dan sains tingkat SD se-Asia. Padahal keempat anak itu awalnya adalah anak yang tinggal di pedalaman Papua dan dipilih karena dianggap paling bodoh. Namun, setelah dilatih dan belajar tekun dibawah pengawasan Profesor Yohanes Surya mereka berhasil mengerti tentang fisika dan matematika. Padahal ketika datang ke Jakarta pertama kali mereka tidak bisa berhitung. *2

“Khoirukum man ta’alamal quran wa ‘allamahu“ (sebaik-baik kamu adalah yang belajar Qur’an mengajarkannya). Saya cukup terperanjat ketika mendengar bahwa Gubernur Jawa Barat pernah menyampaikan data di wilayahnya, 50% warganya belum bisa baca Qur’an. Ini di Jawa Barat, daerah dekat ibukota dan cukup terpelajar. Lalu bagaimana dengan Nuu War? Pastinya masih sangat banyak pekerjaan rumah di wilayah itu. Saya ingin ikut ‘belajar kelompok’ menyelesaikannya dengan 5 Watt yang saya punya.

Mengajar Qur’an dan mengajar ilmu apapun yang bermanfaat bagi anak-anak di sana. Saya sangat ingin melakukan itu. Sungguh.

Bagi orang lain mungkin kebahagiaan bisa dirasakan dari sisi materi dan memperoleh ‘benda’ yang mereka harapkan. Sesekali sayapun begitu, bahagia lantaran ‘materi’. Akan tetapi setelah banyak hal dalam hidup, lebih dari cukup untuk memberikan pelajaran bagi saya bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi ilmu dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Ada rasa lapang di dada jika telah berbuat sesuatu bagi orang lain. Bukan melulu memikirkan diri sendiri.

Islam pun mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan saya percaya itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Sesederhana itu.

Ketakutan-ketakutan akan kegagalan dalam mencapai impian pastilah ada dalam setiap diri manusia. Begitupun saya. Namun, ketakutan terbesar adalah jika saya kemudian letih memperjuangkan impian. Letih karena melemah semangatnya oleh kata-kata orang. Karena ketidakpercayaan mereka bahwa saya akan bahagia dalam menjalani impian itu. Dan lebih takut lagi jika suatu saat saya menyerah kalah terhadap omongan-omongan mereka yang menentang impian ‘gila’ itu.

Maka, akan kubenci Papua jika saya menyerah kalah pada impian. Saya tak berharap itu terjadi. Jadi, bantu saya dengan do’amu ya. Seperti yang dulu pernah saya pinta dalam puisi ini:

meski tak pernah kau temui rintik salju
namun hujan kapas itu menjumpaimu
di malam lengang penenang kalbu
kau berkata “Allah mengabulkan do’aku”

sujud panjangmu menebas rerimbun ragu
yang menggelayut di belenggu masa lalu
satu per satu gugur runtuh membeku
kau berkata “Allah mengabulkan do’aku”

ini tentang duel penjagal harap dan penabur pupuk asa
ini tentang menautkan rantai-rantai rindu pada yang dituju
ini tentang gigil di saat seruNya memanggil
ini tentang serpih yang gigih diuntai agar tetap persih

di tengah syak mereka yang mengepungku
izinkan kupinta do’a darimu

wahai engkau sosok yang berhati jernih

Mungkin banyak yang akan berpikir saya terlalu idealis atau bahkan menertawai jika ternyata saya tak bisa mencapai impian itu. Namun, saya menulis di sini bukan ingin sok bercita-cita ‘besar’. Hanya ingat nasihat seseorang tentang impian:

“Kubawa dalam mimpi, lalu aku terbangun dari tidur. Berharap mimpi itu nyata. Tapi mana ada mimpi dari tidur yang nyata? Kujadikan mimpi itu cita-cita. Kutulis kisahnya. Sehingga kalaupun aku tak sanggup mewujudkan mimpi itu, banyak orang yang tau kisahnya dan mereka beramai-ramai mewujudkan mimpi itu. Jika nanti aku tak bisa menikmati mimpi yang jadi nyata, tak apalah. “
[Ade Nugraha]

*1: http://dakwahafkn.wordpress.com/wawancara/budaya-koteka-adalah-pembodohan/
*2: http://kickandy.com/theshow/1/1/2220/read/BERPRESTASI-DI
-TENGAH-KETERBATASAN

#Tulisan ini diikutkan dalam lomba ini

Pantang Bosen? *eh =D

Hari Ahad yang lalu cowokq a.k.a adikq yang paling ganteng sedunia (dia sendiri yang suka narsis) bawa pulang sepeda dari kos-annya di deket SMA ke rumah. Dinaikin Jogja (Wirobrajan) – Magelang by bike. hahaha.. Tebak berapa lama perjalanan?
hihihi..

2,5 jam saudara2. Ya, 43 KM rute jalan dominan nanjak hanya ditempuh dalam 2,5 jam. Ni anak gila bener deh ah, tenaganya.. Sebelum nyampe rumah dia nelpon adikq yang kecil (yang operatornya sama haghag) buat minta tolong bikinin es jeruk.. =)) adekq cowok ni suka banget ma es jeruk.. Nah.. sampe rumah habis dah tu es jeruk 2 gelas ditenggak habis olehnya. hihihi.

Seperti biasa pas kami berlima (bapak ibu aku dan dua adikq) ngumpul trus ngubrul dibahaslah perjalanan nyepeda adikq pagi tadi. Hahaha.. “Cepeeet bangeet itu” komentar-komentar kami. Dan dia cerita lah gimana serunya perjalanan kali itu. Adikq emang kalo nyepeda jauh gitu ga biasa berhenti kalo capek. Secapek-capeknya paling trus tu sepeda dituntun tapi tetep jalan kaki. Bapak nyeletuk, wah kalo aku dah berenti cari jajan makan minum di jalan. Haghaghag. Trus adikq ngelanjutin lagi ceritanya.. rasane panaaass hauus banget makanya pulang langsung minum 2 gelas es jeruk. hihihi. Apalagi dia ga bawa minum plus ga bawa uang sepeser pun (kebiasaaan banget ni anak kelupaan bawa apa2 hhhaaaahhh parah emang). Tambah dia sempet jatuh jadi oleh-oleh celana bolong kena darah plus lutut luka yang kedua kalinya sebelahan ma luka jatuh dari motornya. ekeke.. kena lagi tu lutut.

Ada yang menarik dari ceritanya selain kemenarikan kecepatan “terbang”nya. haha. Yaitu saat dia bilang bahwa setiap kali dia ngerasa sangat capek ingin menyerah dia melawan rasa ingin menyerah itu. Aku bisa Ya Allaah.. Aku bisa sampe.. bisa Ya Allaah, insyaAllaah. Terus begitu ndremimil di jalan. Ga bosen bosen. Hihihi. Dia seolah berusaha melawan batas dalam dirinya yang meyatakan kamu ga kuat, berhenti saja di sini, kamu udah capek. Dan dia berhasil, mencapai tujuan dan dapet es jeruk.. hahaha.

Oya satu lagi celetukannya di obrolan berlima kami yang bikin aku merenung, “baru nyepeda kayak tadi ada kerasa paaaanaaasnya begitu, haaaauuussnyaaa bangeeet, gimana kalo di padang Mahsyar ya?” *plaaaaaaaaaaak.. berasa tertampar waktu itu..
“Huum ngeri ya Ik ya, ini matahari belum dideketke sampe setinggi 1 mil, keringet-e njuk kaya apa pas itu ya.. ada yang selutut ada yang ampe telinga.. T_T ” *spicles.

Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa jika kita mau mencarinya dan menemukannya, bukan? hehehe.. =D
Bahakan dari celetukan-celetukan obrolan ringan, dari peristiwa-peristiwa kecil yang dialami orang lain, selalu membuat kita belajar, jika kita mau.
Bukankah setiap kita itu adalah murid, meski tak semua kita adalah pembelajar.
Karena kehidupan adalah guru yang begitu berharga jika kita menghargai dengan sebaik-baiknya. *sotoy deh ah..

*jadi inget maut lagi.. =)

Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Musa Abu Shalih telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah dari Abdurrahman bin Jabir telah menceritakan kepadaku Sulaim bin Amir telah menceritakan kepadaku Al Miqdad bin Al Aswad berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: ” Pada hari kiamat, matahari di dekatkan ke manusia hingga sebatas satu mil -berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata- lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” Al Miqdad berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menunjuk dengan tangan ke mulut beliau.
[Sumber : Shahih Muslim, Kitab : Surga; sifat dan penghuninya, Bab : Sifat hari kiamat, No. Hadist : 5108]

#iya fajar, kamu ga boleh bosen.. pegang kuat prinsip itu sampe tujuan.. meski di jalan jatoh dan berdarah, luka. Meski bertemu persimpangan-persimpangan beracun. Jangan bosan melangkah. Jangan lelah menjadi dirimu sendiri yang terus ingin memperbaiki diri. Yang memintamu berhenti di perjalanan, bisa jadi itu hanya godaan fatamorgana yang ingin menggoyahkan komitmenmu. Terus pegang kuat sampai beroleh “es jeruk” di tempat tujuan. Rasanya pasti begitu manis.

*menasihati diri sendiri ketika rasa bosan itu mulai melanda..
*dasar gampang bosenan =))

gambar dari sini

Dalam Tangismu… Adakah Aku?

Kemarin nemu kultwinya @kmmpugm (Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian UGM) tentang #menangis kek gini nih =D

Siapa bilang pria tak bisa banyak menangis ?
Tahukah engkau, kaum pria sesungguhnya jauh lebih sering “#menangis”
Namun mereka menyembunyikan #tangisnya di dalam kekuatan akalnya,
Pria #menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Tuhannya,
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, istri dan anak-anaknya.
Pria “#menangis” dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.
Tak bisa kau lihat #tangisnya pada keluh kesah di lisannya,
Pria “#menangis” dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan dan dinginnnya angin malam.
Tak nampak #tangisnya pada peristiwa-peristiwa kecil dan sepele,
Pria “#menangis” dalam kemarahannya jika kehormatan diri dan keluarganya digugat
Pria “#menangis” dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari,
Pria “#menangis” dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rezeki,
Pria “#menangis” dengan menjaga dan melindungi orang tua, anak dan istri,
Pria “#menangis” dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya,
Pandanglah Ayah ….. Pandanglah Suami ….. Sesungguhnya syurga Allah di dalam keridha’an mereka ..

Kultwit ini bisa jadi tak sepenuhnya benar. Namun.. membacanya menjadi teringat saat melihat bapak menangis..Ketika kecelakaan cukup parah itu terjadi. Hanya bulir-bulir bening saja yang menampakkan bahwa itu merupakan tangis karena ia tetap nyengir seperti biasa. haha. Waktu itu, arteri bapak ada yang putus di tumit. Dagingnya kerowak (apa yang bahasa Indonesianya) bolong.. eh.. eung.. itu lho.. kek apel kegigit.. hihi.. dagingnya robek “tertinggal” di motor.. hehe.. tulang tumitnya retak.. atau agak remuk lah.. Jadi pasti super sakit. Wajar jika ia tak mampu menahan titisnya menetes.

Sulit memang menemukan bapak bener-bener nangis. hihihi.
Dia lebih sering menyembunyikan gundahnya.. kadang dalam banyolan, kadang dalam candaan, kadang dalan kekehan, kadang dalam kecerewetan. Namun, anehnya bapak tak pernah marah sama fajar setelah fajar beranjak dewasa. Tak seperti waktu dulu masih kecil, bapak begitu galak. haha. Sekarang juga galak si, tapi ga pernah marahin fajar *fajarnya lebih galak.. wekekeke.. =))

Dan tahukah kau, kadang akupun begitu.. menyembunyikan “tangis”q dalam “geje”.. hehehe.. dalam canda, dalam ngakak, dalam smangaaD.. padahal mungkin di sini sebenere ni air mata mbrebes mili (ngalir terus :red) hahaha..

Terakhir tentang tangis ini.. ada seorang lelaki mulia, yang menangis untuk kita semua.. memohon keselamatan kita.. [so sweet ya.. =’)]

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Amru bin al-Harits bahwa Bakr bin Sawadah telah menceritakan kepadanya dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca firman Allah mengenai Ibrahim: ‘(Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku) ‘ (Qs. Ibrahim: 36) hingga akhir ayat.
Dan mengenai Isa Alaihissalam: ‘(Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) ‘ (Qs. Al Maidah: 118),
kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a: “Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku, “ dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah ‘azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: “Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? ‘
Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah-dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata: ‘Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu senang dengan umatmu dan tidak akan membuatmu sedih karenanya (Kami akan menyelamatkan semua umatmu-pent) ‘.”
[HR Muslim no 301 Kitab : Iman Bab : Doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bagi umatnya dan tangisannya karena kasih]

Ya, kekasih kita shallallahu ‘alayhi wassalam pernah menangis memohon kepada Allaah keselamatan kita..
Lalu, dengan apa kita membalas cintanya kini?
dengan “malu” akan sunnahnya kah?
dengan diam atas penghinaan terhadapnya kah?
dengan membiarkan bid’ah-bid’ah bertebarankah?
dengan melupakan perjuangannya dan tak melanjutkannya kah?
dengan abai akan dakwah dan jihad yang diajarkannya kah?

arrgh.. maafkan
kami ya khalilullaah shalallaahu ‘alayhi wassalam..

gambar bocah Palestina menangis itu dari sini

Akhiri dengan Indah

Bilakah kita mau berhenti sejurus saja, dari ketergesaan langkah yang telah tertoreh di lembar-lembar catatan al-kiraam al-kaatibiin.. Menengok kembali apakah masih lurus arah kita menuju, atau justru menceng sepersekian derajat dari semula saat Rabb kita mengeluarkan keturunan dari sulbi ayah kita dan mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa ini. Sepersekian derajat yang membuat tempat tujuan begitu berbeda. Ah, sekadar menoleh pun kita tak sempat. Padahal tiada suatu ucapanpun yang telah kita tuturkan melainkan ada di dekat kita roqiibun ‘atid (malaikat pengawas yang selalu hadir).

Pernahkah kita sejenak saja mengingat akan kepastian hadirnya satu diantara dua kabar. Entah mana yang akan kita peroleh dari sang Maut. Ya, kita yang selalu lari dari sakaratul maut meski itu sudah jelas akan kita jumpai.

Akankah keimanan ini masih terus melekat di diri-diri kita sampai waktu itu tiba, hingga kita layak beroleh kabar gembira berupa keridhaan dan kemuliaan dari Allah melalui sang Maut. Begitu bahagia akan harapan perjumpaan denganNya. Bukan justru kebencian atas hadirnya kabar yang lain, hingga tak ada kebencian melebihi apa yang akan dihadapi. Kebencian akan perjumpaan denganNya, dan Ia pun benci bertemu dengan kita. Semoga, bukan.


