Arungi

Sahabat, kehidupan yang kita jalani saat ini bisa jadi bukan yang kita inginkan lima atau sepuluh tahun lalu, bahkan sekarang. Mungkin bukan juga yang kita sukai untuk dikerjakan. Bisa juga kita berada dalam kondisi yang tidak bisa memilih “mengerjakan apa yang kita sukai”. Namun, tetap selalu bisa memutuskan untuk memilih “menyukai apa yang kita kerjakan”, bukan?

Seringkali manusia dihadapkan pada situasi harus menjalankan apa-apa yang menjadi kewajiban terhadap orang sekitarnya meski itu kemudian membuatnya sejenak bahkan selamanya melupakan apa cita-cita pun impian yang sangat ia harapkan.

Bersyukurlah kita sebagai Muslim, yang apapun jika kita niatkan sebagai ibadah tak pernah sia-sia. Sekecil apapun itu, sebosan apapun rutinitas itu. Namun selalu akan bernilai ibadah jika kita meniatkannya dan menjalankan sesuai “petunjuk jalan”Nya.

Yah, ad-dunya daarul imtihan… di sinilah tempat kita selalu akan diuji. Lolos dari satu ujian akan berlanjut ke ujian selanjutnya yang lebih dan lebih berat lagi. Lantunkan do’a agar kita terus bertambah tangguh menghadapi ujian yang lebih terjal bukan meminta agar ujian itu diperingan. Karena itu berarti kita menjadi sosok yang lebih kuat dan berusaha lebih layak lagi menjadi hambaNya, menggapai ridhaNya, menjumpa wajahNya kelak, beroleh ampunan dan rahmatNya, menempati syurgaNya.

Sahabat, pintal terus impianmu. Mungkin sempat tertahan karena tanggung jawab yang harus dipikul di hadapan tak memungkinkan mengejar impianmu yang engkau suka. Tapi, sekali lagi, jangan pernah lelah berbaik sangka padaNya. Kejar impianmu, tertunda itu biasa, tapi patah arang itu pantang. Pintal terus impian-impianmu, meski benang-benangnya sempat patah. Jangan berhenti. Anyam terus citamu, meski bambu itu sempat koyak.

Image
Ada rasa bahagia ketika tahu engkau akhirnya lebih memilih tempat yang satu itu, karena sependek yang kutahu kau “lebih menyukai” berada di sana. Itu lebih sesuai dengan “dunia”mu.

Namun yang kuharap hanya satu hal, di manapun engkau berada. Apapun hasilnya. KeberkahanNya lah yang melingkupimu. Dalam keberkahan, kondisi sulit pun akan menyenangkan, in syaa Allaah. Kondisi sedihpun akan tetap mengulaskan senyum. Karena engkau masih manusia, susah sedih gundah, wajar bukan?

Dan bagaimanapun nanti, nikmatilah takdir yang telah Ia gariskan. Kita memang punya ingin, tapi Ia jauh lebih mengetahui yang kita butuhkan. Ah, tentu kau lebih memahaminya. Dan telah terlalu sering mendengar pun membaca hal ini. Tak apa kan kutulis lagi, semoga kau tak bosan.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.. Khoirunnas anfauhum linnas.. Yang utama, menjadi yang bermanfaatlah, entah sebagai apa. Jalani proses yang baik, hingga beroleh hasil baik. Dan kelak, ketika kau tengok ke belakang apa yang telah kau tempuh. Kau tak pernah menyesal atas langkah yang telah kau tapaki, karena semuanya menuju kepada mengharap keridhaanNya.

Semangat dan terus semangat. Bersabar dalam ketha’atan, bersabar dalam menjauhi maksiat, dan bersabar dalam setiap musibah yang menimpa.

Bersyukur atas setiap nikmat, terutama nikmat Iman dan Islam yang kita miliki. Hal termahal yang Ia karuniakan. Anugrah terindah yang kita miliki. Genggam terus, rawat, pupuk baik-baik hingga kelak kedua kaki melangkah di syurgaNya.

Apapun dan siapapun boleh pergi, hilang. Tapi bukan keyakinan, keimanan. Keislaman.
=)

Selain kumpulan masalah, hidup adalah arena persaingan Kompetisi dan persaingan melekat dalam urat-urat kehidupan kita. Itu hukum naluriah yang menyatu bersama alam. Tetapi ada kalanya kita patah dan merasa tak mampu menang. Kalah itu biasa. Tapi mengalah sebelum berjuang itu mencederai keutamaan.

Kalaulah tak ada persaingan, kita tak tahu mana yang buruk dan mana yang baik. Mana yang baik dan mana yang lebih baik. Tanpakompetisi, kita tidak akan tahu mana yang unggul dan mana yang datar. Tapi ada kalanya kita enggan memompa minat dan semangat. Merasa terlalu berat untuk bersaing. Padahal boleh jadi kita tak sekadar itu, kita hanya salah menghargai diri.

Hidup sebagai kumpulan masalah tak boleh melemahkan tekad.

-Ahmad Zairowi A.M : tarbawi 265-

*ditemani secangkir kopi yang membuatku mengingatmu dan menuliskan ini. Kau tahu akhir-akhir ini aku harus banyak bersahabat dengan kopi untuk mengganjal mataku. haha. Agar tugas-tugas menggunung itu tidak kuhadapi dengan “ketiduran” wkwk.

SmangaaD, sobat…
niatkan semua untuk ibadah..
dan tersenyumlah.. cerialah.. =D

Dan maaf, karena aku sangat menyebalkan beberapa saat ini. Tumpukan tugas memang sering membuat aku menjadi makhluk yang aneh. hahaha. Yang akhirnya berbuah menyakiti perasaan orang-orang terdekatku tanpa aku bermaksud begitu.
Ah, tapi kau pasti telah memaafkan jauh sebelum kupinta. Terima kasih.

#sekalian pemanasan mau nulis.. haghaghag.

gambar dari sini

sekarang jelas yang tak berguna kan

 

min husni islamil mar’i tarkuhu maa laa ya’nihi..

 

#random

*nduduls

aaahh.. maen ke blognya yuri jadi berjubel2 pengen nulis isi seminar quran kemarin..
woy.. ga boleh nulis sebelum kerjaan hari ini kelar dulu..!
#NtMS

*nyampah

*menuh2in reader orang

Ganteng Euy *dipentung

Image

Aseliii.. Quran itu bikin kegantengan seseorang meningkat berlipat-lipat ratusan persen. Ahahahaha

*Pasang tampang ganteng.. =))

Woy sadaaaar Jar.. dirimu perempuan *tepokjidad.. qeqeqe

[gambar atas tadi dari twitter @sahabatsuriah ]

“Biar kanan kiri pertempuran, terus kuatkan iman dg Tilawah Al-Quran. #Syria

Aih, keren ya.. Maa Syaa Allaah.. Ganteng bener dah, bertempur melawan musuh Allaah di medan jihad dibersamai tilawah quran.. Cakep beneeerr.. *ngiri

Image

Sudahkah hari ini engkau membaca Al-Quran? =)

-pesen dari UGM Menghafal-

Jangan lupa ini hari Jum’at.. Al-Kahfi yuuuk.. hihi

#OneDayOneJuz and more.. and moree..

countdown to Ramadhan..

Image

Jadikan Al-Quran pedoman hidup kita.

Baarakallaahu fiikum.. =)

n_n/

Spesial buat yang di Jogja dan sekitarnya

UNDANGAN 

Seminar Al-Qur’an NASIONAL, Ahad 7 April 2013 pukul 07.30-Dzuhur 

di Gedung Multi Purpose UIN 

Pembicara : Ustadz Hidayat Nur Wahid & Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc Al-Hafidz (ustadznya Winda nih.. hihihi)

Infaq 10ribu. 

Mari “Bumikan Al-Qur’an, Selamatkan Generasi , Muliakan Negeri”

Sebarkan.

Daftar  085729297646

Letakkanlah …

Petang cinta,
ah, aku tak suka suasana begini
suasana khawatir atas kesehatanmu
lagi-lagi engkau sakit seperti ini
aku tak suka melihatmu tidur tak tenang

Bukan karena aku enggan memijatmu
bukan karena aku malas kau pinta men”tatto merah”mu hihi
bukan juga karena aku tak mau lagi membuatkan bubur dan menyuapimu
bukan pula karena aku lelah memaksamu meminum madu yang kau tak suka
bukan aku tak ingin lagi mendengar rengekan manjamu atas setiap hal yang kau rasa sakit
dan bukan karena aku celih menjadi alarm makan dan minum obatmu
bukan, cinta

aku bersedia menjadi tukang cerewet untuk semua itu
asalkan engkau pulih dan sehat lagi, cinta
tak berulang-ulang sakit begini

jika engkau lelah mendengar keluh mereka, sejenak hindarilah
jika telinga, pikiran dan hatimu terlalu lelah menampung banyak kesah orang-orang itu, letakkanlah sesaat

aku tak suka kau jadi sakit karena lelah pikir begitu, cinta
aku tak suka melihat tubuhmu tampak begitu kepayahan..

aku lebih memilih aku saja yang sakit, menggantikanmu..
asalkan kau bisa tetap sehat.. sunggingkan senyum ceria dan tawa renyahmu
cinta, cepat sembuh ya..

Allahumma Rabbannasi adzhibil ba ‘sa isyfi antasysyafi laa syifa’a illa syifa’uka, syifa’an la yughadiru saqaman.

