Hadits-Hadits Lemah dan Palsu tentang Ramadhan dan Puasa #1 [copas dari Ustadz Anshari Taslim]

Pendahuluan

Dalam pembahasan kali ini saya ingin mengetengahkan beberapa hadits yang tidak bisa dipakai sebagai hujjah dalam hal apapun termasuk untuk fadhilah amal, karena kualitas sanadnya yang palsu atau sangat lemah. Selanjutnya, saya akan memisahkannya dengan hadits-hadits yang tidak terlalu lemah, karena dari segi pendalilan akan berbeda, terutama bagi madzhab yang mengatakan bolehnya mengamalkan hadits dha’if yang tidak terlalu parah kelemahannya untuk fadhilah amal dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Hadits-hadits semacam ini cukup sering didengar dalam berbagai ceramah maupun kajian di bulan Ramadhan disampaikan oleh para ustadz yang mungkin belum mengetahui bahwa itu adalah hadits yang tidak boleh disampaikan kepada umat kecuali dengan menjelaskan kelemahannya.

Hadits-hadits yang masuk kategori ini adalah hadits dengan derajat maudhu’ (palsu) berdasarkan keterangan para ulama di bidang ini. Hadits-hadits palsu Meliputi:
Hadits yang tidak jelas asal usulnya yang bisa disebut oleh para ahli ”Laa ashla lahu” (Tidak ada asalnya). Hadits semacam ini tidak ditemukan dalam kitab yang mu’tabar (dipegang sebagai acuan). Biasanya hanya terdapat dalam kitab-kitab yang berisi nasehat dan ajakan tanpa mencantumkan sanad sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Salah satu kitab yang banyak memuat hadits-hadits model begini adalah kitab Durratun Nashihin, karya Al Khubawi yang cukup terkenal di negeri ini.
Hadits yang terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar dengan sanad yang lengkap, tapi salah satu atau beberapa rawinya dinyatakan sebagai pemalsu hadits, atau pembohong oleh para ulama jarh wa ta’dil.

Haram hukumnya meriwayatkan hadits-hadits palsu kecuali untuk menerangkan kepalsuannya, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, ”Siapa saja yang menceritakan hadits dariku dan dia tahu itu palsu, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.”(HR. Muslim dalam shahihnya dari Samurah bin Jundub dan Al Mughirah bin Syu’bah).

Sedangkan hadits-hadits yang sangat lemah dalam disiplin ilmu hadits ada dua macam:
Matruk, dimana ada rawinya yang terkenal suka berdusta, meski belum pernah ketahuan berdusta dalam hadits dan tak ada yang meriwayatkan hadits itu selain dia, atau terlalu banyak kemaksiatan yang dia kerjakan dan itu diketahui orang banyak.
Mungkar, cirinya, bermuara hanya pada satu orang, meski di bawahnya diriwayatkan oleh banyak orang darinya, dan si muara ini adalah rawi yang dha’if dan atau riwayatnya bertentangan dengan riwayat rawi yang ’adil.

Sebetulnya ada satu lagi yang biasa disebut mathruh, tapi setelah diteliti kategori ini sebenarnya masuk ke dalam matruk.

Hadits yang sangat lemah meskipun banyak tapi derajatnya sama, maka tidak bisa naik derajatnya ke hasan li ghairih, melainkan tetap saja lemah dan tak bisa diamalkan, bahkan untuk fadhilah amal sebagaimana syarat yang diajukan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar.

Beberapa hadits palsu dan amat lemah tentang Ramadhan dan puasa:

1.Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri,

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

”Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Status: Palsu (maudhu’)

Alasan:
Semua jalurnya melalui Abu Bakr An Naqqasy yang disebut oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai Dajjal pemalsu hadits. (Lihat: Tabyin Al-’Ajab, hal. 40-41).
Keterangan:
Hadits ini dibahas panjang lebar oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam risalahnya ”Tabyiinul ’Ajab bimaa warada fii Syahri Rajab”, dan beliau berkesimpulan hadits di atas palsu.

Hadits dengan makna senada juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Fadha`il Al-Awqaat, dengan sanadnya dari Ghanjar, dari Nuh bin Abu Maryam, dari Zaid Al-Ammi, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas. Al-Hafizh memastikannya palsu karena adanya Nuh bin Abu Maryam yang ber-kunyah Abu ’Ishmah. (tabyiin Al-’Ajab, hal. 41).

Akan tetapi Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits dengan lafaz ini hanya dha’if sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhuu’ah, no. 4400. Riwayat yang ia bawakan adalah yang terdapat dalam kitab At-Targhib karya Al-Ashbahani dalam At-Targhib dari Qiran bin Tamam, dari Yunus, dari Al-Hasan (Al-Bashri), Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Demikian nukilan Syekh Al-Albani. Saya temukan hadits ini dalam kitab At-Targhib karya Qawam As-Sunnah Al-Ashbahani dengan sanad sebagai berikut:

أخبرنا عبد الواحد بن علي بن فهد ببغداد، ثنا أبو الفتح بن أبي الفوارس، ثنا عبد الله بن محمد بن جعفر، ثنا عبد الله بن محمد بن زكريا، ثنا يوسف بن إسحاق البابي وكان ثقة، ثنا محمد بن بشير البغدادي، ثنا قران بن تمام، عن يونس، عن الحسن، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

((من صام يوماً من رجب عدل له بصوم سنتين، ومن صام النصف من رجب عدل له بصوم ثلاثين سنة)) .

وقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((رجب شهر الله -عز وجل- وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي)) .