Kerena jarak sehasta pun, bisa mengubah ke mana tempat yang akhirnya kita tuju. Kabar apa yang akan kita terima dan gembira atau benci ketika bersua denganNya. Sehasta saja. Sungguh, hanya sehasta.

Maka sobat, mari akhiri dengan indah…




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيْمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا


Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Neraka, ada seorang hamba beramal dengan amalan ahli Neraka menurut apa yang tampak di hadapan manusia, (namun) sebenarnya dia adalah penghuni Surga. Sesungguhnya amal-amal itu tergantung daripada akhirnya. [HR al Bukhari no. 6493, 6607; Muslim no. 112 dan Ahmad (V/332).]

Wallaahu a’lam bish shawwab


#entahlah, akhir-akhir ini kepikiran tentang maut.. semoga kita bisa husnul khotimah..
aamiin =)

gambar dari sini

*jadi inget puisiq ini dulu:

di arena marathon ini,

kita harus terus berlari..

berlari..

dan berlari..



bukan berjalan, duduk-duduk di tepi atau bahkan keluar lintasan.

Kita harus terus berlari, mengejar ketertinggalan,

ketertinggalan dari para anbiya & syuhada..



meski lelah kaki ini,

meski terengah nafas ini,

kita harus terus berlari di lintasan marathon ini.

hingga kedua kaki ini sampai ke garis finis.

syurgaNya yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..

Ya Rabb.. kuatkan kami.

Salah Sapa?! *wloh

A : “Aku minta maaf atas semuanya. Semua itu kesalahanku”
B : *tersenyum
A : “Apapun yang terjadi, jangan pernah sekalipun menyalahkan dirimu sendiri”
B : “Lelaki sejati tidak akan menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Tuhan”

*tsaaah
*sempet liat cuplikan percakapan ini di tipi.. haha
dan itu pertemuan terakhir mereka karena setelah itu si wanita meninggal.



Karakter manusia begitu beragam dan unik. Termasuk untuk hal bagaimana menyikapi suatu permasalahan yang membawa pada titik siapa yang disalahkan atas kondisi yang ada. Beberapa ada yang memang punya sifat bawaan menyalahkan orang lain atau kondisi atau apapun selain dirinya sendiri. Sangat tidak mau jika sampai poin kesalahan itu menunjuk pada dirinya. Beberapa yang lain ada yang memilih menyalahkan diri sendiri atas permasalahan yang menimpa dirinya atau orang-orang di sekelilingnya yang berhubungan dengannya. Tapi juga ada yang memposisikan kesalahan itu berdasarkan permasalahan yang ada secara objektif. Jika suatu saat diri sendiri yang berbuat salah maka ia mengakui, bisa pula jika memang dia benar dan kesalahan ada di pihak lain maka dia akan mempertahankan bahwa dia benar.

Idealnya memang kita berlaku menjadi seperti yang jenis ketiga. Namun, untuk bisa objektif bersikap tentu tak mudah. Ditambah sifat dasar manusia aslinya tak mau disalahkan.. hihihi.. Atau justru lebih cenderung menyalahkan diri sendiri. Memang kadang bagi sebagian orang memaafkan yang paling sulit adalah memaafkan diri sendiri.

Namun yang utama dalam setiap permasalahan, kita selayaknya hati-hati dan jangan sampai menyalahkan Allaah. Tidak terima akan takdir itu berbahaya bahkan untuk berandai-andai pun kita tidak boleh. Yakinilah bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Bersama.. bukan setelahnya. Sepaket. Dua kemudahan tak mungkin dikalahkan satu kesulitan, bukan?
Tetap smangaD.. Apapun yang kita hadapi. Karena itu insyaAllaah yang terbaik untuk kita. Cukup berusaha yang terbaik sebagai seorang hamba.. =) Tentang hasil, serahkan semua padaNya. Dan meminta agar senantiasa dikaruniai nikmat iman dan Islam hingga maut menjemput.
Itu baru Muslim sejati.. eeeeeeaaa.. masa cuma lelaki sejati aja *kagak terima haghaghag =))

*lagi2 nulis sekilas loncat2.. keinget cuplikan percakapan di atas tadi njuk ngejurnal.. jadinya gini deh.. haha..

gambar dari sini

I…. De….. E eF Ge *opotoyo

Woho.. mau ngomong apa to jar.. *opo yo..
Seperti biasa mau loncat-loncat di jurnal *haisyah.. qiqiqi
Saia kangen ama kegejean jadi ni tulisan mau nggeje aja, jadi jangan nyesel kalo baca ya.. haghaghag
Baiklah.. Mari mulai.. mengheningkan cipta zzzzzzzz
*wloh..
n_nv
Iya.. iya.. ini beneran mau mulai.. jadi di sini fajar mau ngomongin tentang si IDE. Siapa sih tu si ide..
Itu tuh.. yang suka bikin galau kalo ga nemu bahan buat nulis.. kek aku tadi tuh.. haghag.. *ngubek2 nyari ide di laci padahal ga punya laci.. ahahahaha..
*dudul.


Kalo di kbbi ide tu artinya

ide /idé/ n rancangan yg tersusun di dl pikiran; gagasan; cita-cita: ia mempunyai — yg bagus, tetapi sukar dilaksanakan



Nah,, kapan tu fajar nyimak di twitter pesantren nulis kalo ga salah. Tips menulis dari adminnya, salah satunya adalah bahwa menulis bukanlah soal memainkan diksi sehingga orang terkesima dengan diksi yang susah dipahami.. hihihi
tetapi adalah bagaimana membawa gagasan di pikiran kita menjadi sebuah tulisan yang dipahami dan sampai pesannya pada pembaca.
*seingetku si gitu.. ehehe.

jadi utamanya memang bukan di manis atau indahnya bahasa tapi yang utama gagasan dalam tulisan itu, meskipun tak bisa dipungkiri tulisan indah itu bikin jiwa kita meleleh *halah..
qiqiqi

Di perbincanganku sama inar (jiah ngomongin cintaku lagi) eeeaa.. haha. Setelah kami beradu diskusi cukup lama.. ada bagian yang cukup menarik tentang ide ini sendiri..
Apa ituu? jeng.. jeng..
Bahwa tak semua orang dapat mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Meskipun peristiwa yang mereka alami itu sama persis. Berada pada dimensi ruang dan waktu yang sama.
Akan tetapi mungkin tak semua orang menganggap kejadian itu membawa hikmah.

Awalnya inar bercerita tentang kisahnya posting tulisan di suatu tempat, menceritakan kisah anak-anak muridnya dengan berbagai ragam kesederhanaan kelas itu. Yah, anak-anak memang selalu memberi warna indah ya.. selalu ada yang berkesan saat bersama mereka.
Dan ternyata, ada seseorang yang berkomentar atas tulisan itu. Menganggap tulisan itu terlalu didramatisasi, lebay, dll. Hahaha.. Bahkan tentang foto anak-anak di situ yang makan bekal sekotak makan siang buat rame-rame ada yang komen pedes, ah itu foto beneran apa rekayasa.
Gubrak.. qeqeqe..