Image

Oya, tadi ustadz Fauzil mengingatkan kita tentang senja, di tweetnya…

Hari sudah senja. Kelak ketika usiamu telah teramat senja, apakah yang paling engkau harap dari dirimu sendiri?
Hari sudah senja. Adakah yang kita kerjakan hari ini jalan menuju kebahagiaan yang kita ingin raih di usia senja? Atau jalan untuk lupa?
Hari sudah senja. Ketika engkau menapaki usia itu dengan kaki gemetaran, apakah yang paling engkau harap dari suamimu?
Kelak ketika tulang-tulangmu telah rapuh, apakah yang paling engkau harapkan dari istrimu? Adakah yang menenteramkan dirimu darinya?
Adakah jalan yang engkau tempuh bersama istrimu hari ini akan membawamu kepada kehidupan yang engkau harapkan kebaikannya? Ataukah…?
Hari sudah senja. Ketika manusia sedang bergegas diburu mimpi, saat itu tak jalan memutar bagimu. Adakah dunia terasa lambat bagimu?
Hari sudah senja. Ketika engkau memasuki usia senja, adakah engkau menatap kepada kubur yang semakin dekat? Atau masih berpanjang angan?
Hari sudah senja. Adakah ketika itu kita senantiasa mengagungkan kebesaran Allah Ta’ala? Ataukah kita baru terbelalak sesudah tiada?
Maghrib sudah tiba. Saatnya untuk shalat. Saatnya menyungkurkan kening. Jangan lupa, do’akan keluargamu. Jangan lupa.

 

Aih, tentu saja aku tak lupa.. =’)

gambar dari sini

Inikah Rasanya Cinta? Ah.. Ah..

Inikah rasanya cinta..

Oh inikah cinta

Cinta pada jumpa pertama

Inikah rasanya cinta

Oh inikah cinta

Terasa bahagia saat jumpa..

Dengan dirinya…

Karena hidup banyak rasa.. kopi g**dday juga banyak rasa

Image

Tau iklan itu kan? Hahaha

Pertama liat iklan itu yang paling memikat hati adalah si burung hantu. Ahahaha.. lucuuu banget kepalanya bisa gerak-gerak ke depan gitu. Wekekek *dasar pengamat iklan.

Okelah di sini fajar suka aja ama konsep iklan itu, ga kayak iklan-iklan mainstream cinta berarti kisah laki-laki dan perempuan.. qiqiqi.Cinta di situ digambarkan bisa jadi cinta ama motor kesayangan mpe dicium-cium.. =)). Ada juga cinta pada pandangan pertama ama gaun merah di etalase toko.. wekeke. Juga terasa bahagia saat jumpa ama si burung hantu imut lucu… Ini yang paling keren nih *teteeep.. hahaha.

Jadi bicara cinta jangan melulu diartikan seseorang lawan jenis, haiyah terlalu biasa itu si *digetok.. *ga sopan bener yak.. =))

Tapi ngomong-ngomong apa begitu ya cinta tu. Emm.. gimana kalo ini, ketika disebut namanya bergetar hatinya. Menghabiskan waktu berlama-lama untuk tau kabarnya. Bisa tersenyum manis menangis deras gegara dirinya.. apakah itu cinta? Eeaa. Karena itu yang kualami. *uhuk *keselak

Ya gimana ya, secara WP punya hal-hal menggoda.. =)) jadi makin kesengsem buat tau kabarnya lama-lama. Apalagi kalo bukan 2P ku tercinta *tsaaah. Palestina dan Papua. Memanfaatkan fitur “explore topics” aku menghabiskan waktu lama-lama mencari tau tentangnya.. *uhuy. Topics di situ selain fiqh, qur’an, Islam, Muslim, kajian, tafsir kumasukin topics lain, apalagi kalo bukan Palestine, Filistin, Palestina, Gaza, Palestin, Syria, Suriah, Rohingya, Papua. Dan di situ aku melihat banyak tulisan dari berbagai negara…. aaaa kereeen.

Kalo di twitter beda lagi, aku punya list khusus tentang Palestina & Papua, tentu saja private list, jadi ga ada yang tau selain aku. Makanya ID jaraway following buanyak banget akun, paling banyak ya memang tentang Palestina. Hehehe.

Ini kali ya rasanya cinta, kalo tengah malem twitter udah sepi dari kicauan orang-orang negeri sendiri aku malah asyik nyimak kabar akun-akun timur tengah.. hehehe.. seruuu tau kabar update dari sana.

Jadi inget dulu masa-masa agresi Zionis tahun 2008, waktu itu belum ada twitter tapi apdet dari sahabat al-aqsha. Pas kukabari anak-anak teknik, pas itu tv belum nyiarin, mereka ada beberapa yang ga percaya kabar seheboh itu. Aku malah heran, ni anak teknik mustinya cepet ngupdate secara pada sering online. Baru pas tipi nyiarin gencar, baru pada gerak aksi galang dana. Hadeeeh. Tapi ada juga yang udah langsung percaya & respn cepat, secara tsiqoh banget dengan kecintaanku ama Palestin. Hihihi. Trus yang kejadian Mavi Marmara juga, pas itu dah punya twitter, jadi apdet detik per detik kejadian Mavi marmara, kusebar via sms ke anak-anak. Alhamdulillaah habis itu pada gerak buat menyuarakan kondisi Mavi Marmara.

Pernah suatu ketika, kumpul pengurus FOSDA, nah pas aku nanya tentang Al-Aqsha Memanggil koq belum bikin agenda, ada yang nyeletuk, ga ada mba Fajar ga seru. Ga ada yang segreget mba kalo tentang Palestin, duh.. koq malah sedih ya aku dengernya, gagal dunk nyebarin spirit cintaku *halah. Hahaha. Ya.. gitu si, cinta memang bikin ‘gila’ dan itu tadi sekelumit kisah gilaku bersama dua cintaku Palesina & Papua. Meskipun ga se”hangat” Multiply yang terlalu asyik buat geje, tapi aku menemukan dua cintaku di WP ini dengan penuh warna *halah. Makin tau tentang mereka *kek ngomongin apaan aja ya.. hahahaha

Eh, jadi inget pernah baca tulisannya mister Darwis Tere Liye yang ini nih

Jangan habiskan air mata menangisi seseorang

yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita

Jangan habiskan waktu memikirkan seseorang

yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita

Hidup ini memang kadang ganjil sekali,

Ada milyaran orang, tapi kita menambatkan hati hanya pada satu orang saja

Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja

Hidup ini memang kadang rumit sekali,

Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak

Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam

Hidup ini memang kadang menyebalkan sekali,

Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja

Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik

Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar.

Sungguh, jangan habiskan waktu kita

Untuk seseorang yang tidak pernah tahu

Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.

Nah, kalo aku beda dunk.. aku si suka-suka aja tuh menghabiskan waktu lama-lama, menguras pikiran memikirkan, menangisi, dll…. Buat dua cintaku yang telah kupupuk sejak lama.. Palestina dan Papua…

Aih, katanya jatuh cinta itu suatu keputusan.. dan memang aku memutuskan jatuh cinta pada 2P.. sejak dulu kala..

#tulisan ini mengandung sekian persen kegejean.. harap maklum

#do’akan saya yaaa… Moga bisa bersua suatu saat nanti, dengan dua cintaku ini.. Aamiin.. *khusyu’

gambar dari sini

Lalu, Kau Bertanya untuk Apa?

Image

Beberapa hari yang lalu aku membuka lagi buku yang pernah selesai kubaca tahun lalu. Aku memang suka mengulang membaca buku yang kusuka, karena selalu ada kesan yang berbeda dalam kesempatan yang tak sama jika mengulang bacaan. Tentang buku itu, berkali pun kubaca selalu sukses membuatku meleleh deras. hahaha. Ini ketiga kalinya aku membacanya sampai tuntas buku 323 halaman ini.

Sedikit terusik ketika sampai di halaman aku menemukan kata “burdain”, deg.. Aku tiba-tiba ingat kalau aku lupa (bahasa apapula ini ‘tiba-tiba ingat kalau lupa’ haghag) apa arti bardain. Duh. Dulu pernah nanya, tapi kucoba-coba mengingat jawaban dari yang kutanyain tahun lalu, tetep aja lupa. Langsung panik ngubek-ubek HP, buka satu-satu sms di situ, pegel juga. hahaha. Ga ada. Di draft juga, ga ada. Kucari-cari di buku biasa aku nyoret-nyoret hal baru yang perlu kucatat, ga ada juga. Mau tanya orangnya lagi maluuuu.. hahaha.. *payah. Padahal juga yang ditanyain pasti mau ngejawab lagi, tapi tetep aja malu. Niat ga sih, nanya mulu. wekeke.

Sampe aku putus asa dan akhirnya aku inget, kalo waktu itu smsnya yang udah nangkring beberapa hari di inbox hp kuhapus gegara inbox penuh. Tapi sebelum ngehapus kubaca baik-baik isinya sampai ingat betul. Ternyata, belum satu tahun aja aku udah lupa apa yang aku ingat waktu menghapus itu. Duh, payah. Akhirnya dengan mengesampingkan rasa malu kutanya lagi lah. hehehe. Aku sih tau kalau burdain itu shalat shubuh & ashar tapi lupa beneran itu dari kata apa dan kenapa bisa jadi dua shalat itu disebut burdain. Phyuh..

Eng ing eng.. dijawab lagi lah yang kedua kalinya

“Itu dari kata barada yang artinya dingin. Al-bardu itu dingin, bardain itu dua dingin (dua tepi siang yang dingin, yakni Shubuh dan Ashar). Kalau al-burda atau burdah artinya kain bergaris”

Yay, itu dia sms yang persis dengan jawaban tahun lalu. Aiih Fajar dasar pelupa. *tepok jidad. Hihihi. Kali ini tak mau kulepas, bener-bener kucatat di tempat yang aman. haghag.