Sanad ini jelas dha’if karena mursal, Hasan Al-Bashri bukan sahabat Nabi, melainkan tabi’in. Juga ada nama Muhammad bin Basyir Al-Bahdadi, yaitu Muhammad bin Basyir bin Marwan bin ‘Atha` Al-Kindi Al-Wa`izh. Biografinya disebut oleh Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (2/98-99) dan menukil dari Ibnu Ma’in yang mengatakannya, “Tidak tsiqah”, juga Ad-Daraquthni yang menyebutnya, “Tidak kuat dalam hadits.”

Dengan demikian hadits ini teranggap sangat lemah. Wallahu a’lam.

  1. Diriwayatkan:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَ صُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَ عَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَ دُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَ ذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
”Tidurnya orang puasa itu adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya akan dilipatgandakan, doanya terkabul dan dosanya terampuni.”

Status hadits: Sangat lemah

Keterangan:
Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Hadits ini sendiri diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam ”Syu’ab Al-Iman” dari Abdullah bin Abu Aufa. Dalam sanad Al-Baihaqi ada nama Sulaiman bin ’Amr An-Nakha’i yang dianggap pemalsu hadits. (Lihat: As-Silsilah Adh-Dha’ifah, no. 4696 dan Faidh Al-Qadir, karya Al-Munawi, juz 6 hal. 378, no. 9293).

Dengan demikian sanad ini palsu.

Tapi hadits ini ada syahid (penguat)nya dijelaskan oleh Syekh Al-Albani secara panjang lebar dalam As-Silsilah Adh-Dha’ifah juz. 10, hal. 230 – 231. Intinya, derajat hadits dengan redaksi di atas tidak sampai palsu, melainkan hanya dha’if jiddan (sangat lemah). Wallahu a’lam.

  1. Hadits:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرانِ
”Barangsiapa bergembira akan datangnya bulan Ramadhan, niscaya Allah akan mengharamkan jasadnya dimakan api neraka.”

Status: Tidak ada asalnya.

Keterangan:
Hadits ini terdapat dalam kitab Durratun Nashihiin, karya Utsman Al-Khubawi yang terkenal memuat banyak hadits palsu dan sangat lemah, meski tak sedikit pula hadits shahih dalam kitab itu.

Berhubung hadits ini tidak bisa ditemukan dalam kitab-kitab yang mu’tabar, maka penulis berkesimpulan hadits ini palsu.

4.Hadits doa malaikat Jibril: ”Ya Allah tahan puasa (jangan terima) umat Muhammad bila memasuki Ramadhan dia belum meminta maaf kepada orangtuanya, atau istri belum minta maaf kepada suami, atau orang-orang terdekat….”

Hadits ini yang belakangan berkembang, setelah mencari-cari ternyata hadits ini tidak ada asalnya. Besar kemungkinan ini diucapkan oleh orang yang hafalannya salah kemudian diforward ke teman-temannya baik via internet maupun mulut ke mulut.

Memang ada hadits doa malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tapi redaksinya bukan demikian, melainkan sebagai berikut:
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallm naik ke mimbr lalu berkta, “Amin, 3X”. Para sahabat bertanya. “Kenapa Anda berkata ‘Amin,(3X), Ya Rasulullah?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril datang kpdku dan berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yzng jika disebut nama engkau namun ia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin’, lalu Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tapi keluar dari bulan tersebut tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!’, maka aku berkata : ‘Amin’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorng yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tapi justru tidak memasukkan ia ke surga dan katakanlah amin!’ maka kukatakan, ‘Amin”.

Hadits ini shahih sebagaimana dijelaskan oleh Al-Haitsami dalam kitab Majma’ Az-Zawa`id. Perhatikan perbedaan redaksinya dengan yang pertama.

5.Hadits

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Kalau saja para hamba itu tahu apa yang terdapat di Ramadhan niscaya ummatku ini akan berharap Ramadhan itu terjadi sepanjang tahun.”

            Ini adalah potongan hadits yang panjang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya nomor 1886. Juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, no. 3361, Abu Ya’la dalam musnadnya, no. 5273, semua dari jalur Jarir bin Ayyub Al-Bajali, dari Asy-Sya’bi, dari Nafi’ bin Burdah, dari Abu (Ibnu) Mas’ud Al-Ghifari RA.

Jalur lain diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (22/388) melalui jalur Hayyaj bin Bistham, Abbad menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Abu Mas’ud Al-Ghifari RA.

            Hadits ini dha’if bahkan sebagian ulama mengatakannya palsu karena baik Jarir bin Ayyub Al-Bajali maupun Hayyaj bin Bistham adalah dua orang yang lemah dan tak bisa saling menguatkan karena kelemahan mereka termasuk parah. Bahkan Ibnu al-Jauzi memasukkannya dalam kitab Al-Maudhu’at (2/189) dan disetujui oleh Asy-Syaukani dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah (1/88).

Jarir bin Ayyub al-Bajali dianggap Yahya bin Ma’in “tidak ada apa-apanya”, Al-Bukhari menganggapnya “munkarul hadits”, An-Nasa`iy menganggapnya, “matrukul” bahkan Abu Nu’aim mengatakan dia memalsukan hadits. (Lihat: Mizan Al-I’tidal 1/391).

Abu Hatim mengatakan, “dhaiful hadits, munkarul hadits, ditulis haditsnya tapi tidak boleh dijadikan hujjah.”

Abu Zur’ah mengatakan, “munkarul hadits” (Lihat Al-Jarh wa At-Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim jilid 2, hal. 502-503).