Oiya, jadi inget juga dulu pernah dapet cerita dari yang sering nembus tulisannya di kolom opini koran-koran jogja, salah satu tips dari dia adalah jadilah lebih peka pada apapun yang dilihat.
Begitulah menulis. Mungkin hampir sama dengan fotografi. Melihat sisi-sisi yang mungkin kurang dicermati oleh orang-orang lain.
Dan bagiku & inar diperbincangan malam itu kami sepakati dengan itu.. adalah.. hikmah yang terserak yang belum tentu semua orang mau memungutnya.. hehehe..
Itulah ide nulis..
Hahaha..
Yap, mari kita berburu hikmah itu di mana pun.. hikmaah.. hikmaah.. dicariin noh.. *aha.. jadi inget santri yang namanya si Hikmah =D
Dan berbagi hikmah itu semampu kita..
SmangaaaaaaaaD.. yosh
#NtMS (Note to My Self)

Taraaaa..
Tulisan random ini barusan dibikin.. *males mbaca lagi langsung posting aja deh..
kalo ada yang salah ketik kasi tau yaa.. *males amat si.. haghag..

matur nuwun bang hend atas usul idenya tentang nulis ide di komen qn *halah *muter2 ngomongnya ekekeke

gambar dari sini

Izinkan Aku Mencintaimu

Di sebuah percakapan hangat malam itu, kita berdua saja. Menikmati malam-malam seperti biasanya di teras itu. Berbicara apa saja. Sambil menatap langit yang sering begitu teduh dengan tebaran bintang-bintang.

Ah, kala itu batinku terhenyak saat kau utarakan sesuatu.
“Aku koq ga percaya ya jar ada yang bilang mencintai rasulullaah?”

Aku tak menjawab waktu itu hanya ingin tahu mengapa engkau sampai menyampaikan hal itu dan kaupun menjelaskannya.

“Kan namanya cinta tu jar, jelas.. sukaa.. pengen ketemu. Ada jelas gambarannya. Kangen. …”
bla.. bla.. bla..

Kau jelaskan tentang makna cinta yang ada di pikiranmu, dan kau akhiri pernyataan tegas.
“Aku mikir yang bilang cinta sama rasulullaah itu cuma sok2an aja. Biar dianggep alim”

Aku tak menyanggah di kesempatan itu karena saat itu aku merasa tertampar. Jangan-jangan selama ini cintaku palsu..

Iya, aku bahkan tak banyak mengenal dia shalallaahu ‘alayhi wassalam. Tak banyak mencari tahu segala sesuatu tentang dia. Tak terlalu tertarik membicarakannya. Tak terlalu asyik menikmati kata-katanya. Lebih suka mungkin dengan kata-kata mutiara milik manusia biasa. Atau ucapan-ucapan keren milik orang yang dikenal. Lebih mudah mengingat pesan-pesan orang-orang terdekat atau yang ingin dekat-dekat. *eh
Daripada mengingat pesan dalam risalahnya.

Hah, itu bacaan berat. Buku tebal. Malas. Bacaan serius. Ga asik ah. Itu mungkin yang sering kuungkapkan atas kitab-kitab yang membawaku dekat padanya shalallaahu ‘alayhi wassalam.

Kangen? Ah.. mana bisa kangen.. kenal saja tidak. Bagaimana bisa rasa rindu itu menggebu? Non sense!
Itu yang berputar-putar dalam pikiranku saat itu. Suatu malam entah berapa tahun yang lalu.

Mau diletakkan di mana cinta palsu ini jika mengingat cinta Abu Bakar radliyallaahu anhu padanya yang mempercayainya dengan iman sempurna saat semua orang meraguannya. Ah, kisah isra’ mi’raj itu membuktikan cinta sang shahabat terbaik ini selain bukti-bukti cinta lain yang jauh lebih banyak.

Mau diletakkan di mana cinta palsu ini jika mengingat cinta Umar bin Khaththab radliyallaahu anhu yang seperti orang gila awalnya tak mau mempercayai wafatnya rasulullaah hingga mengacungkan pedang ingin memancung leher siapapun yang menyatakan beliau telah wafat. Itulah cinta.. kehilangan yang teramat sangat atas orang yang dicintai begitu menghujam di hati. Menorehkan perih pedih, hingga seolah-olah surah Ali Imran ayat 144 itu baru saja turun dan ia dengar pertama kali saat disadarkan oleh Abu Bakar.

Mau diletakkan di mana cinta palsu ini jika mengingat cinta Bilal bin rabah radliyallaahu anhu yang tak bisa lagi melanjutkan adzannya sepeninggal rasulullaah.. Tangis luar biasa jika melihat makamnya..

Tapi aku tak mau menyerah!
Dia.. dia.. dia..
Aku harus mengincarnya!
Mendapatkannya!
Hingga aku jatuh cinta padanya!
Sungguh-sungguh cinta!

Percakapan malam itu membawa bekas tekad ini padaku. Tergores seperti pahatan di batu dalam hati ini. Aku harus mengejarnya. Bagai terserang cinta pada pandangan pertama. Aku tak mau berhenti begitu saja.
Aku mau rindu menggebu padanya. Aku mau membelanya mati-matian. Aku mau menjaga sunnahnya sepenuh jiwa. Aku mau meniti jalan cinta..

Seperti jalan cinta mereka para shahabat. para tabi’in.. tabi’ittabi’in.. para syuhada.. para ‘ulama..

Izinkan aku mencintaimu wahai kekasih shalallahu ‘alayhi wassalam..

Sebenar-benar cinta..



Hingga aku bertemu engkau yang telah menanti di tepi sungai kautsar dan layak meminum dari salah satu gayung yang jumlahnya sebanyak bintang di langit itu..

Bukan menjadi mereka yang dihalau oleh malaikat untuk mendekatinya karena cinta-cinta palsu itu..

Beliau bertanya, “Tahukah kalian, apa al-Kautsar itu?” Kami katakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda. “Itu adalah sungai di surga yang dijanjikan Tuhanku kepadaku. Di sana ada banyak kebaikan, yaitu mata air yang akan didatangi umatku pada hari kiamat kelak. Gayungnya sebanyak bintang di langit. Ada seorang hamba dari mereka dihalau dari sana. Aku lalu berkata, “Wahai Tuhan, ia itu termasuk umatku.” Maka Dia (Allah) berfirman, “Engkau tidak tahu apa yang ia lakukan sepeninggalmu.” [Hadits Riwayat Imam Muslim, Dawud, dan Nasa’i] > dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kautsar


Sendiri pada mulanya ia menyeru.

Lalu lebih seratus sahabat yang ia tinggalkan saat ia wafat.

Sendiri pada mulanya ia melawan.

Lantas ada enam puluh delapan pertempuran yang ia komandoi.

Tak punya apa-apa saat lahir.

Lalu ada kekuasaan meliputi seluruh jazirah Arab yang ia wariskan saat wafat.

Dialah Muhammad Shalallahu ‘laihi wassalam…

Dia buk
an hanya hebat.

Bukan hanya pahlawan.

Dia juga melahirkan banyak pahlawan.

Dia tidak hanya menjadi sesuatu.

Dia menjadikan orang lain di sekitarnya sesuatu.