Dengan kejadian simpel ini aku merenung, ya Allaah sudah berapa banyak pertanyaanku yang dijawab sungguh-sungguh oleh yang kutanyai tapi kulupakan begitu saja? Lalu sesungguhnya aku bertanya untuk apa? Kalau memang untuk tau dan paham kenapa semudah itu kulupakan? Waktu itu berkali-kali beristighfar. Dan ini pembelajaran berharga untukku. Agar sungguh-sungguh mengikat ilmu dengan merekamnya dalam tulisan karena jika hanya disimpan dalam ingatan, lupa itu niscaya. Bukankah menulis itu juga bagian dari upaya merekam sesuatu lebih lama dalam ingatan kita? hehehe. Makanya jangan males nyatet jaaar.

Bertanyalah untuk menjadi sebuah pemahaman yang kau amalkan, Jar. Karena buah ilmu adalah amal. Jika sungguh-sungguh diamalkan lupa itu akan mudah kau lawan. #NtMS

Firasat

Kau pernah memiliki semacam intuisi atau firasat kuat tentang sesuatu dan menjadi kenyataan?

Aku seriiiing sekali.

Entah apa alasan Allaah untuk memberiku firasat-firasat itu..

Dan kadang, sangat tak suka ketika firasat buruk menjadi kenyataan, firasat buruk ternyata benar-benar terjadi.

Kadang, lebih memilih untuk tak pernah terlintas firasat itu.

Ah..

Tapi aku selalu berusaha berbaik sangka padaNya..

mungkin ini caraNya agar aku belajar banyak, dari apa yang terjadi pada orang lain..

tidak perlu belajar dari kesalahan sendiri..

dan belajar untuk menjaga.. menjaga lisan.. dari hal-hal yang telah jadi firasat untuk tetap terjaga dan tak terumbar..

*celoteh sore hari.. hahaha..

Met ifthar bentar lagi.. insyaAllaah buat yang shaum..

Obrolan Tiga Jendela

Gegara kesindir ama mensyennya Pak Syam. Jaraway kebanyakan ngereblog. haha.. Memang, move on dari MP itu belum sukses sepenuhnya *eeaa. Jadi ini Fajar memaksakan diri harus nulis. Sebenernya banyak ide dah loncat-loncat di kepala menunggu dieksekusi, tapi tiap kali mau nulis dan ngadep lappy, bubar jalan.. hehehe. Dari kemarin nulis, dapet separuh trus mandeg, dapet separuh mandeg lagi, ga kelanjut. Ditambah ga kuat ngadep lappy kelamaan. hihihi. Sekarang ini bisa deselesein juga ternyata. haha.

Sebelumnya mau mengucapkan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ayah Pak Syam di tanah suci. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil maa’i watstsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas, wa adkhilhul jannata, wa a’idhu min ‘adzaabil qabri. Semoga merupakan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Indah sekali wafat di baitullah dan dishalatkan di sana.. =’)

Image

Baiklah, aku mau cerita. Akhir November tahun lalu Fajar pergi ke Jakarta dan sempat main ke rumah pemilik tiga jendela (Ai @akuaisemangka Sari Yulianti) *telat banget ceritanya baru sekarang.. haha. Beginilah masih susah move on dari MP. haghag. Akhirnyaa.. aku bisa ketemu tiga jendela itu, dari dulu penasaran.. Sebenere mau ketemu Ai apa tiga jendelanya yak. qiqiqi *gagalpaham. Nah, sewaktu di sana obrolan yang cukup membekas ya ga jauh-jauh dari tulis-menulis, hehe. Ai yang bercita-cita jadi penulis dan memang telah nerbitin buku pun sudah ikut juga di beberapa antologi hari itu harusnya pergi ke acara salah satu penerbit tapi ga jadi. hihihi

Kami pun berbincang tentang beberapa penulis yang sudah lama malang melintang di dunia olah kata rangkai aksara itu. Terutama penulis-penulis genre fiksi. Aku mungkin sudah terlalu sering bilang ke Ai, kalo aku ga begitu suka baca buku fiksi. hehe. Ai pun dulu begitu (inget tulisannya di MP). Tapi karena pilihannya menjadi penulis di ranah fiksi jadi ya mau tak mau Ai musti kudu wajib melahap banyak buku ‘aliran’ fiksi.

Tentang fiksi ini, aku masih ingat dulu guru pelajaran Bahasa Indonesiaku di SMA mengajarkan bahwa imajinasi kita harus diasah dengan mempelajari banyak hal. Membaca banyak peristiwa dan berani keluar dari ‘zona nyaman’ kita. Jika mau membuat cerita berlatar tempat A, ya kita harus pelajari dan kenal betul tempat A bagaimana, meskipun kita belum pernah benar-benar berada di tempat itu. Lalu karakter orang juga harus banyak kita pelajari walaupun kita belum pernah menjumpai orang semacam itu di kehidupan nyata. Profesi pun begitu. Eksplorasi kita harus luas. Begitu yang disampaikan beliau.

Ada yang lucu sih waktu itu, bu guru sambil bercanda dan senyum berujar bahwa tak begitu suka majalah An-Nida *lirik enje.. peace njee =p dan bilangnya sambil menatap ke arahku, aku balik senyum aja. haha. Lha, yang pake jilbab di kelasku memang tak banyak dan yang waktu itu antusias dengan pelajaran beliau ya sepertinya aku. Mau tak mau tatapan itu pun mengarah padaku. hihihi. Beliau berpendapat bahwa karakter tokoh-tokoh di cerpen An-Nida terlalu ‘melangit’, begitu ‘wah’, kayak ga mungkin ada di kenyataan. Dalam hati aku antara sepakat dan tidak sepakat dengan pernyataan beliau. Sepakat dengan ga begitu suka majalah An-Nida karena memang dasarnya aku ga begitu suka baca fiksi dan kurang suka tema-tema yang diangkat di cerpen-cerpennya. Ini subjektif aku banget. hahaha. Tapi ga sepakat kalo dianggap tokoh-tokoh yang ada di cerpen itu ga mungkin ada di kenyataan. Nyatanya aku pernah menjumpai ‘sosok-sosok langitan’ itu di kehidupan nyata. Tapi aku sendiri memang lebih sreg jika sebuah tulisan tak melulu sosok tokoh yang baiiiik banget. Untuk mewarnai kita. hehe. *IMO

Kembali ke tiga jendela *haiyah hihihi. Nahh, Ai menceritakan beberapa penulis novel Islami yang bisa menembus penerbit yang ‘sulit tertembus’. Murid les Ai pernah bercerita kalau teman-temannya sekarang gemar membaca novel dari penerbit itu. Tapi memang muatan di novel-novel itu ‘begitu’. Makanya salut juga bisa menembus penerbit semacam itu, menyusupkan nilai-nilai & prinsip Islami tanpa label Islam. Kita memang patut bersyukur tren baca anak-anak muda sekarang melesat pesat, namun juga perlu khawatir muatan apa yang masuk dan dicerna oleh mereka generasi penerima tongkat estafet itu *tsaah. Nilai-nilai seperti apa yang akan tertanam dalam benak mereka. Apakah nilai-nilai kebaikan & kebenaran atau justru hal-hal yang tak sadar menjerumuskan semacam pemikiran ‘sipilis’ (sekularisme pluralisme liberalisme). hehehe. Aku punya adik kecil yang beranjak remaja jadi ama beginian agak geram. haha

Alangkah indahnya jika setiap kita memilih ranah perjuangan masing-masing dan bersungguh-sungguh di situ, membawa misi kebenaran. =D

Begitu juga para da’i yang memilih berjuang di dunia kepenulisan fiksi ini. Bahwa ada sebuah cita mewarnai dengan ‘shibghatallah’ di area yang kini banyak dilahap anak-anak muda kita, sepatutnya tujuan itu tak pupus. Perjuangan di bidang ini tentu tak mudah, eksplorasinya musti manteb, apalagi harus berkejar-kejaran dengan ‘celupan-celupan’ lain yang tak kalah sungguh-sungguh dalam membawa nilai-nilai mereka.

Sampai di bagian ini, aku ingat satu ujaran “dulu novel yang beraroma pornografi ditulis oleh novelis laki-laki, kini justru yang menulisnya adalah perempuan menjadi best seller pula”. Aku lupa ini kata-kata siapa.. hehe n_nv peace.