            Sementara Hayyaj bin Bistham dikatakan lemah oleh Ibnu Ma’in dan Abu Hatim sedangkan Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud mengatakannya matruk. Ibnu Hibban mengatakannya biasa meriwayatkan hadits-hadits yang parah dari orang-orang tisqah. (Lihat Mizan Al-I’tidal 4/318, Al-Majruhin 3/96).

            Dengan demikian status hadits ini sangat lemah sehingga tak bisa dipakai meski dalam fadhilah amal. Wallahu a’lam.

Bersambung insya Allah.

Anshari Taslim, 11 Juni 2015.

______________________________________

Alhamdulillaah Ustadz Anshari posting artikel iniii… beliau Ustadz yang saia ngefans berat ama pembahasan ilmu hadits juga ushul fiqh.. oiya sama satu lagi fiqh, terutama fiqh muamalah…

baarakallahu fiihi

oiya beliau baru launching PO buku baru (meski sebenarnya sudah lama, namun makin dimantabkan dan dicetak ulang lagi). Dulu judulnya Shahih Fadhilah Amal, sekarang “Thariqus Shalihin”

mau? langsung ke fb blio sajaaa

thariqus shalihin

Advertisements

Obatilah Penyakit Itu

“Orang yang tidak mau mentadabburi al-Quran itu immaa dia kafir, immaa dia munafiq. Kalau bukan memang asli kafir, berarti muslim namun munafiq. Ga ada orang yang mukmin (benar-benar beriman) itu malas mentadabburi al-Quran.
Kalau misal dalam sebulan kita malas sekali mentadabburi al-Quran, berarti pasti qolbu kita ada titik-titik kemunafikan. Entah karena kita suka berbohong, entah karena kita suka mengingkari janji, entah karena kita berlaku fajir ketika terjadi sesuatu permasalahan, atau apapun dari sifat-sifat kemunafikan itu ada. Maka harus introspeksi diri.
Sifat kemunafikan itu musuh tadabbur al-Quran. Karena tadabbur al-Quran itu obat, munafik itu penyakit. Penyakit pasti tak mau ada obat yang masuk.”

🌾Ustadz Hasan al-Jaizy🌾
Pada kajian Tafsir Ibnu Katsir pukul 05.20 pagi tadi

IMG-20150320-WA0011

lagi-lagi kejleb…

T_T

Rumput, Ilalang, atau Rerimbun Pohon?

Tree_of_life_by_wtamas

Jangan mau menjadi rumput atau akarnya

Karena hanya akan diinjak

Jangan mau menjadi ilalang atau akarnya

Karena hanya akan ditebang

Jadilah pohon yang rimbun yang insya Allah bisa menaungi banyak orang di situ.

Rumput tak bisa menaungi siapa-siapa kecuali semut.

Dan tetaplah antum akan diinjak.

Ilalang tak bisa menaungi siapa-siapa kecuali ular.

Dan antum akan ditebas.

Tapi ketika antum menjadi pohon yang rimbun banyak ilmunya, antum bisa memberi manfaat kepada banyak orang manfaat tersebut bernilai pahala.

Maka “man salaka thoriqon yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallahu bihi thariqan ilal jannah”

Barangsiapa menempuh jalan menuju ilmu maka insya Allah lebih mudah ke syurga.. Insya Allah.

Sekarang ada beragam jalan menuntu ilmu, Namun tidak semuanya valid. Ada beberapa jalan yang itu hanya sementara saja, jalan instan. Kalau menempuh jalan instan, antum nanti tipis nanti batangnya.

Tapi kalau jalannya kuat dan bener-bener sabar antum mau punya batang yang kuat, akar yang kuat insya Allah. Dan itu kita harapkan terjadi pada kita semua. Insya Allahu ta’ala.

#Ustadz Hasan al-Jaizy#

perkataan Ustadz Hasan di kajian Tafsir al-Aisar Surah al-Qalam 17-33 pagi tadi.

*jleeeb bangeet*

gambar dari sini

Dirasat Sanad Hadits Ketiga Shahih Bukhari al-Jami’ (bag. 1) Kajian Nyantrend Weekdays


Audio kajian Shahih al- Bukhari al-Jami’ Nyantrend Weekdays oleh Ustadz Hasan Al-Jaizy masuk ke Hadits Ketiga, Dirasat Sanad.

IMG-20150403-WA0000

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ ـ وَهُوَ التَّعَبُّدُ ـ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ قَالَ ‏”‏ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ‏”‏‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ‏.‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ‏.‏ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ‏.‏ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ ‏{‏اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ‏}‏ ‏”‏‏.‏ فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ ‏”‏ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ‏”‏‏.‏ فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ ‏”‏ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي ‏”‏‏.‏ فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ‏.‏ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ ـ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ ـ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَبَرَ مَا رَأَى‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ ‏”‏‏.‏ قَالَ نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا‏.‏ ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ‏.‏

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.” Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”. Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu.

Catatan dari audio Kajian di atas:

Kita sedang mempelajari hadits yang sangat agung, panjang sekali. Hadits yang menceritakan tentang awal mula turunnya wahyu terhadap Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wasallam dan awal pengutusan Muhammad sebagai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat panjang. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah dari Urwah bin Zubair.

Dalam Shahih Muslim ada 6 sanad dan Imam Muslim meletakkannya menjadi 6 hadits. Dalam Shahih Bukhari ada 4 sanad dan Imam Bukhari meletakkannya menjadi 8 hadits dalam kitabnya tersebut.

Ada semacam kelembutan dalam menceritakan hadits ini.