(Mencari Pahlawan Indonesia-Anis Matta)



#aku yang masih tertatih meniti jalan cinta ini berharap dikokohkan dan diistiqomahkan untuk mewujudkan cinta itu menjadi tak palsu lagi

hehe.. jadi wajar kan jika aku begitu marah ketika hadits-hadits palsu itu bersliweran di sekitarku? Sesuatu yang bukan perkataan kekasihku tapi dinisbatkan padanya, pastinya aku tak terima.
Bagaimana jika orang yang kau sayangi dan begitu kau cintai kata-katanya dibelokkan orang lain lalu ia bilang padamu itu perkataan orang yang kau cintai itu. Padahal ia tak pernah mengucapkannya. Sedih. Marah. Geram. Wajar kan?
=D

#random amat ni tulisan. seperti biasa loncat-loncat. Barusan bikinnya. hehe.. mendadak keingetan percakapan malam itu.

gambar jepretan adekq dunk.. =D

[Mozaik Blog Competition] Arti Hadirmu

aku suka kata ‘kita’
karena dalam kita aku dan kamu bersua
berhadap-hadap, dekat tanpa sekat
berlama-lama aku menatapmu lekat-lekat

menyusuri penggal demi penggal
kata yang tertoreh manis di tubuhmu
menyibak pelan helai demi helai
serpihan kisah indah di ragamu

engkau yang slalu setia temani petualanganku
melalui ruas-ruas jalan mengejar haluan
di terik siang pun silam malam
tanpa keluh tanpa gaduh, teduh

kadang senyum pun tawa
mengembang bersamamu
besilih titis air di pelupuk mata
pada waktu lain kita bertemu

terima kasih..

telah menjadi teman duduk yang lebih bijak dari empunya
tak ragu menamparku saat ku lupa
tak letih ingatkanku tuk kembali padaNya
dan mengikuti langkah rasulNya

empat huruf itu kamu
buku.. =)

Mengerti.. arti hadirmu..
*mendadak Audi hahaha

Wokeh.. Mari kita mulai membicarakan arti buku buatku *lah yang tadi apaaa.. Itu tadi sajak *halah. Iya si.. intinya di situ. Arti buku untukku bisa dibaca dalam sajak di atas *loncat-loncat nunjuk atas. *nyengiiir lebbaarr..
Biar beda doong.. namanya juga lomba, jadi kusajakkan saja ceritaku dan teman baikku itu. *opotojar

Oiya, kita ngomongin buku yuk. Dari tadi bukannya udah? hahaha iya yaa.. n_nv
Kalau si @hurufkecil a.k.a Aan Mansyur pernah mengatakan “jika buku itu jendela dunia, apa gunanya jika tak pernah dibuka?” Dan bagi dia jendela itu sesuatu yang sangat istimewa setahuku. Dari kata-katanya itu aku membayangkan, bagaimana jika jendela tak pernah dibuka maka niscaya indahnya bintang-bintang tak akan pernah kita nikmati cahayanya. Padahal ia telah melintasi jarak ribuan tahun cahaya untuk bertemu tatapan kita. *halah. Dan kerennya fajar juga tak pernah kita tangkap, gimana ga nyesel tuh *apadehjar *narsis =))

Aih, kenapa jadi mendadak ingat sajak “Di Hadapan Mata Jendela” nya Aan Mansyur ya,

“di hadapan mata jendala
waktu mulai berwarna coklat
malam hendak tiba”

Bagiku, jika tak pernah kubuka jendela dunia itu (buku: red), mungkin aku tak pernah menemui waktu rasa coklat. Coooooookklaaaaaaaaaaaatt *huaaa lagi ngidam coklat *kumat.
Entah waktu itu saat di bus perjalanan Magelang-Jogja, saat berdiri di shelter pun di dalam Transjogja yang selalu super luamaaa, di toko buku yang kumaknai sebagai perpustakaan hahahaha (ga modal mode : On) atau di ruang tamu rumah orangtuaku bertemankan segelas besssaaar teh panas. hihihi.. Selalu waktu berwarna coklat, berasa coklat bersamanya. Aseeek.. hihihi

Eh, aku pernah beroleh beberapa nasihat tentang temanku yang satu ini.. si buku, simak yah.. :

Buku itu seperti teman duduk yang berpengaruh pada jiwamu, maka pilihlah buku yang baik sebagaimana kau diperintahkan memilih teman yang baik

Gak usah mentarget banyak buku, namun resapi setiap ilmu yang kau baca dalam setiap buku. Tak berfaidah menyelesaikan banyak judul namun tak mengambil manfaat dari isinya. Untuk si penulis ada pepatah: “jadilah kitab meski tanpa judul, jangan jadi judul tanpa kitab”. Untuk pembaca pun: “baca faidah kitab, bukan mengumpulkan judul”.


Yang paling utama si.. arti terbesar si empat huruf itu buatku adalah buku itu salah satu teman yang membuatku belajar mengenal dia kekasihku (#eaaa) shallallaahu ‘alayhi wassalam dan mengenal Dia.. Rabb Penggenggam Semesta Alam.. =)

Dan, tulisan ini ditutup dengaan…
akhirnya ku mengerti
diriku memang untuk kau miliki
*kenapa jadi nyanyi Audi lagi yak.. hahay.. iyah si Buku emang begitu.. eeaaa.. haghaghag



*mendadak ngebalikin themes buat ikutan ini lomba di sini

gambar buku dari sini

Tentang Tegar

berbicara tentang tegar, di kbbi online (hehe n_nv) artinya :

1te·gar a 1 keras dan kering: tanah –; 2 keras kaku; tidak dapat dilenturkan: rotan yg kasar itu — , tetapi yg halus melentur; 3 ki tidak dapat diubah (pendiriannya, pendapatnya); tidak mau menurut; 4 tabah: kedua orang tua itu masih mencoba — kendati bencana itu merenggut ketiga putra-putri mereka;
hati keras hati; — pelupuk mata pemberani; — tengkuk keras kepala; tidak mau menurut;
me·ne·gar·kan v menjadikan (menyebabkan) tegar; mengeraskan: ia ~ hatinya;
ke·te·gar·an n kekerasan hati

entah apa maksud orang tua sosok yang ingin kubicarakan ini, mengapa memberinya nama : Tegar.
Seorang bocah, sekitar 7 tahun itu berlari gesit. Mondar-mandir di sekitar masjid. Sesekali melintasi tabir kain antara jama’ah puteri dan putera. Dan tentu saja membuatnya tersibak. Nakal, mungik itu istilah yang sering terdengar untuk menyebut tingkahnya. Tapi aku tak pernah menyebutnya begitu. Hiperaktif mungkin. hehe.

Aku dan Tegar bertemu sekitar 3 tahun lalu. Tak hanya Tegar, tapi juga bocah-bocah ‘unik’ lain yang main di sekitar masjid mardliyyah. Mereka ini sebagian besar adalah anak-anak penjual di kaki lima di sekitar Sardjito. Hehe. Jadi ‘wajar’ ketika mereka di mata banyak orang, sekedar anak-anak bandel dan nakal yang membuat gaduh masjid. Ah, bocah-bocah itu. Anak-anak yang sangat kusayangi. Mereka bertingkah seperti itu kulihat karena memang kurang mendapat perhatian orang tuanya. Dan juga yang mereka lihat sehari-hari adalah pergaulan orang-orang dewasa. Kata-kata umpatan khas PKL dan orang-orang yang biasa bekerja di jalanan menjadi hal yang biasa terdengar dari bibir mungil mereka.

Kembali ke sosok si Tegar, hehe. Sewaktu Placement Test serta Orientasi Kelas Ma’had Ad-Da’wah kemarin, yang mau tak mau aku harus ada di mardliyyah, muncullah bocah satu ini. Apa yang kusuka dari anak satu ini, binar di matanya. Suka sekali. Entah bagaimana menggambarkannya. Tapi aku sukaaa. hehe. Ada hal yang baru kusadari di momen kami waktu itu, ternyata di antara banyak mbak-mbak di mardliyyah, yang duluuuu ngajarin ngaji dia, eh.. dia cuma inget namaku. Hahaha.