Tentang ketidaksukaanku terhadap fiksi, eum.. ini sih bagiku sudah sampai ke ‘level’ hal prinsip. hehehe. Dulu aku suka membuat cerpen dan membacanya. Novel 5 cm, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi bisa kulalap dalam 2 atau 3 hari. Kumpulan cerpen dulu paling kusuka adalah tentang kumpulan cerpen yang bercerita tentang Palestina, Bosnia, Kashmir, dan semacamnya. Tapi, tetap saja lebih menyukai bacaan non fiksi. Apalagi ketika kini, beroleh kajian dari beberapa ustadz, mengada-adakan cerita itu tidak boleh. Dan para pendongeng ini pun yang mengakibatkan betapa banyak hadits-hadits dan kisah-kisah palsu yang beredar luas di kalangan umat Muslim. Miris rasanya. Dan aku lebih memilih menghindarinya. =D

Oiya, terakhir.. dulu Suryaq merekomendasikan buku dongeng anak 365 Hari Bersama Rasulullah saw, dan 365 Hari bersama Shahabat Rasul *lupa judulnya. Penerbitnya Gramedia. Pernah dinobatkan jadi buku terjemahan terbaik di IBF 2010 kalo ga salah inget. Nah, buku ini nih dongeng untuk anak, tapi bersumber dari hadits-hadits shahih. Keren ga tuh, Ini yang Fajar cari dan dari dulu pengen banget bisa dongeng dengan sumber benar. Jadi inget paniknya mau ngisi TPA ndongeng musti baca tafsir dulu. hahaha. Makanya dari dulu ngincer banget Kitab Shahih Bukhari & Muslim, buat bisa bercerita ke anak-anakku kelak *tsaah.. hahaha. Tambah ni Bang Hendra postingnya sekarang-sekarang ni tentang kisah-kisah lemah & palsu. Wuih, padahal itu yang sering tertanam di benakku, ternyata ga bener, aku ga mau dong nyeritain anak pake hal yang ga bener. Masuk kategori pendusta ntar *ngeri.. hehehe. =D

“memilih dan memilah kisah apa yang terukir di ‘batu’ ingatan anak-anak kita, adalah salah satu hal penting yang menentukan ukiran kehidupan mereka kelak”

(kataku.. haghag)

Karena aku merasa masa kecilku ditanamkan dongeng-dongeng tak masuk akal, semacam Kancil Nyolong Timun, Mak Lampir, Mahabarata, dll. Hahaha. Jadi ga heran juga sekarang banyak tokoh ‘selicik’ kancil dalam dongeng itu, menggunakan kecerdasannya untuk mengakali orang lain, menghalalkan segala cara. Banyak juga orang-orang yang menyukai dunia mistis. haghag. Dan banyak pula yang mempercayai dewa-dewa. hadeeeh. Masa kecilku ga keren banget yak. hehehe. =D Maka, aku tak mau terulang hal yang sama pada anak-anakku kelak. Aamiin. Koq jadi serius amat ya ni tulisan. ahahaha.. whatever lah, yang penting aku mulai nulis lagi.. haghag

Buat Ai, moga sukses jadi penulis yang dicintai penduduk langit & bumi.. diberkahi jalan kepenulisannya dan melahirkan karya-karya yang bisa jadi ilmu yang bisa diambil manfaatnya, mengalir terus kebaikan melaluinya, insyaAllah. Semangka.. smangaD kawan.. ;)

NB : spesial buat my lovely hunny yang hari ini ujian tesis.. ciee.. eeaaa.. moga revisinya cepet kelar.. baarakallaahu fiiki =) pokoknya kalo aku ke jogja minta traktir, janji yang dulu ntuh.. hahaha.. kangeeeen.. kapan ‘ngedate’ berdua lagi *uhuuuy.. haghag

bagaimanapun semua itu pilihan, bukan?

kakak beradik yang begitu belia itu, kini harus menghadapi sebuah kenyataan tak lagi bersama sang ibu di keseharian hidupnya.
10 dan 2 tahun usia mereka.
bukan, bukan karena sang ibu meninggal -“sayangnya”-.
tetapi karena memilih pergi bersama orang lain, dibandingkan mempertahankan kehidupan bersama mereka.
si kakak yang jika kuingat-ingat lagi sejarahnya, nasabnya seharusnya hanya dari ibu. kini bahkan tak tahu di mana sosok itu berada.
si kecil yang ketika ditanya orang-orang “mama ke mana?” dia menjawab “kerja di pabrik”. ya.. jawaban itu yang selalu ia utarakan. gadis mungil cantik gampang ngamuk kalo lagi ngambek itu, tapi senyum dan tawanya dahsyat membius.. hanya tau hal itu. ibunya bekerja dan belum pulang.
ketika ibuku bertanya padanya, “kangen ga sama mama?”. dia menjawab “kangen”. ketika ibuku ingin bertanya lebih lanjut lagi, kucegah. aku khawatir itu akan membuatnya bertanya-tanya dan justru berakibat tak baik.

bersyukurlah ketika kita masih bisa tahu nasab diri sesungguhnya secara benar. bersyukurlah ketika masih dibersamai orang tua ketika kecil bahkan hingga dewasa. bersyukurlah ketika pun orang tua telah tiada, maut lah yang memisahkan, bukan ditinggal pergi.
begitu menyakitkan ketika menjadi anak tetapi justru ‘yang tak terpilih’. karena lebih memilih ‘orang lain’ dibandingkan anak sendiri.

ah, entah aku harus berkata apa.
saya hanya bisa berkaca-kaca setiap mengingat kisah mereka berdua..

#kalau yang sering main di multiply fajar dulu, sepertinya tau siapa 2 bocah yang kutulis ini..

*sedang ga suka huruf kapital..

Hidup Denganmu, Mati Bersamamu

Image

“Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”

emang sepertinya lebih banyak yang ga nyadar kalo dirinya bodoh ya, dibanding yang sadar kalo bodoh. etapi fajar nyadar kalo bodoh koq.. cuman bukan urusan yang kek di lirik lagunya Noah tadi ntu yak.. plis deh.. hahaha

kemarin ga sengaja liat di tipi lagu ini, denger isi liriknya trus bengong.. kesian amat kalo ada yang begitu beneran.. sebegitu gila dan bodohnya plus ga dimengerti dan ga disadari.. hanya karena seseorang.. cuma gegara manusia.. aih.. jangan sampe deh ya.

Tulisan ini bukan mau ngebahas ntu.. tapi mau ngebahas sebuah cerita tentang.. eng ing eng.. “hidup denganmu, mati bersamamu” eeeaaa
*halah ini sih udah ditulis di judul.. haghag..

Ini sebuah kisah yang diceritain ustadz Sholihuddin Al-Hafidz.. pas kuliah shubuh waktu i’tikaf di Jogokariyan. Kenapa baru cerita sekarang?! Ya gegara lagu ntu, jadi inget lagi isi kuliah shubuh ini.. hehehe.. Ustadz dapat kisah ini ketika beliau jadi imam tarawih di Masjid agungnya daerah Minomartani (utara terminal concat). Tarawih di momen spesial itu khusus mengundang Ustadz Ahmad Al Habsyi sebagai penceramah dan diimami ustadz Sholihuddin dengan 1 juz tarawihnya..manteb dah.

Ustadz Ahmad Al Habsyi di kesempatan itu memberikan sebuah cerita nyata tentang 3 orang santri dari pondok pesantren yang blio asuh. Beliau memiliki pondok pesantren yang cukup jauh dari kota. Di situ mendidik para penghafal-penghafal quran yang masih belia. Pada suatu ketika ada perlombaan semacam MTQ begitu, sehingga harus mengirimkan perwakilan santri-santrinya untuk mengikuti lomba tersebut.

Akhirnya dipilihlah 3 orang anak mengikuti acara tersebut. Anak pertama memiliki hafalan 10 juz, yang kedua 20 juz dan yang ketiga hafal keseluruhan Al-quran. Untuk menuju kota dari pondok itu, mereka harus menggunakan transportasi perahu karena harus melalui sungai. Tibalah hari ketika mereka berangkat dan menaiki perahu, qardarallah perahu yang menjadi sarana perjalanan mereka mengalami kecelakaan dan mereka tenggelam.

Tim SAR pun melakukan pencarian para korban tenggelam termasuk 3 anak ini. Sehari, dua hari, bahkan tiga hari mayat mereka belum ditemukan. Hingga sepekan akhirnya tim SAR menemukan jasad ketiga anak ini. Anak pertama yang hafal 10 juz, ditemukan dalam kondisi sangat baik tak seperti mayat tenggelam pada umumnya yang menggembung, bengkak atau bahkan membusuk. Tidak sama sekali. Seperti baru tertidur saja, dan indahnya dia tersenyum. MasyaAllaah.. *merinding. Dan anak kedua yang hafal 20 juz dalam kondisi yang hampir sama ditambah aroma harum yang ada pada dirinya..

Lalu bagaimana dengan anak yang kertiga. Hampir sama juga, tapi ada satu hal yang menggetarkan.. dia menggenggam erat al-quran nya. di dekap di dadanya. Tim SAR pun tak bisa melepas Al-quran dari jasad bocah itu. Seolah-olah ingin mengabarkan pada dunia, ia hidup bersama al-quran dan matipun dengannya.. MasyaAllah.

Ketika ibu dari anak ini hadir dan melihat kondisi sang anak ia pun menangis haru dan tersenyum, lalu berkata kepada jasad anak itu.. “Nak, ibu ridha atas apapun ketetapan Allaah, titip salam untuk rasulullaah ya Nak” Dan tiba-tiba mushaf itu bisa terlepas dari genggaman sang anak, sehingga jenazahnya bisa dimakamkan. *huaaa ga terasa ni air mata meleleh-leleh dengerin kuliah Shubuh kali itu. Bergetar maluuu. Mungkin itu kuliah shubuh paling mengharukan diantara 10 hari kami di situ. Banyak yang mengusap air matanya, terdiam berdo’a.

Tentu lahir dari ibu yang luar biasa, anak pengafal quran ini.. Seperti biasa masjid Jogokariyan, saat sholat Shubuh selalu banyak jama’ahnya, beda tipis lah ama pas sholat tarawihnya. Sampe bawah pelataran musti digelar tiker. Dan memang didominasi ibu-ibu. Hingga ustadz Sholihuddin pun menyapa ibu-ibu di situ, dan semua jama’ah tentunya. Siapa coba yang ga mau punya anak-anak seperti itu? Yang hidupnya bersama al-quran dan matipun akan dibersamai quran, insyaAllaah..beroleh syafaatnya, pembelaannya.. Maka mari didik anak-anak kita dengan qur’an. Aamiin.. Semoga ya Ustadz.. semoga..

*keknya baru pernah cerita ini ke 1 orang doang.. hoho..
*masih tetep merinding dan tertampar mengingat kisah ini
*menasihati diri sendiri..