Berikut Perawi Hadits ketiga tersebut:

  • Yahya bin Bukair

Beliau syaikhnya Imam Bukhari > ada 5 tempat di shahih bukhari dari hadits ini yang diriwayatkan dari Yahya bin Bukair

Seorang perawi guru Imam Bukhari, digunakan periwayatannya oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah.

Lahir 155 H (ada yang mengatakan 154 H). Wafat 231 H. Sezaman dengan Imam asy-Syafi’i.
Kunyah beliau Abu Zakariya. Beliau bernama Yahya, bapaknya bernama Abdullah, kakeknya bernama Bukair {seorang ‘alim diantara ‘ulama hadits}. Jadi nama aslinya Yahya bin ‘Abdillah bin Bukair. Imam Bukhari menisbatkan langsung kepada kakeknya (hal ini tidak masalah, seperti halnya Imam Ahmad bin Hanbal, Hanbal itu nama kakeknya).
Beliau seorang Quraisyi, namun bertempat tinggal di Mesir. Seorang Mufti Mesir, tsiqoh dan luas ilmunya.

Beliau meriwayatkan dari banyak ‘ulama. Diantara para ‘ulama yang beliau meriwayatkan dari mereka:

  • Imam Malik
  • Imam al-Laits bin Sa’d (masuk ke sanad hadits ke 3 ini)
  • Ibnu Majisyun
  • Ibnu Lahi’ah
  • Hammad bin Za’id
  • Ibnu Wahab

Dan banyak lagi.

Para ‘ulama juga banyak yang mengambil riwayat dari Yahya bin Bukair ini, diantaranya:

  • Imam Bukhari
  • Yahya bin Ma’in
  • Abu Zur’ah

Dll

Beliau adalah salah satu perawi al-Muwaththa’ dari Malik. Ada yang mengatakan bahwasanya Yahya bin Bukair ini mendengarkan al-Muwaththa’ dari Imam Malik 7 kali.

Kita akan melihat bagaimana perkataan para ulama hadits mengenai Yahya bin Bukair ini, apakah ada permasalahan terhadap Yahya bin Bukair:

Dikatakan oleh sebagian ulama diantaranya  Abu Hatim ar-Razy : “laa yuhtajju bih” >> tidak dijadikan hujjah (bermakna tidak termasuk dalam kategori perawi maqbul).
Bahkan yang lebih zhahir lagi dan ini yang diperbincangkan para ulama > Imam an-Nasa’i melemahkan Yahya bin Bukair. Mengatakan Yahya bin Bukair itu dha’if. Imam an-Nasa’i adalah salah satu dari ahli hadits yang sangat selektif dalam hal urusan jarh wa ta’dil dalam perawi. Ada yang mengatakan Imam an-Nasa’i lebih ketat dalam menyeleksi perawi dibandingkan Imam Bukhari namun ijtihad Imam Bukhari dalam memilah perawi lebih bagus.

Imam adz-Dzahabi dalam kitab Tarikh al-Islam. mengatakan: “saya tidak tahu apa yang membuat an-Nasa’i mendho’ifkan Yahya bin Bukair dan ini adalah jarh yang mardud (tertolak). Alasannya: syaikhaan (Imam Bukhari dan Imam Muslim) telah berhujjah dengan Yahya bin Bukair; dan aku tidak pernah mengetahui ada satu hadits pun yang diriwayatkan Yahya bin Bukair yang merupakan hadits munkar.”

Alasan ketiga ya jumhur ulama menerima, memuji dan mentsiqohkan Yahya bin Bukair. Jika ada satu atau dua ahli hadits yang berbeda dari pendapat jumhur maka diperlukan jarh mufassar untuk penguatan klaim tersebut. Alasan men-jarh nya apa harus ada. Dan dengan demikian wallaahu a’lam jarh imam an-Nasa’i tidak dianggap.

Ibnu Jauzi menyebutkan Yahya bin Bukair ini dalam kitab beliau Adh-dhuafaa wal matrukin > berarti dianggap dha’if.

Namun wallaahu a’lam pendho’ifan Yahya bin Bukair ini tidak dianggap. Wallaahu a’lam.

Yahya bin Bukair ini dalam hadits ketiga tersebut meriwayatkan dari Al-Laits bin Sa’d.

  • Al-Laits bin Sa’d

Beliau sepantara dengan Imam Malik dari segi hadits dan segi fiqh bahkan lebih baik dari Imam Malik seperti yang dikatakan Imam Syafi’i. Padahal Imam Syafi’i ini murid Imam Malik.

Nama beliau: al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahman al-Fahmi. Beliau penghuni Mesir (seperti halnya Yahya bin Bukair tadi). Seorang tabi’ut tabi’in. 94 H – 175 H. Satu generasi dengan Imam Malik, bedanya Imam Malik di Madinah beliau di Mesir. Kunyahnya Abul Haarits. Cerita tentang beliau ini sangat banyak. Termasuk imam fiqh yang tidak dikenangkan madzhab beliau.

Berikut perkataan para ulama tentang beliau:

Imam asy-Syafi’i berkata: “Saya merasa sangat menyesal tidak bertemu dengan Imam al-Laits, beliau lebih faqih daripada Imam Malik.”