Ada rasa seneng sekaligus gimana gitu tentang satu hal itu (diinget namanya). Karena dia itu kalo manggil nama ga mungkin pelan. wekeke.. “mbaaa fajaaaaaaaaaaaarr.. mbaaaa.. mbaaa fajaaaaaaaaaaaaarrr”. haghaghag. Dulu malah pernah, teriak dari masjid sisi tempat sholat putra, “mbaaaaaaaaa faaaaaaaaajaaaaaaaaaaarrr”. Glodak. Yang pada kenal aku pada ngakak. Doeng… hadeehh.. =)). Pernah juga mic buat adzan dia sabotase buat tereak-tereak. qiqiqi.

Nah, kemarin itu aku ampe ditanyain ama pengajar-pengajar tahsin. “ini adeknya Fajar, po?” hahaha. Bukaaan. Adekq ya sekolah lah, ini kan hari Sabtu. hihi. lha gimana ga dianggep adeknya, wong dia dari muter-muter di seputar masjid, trus ngelendot di punggungq. Ga cuma sekali dua kali. Qeqeqe.

Kalo orang-orang melihat bocah-bocah Mardliyyah ini, akan mengira mereka semacam anak jalanan, jangan mikir mereka pake baju rapi aroma wangi. Kagak pernah mau mereka pake sendal tuh. Setiap ketemu pertanyaanq selalu, udah mandi belom, pake bahasa Jawa pastinya.. haha. dan Tegar ini salah satu yang puaaaling susah diatur. Hiperaktif yang kulihat. Ga bisa diem dia tuh. Dan kalo udah ngamuk beuuh serem.. keras anaknya. Bener-bener deh ah.. hihi. Tapi selalu luluh melihat binar matanya *tsaaah.. ahaha
Cuma kemarin itu di tatsqif perdana bersama ustadz Sholihun dia masuk kelas, tau aku ada di dalam. beuuh.. Dan mulai lah bikin kegaduhan. hahaha.. Pake alat mainannya yang kalo dipencet bisa bunyi “sekarang mari kita belajar” wekekeke.. =))
Untung situasi dan kondisi bisa diamankan.. *halah.

Ya, anak-anak itu kalo sama Fajar masih bisa agak nurut lah. Tegar ini kalo udah aku yang bilangin sholat meski di awal “emooh, emooooh lah mbaaa” tapi akhirnya nurut juga. Ngambil ai wudhu dan sholat di tempat putra. Cara ngatasi “bocah2” unik itu kuncinya satu. Tunjukkan tegas & perhatian kita ke mereka, tapi bukan memanjakan. Bukan juga nurutin apa mau mereka. Bisa runyam semua. Yang kuamati mereka hanya kurang perhatian. Jadi, ketika kita memberikan perhatian saat mereka berkelakuan baik, maka mereka jika bersama kita mau baik. hehehe. Bukan fajar ga pernah marah, seriing malah. Tapi marahku diam. Sepertinya diamq lebih nyeremin daripada aku ngamuk2.. hahaha. Dengan diam mereka paham kalo hal yang mereka lakukan tidak benar. Dan setelah itu mereka minta maaf, mukaku kembali senyum dan kucoba jelasin sisi kesalahannya apa.

Jangan dibayangkan ‘kenakalan’ bocah ini biasa-biasa aja, mereka ngaku pernah mencuri. Kalo berantem satu sama lain tu bisa pukul-pukulan kepala dan umpat-umpatan yang tak pantas lah. Kadang tiba-tiba ngerusuh di sekre FOSDA. masuuk semua, qeqeqe..

Untuk Tegar, semoga seperti namamu, kau bisa menghadapi hidupmu yang keras dengan tegar.. semoga Allaah membimbingmu menjadi anak shalih. Kapan2 belajar baca lagi yuuk.. Ni bocah belum bisa baca. hehehe..

Selalu seneng kalo dari kejauhan dirimu memanggilku dengan teriakanmu “mbaaa fajaaaaaaaarr.. mbaaaa” ahahaha..

*fajar masih lum punya fotonya. hihi..

Antara BBM & GMJ, Mungkinkah? [kirologi]

#ini cuma jurnal dugaan dari seorang yang berpikir (mungkin) kejauhan.

Tanggal 30 Maret kemarin pas menjelang maghrib, dapet sms dari simbah (yang habis ngerasain sendiri rame-rame aksi yang rusuh di sana/ senayan : red)
OPINI: td an browsing soal penyebab kenaikan minyak dunia. dan rupanya tdk jauh-jauh dr 3 negara: israel,amerika dan iran. iran yg menyumbang 13% produksi minyak dunia dicegah amerika menjual minyaknya, lalu iran memblokir jalur pelayaran minyak yg melaluinya. dan israel pastinya adalah pihak yg diuntungkan dg situasi ini: kenaikan harga minyak dunia lbh menarik utk dibahas drpd aksi Global March to Jerusalem (GMJ)
Celakanya, Indonesia ikut diracuni dg isu BBM shg isu GMJ sempurna tertelan hingar bingar isu BBM. CMIIW..
farikhsaba

Yah, ini pun dugaanq dari lama. Karena Syi’ah ga jauh-jauh dari Yahudi *sekali lagi ini cuma opini
Simbah udah nulis artikel tentang ini sebenere, tapi sayang ketinggalan di laptopnya di Jakarta. Pas lagi pada parno gerbang senayan dah dijebol. hoho.. Yo wis lah ditunggu postingane.

Kenapa fajar bisa menduga (juga) tentang itu bahkan dari lama. Dan geram banget ketika tau aksi GMJ nya Jogja akhirnya benar-benar (dibatalkan) diundur. Berawal dari komennya desti waktu fajar posting tentang agresi Zionis bulan februari kemarin. Desti tanya tentang GMJ Jogja ada ga mba? Dan aku bengong. GMJ ki opooo.. *ga gaul banget. Setelah sms-an ama Desti baru ngerti. Dan aku menyimpulkan ah, aku aja yang ga gaul. Langsung deh tu info qsebar ke temen2, tentang GMJ yang tanggal 30 Maret bahkan aku nginfoinnya sejak akhir Februari (tanggal 28 kalo ga salah).

Habis itu ada qn-nya simbah di sini
“Heran saya, International Conference on Jerusalem (26-27 Februari 2012, di Doha, Qatar), sebuah konferensi internasional yang kata salah seorang analis barat disebut sebagai Koalisi melawan Israel yang belum pernah terjadi (karena sebelumnya belum ada), kok beritanya di google minim sekali ya? Apa mereka ga pernah update hasil konferensinya atau konferensinya gagal? atau ini konspirasi pembungkaman media? anyone knows?”

perasaanq udah ga enak. Kesimpulanq jadi agak berubah, mungkin bukan aku yang ga gaul tapi banyak juga yang ga ngerti dan bisa jadi memang ada usaha pembungkaman isu ini melalui berbagai cara.
Sejak itu pun isu BBM mau naik sudah sangat gencar ada di media-media.
Fajar termasuk salah seorang yang berpikir kalo BBM naik isunya diangkat jauh-jauh hari sebelumnya pasti ada konspirasi besar, entah untuk apapun.
Kan beberapa kali kalo memang mau naikin BBM ya, tinggal naikin aja, ga perlu jadiin isu nasional sampai ada isu penggulingan segala.
Lebih anehnya lagi ada Parpol oposisi yang begitu gencar menolak ini.
Dari sememenjak saat itu fajar kepikiran, gleg.. BBM rencana naik tanggal 1 dan paripurna pasti sebelumnya *liat kalender tanggal 31 tu sabtu, jiaah berarti tangga 30. Waduuh.
Ketambahan lagi ada kabar isu aksi sejuta umat tanpa JIL juga tanggal yang sama, apa-apaan ini. Isu global seperti ini kenapa tanggalnya kecampur2.