#seperti biasa males mbaca lagi apalagi ngedit.. hehehe. langsung posting.. qiqi *dudul

sama dengan kurung tutup (lagi)

tangis itu pecah di wajah-wajah mereka yang kau kenal tegar dan kuat menghadapi ujian

itulah indahnya

itulah nikmatnya

yang dari hati akan sampai ke hati

getarannya tak akan meleset.. 

ruhnya bertaut dalam do’a dan tangis 

 

dan bukan kebetulan ketika Engkau tuntun aku justru membaca tafsir An-Nur 11-26

=’)

 

ingin memeluk kalian satu per satu.. 

 

rindu… 

Permintaan Sederhana

Image

malam cinta,

saat ini aku begitu merindukanmu.. entah mengapa
meski setiap saat kita berjumpa pun semua seolah biasa
tak banyak hal istimewa yang kita cipta
namun setiap detiknya membuat kenangan yang istimewa

cinta, aku pernah begitu takut kehilanganmu
sangat takut
bahkan ketakutan itu membuat kita tak bertegur sapa sekian lama
tersiksa.. pasti.
menatap
berpapasan
tapi bahkan tak bisa sepatah kata pun terucap
senyap
seolah dunia disempitkan di hadapan kita
sesak
pengap

luka dan kembali luka kurasa
tak kunjung kering
kadang kembali tergores
perih sekali

yah, itu egoku
hanya memikirkan apa rasaku
tanpa mengingat kau punya luka lebih dalam
lebih lama
lebih pedih
dengan cinta yang jauh lebih besar bagiku
menerimaku seburuk apapun aku
semengecewakan apapun diriku padamu
aku bahkan tak bisa berucap maaf dan terima kasih
aku hanya mampu menangis dalam do’a

aku pernah berpikir
mungkin melepasmu lah yang terbaik
hanya berharap lengkung bahagia di wajahmu
setelah ribuan hari engkau bergumul dengan perih

namun, kata seseorang

“Cinta dan melepas itu dua hal yang berbeda.

Terkadang kita melepas seseorang karena suatu sebab,

atau mendekap seseorang karena suatu sebab,

sedang cinta bisa tetap ada dalam dua keadaan itu”

Aku tentu berharap bisa mencintaimu dalam dekapanku.
Namun, semua kuserahkan padamu.. jikapun harus melepasmu..
cinta tetap bisa ada pada keadaan itu bukan?
apapun.. asal engkau bahagia..

Dan semoga ini bukan mimpi..
ternyata aku masih bisa terus mendekapmu,
meski kita berurai air mata

argh, maafkan aku
permintaan sederhanamu pun belum sanggup aku wujudkan
tapi aku akan berusaha sekuat mungkin

ah iya,
memang tak ada badai yang tak berlalu, cinta

kita tentu tak pernah tau apa yang akan terjadi di hadapan
tapi semua akan menjadi mudah kini
insyaAllaah
karena semua itu kita coba lakukan bukan karena siapa-siapa
tapi karenaNya
untukNya
entah kelak kita akan berhadapan dengan takdir macam apa
kini saatnya berbenah, bukan?!

aku akan berusaha memupuk terus cinta ini..
karena Ia yang memerintahkannya padaku

semoga apapun badai yang menghadang
bahtera kita mampu menerjang

cinta

ingat selalu, ada dua telinga dan satu hati ini tempatmu berbagi
(yang tak hanya sekali dua kali kau bilang ini satu-satunya, kepada siapa lagi engkau bisa berkisah)

cinta, uhibbuki fillaah

Jarview of Ginger Love [bukan ripiu hihi]

A novel by Haya Najma

Image

“Saya tidak menginginkan macam-macam dalam mencari pendamping hidup. Hanya agama dan akhlak yang baik, serta menerima saya dan keluarga saya apa adanya.”

Sederhana sekali kriteria yang Azi harapkan dalam penantiannya akan seseorang yang akan menjadi tambatan hatinya.
(padahal ini kutipan dalem banget Hay.. hahaha)
Namun, tak sesederhana itu karena ia menyimpan sebuah luka akan kisah lama berupa harapan yang kandas justru di detik-detik kebahagiaan itu begitu dekat di hadapan.

Dalam perjalananya, Azi lalu mengerti ternyata masih ada orang di luar sana yang kisahnya lebih getir, melalui sosok Hanan. Dan itu sedikit mengobati rasa ‘trauma’nya. Bagi kita yang membaca menguatkan lagi sebuah makna “tidak ada alasan untuk tak bersyukur”, karena tiap manusia memiliki jalan ujiannya masing-masing. Emm.. takdir memang tak pernah tertukar.

Ada bagian yang cukup membuat saya merenung di cuplikan kisah ini, pesan moral tentang keagungan ilmu itu juga harus tampak pada akhlak kita. Lagi-lagi tertampar tentang peringatan jangan sampai bertambahnya ilmu tak membuat kita semakin tunduk pada Allaah, namun justru timbul rasa sombong hingga merasa diri paling benar dan enggan menerima nasihat dari mereka yang dirasa ‘tak lebih berilmu’. Seperti filosofi ginger yang Haya ingin munculkan di sini, hangat. Cinta itu hangat. Selayaknya juga ilmu, -terlebih ilmuddin– bisa membawa kehangatan bagi sekitar kita agar bisa mencintai Islam yang begitu agung.

Membaca cerita ini kita seolah diajak belajar, masing-masing orang mungkin memiliki masa lalu yang membawa luka, kisah getir yang sulit untuk dihapus begitu saja, namun juga kita diajak untuk terus berbaik sangka padaNya, bisa jadi yang terbaik sedang disiapkan olehNya hingga bertemu suatu masa seperti ujaran putri kembang jahe
“jadi apakah kau tak menyesal berada di sini?”
“tentu tidak, di sini indah, terlebih karena kau ada di sini, semua menjadi terlihat lebih indah”

Dari sosok Azi dan Hanan kita belajar, meski ada ketertarikan. Ketika bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kaidah syar’i tetap terjalankan. Tiada khalwat. Begitu menjaga. Suka deh. hehehe.

Oiya, di setiap buku, hal yang selalu bikin aku penasaran adalah per bagiannya akan disebut apa oleh sang penulis, dan di sini haya pake istilah ‘ruas’ hihi, jahe banget. Unik. Kreatif.
Yang mau ikutan baca, meluncur aja langsung ke yang nulis di sini =D

Tapi satu hal, menemukan kata ‘Anytime’ di novel ini, haduh Hay, sesuatu banget. Bikin inget (ah, sudahlah). hahaha

Btw, yang paling ‘hangat’ & so sweet teteep yaitu tulisan tangannya Haya

To : Mbakq, Fajar ‘MP’ers
Smoga selalu menerangi lingkungannya
jazakillah khayr Mbak,
Smoga bisa menghibur

Haya Najma

Happy Reading

qiqiqi.. romantis amat.. wekeke..
Wa anti jazaakillaahu khairan Hay

Purwokerto, Baturaden, kopi, detil fotografi, kamera analog, blogging, kucing, ungu, jait-menjait, serba masak & makanan.. hahaha Haya banget deh =))
nek Haya nulis non fiksi kayak apa ya.. hihihi..
maklum Hay, aku nek maca sing fiksi sekali duduk taklalap langsung entek.. wekeke

NB :
eh, buat seseorang yang pernah ga sengaja cerita bahwa pernah sampai tahap itu dan ga jadi (haduh, maaph bikin keceplosan cerita ya), mungkin luka itu begitu dalam dirasakan, dan fajar mungkin tak akan pernah mampu benar-benar ber-empati karena emang ga pernah kek gitu. hehe. hanya bisa kembali berpesan, Allaah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu, insyaAllaah. Tetap semangat perjuangkan cintamu.. eaaa.. hihihi =D

#Haya tanggung jawab kii. aku dadi nulis ngene-an.. haghaghag.. berasa dudu aku.. =))) Aneh..

Eh, iya.. aku isa mbenerke genteng loh.. so, apakah diriku diterima? =)) *salahfokus.. qiqiqi

Dicemburui? *upz

Image

Ada yang bilang ‘cemburu itu tanda bahwa cintamu kuat’.
Ada yang pernah berkata cemburu itu bumbu cinta.

Ada juga yang menyatakan begini
“Cemburu biasanya bermula dari cinta yang membara. Bila dikelola dengan baik, cemburu bisa menyebabkan cinta terus menyala. Cemburu membuat kita dapat merasakan indahnya cinta. Karena cemburu adalah tanda cinta. Cinta sejati selalu membuat pemiliknya tak rela belahan jiwanya bergerak ke lain hati. Demikian pula dengan cinta milik wanita. Bahkan wanita senantiasa menginginkan cinta yang utuh. Wanita selalu mengharap cinta yang tanpa sisa.”

Rasulullaah pun pernah berkata “Pergilah. Ibu kalian sedang cemburu.” ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah cemburu.

Lalu bagaimana rasanya dicemburui?
Fajar tau rasanya kalo itu, tapi ini cemburu yang beda.. haghaghag..
Yang bikin justru ngikik ga abis-abis.. hahaha

Bahagia itu sederhana ketika bapak pulang dari masjid selepas Maghrib berjama’ah dan memanggilku “Mun, ini ubi goreng & pisang goreng”
Serumah juga tau apapun yang berhubungan dengan ubi, bisa membuatku melonjak dan bersorak kegirangan.. haghaghag *dasar anak singkong
Pisang jugaa.. jadi 2 makanan itu (apalagi kalo masih panas.. nyuuummmiii.. bisa bikin klepek2 deh ah.. hahaha)

Dan.. tiba-tiba ibu protes, kenapa cuma aku yang ditawari.. =)))
begitulah rasanya dicemburi.. bikin ngikik ga abis2..
“Ada yang cemburu pak.. hahaha”, komentarku ke bapak..

hari berikutnya ibu ngidam jagung rebus.. dan gantian.. aku yang cemburuuu =)))) *habisnya aku ga begitu suka.. hahaha
cemburu yang aneh
wekekek

maaf, sodara2.. ini postingan asli geje.. haghag..

gambar dari sini

Gabung Kelompok Elit Yuk? Mariii.. =D

Ini bukan lagi ngomongin elit a.k.a elik tur alit (b.jawanya jelek banget dan kecil) haghag.. *jadi inget ada yang habis ngatain tulisan tangan Fajar jelek banget. wkwkwk.. iyaaa.. emaaang.. sengajaaa.. =)) *lama ga tulis tangan ancur banget deh ah..