Bahkan muridnya yaitu Yahya bin Bukair tadi (yang juga murid Imam Malik) berkata “al-Laits lebih faqih daripada Malik, namun nasib lebih berpihak pada Imam Malik”

Dan jika di dalam kitab2 Imam Malik ditemukan kalimat “sami’tu man ardho bi ‘ilmihi” (aku mendengar dari orang yang kuridhoi keilmuannya) menurut Ibnu Wahab (murid Imam Malik), tidak lain yang dimaksud adalah Imam al-Laits.
Ibnu Wahab juga berkata seandainya Allahu subhanahu wata’ala tidak membantuku melalui al-Laits dan Malik maka aku akan tersesat.

Imam Ahmad: “Imam al-Laits banyak ilmunya, shahih haditsnya, tidak ada diantara penduduk Mesir yang lebih kredibel daripada beliau”

Beliau berhaji pada tahun 113 H, sekitar 20 th. Ketika berhaji itu bertemu dengan banyak ulama. Belajar, berguru dan meriwayatkan hadits pada ulama yang ada di sana. Diantara ulama yang beliau mencari ilmu darinya ketika berhaji: Atho’ (tabi’in), Nafi’, Ibnu Syihab az-Zuhri.

Dalam sanad hadits ketiga ini antara al-Laits dan Ibnu Syihab ada orang lain. Berarti ketika haji tersebut Ibnu Syihab tidak memperdengarkan hadits tersebut ke Al-Laits.

Harfalah (murid Imam Syafi’i): “Imam Syafi’i berkata Imam al-Laits lebih berittiba’ pada atsar daripada Imam Malik”

Lalu kenapa Imam al-Laits tenggelam namanya, karena tidak ‘diangkat’ (dipopulerkan) warisan ilmunya oleh murid-muridnya. Padahal murid2nya banyak.

Al-Laits tiap hari memiliki 4 majelis:

  • Majelis pertama itu khusus untuk shulthon (jadi beliau ulama daulah juga). Jika beliau mengingkari siapapun dalam pemerintahan beliau langsung mengirim surat.
  • Majelis kedua untuk ashabul hadits (takhosus orang yang ingin mendapatkan hadits dari beliau)
  • Majelis ketiga untuk masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya (awam bertanya; ahli menjawab)
  • Majelis keempat yang berkaitan dengan hajat manusia keumuman yang tidak ditanyakan kepada beliau.

Imam al-Laits termasuk orang yang kaya, dalam setahun 80 ribu dinar income beliau. Qutaibah bin Sa’id (guru Imam Bukhari, murid Imam Al-Laits) berkata: “Al-Laits tiap shalat 5 waktu pergi ke masjid jami’ dengan kendaraan”

Beliau bersedekah tiap hari kepada 30 orang miskin.
Beliau seorang ‘karnivorian’ >> selalu makan daging. Abdullah bin Sholih: “Saya bersahabat dengan al-Laits sepanjang 20 tahun, beliau tidak mau makan siang maupun makan malam kecuali bersama manusia makannya (makan bareng-bareng) dan beliau tidak mau makan kecuali dengan daging melainkan saat sakit.”

 bersambung…

  IMG-20150403-WA0002IMG-20150403-WA0001

NB: gambar diagram perbandingan sanad ini, dikumpulkan dari 15 sanad dari Imam Muslim dan Imam Bukhari rahimahumallah.

#entah pengen nulisin ini di blog, soalnya kajian tadi pagi ngena banget.. ahay ini dia sosok Imam Al-Laits rahimahullah.. yang sering sekilas Ustadz sampaikan kalau mencontohkan tokoh fiqh yang madzhab fiqhnya tidak sampai pada kita, padahal sangat bagus.

dan di kajian-kajian sebelumnya sering tertohok dengan kalimat “katanya ingin menjalankan al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salafush shalih, namun kenal nama-nama ulama salaf saja tidak apalagi profil dan pendapat-pendapatnya?!” Bohong banget itu sih ya *ketohok banget ceritanya* hehe.

Ilmu Musthalahul Hadits #1 [Ustadz Abu Asma Andre]

Image

ILMU MUSTHALAHUL HADITS
Definisi : Ilmu untuk mengetahui keadaan sanad dan matan sebuah hadits dalam fungsi untuk menerima atau menolak hadits

Subyek, tujuan dan sejarahnya

Subyek : sanad dan matan hadits
Tujuan : mengetahui mana hadits yang diterima dan mana hadits yang ditolak.
Sejarah :

  1. Asal dari ilmu didalam penukilan riwayat, adalah firman Allah Ta’ala :                              يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا “Wahai orang orang yang beriman apabila datang orang fasiq kepada kalian membawa berita, maka telitilah…( QS 49 : 6 ), dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :    نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فأداها كما سمعها  “Allah akan memberikan cahaya kepada orang yang mendengar ucapanku lalu ia menghafal dan meriwayatkannya sebagaimana yang dia dengar.” ( HR At Tirmidzi ). Dengan demikian Al Qur-an dan As Sunnah telah meletakkan dasar didalam penelitian sebuah riwayat, khususnya pada diterima atau ditolaknya pengkhabaran seseorang. Diantara yang kemudian menjadi sebab penelitian sanad adalah terkuaknya fitnah dan bid’ah, sehingga Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata : “Dahulu kami tidak pernah bertanya tentang sanad, akan tetapi ketika fitnah muncul maka kami katakan : sebutkanlah rijal rijal kalian.” ( Muqadimmah Shahih Muslim )
  2. Berdiri diatas hal tersebut, terdapatlah sebuah ilmu baru yang dikenal dengan jarh wat ta’dil, apakah sanadnya pengkhabaran tersebut bersambung atau terputus, apakah ada penyakit yang tersembunyi dan seterusnya.
  3. Disana juga dimulai pemahaman terhadap matan dan makna maknanya.
  4. Ulama mulai menulis ilmu hadits didalam berbagai kitab : diantaranya Ar Risalah yang disusun oleh Imam Asy Syafi’I, akan tetapi belum disusun secara menyendiri.
  5. Diabab 4 H, Ar Ramahurmuzi ( 36o H ) menulis secara khusus sebuah kitab dalam ilmu hadits dengan judul Al Muhaditsul Fashil Baina Ar Raawii Wal Waa’iy