Perasaanq dah ga enak waktu awal-awal itu. Mungkin beberapa orang jadi “korban” kegeramanq, lewat sms2 dudul yang ngamuk2 ga jelas. hahaha. koq bisa bareng. apa2an ini.. huaaah.. =))

Masih merasa aman karena sepekan yang lalu dapat ajakan aksi GMJ di jogja, bersorak girang waktu itu. sampai mau ngesms santri2 tatsqif bahwa Tastqif ma’had ad-da’wah dipending ada aksi GMJ.
Eh.. H-2 dapet sms penundaan.. jiaaah bener kaaaan..
Sangat ngerasa anah dengan aksi2 BBM yang begitu anarkis.
Ga mungkin ga ada yang nunggangi aksi2 model begitu.
Dan penundaan memang juga karena alasan keamanan, khawatir yang aksi GMJ kenapa2 kalo dipaksakan malah kena rusuhnya aksi BBM, bahaya.

Kegelisahanq benar2 terwujud di sidang paripurna.
Baru ngerti kalo opsinya seperti itu.
Berarti intinya ga ada opsi yang mau naikin BBM tanggal 1 April. Apa pula ini.
Trus ngapain tuh aksi anarkis sebegitunya.
Ngapain sampe rusuh gila2an. Toh ga ada yang mau naikin tanggal 1 April.
Dan liat twit beberapa orang,yang menyatakan kalo pasal 7 ayal 6A (yang menang voting sidang paripurna) itu inkonstitusional. bahkan di running text salah satu stasiun tv menyatakan KY siap untuk melakukan judicial review terhadap ayat itu jika ada yang melaporkan.
Benar-benar dagelan.
Trus sidang paripurna kemaren buat apa, bentrokan aksi2 anarki kemaren buat apa, booming isu kenaikan BBM kemarin buat apa.
Trus kenapa pula salah satu parpol oposisi itu sebegitunya dari awal nolak2 BBM naik tapi di injury time malah Walk Out, payah ga si. Dan sepengetahuanq emang ketua MPR kan “deket” ama presiden. Entah sok2an oposisi atau paripurna ini hanya sekedar skenario untuk mendepak PKS dari koalisi.

Mungkin kemarin “diskusi”ku ama Ndha agak berbeda cara pandang. Bagiku seperti di awal tadi smsnya simbah. Ini ada semacam penutupan isu GMJ. tapi menurut Indah yang ahli di siyasi, tidak sebegitunya lah, ini isu nasional. Bagiku “who knows?!”. Konspirasi zionis itu tak main2. Dan semalaman (eh sepagian ding) setelah sidang paripurna itu aku diskusi panjang ama cowokq *eh adikq yang yang ganteng itu *halah. haha. tentang ini. (karena kami berdua sama2 tipikal pemikir. haghag) Analisis kami sama tentang ini. Ada sesuatu, ada sesuatu yang besar yang memang sengaja menutupi isu global ini.

(gambar GMJ)

Bisa dibayangkan, Indonesia kalo bikin aksi serempak tentang palestina tu bunderan HI penuuuhhh jalannya juga.. di seluruh penjuru tanah air pun begitu. Nah, apalagi jika aksi GMJ yang global ini. Tapi memang sengaja konsentrasi kader dakwah dialihkan untuk fokus pada isu nasional satu ini. Yang ternyata hasilnya ga mutu blaaasss.. Opsi yang inkonstitusional *parah.

Bagaimanapun tak dipungkiri, zionis ada semacam ketakutan terhadap aksi-aksi serempak di Indonesia karena yang turun bisa jutaan orang. bagaimanapun negeri yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini memiliki “kekuatan” tersendiri yang cukup menggetarkan media. Nah, semanjak Iran menutup jalur minyaknya fajar secara pribadi dah mikir akan ada sesuatu. Haha. di Indonesia kejadian lah..
Baguusss.. Ironi.

Akhirnya sama sekali tak ada pemberitaan tentang GMJ di tv2 Indonesia. Padahal rencana awal Metro akan meliput langsung dari sana.
Fajar jadi inget dulu apa yang disampaikan Pak Fanni di Al-Aqsha Memanggilnya FOSDA, Mavi Marmara itu diprakarsai Turki kenapa? Karena memang hampir sebagian besar dari setiap rumah di Turki itu tau isu palestina dan mereka sudah menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai agendanya. Sebagian besar keluarga di Turki. Mulai dari orang tua sampai anak-anak. jadi jika ingin Indonesia seperti itu, jangan lelah mengusung isu palestin ini ke setiap rumah di Indonesia. Bisa dibayangkan kekuatannya jika Indonesia yang jadi pelopor. Turki yang luas wilayahnya tak seberapa dibandingkan Indonesia saja bisa mengguncang dunia dengan pahlawan2 Mavi Marmaranya. Apalagi jika Indonesia bangkit. Dan sebenarnya momen GMJ ini momen yang sangat hebat untuk membawa isu itu ke setiap keluarga di Indonesia, namun tentu saja zionis tak akan membiarkan begitu saja. Nyata sudah.. Tertutup BBM.

*ini uneg2 dan hasil diskusi dengan beberapa orang terutama ama adekq
*sekali lagi ini hanya jurnal kirologi [sesuai saran mba des =D] dugaan seorang yang ga punya dasar apa2. Bukan analisis ilmiah. Jadi jangan ajak debat. Hanya opini “polos” seorang fajar yang tentu saja dapat dibantah dengan berbagai argumen. Ini hanya salah satu sudut pandang berbeda saja dari sebuah isu bernama BBM naik.
=D
n_nv

wallaahu a’lam

#akhirnya ni sapidi bersahabat buat mosting ni jurnal =D

ehm.. sedih.. s
edih sekali waktu tau aksi di jogja dibatalkan.. namun dinasihati seseorang
“Tak ada kontribusi yang sia2, insya Allah… Terkadang kita terhalang sesuatu, namun usaha kita tak terhenti karena halangan apa pun, dengan izin Allah…”
=)
n_n/
tetap smangaaaD
janji Allaah itu pasti terjadi.

Mungkin Ini yang Dinamakan Cinta =)

Maka, cinta pada kebenaran itu menuntutmu untuk bersaudara,
sedangkan mengingkari kemungkaran adalah nasihat dalam persaudaraan …

Semoga bisa tetap teguh dalam cinta

Para ulama berkata,
“Janganlah kau seperti yang diucapkan dalam syair Dhuraid,
yakni :

دريد أبن الصمة:

وَهَل أنا إلاَّ مِن غَزِيَّةَ إن غَوَتْ — غَوَيْت وإِن تَرْشُد غَزِيَّةُ أَرْشد

Aku hanyalah bagian dari pasukan.
Jika pasukan itu tersesat maka aku pun ikut tersesat.
Jika pasukan itu mendapat petunjuk maka aku pun mendapat petunjuk

#terima kasih nasihatnya =)

Ade’s Quotes [Uniknya Analogi dari Mobil Hingga Nol]