Nah di sini beneran mau ngomongin kelompok elit. Tapi bukan elit secara kedudukan dunia.. hehe..

Tapi golonga elit “orang-orang shalih”. Mau dong gabung? yaeyalah.. aamiin.. =)

Image

Ini tadi ngedengerin lagi rekaman kajian Hadits Ustadz Lutfi tentang Riyadhushshalihin masuk BAB 2 tentang taubat.. nah di intro sebelum masuk ke haditsnya beliau menyampaikan :

Kita katakan bahwa di Riyadhush Shalihin itu kita masuk grupnya orang sholih, kalo grupnya orang sholih maka konsekuensi-konsekuensinya menjadi orang sholih juga ada. Nanti kan ketika kita masuk ke kajian sini, banyak yang ga boleh gitu, banyak permintaan, banyak larangan, banyak juga perintah..
ga enak dong jadi orang sholeh?

contohnya kayak gini

13-

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “والله إني
لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة ” ((رواه البخاري.

13. Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada Allah serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Riwayat Bukhari)

Kan kalo kita mau jadi orang sholeh kan taubat kita atau istighfar kita harus lebih dari 70 kali.
jadi ribet dong
ye iye..
tapi kalo buat orang yang sholeh istighfar tu adalah hal yang mengasyikkan.. yang mengenakkan.
riwayat yang lain kan 100x di hadits ke 14
berarti seratus kali dong tambah waktunya, waktunya tambah diambil lagi..
tambah dalam tanda petik ‘dikekang’ lagi.

Saya kiaskan kayak gini, orang mau jadi presiden.. sebelum dia jadi presiden kan dia mau ke mana aja pergi tinggal jalan doang.. jalan aja..
ketika dia udah jadi presiden, emang ga ada protokol? kan ada protokol. Mau masuk ke lingkungan istana kan protokolnya harus dikawal lah, harus ada ini lah, harus ada itu lah.. tetek bengeknya.
Itu masuk ke lingkungan elit istana.

Nah di sini kita mau masuk ke lingkungan elit orang sholeh. maka juga aturan-aturannya juga ada, nah diantara aturannya ni adalah beristighfar 70 kali. Baru kita bisa masuk ke kelompok yang elit namanya “orang-orang sholih”

So, mau gabung jadi kelompok elit istana? *eh salah fokus..
kelompok elit orang shalih maksudnya.. =D

yuk.. marii.. kita teladani sang pembawa kompas penunjuk jalan kita.. uswatun hasanah kita.. rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam.. =)
presiden aja mau ribet ama protokol istana.. masa kita yang ngaku Ummat Muhammad kagak mau ribet ama ‘protokol’ sunnah beliau.. hehehe..
*mringis..

#pengen posting di 7 Januari.. Water apa kabar ya? hahay.. qiqiqi.. 12 tahun ga ketemu.. dah kek apa sekarang ya.. =D

gambar dari sini

Sapa Takut?! =D

“Yang paling menyedihkan di dunia ini adalah mereka yang selalu takut untuk bermimpi. “

Kalimat ini beberapa hari yang lalu Fajar temui di linimasa twitter milik Ave.. Dalam maknanya.  Mengingatkan beberapa tayangan di televisi tentang mereka yang menggapai impiannya.
Just Alvin pekan lalu tentang mimpi, Young On Top juga.. dan semuanya berawal dari sebuah proses yang tidak mudah.
Satu kutipan yang Fajar ingat dari Billy Boen
“Ketika kita melihat orang sukses ada 2 pilihan, pertama iri dan menjelek-jelekkannya atau kedua terinspirasi kemudian mencari jalan menemui sukses kita sendiri. Dan saya memilih yang kedua.” *kalo ga salah inget redaksinya begitu

Dulu Fajar sering heran ketika banyak (atau beberapa lebih tepatnya) orang yang ketika diminta mendeskripsika tentang dirinya menyebut sebagai ‘orang biasa’ yang bla.. bla.. bla.. Kadang ingin protes ketika melihat tulisan itu. Dan bilang ke orang ybs “woy, Allaah ga nyiptain sesuatu tu sia-sia.. mau-maunya si biasa-biasa aja” hahaha.. Tapi yah, itu pilihan orang lah mau menyebut dirinya begitu yo monggo.. qiqiqi.

Fajar suka jargonnya Ludi a.k.a Pemikirulung >> “Manusia itu unik, aku salah satunya”  Dari duluu selalu mikir aku ga pengen jadi manusia biasa-biasa aja.

Apa hubungannya sama mimpi?
umm.. ternyata memang benar, kadang perasaan merasa ‘biasa’ membuat kita seperti yang tersebut di quote paling atas itu ‘takut bermimpi’. Berada pada kondisi menyedihkan. Ya atau minimal takut bermimpi besar lah. Padahal dari kecil keknya kita sama-sama pernah diajarin peribahasa “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Internalisasi peribahasa itu kurang keknya ya. hihihi *ngasal
Apalagi ketika sempat berjumpa dengan apa yang namanya kegagalan. makin keder lagi deh buat pasang ancang-ancang impian.

Image

Kalau berbicara tentang impian, Fajar inget celoteh cowokq (adikq kandungq : red) ketika kami ngebahas pemikiran-pemikiran tentang bangsa ini, dunia ini, pendidikan, dll. Dia bilang gini “kita ini jadi korban pendidikan yang materialistis, monoton..mindset kehidupan orang-orang pada umumnya itu sekolah baik-baik yang pinter (dijejali materi..) trus lulus, habis lulus dapet kerja mapan.. trus sampe tua, pensiun akhirnya mati.. gitu doang? mana serunya hidup ini. Gimana mau maju bangsa ini” hahaha.. dan dulu juga sering bincang tentang syahid di Palestin, sampe ibu protes. “apaan si ngomongin mati.. mati.. enteng banget bilangnya”. Dan kami berdua hanya cekikikan.. *tetep bercita-cita mati syahid di Palestina.

Berbicara tentang berani bermimpi, mungkin aku termasuk orang yang terlalu nekat memiliki impian seperti sekarang. Mimpi terlalu besar dan ‘gila’. Seperti yang banyak orang tau, tentang Papua dan Palestina. Dua tempat kugantungkan hatiku sejak lama. Gila mungkin, bermimpi ke sana. Tapi sungguh bagi Allaah segala sesuatu itu mudah.
Dan ada satu impian yang hanya pernah kubagi ke seseorang, Alma. Bahwa aku ingin menjadi ahli fiqh yang memiliki dasar quran & hadits-hadits shahih. Sebuah keprihatinan kurasakan ketika mencari ustadzah yang diharapkan menjawab permasalahan-permasalahan umat jarang yang bisa menjelaskkan dengan nash yang shahih. Yang faqih di kalangan perempuan, amat jarang. Yang jadi rujukan di televisi, malah doktor wanita yang membawa virus liberalisme pluralisme.

Itu juga yang sempat Fajar bicarakan ke ustadz DR. Lutfi Ahmad Fatullah, ketika ngobrol dengan beliau. Sangat salut ma gerakan yang beliau canangkan “Gerakan Menghidupan Sunnah”. Dan cara beliau menjelaskan hadits itu dengan bahasa yang sederhana, enak dicerna. Tapi dasarnya jelas. Bukan argumentasi pribadi.

Rasa minder tentu sering menyergap dan melemahkan untuk selintas menghapus impian-impian itu dari benak. Gimana enggak, fajar itu seumur-umur yang namanya mondok pesantren ga pernah. Terdidik di sekolah umum. Ketika ketemu anak-anak yang jebolan ponpes, beuh.. ngiriii bangeet.. iya.. belum lagi kalo melihat gelar-gelar Lc bertebaran kini.. hahaha.. Lha aku ki sopo.. berani-berani bermimpi jadi ahli fiqh.. mbok ngoco to jar.. hahaha. yo beeenn.. wekeke

Fajar memang belum melihat ada titik terang bagaimana langkah-langkah mencapai impian itu. Tapi aku tak takut memancangkan mimpi besar itu di hadapanku, tak peduli akan seperti apa jalan hidup ke depan. Paling tidak aku tak mau bermimpi kecil.. itu saja. Aku tak mau jadi orang biasa.

toh saat SMA dulu aku tak pernah membayangkan bisa sampai di titik (level) seperti ini. Ujian praktek baca quran SMA masih mbaca ayat pertama surah Maryam itu “ka ha ya ‘a sho” *parah banget. boro-boro rutin ngaji. hahaha. 2006 baru tau kalo syukron itu jawabannya ‘afwan.. apalagi kitab-kitab.. jauh sekali itu dari  bayangan..