Karya ilmiah seputar ilmu hadits

  1. Al Muhaditsul Fashil Baina Ar Rawii Wal Wa’iiy : Ar Ramahurmuzi ( 360 H )
  2. Al Ma’rifatul Uluumul Hadits : Al Hakim An Naisaburiy ( 405 H )
  3. Al Mustakhraj ‘Ala Ma’rifatul Uluumul Hadits : Abu Nu’aim Al Ashbahaaniy ( 430 H )
  4. Al Kifaayah Fi Ilmi Riwaayah : Al Khathib Al Baghdadi ( 463 H )
  5. Al Jami Li Akhalaqir Rawii : Al Khathib Al Baghdadi ( 463 H )
  6. Al Ilmaa ‘Ala Ma’rifah Fi Ushul Riwaayah : Al Qadhi Iyadh ( 544 H )
  7. Maa Laa Yasa’ul Muhadits Jahluhu : ‘Umar bin Abdul Majid ( 580 H )
  8. Muqadimmah Ibn Shalah : Abu Amr ‘Utsman bin Abdurrahman ( 643 H ) Dari Muqadimmah Ibnu Shalah maka ulama ada yang mensyarah, meringkas, membuatnya sebagai nazham dan semisalnya.
  9. Nukhbatul Fikr : Al Hafidz Ibnu Hajar ( 852 H )
  10. Tadribur Raawii Fii Syarh Taqriib An Nawawi : As Suyuthi ( 911 H ), dan lain lain.

Maraji’ : Tadribur Raawii 1/52, Taisir Musthalahul Hadits 7.

-abu asma andre-

file pdfnya bisa didownload sini

sumber dari grup Mendekatkan Hadits dan Sunnah ke Hadapan Ummat

Jarh Wat-Ta’dil

Download Kajian Kitab Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits oleh Al Ustadz Dzulqarnain

Catatan Pelajaran Fiqih, Pertemuan Ke-1

paling inget di pertemuan ini adalah bagian..
kalo menurut syaikh as-sa’di rahimahullaah..
air hanya dibagi menjadi 2 jenis..
air yang thahuur.. (suci dan menyucikan) dan air najis..
kalau seperti teh itu, merupakan air thahuur yang kehilangan sifat mutlaknya..
jadi tetap suci hanya tidak bisa dipakai untuk bersuci.. =D

Kajian Islam al-Mubarok

images (2)

بســــــــم الله الــــرحمـــــن الـــــرحيم

Pelajaran Fiqih Ibadah [1]

Oleh: Widodo, santri Ma’had al-Mubarok angkatan Ke-1

Pembicara: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikalhafizhahullah

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Ta’ala semata, kami memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada penutup para nabi yaitu nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  beserta keluarga, dan para sahabatnya yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya.

View original post 621 more words

Zakat Fithri dengan Makanan Pokok …

yap.. bukan dengan uang..
jadi kalo diminta ngumpul dalam bentuk uang, jangan mau yah.. ehehehe.. #NtMs
mending pake beras noh yang di rumah.. hihihi =D
*lirik karung beras
*ngereblog postingan tahun lalu yang penting buat sekarang.

Tipongtuktuk

Syaikh Abu Ishaq alHuwainiy ditanya:
Apakah zakat berbuka (zakat fitrah) itu ditunaikan dengan mengeluarkan makanan ataukah uang?

الصحيح الراجح عند أكثر العلماء عند أصحاب المذاهب الثلاثة عند مالك والشافعي وأحمد أنها تخرج من قوت أهل البلد وهم يرون أن من أخرج مالاً لا يجزئه ذلك وعليه أن يعيد إخراج زكاة الفطر مرة أخري ، وكان الصحابة أصحاب أموال وليس كما يدعي البعض أنهم لم يكن عندهم أموال ومع ذلك ما ندبهم رسول الله_ صلي الله عليه وسلم_ ولا أمرهم بإخراج المال ، إنما كما قال بن عمر في الحديث المعروف (فرض النبي صلي الله عليه وسلم زكاة الفطر على كل حر وعبد ذكر وأنثي صغير وكبير صاع من تمر أو صاع من شعير) ، فأنت إن لم تكن صاحب زرع حتى تخرج شعير لكن أنت تشتري بهذا المال الزكوات من مطعوم أهل البلد ثم تخرجه بعد ظهور هلال العيد .