Ini kumpulan smsnya Ade ex T. Geodesi’06 yang dikirim ke semua kontak anak Teknik (biasanya) yang akhir-akhir ini sering tak-forward ke temen-temen. Fajar suka analogi-analogi yang dipakai Ade, dan cara dia menyampaikan hikmah yang ditemui di kesehariannya.
Sejak duluuu jaman masih sering ketemu di Teknik, ampe sekarang dia entah dimana. haha
*kakak angkatan yang ga perhatian =))
Kata Miftah, kenapa ga dipost di MP aja jar sms-sms nya ini? hmm.. iya deh.. baiklah.. hehehe
siapa tau ada manfaatnya buat temen-temen di MP..
oke, monggo dinikmati.. =)

#1
Awalnya, mobil itu aku yang nyerempetin. Ada yang pecah. Beberapa hari kemudian, sore, mobil yang sama diserempet bagian kanan belakang. Jadi nambah yang pecah + penyok. Malamnya, mobil tersebut kepater, masuk selokan berlumpur. Bemper depan kena. Dua hari kemudian, lampu kiri belakang nyium tebok. Pecah juga.. Entah berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan.
Andai itu motor, biaya perawatan ga akan lebih mahal daripada mobil. Kalo sepeda ontel, pati lebih murah lagi. Pejalan kaki, cuma modal sandal jepit karet aja dah cukup.
Seandainya boleh, kejadian ini kuanalogikan dengan kadar keimanan seseorang. Semakin mudah ujiannya, berarti imannya masih tipis. Gitu juga sebaliknya..
Berbahagialah mereka dengan kesabaran & syukur bagi yang sekarang diuji dengan ujian yang begitu berat. Karena keimanan mereka akan naik pada tingkatan yang lebih tinggi.. Dan Allah pasti memberi jalan atas semua ujian.
^_^v

#2
Tadi malem abis diingetin sama seseorang, sebaik-baik manusia tu, yang penting di akhirnya ia tetap jadi baik.
Sayang aja kalo dulu dia baik, tapi sekarang berubah & ga lebih baik daripada dia yang dulu. Karena akhir yang baik tu khusnul khatimah..
hayoo.. ngacung..
siapa yang pengen hari ini lebih baek dari kemaren?
mau mau mau?
^_^v

#3
pengalaman pertama naik pesawat. Sekarang baru ngerti kenapa pramugari harus tinggi dan langsing. Tapi tetep masih belum ngerti kenapa pramugari harus cantik dan berpakaian minim.
Transit di Jakarta, hal yang berbeda kutemui di bandara. Dan kulihat hampir semua mbak-mbak yang ngepel di bandara berlengan panjang dan berjilbab.
Hmm.. bingung.. lucu…aneh..
^_^v

#4
Banyak orang menyebut angka “nol” dengan sebutan “kosong”. Nol bisa sama dengan kosong, kalo ditulis di sebelah kiri, misal 01. Tapi kalo ditulis sebelah kanan, nol jadi punya nilai. Bahkan bisa bikin nilai yang berlipat-lipat. Misal 10, jauh lebih besar daripada 1.
Nol bisa juga menyempurnakan jenis bilangan. Bayangin aja, kalo ga ada nol, mungkin gak ada yang namanya ganjil genap.
1 ganjil, 9 ganjil, kalo ga ada nol, ga ada 10, langsung 11. Nah, 11 tu bilangan apa?
hmm…
Kadang amalan-amalan yang dianggap kecil & ga bermakna, bisa jadi menjadi besar.
Bukankah hal-hal kecil yang dilakukan dengan istiqomah lebih disukai daripada yang besar tapi cuma sesekali?
^_^v


#5
Seorang kakak merebut mainan adiknya. Si adik menangis, ia tak mampu untuk merebut mainannya kembali. Karena kesal, ibu mencubit si kakak. Akhirnya, menangislah keduanya.
^_^v
Cuma berbagi cerita. Kadang kita sering menyelesikan masalah dengan masalah yang lain. Jadinya bukan malah selesai. Tapi malah jadi ribet.

Setiap Malam ada Paginya [copas]

Cobaan-cobaan kehidupan akan datang berganti-ganti. Kadang kita berfikir, sebenarnya apa yang Allah inginkah dengan semua ini? Kehidupan itu menuntut tangisan, mungkin saja. Sampai kita rindu kepada senyuman. Sampai bingkai-bingkai kenangan muncul kembali. Sampai kita tersadar bahwa tidak ada yang bisa dijadikan tempat kembali selain Dia.
Lika-liku takdir kadang memang misterius. Entah apa yang terjadi esok hari. Entah ke mana aliran kehidupan akan bermuara. Atau memang tidak ada muaranya. Karena hidup hanya dijalani dalam jalurnya yang sewaktu-waktu dapat terputus. Barangkali muara itu memang tidak Allah letakkan di dunia. Iya, karena Dia menghendaki kebaikan di akhirat. Sebagai balasan atas penderitaan di dunia.
Dunia itu penjara bagi orang mu’min. Mereka akan merasa sempit di dunia. Barangsiapa dilapangkan dunianya, hendaklah waspada, adakah bagian akhirat yang masih akan tersisa? Dunia ini penjaranya orang mu’min. Setiap kesempitan adalah penjara, maka memang sudah sewajarnya begitu. Kesempitan itu keniscayaan. Barangkali dengan sempit, seseorang lebih ingat kepada Allah. Barangkali dengan lapang, dia akan terbuai, lalu lupa kepada Tuhannya. Allah tidaklah menghendaki atas orang-orang yang beriman kepada-Nya melainkan kebaikan. Maka sempit pun baik, maka lapang pun baik. Hanya saja sebagian orang lebih baik disempitkan daripada dilapangkan. Agar imannya tetap kokoh disirami air mata yang mengadu kepada Tuhannya.
Sujud-sujud penuh pengabdian, kepasrahan hadir saat seorang hamba mendapati tak satupun yang bisa menolongnya. Tidak teman, tidak keluarga, tidak orang lain, tidak pula dirinya sendiri. Dia lemah, tak berdaya. Pada akhirnya dia akan kembali kepada Allah. Benar-benar sebagai penolong tunggal, satu-satunya. Ketika itu, semua ketundukan diserahkan kepadanya. Semuanya. Tidak ada penduaan, tidak ada persekutuan. Hanya berharap kepada dzat tunggal, hanya memohon kepada-Nya, yakin bahwa hanya Allah yang bisa menolong.
Tidak ada seorangpun yang mengaku beriman akan lepas dari ujian. Jika imanannya palsu, akan terbongkar. Jika imannya cacat, akan terkuak. Jika imannya lemah, akan kentara. Ada diantara mereka yang tidak sadar sedang diuji, maka dia lepas sekehendak dorongan hatinya tanpa kendali. Ketika hatinya ingin putus asa, dia putus asa. Ketika hatinya ingin memaki, dia memaki. Ketika hatinya ingin membenci takdir, dia membencinya. Dia kira itu bukan ujian, padahal itu nyata demikian. Dia kira itu benar-benar bisikan hati, padahal dorongan hawa nafsunya, padahal tipu daya syaitan yang memainkan lika-liku perasaannya.
Telah ditetapkan dalam sunnah-sunnah kauniyah, bahwa setiap gunung ada puncaknya. Setiap hutan ada pinggirnya. Setiap padang rumput ada batasnya. Setiap samudera ada pantainya. Setiap hamparan salju ada tempat cairnya. Setiap gurun ada tepiannya. Setiap jalan berliku ada ujungnya. Setiap malam ada paginya. Telah ditetapkan dalam sunnah-sunnah kauliyah, janji-janji Tuhan kepada hamba-Nya, bahwa kesabaran akan berbalas kebaikan.
29 April 2011, 01:55 am
Anindito W