Jika ingin mengeluh terhadap masa lalu, kenapa ga dari kecil aja masuk pondok atau apapun lah.. kan prosesnya lebih awal dalam belajar dan menggenggam impian itu.. bisa saja.
Tapi aku memilih men-setting pola pikirq..
“tak ada kata terlambat, sebelum ajal menjelang”
mau seminder apapun sama orang-orang yang sudah mengerti lebih dahulu, belajar lebih dahulu, paham lebih dahulu.. cuek aja…

Kita memang memiliki sosok Abu Bakar radhiyallaahu anhu yang sedari awal meyakini dan mendukung rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wassalam.. tapi Islam juga memiliki sosok Umar bin khaththab yang awalnya adalah musuh yang begitu keras terhadap Islam..namun justru menjadi Al-Faruq ketika ia tercelup shibghatallaah. justru mencari sosok yang begitu faqih terhadap agamanya hingga disebutkan dalam hadits Muslim 4412 “Sesungguhnya pendapatku pernah disetujui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tiga hal, yaitu; tentang maqam Ibrahim. tentang peristiwa hijab, & tentang tawanan perang Badar.”

Kita memang memiliki sosok Abdullaah ibnu Mubarak  sang amirul mukminin dalam hal hadits.. yang lahir dari sulbi mantan budak yang jujur dan sangat amanah.. Namun kita juga jumpai di zaman yang sama sosok Fudhail bin Iyadh.. meski memiliki masa lalu kelam seorang perampok, momen taubatnya setelah mendengar firman Allaah di Al-Hadid  ayat 16 membuatnya ‘menebus rasa bersalah’ itu dengan komitmen besar. Diawali perjalanan pergi ke Kufah untuk menuntut ilmu. tertoreh sejarah menjadi ‘ulama terkemuka, zuhud, wara’, khauf (takut) dan ahli ibadah. Beliau mendapat julukan ‘Abid Al-Haramain (Hamba yang tekun beribadah di Haram Makkah dan Haram Madinah).

Kita memang memiliki sosok Al-Fatih sang penakluk konstantinopel.. Yang dari kecil terdidik dengan sangat baik. Yang paling pantas tidak hanya menjadi panglima perang pasukannya tapi juga imam shalat mereka. Yang sangat terjaga ibadah-ibadah yaumiahnya.. wajib pun sunah.. tak ada satu orang pun pasukannya yang lebih baik amal yaumiyahnya. padahal dalah hadits disebutkan bahwa pasukan pembebah konstantinopel adalah pasukan terbaik. tentu saja di sini ‘kedekatan’ mereka dengan Allaah pun terbaik.. Namun dalam Islam juga mengenal sosok shalahuddin Al-Ayyubi pembebas Al-Quds.. di perang salib II. Beberapa ahli sejarah ada yang enggan menuliskan masa mudanya, yang flamboyan, masih asyik dengan meramu teh, membuat sajak. Sangat tidak suka berperang. Sangat jauh dari kesan calon panglima pembebas Al-Aqsha.. hehehe..

Namun di situlah indahnya shirah dan tarikh Islam mengajarkan kepada kita.. bahwa tak ada kata terlambat.. Untuk mengawali langkah menuju impian besar. Entah hasilnya kita rasakan atau tidak, entah sampai ke tujuan atau tidak.. Jangan takut bermimpi besar.
Kata seorang sahabat “tak ada yang hilang jika kita berada pada jalan yang benar” Nothing to lose..

ada mereka yang mulai menghafal quran di usia lanjut, 80 an tahun, dan bisa. Tinggal bagaimana kita bisa skali lagi jujur pada niatan kita, untuk sungguh-sungguh memperjuangkannya. Meski terkesan ‘gila’ dan ‘ga mungkin’. hahaha.

Syahid di Palestina.. cita-cita tertinggi.. sungguh bagi Allaah mewujudkannya itu mudah.. =)

Ya gimana ya, udah terlanjur cinta ama Palestina.. dari SD.. hihihi.. #menolaklupa..

*nyeloteh plus curcol ini si.. haghag..

jangan takut bermimpi kawan, selalu aku tanamkan di diriku. Janji Allaah akan kejayaan Islam itu pasti, tinggal kita memilih jadi saksi sejarah atau pelaku sejarah. Tak perlu menyejarah bagi kalangan penduduk bumi.. cukup menyejarah di kalangan penduduk langit saja *maunyaaaa… ehehehe.. *mrenges..

wallahu a’lam bish shawwab

*sedang menyemangati diri sendiri untuk kembali mengejar mimpi.. yosh.. n_n/

*random amat loncat2 gini nulisnya.. hahaha

*tetep males ngedit & langsung posting.. =D *mlipir

gambar jepretan adekq dunk.. hihi

Dan yang Terbaik…

Tiba-tiba tadi keinget seorang sahabat dan ingin menuliskan tulisan ini untuknya.. =)

Ini kisah sempet takceritain ke temen2 yang ikutan ngebolang ke Pusat Kajian Hadis & LTQ Al-Hikmah waktu itu. Lagi kecapekan nyasar nyariin lokasi Al-Hikmah kami berenti di masjid lantai 2. Sampe ngerepotin orang buat online gugling alamat Al-Hikmah yang bener. ahaha. Habisnya dah capek jalan jauh, ternyata salah yang dituju. Terlalu banyak Al-Hikmah. wekeke. Nah kami berempat seru diskusi di masjid itu sambil mengingat wejangan dari ibunya teh Rie (manteb banget ngasi nasihat2nya *mak jleb jleb) dan obrolan kami pun nyampe ke aku inget kisah ini deh. haha

Sebuah kisah tentang keyakinan..

tentang penjagaan diri ..

tentang menepiskan keraguan.

tentang kesungguhan iman..

Kisah ini diceritakan ustadz Sholihun sewaktu kajian rutin KRQ (Kajian Rumah Qur’an) mbahas adab-adab penghafal quran. Banyak yang mak jleb jleb di kajian itu si, semisal tamparan tentang
“memang kita ini sibuk apa? Berita terbaru PM Palestin Ismail Haniyah baru saja menyelesaikan qiro’atus sab’ah. Lalu kita ama blio, sibukan siapa? dengan Gaza digempur tiap saat seperti itu?” *plaak
qiro’atus sab’ah adalah 7 macam cara baca quran yang dianggap qira’at shahihah (cara baca yang benar) PM Haniyah hafal quran jelaaaas dah luammaa tapi cara membaca dengan 7 macam ini blio selesaikan ketika menjabat sebagai PM Palestina. Luar biasa bukan. Lalu kita itu sibuk ngapain? *jleeeb

Oya, kembali ke yang pengen takceritain. Kali ini ingin menuliskan sebuah kisah seorang muslimah yang luar biasa. Dia seorang santriwati di sebuah pondok yang sangat cerdas. Bahkan mengalahkan kemampuan santriwan2 yang ada di pondok itu. Dia lebih cepat dalam mempelajari qiro’atus sab’ah dibandingkan yang lain. Paling cepat bahkan dibandingkan para santriwan.

Namun, ia diuji Allaah dengan sebuah peristiwa. Ga jadi dikhithbah. Gagal dalam proses sebelum menikah. Ustadz tidak menyebutkan kenapanya. Namun, gagal itu sama sekali tak menyurutkan semangat belajarnya menjaga hafalannya. Dan satu yang utama.. tak menyurutkan sama sekali yakinnya kepada Allaah. Iman kepada qada’ dan qadarnya teruji. Hingga akhirnya ia baru menikah di usia 33 tahun. Bukan usia yang ‘muda’ lagi untuk seorang muslimah menggenapkan separuh dinnya. Namun tak ada secuil keluh pun selama itu atau bahkan sampai merutuki nasib. Ia memegang teguh keyakinannya. Alhamdulillaah, ia akhirnya dianugerahi Allaah suami yang jauh lebih baik dari yang dulu akan mengkhithbahnya tapi ga jadi itu.

Dan ada sebuah kisah mengharukan menjelang pernikahannya, ketika orang tua muslimah itu berpesan kepada pemuda yang akan menggantikan tanggung jawab perwaliannya, blio berpesan “Nak, putriku ini jangan kau beri dunia. Jangan kau beri materi. Dia itu penghafal qur’an. Jadi, satu pesan.. bantu ia menjaga hafalannya.” Sang pemuda itu tak kuasa menahan tangisnya, dan menyanggupi pesan itu dengan tekad kuat membara untuk melaksanakannya. Pemuda yang tadinya belum menghafal qur’an itu, saking ingin komitmen terhadap janjinya, dia pun ikut menghafal qur’an dengan bimbingan sang istri. 6 tahun setelahnya.. alhamdulillaah mereka menjadi pasangan penghafal qur’an. Dan kemudian mendirikan pondok pesantren tahfidz quran. Mencetak hafidz-hafidzah.
=)
Masya Allaah. Indaaaah sekali kisaah ini. Itu romantis banget menurut Fajar. Ahaha *kumat.
Pas denger dari ustadz Sholihun ga kerasa netes ni air mata. Padahal kajiannya baris paling depan tengah pula. Kan maluuu ketauan ma ustadz nangis.. wekeke..

Sebuah rangkaian kehidupan seorang muslimah yang tentu tak mudah untuk dijalani muslimah pada umumnya, jika bukan karena imannya yang luar biasa kokoh. Keyakinannya akan janji Allaah yang tak pernah luntur. Penjagaan dirinya sebagai hamba Allaah yang tak lengah menanti saat yang tepat itu tiba. Tak menghinakan diri atau mengubah yakin itu menjadi ragu, setitik pun. Sebab cintanya pada qur’an. Ah.. *speechless.

Janji Allaah itu pasti, tinggal bagaimana keyakinan kita sanggup untuk diuji. Di kala kuat maupun saat lemah. Karena kita akan diuji di titik-titik terlemah kita. Jika iman kita benar.. tak ada yang perlu dirisaukan, tak ada yang perlu di’galau’kan.
Jujurlah pada niatmu, seberapa engkau sungguh-sungguh untuk mewujudkan apa yang jadi cita-citamu dengan kelurusan niat itu.