Syaikh Abu Ishaq al-Huwainiy menjawab:

Yang shahih lagi rajih menurut…

View original post 440 more words

Daurah Nasional Pembinaan Ilmuwan Islam #DNPII Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan

Daurah Nasional Pembinaan Ilmuwan Islam #DNPII
Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan
==============================================
3 – 5 Juli 2013
Gedung A.R. Fachruddin B
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Periode Pendaftaran
18 Juni – 1 Juli 2013

Fasilitas untuk 3 hari 2 malam,
> Makalah
> Sertifikat
> Penginapan
> Seminar Kit
> Dokumentasi
> Makan + Snack
==============================================
Kontribusi (hanya) Rp150.000
Pendaftaran Online: http://bit.ly/daurah1434
Kuota hanya untuk 150 peserta (putra/putri)

Rekening Pendaftaran
Bank Syariah Mandiri
a/n Gani Darmawan
No Rek. 7045715226

Konfirmasi Transfer
Gani 0896 975 946 37
==============================================
Insyaallah akan dibersamai oleh:
Asep Sobari, Lc.
Penerjemah Buku “Hakadzaa Zhahara Jil
Shalahuddin wa Hakadzaa ‘Aadat al-Quds”

Ridwan Hamidi, Lc., M.A.
Dosen mata kuliah Agama Islam UGM
serta Pengasuh Ponpes Al-Madinah

Dr. Adian Husaini, M.A.
Ketua Program Doktor Pendidikan Islam
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Dr. Adnin Armas, M.A.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
Direktur Eksekutif INSISTS Jakarta

Hamid Fahmy Zarkasyi, Ph.D
Direktur Center for Islamic and Oriental Studies
Institute Studi Islam Darussalam Gontor

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud
Director of Center for Advanced Studies
on Islam, Science and Civilisation (CASIS)
Universiti Teknologi Malaysia
==============================================
Materi Daurah:
> Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia
> Dari Pendidikan Islam Menuju Kebangkitan
> Kajian Pagi (Adab Menuntut Ilmu)
> Worldview (Pandangan Hidup) Sebagai Asas Pendidikan
> Permasalahan Ummat dan Solusi Pendidikan
> Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed Naquib Al-Attas
> Pendidikan Islam, Filosofi, dan Praktiknya
==============================================
“Mendidik individu-individu Muslim menjadi manusia
yang beradab ialah cara terbaik untuk mengatasi
berbagai persoalan yang ada hari ini.

Persoalan politik, ekonomi, hukum, kebudayan, tentu
pula harus diselesaikan. Akan tetapi menyelesaikan
persoalan di tingkat pucuk (dedaun), tidaklah akan
berarti jika akar-akar pohon itu telah busuk.”
==============================================
Ramadhan Di Kampus 1434 H UMY
SMS Center: 0896 713 78781
==============================================
Simpan dan bagikan link di bawah ini,
FORM: http://bit.ly/daurah1434
POSTER: http://bit.ly/posterDNPII
INFO: http://bit.ly/teksDNPII
RUNDOWN: http://bit.ly/rundownDNPII

BERITA DUSTA DAN BATIL BAHWA UMAR BIN KHOTHTHOB PERNAH MENGUBUR HIDUP-HIDUP ANAK PEREMPUANNYA DI MASA JAHILIYYAH… WASPADALAH…WASPADALAH !!!

wiih.. nemuuu.. hehe.. waspadalah…

ABU FAWAZ ASY-SYIRBOONY

20130206-224028.jpg
(*) Masalah 302: BERITA DUSTA DAN BATIL BAHWA UMAR BIN KHOTHTHOB PERNAH MENGUBUR HIDUP-HIDUP ANAK PEREMPUANNYA DI MASA JAHILIYYAH… (WASPADALAH…WASPADALAH !!! )

Dijawab oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari member Majlis Hadits Akhwat 20:

Ada pertanyaan dari teman, riwayat yang menceritakan tentang masa lalu sahabat umar bin khaththab bahwa beliau pernah mengubur hidup2 anak perempuannya dimasa jahiliyah, apakah riwayat itu shohih?

Jawab:   

View original post 838 more words

Hidup Denganmu, Mati Bersamamu

Image

“Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”

emang sepertinya lebih banyak yang ga nyadar kalo dirinya bodoh ya, dibanding yang sadar kalo bodoh. etapi fajar nyadar kalo bodoh koq.. cuman bukan urusan yang kek di lirik lagunya Noah tadi ntu yak.. plis deh.. hahaha

kemarin ga sengaja liat di tipi lagu ini, denger isi liriknya trus bengong.. kesian amat kalo ada yang begitu beneran.. sebegitu gila dan bodohnya plus ga dimengerti dan ga disadari.. hanya karena seseorang.. cuma gegara manusia.. aih.. jangan sampe deh ya.

Tulisan ini bukan mau ngebahas ntu.. tapi mau ngebahas sebuah cerita tentang.. eng ing eng.. “hidup denganmu, mati bersamamu” eeeaaa
*halah ini sih udah ditulis di judul.. haghag..

Ini sebuah kisah yang diceritain ustadz Sholihuddin Al-Hafidz.. pas kuliah shubuh waktu i’tikaf di Jogokariyan. Kenapa baru cerita sekarang?! Ya gegara lagu ntu, jadi inget lagi isi kuliah shubuh ini.. hehehe.. Ustadz dapat kisah ini ketika beliau jadi imam tarawih di Masjid agungnya daerah Minomartani (utara terminal concat). Tarawih di momen spesial itu khusus mengundang Ustadz Ahmad Al Habsyi sebagai penceramah dan diimami ustadz Sholihuddin dengan 1 juz tarawihnya..manteb dah.

Ustadz Ahmad Al Habsyi di kesempatan itu memberikan sebuah cerita nyata tentang 3 orang santri dari pondok pesantren yang blio asuh. Beliau memiliki pondok pesantren yang cukup jauh dari kota. Di situ mendidik para penghafal-penghafal quran yang masih belia. Pada suatu ketika ada perlombaan semacam MTQ begitu, sehingga harus mengirimkan perwakilan santri-santrinya untuk mengikuti lomba tersebut.