Allaah menyiapkan yang jauuuuh lebih baik, baginya..

Image

Spesial untuk sahabatku, yang pernah mengalami kegagalan serupa karena engkau pegang prinsipmu tak mau ke rumah sang “calon” untuk dikenalkan ke keluarganya. Bagimu itu jauh dari syari’at Islam. Sampai sang ayah jatuh sakit. Aku bangga padamu. Meski dengan kelucuanmu, ke’geje’anmu kau selalu bisa menceriakan suasana dan menutupi sedihmu. Tampak ‘gaul’ dan seru. Aku selalu kagum atas sesuatu dalam dirimu, keteguhan prinsipmu atas apa yang kau yakini jika itu sesuatu yang benar. Aku yakin, Allaah telah menyiapkan yang jauuuh lebih baik bagimu, Hunny. Hanya tinggal bagaimana meraut yakin demi yakin itu agar tetap runcing. Tak tumpul digerus waktu yang terus berdetak, berlari kencang. Aih, jadi kangen ‘ngedate’ berdua *eaaa. hahaha..

Oiya, seorang sahabat yang sangat akrab dan kenal betul Fajar pernah juga menasihati setelah 1 tahun dia menikah (*yang dulu fajar bilang sukses nyulik istri orang. lah bisa nginep semalem hahaha. misuanya pas pergi.) “jar, kita tu musti bersyukur, cantik.. enggak. (secaraaa.. ganteng gitu.. haghag) bukan keturunan kyai atau ningrat *haha… kaya juga enggak… jadi orang yang akan menikah dengan kita itu ya melihat diri kita apa adanya tanpa embel2.. ”
Dia menikah dengan ikhwan UGM yang sama sekali belum dikenalnya, dia bukan anak UGM. Fajar justru cukup kenal sama si ikhwan itu. Dan mereka menjadi keluarga dakwah yang amazing lah.. hihihi.. keren. Semoga istiqomah.. =)

bener juga ya kata si Moco “Subhanallah. Dikelilingi org2 luar biasa akan membuatmu tersugesti”

hey.. hey.. ini nulis bukan gegara galau belum nikah. hahaha
lha wong kata teh rie tentang pendapat ibunya habis ketemu Fajar :
“Eh, kata ibu kamu setipe kaya aku, cuek mengalir jalanin hidup” haghaghag… Yup, that’s me.. *lunjak2.. qiqiqi
Ibunya teh rie ini jago banget nebak karakter orang. Ada satu yang ampe nangis dinasihati ma blio gegara paaas banget nasihatnya.. hihihi.
(moga bisa nulis tentang pengalaman ngebolang ntu deh kapan2.. hehehe)

Oiya, tadi fajar habis mampir di salah satu blog favorit Fajar (punya Yuri) di sini (dia yang biasa ngerekam KRPH dijadiin video. Manteb deh..

nah salah satu postingannya gini nih setelah dia baca bukunya mba Asma Nadia yang New catatan Hati Seorang Istri.. kukutip ya..

“Just be prepared that it’s not all butterflies and rainbows, requires a lot of patience hence the reason for it ‘completing half your deen’.”

dan hikmah lainnya yang kudapat:
betapa dangkal keputusan menikah yang hanya karena karunia cinta yang tiba-tiba Allah beri..
jatuh cinta adalah ujian dari Allah, apakah kita bisa menjaga kesucian diri atau tidak..
sama sekali menikah bukanlah keputusan emosional semata, sebaliknya rasional..
dan serasional-rasionalnya kita memutuskan:
biar Allah yang tuntunkan dan pilihkan yang terbaik (untuk dunia-akhirat kita)..
karena persoalan jatuh cinta di awal, kita tak akan pernah tahu berapa lama umurnya.. sedangkan menikah adalah urusan untuk memutuskan jatuh cinta seumur hidup dengan orang yang sama…
dan bahwa pernikahan itu ternyata bukan sekedar bagaimana menjaga hubungan antara suami dan istri, ya itu penting, tapi ada yang mendasari segalanya:
hubungan individu dengan Robb-nya…
karena pernikahan itu bukan tujuan hidup, tapi…hanya kendaraan menuju Surga…
dan buatku pribadi, sebagai perempuan,
bahwa menikah bukan berpindahnya kebergantungan dari orangtua ke seorang “laki-laki asing”… karena bergantung hanya benar-benar hanya boleh pada Allah, semata-mata.. tidak dapat disandingkan dengan makhluk..
jadi sebenarnya ngga masalah ya nikah atau ngga nikah, hehehe,
walaupun memang untuk masuk surga tidak harus pakai jalur menikah.. tapi hampir semua shahabiyah mendapatkan kemuliannya karena peran mereka sebagai istri dan ibu..
tidakkah kita iri dan ingin bergabung bersama mereka?

(empat baris terakhir itu sering juga terlintas di otakku haghaghag *ngikik | imam nawawi ga nikah tapi menyejarah *pernah lewat di pikiran argumennya ntu.. haghag)

Hihihi.. panjang bener yak.. peace deh.. lama ga nyeloteh (yang bukan geje) selain puisi. *Jadi pengen nulis lagi tapi ganti topik.. hahahaha..

*lagi males ngedit dan ngerapiin tulisan jadi langsung posting.. =D

gambar dari sini

[Aku dan Kain Gendongan] Bocah Kecil Juga Kuat Nggendong Dong

Ahai.. Aku dan kain gendongan punya banyak kenangan tak terlupakan. *eeeaaa Terlebih karena aku anak pertama di keluargaku. Dari mulai adikku yang cowok lahir. Yap, selisih 8 tahun membuatku mau ga mau sudah diajari cara momong adik, gendong lah, nyuapin lah, nyuciin popok lah, ngajak main lah bahkan mandiin juga. ahahaha. Pernah kena timpuk gunting ama dia, ampe berdarah di jidat. Hoaaaa. Hihihi.

Nah.. dari usia 8 tahun inilah aku mulai mahir menggunakan kain gendongan buat nggendong adik..
Berat?! Iyaaaa.. Apalagi dia endut. Aseliii endut bangeeett. qiqiqi.. Buat badan anak berumur 8 tahun waktu itu lumayan ngos-ngosan lah kalau bawa dia jalan-jalan. Tambah badan Fajar kurus kering waktu SD. hahaha. Sampe gulungan di belakang punggung nglungkerinnya ga jelas numpuk-numpuk. haha. Lah gimana enggak, Fajar hobinya pecicilan sama lari-larian ini disuruh anteng jalan pelan-pelan takut lepas bawa anak orang. haghag.

Awalnya kalo gendong pake kain gendongan dipasangin ibu buat ngiket belakangnya. Tapi lama-lama bisa sendiri. hihihi. Meski sering ga pas prediksi panjang yang musti disisain. Jadi agak ga enak body *halah musti nggulung banyak atau kurang panjang jadi gampang lepas.. Ribet lah. Atau kasus yang ini nih, posisi kain di depan badan nggantungnya ga pas. Kepanjangan kalo ga kemepeten itu juga bikin kerasa super berat. Kalo ga pas gitu seringnya ga enak di pundak kanan, jadi kerasa tambah berat gegara salah posisi. Heu. Kalo dipasangin ibu sih beda, bisa langsung teplek dan enak gitu di badan *kayak make apa aja ahaha.

Selain buat nggendong juga buat nggedhong. Yap, buat bedhong bayi gitu. ehehe.. Panjang bener yak kain bedongnya. haha. Ga kayak sekarang yang lebih praktis =D. Jadi anget plus kenceng gitu ga gampang lepas bedongannnya. Kayak gini nih adikku yang kecil kalo pas dibedong:

Kembali ke urusan gendong-mengendong. Pas Fajar masih bocah, yang digendong ga cuma adik kandungku yang berjarak 8 tahun itu. Tapi pas aku berumur sekitar 11-12 tahun lahirlah generasi kedua cucu-cucu simbah. Ya, sepupu-sepupuku. Ada 3 orang. Anehnya mereka tuh, tiga-tiganya lengket banget ma aku. Heu. Tambah 1 ponakan dari mba sepupu. Jadi 4 orang, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Kalau aku ke tempat simbah (keluarga paling jauh dari rumah simbah ya kami) mereka nempeeeeel terus deh. Maunya dimong sama mba sepupunya satu ini. Alhasil, ga jauh-jauh lah ama yang namanya kain gendongan. Hohoho. Kenangan yang kadang diinget-inget ngeselin tapi juga nyenengin pas sekeluarga besar bareng-bareng piknik ke pantai. Naik truk. Hahaha. keren kan. Lah mereka tu maunya di truk duduk berdirinya di deketku sambil nengok pemandangan lewat sela-sela kayu pinggir truk. Ga mau lepas. Ahaha. Pas di pantai juga gitu. Jadinya orang tua mereka (om-om, bulik-bulik, mba & mas sepupu) asyik main di pantai aku ni jadi baby sitter seharian. Bagooos.. ahahaha.. sopan bener deh mereka ama bocah. Mentang-mentang aku masih bocah ‘diperdayakan’. haghaghag.

Begitulah kisah klasikku dan kain gendongan. Eh, kalo aku sendiri dulu pas bayi suka diayun pake kain gendongan ini ampe bobo’. Ada satu tempat tidur yang ada besi-besi buat kelambu gitu. Nah, tu kain digantungin di situ. hihihi. Kalo sekarang ya jebol deh tu kain kalo buat nggantung.. haghaghag.. =D

*udah janji ikutan lomba di sini =D
mepet deadline nih. ahaha.. pas tanggal 13 nya
jumlah kata : 497