Akhirnya dipilihlah 3 orang anak mengikuti acara tersebut. Anak pertama memiliki hafalan 10 juz, yang kedua 20 juz dan yang ketiga hafal keseluruhan Al-quran. Untuk menuju kota dari pondok itu, mereka harus menggunakan transportasi perahu karena harus melalui sungai. Tibalah hari ketika mereka berangkat dan menaiki perahu, qardarallah perahu yang menjadi sarana perjalanan mereka mengalami kecelakaan dan mereka tenggelam.

Tim SAR pun melakukan pencarian para korban tenggelam termasuk 3 anak ini. Sehari, dua hari, bahkan tiga hari mayat mereka belum ditemukan. Hingga sepekan akhirnya tim SAR menemukan jasad ketiga anak ini. Anak pertama yang hafal 10 juz, ditemukan dalam kondisi sangat baik tak seperti mayat tenggelam pada umumnya yang menggembung, bengkak atau bahkan membusuk. Tidak sama sekali. Seperti baru tertidur saja, dan indahnya dia tersenyum. MasyaAllaah.. *merinding. Dan anak kedua yang hafal 20 juz dalam kondisi yang hampir sama ditambah aroma harum yang ada pada dirinya..

Lalu bagaimana dengan anak yang kertiga. Hampir sama juga, tapi ada satu hal yang menggetarkan.. dia menggenggam erat al-quran nya. di dekap di dadanya. Tim SAR pun tak bisa melepas Al-quran dari jasad bocah itu. Seolah-olah ingin mengabarkan pada dunia, ia hidup bersama al-quran dan matipun dengannya.. MasyaAllah.

Ketika ibu dari anak ini hadir dan melihat kondisi sang anak ia pun menangis haru dan tersenyum, lalu berkata kepada jasad anak itu.. “Nak, ibu ridha atas apapun ketetapan Allaah, titip salam untuk rasulullaah ya Nak” Dan tiba-tiba mushaf itu bisa terlepas dari genggaman sang anak, sehingga jenazahnya bisa dimakamkan. *huaaa ga terasa ni air mata meleleh-leleh dengerin kuliah Shubuh kali itu. Bergetar maluuu. Mungkin itu kuliah shubuh paling mengharukan diantara 10 hari kami di situ. Banyak yang mengusap air matanya, terdiam berdo’a.

Tentu lahir dari ibu yang luar biasa, anak pengafal quran ini.. Seperti biasa masjid Jogokariyan, saat sholat Shubuh selalu banyak jama’ahnya, beda tipis lah ama pas sholat tarawihnya. Sampe bawah pelataran musti digelar tiker. Dan memang didominasi ibu-ibu. Hingga ustadz Sholihuddin pun menyapa ibu-ibu di situ, dan semua jama’ah tentunya. Siapa coba yang ga mau punya anak-anak seperti itu? Yang hidupnya bersama al-quran dan matipun akan dibersamai quran, insyaAllaah..beroleh syafaatnya, pembelaannya.. Maka mari didik anak-anak kita dengan qur’an. Aamiin.. Semoga ya Ustadz.. semoga..

*keknya baru pernah cerita ini ke 1 orang doang.. hoho..
*masih tetep merinding dan tertampar mengingat kisah ini
*menasihati diri sendiri..

#seperti biasa males mbaca lagi apalagi ngedit.. hehehe. langsung posting.. qiqi *dudul

Kebodohan yang Menyibukkan, Hawa Nafsu yang Menindas …

adheeeem mbaca ini.. *berasa kumat mau meweknya.. *halah..

“Sejak aku memahami manusia, aku tak lagi peduli akan orang yang memujiku, tidak pula terhadap orang yang mencelaku, karena aku tidak melihat manusia kecuali orang yang memuji dengan berlebih-lebihan atau orang yang mencela dengan berlebih-lebihan.” [Malik bin Dinar]

“celaan orang berilmu adalah nasihat kepada Sunnah dan kaum muslimin, celaan orang bodoh dan pengikut hawa nafsu adalah fitnah dan kezaliman terhadap Sunnah dan kaum muslimin …” [bang Hendra] *jleeebb

Tipongtuktuk

celaan

Kebodohan seringkali mendorongku untuk mencela seseorang secara zalim –tentu saja lantaran pemahamanku yang buruk, sementara hawa nafsu membuatku lalai dari ilmu dan malah bersibuk-sibuk mengumpulkan kabar-kabar yang katanya adalah katanya; seorang guru mengatakan, celaan orang berilmu adalah nasihat kepada Sunnah dan kaum muslimin, celaan orang bodoh dan pengikut hawa nafsu adalah fitnah dan kezaliman terhadap Sunnah dan kaum muslimin …

 

***

*

 

Asy-Syaikh ‘Ali binHasan bin ‘Ali bin ‘Abd al-Hamid al-Halabi al-Atsari hafizhahullah

Dari sini: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=21942

قال الشيخعلي بن حسن–حفظه الله:

 

Asy-Syaikh ‘AlibinHasanhafizhahullah– berkata:

 

روَى أبو نُعَيم في «حِلية الأولياء»، وابنُ عساكِر في «تبيين كذب المُفتري»، والبيهقيُّ في «الزُّهدِ الكَبير»، عن الرّبيعِ بنِ صَبِيحٍ، قال: قُلتُ للحسنِ: إنَّ -ها هُنا- قوماً يتتَبَّعُونَ السَّقَطَ مِن كلامِك؛ لِيجِدُوا إلى الوَقيعةِ فيكَ سَبيلاً! قال: لا يَكبُرُ ذلك عليك! فقد أطْمَعْتُ نَفسي في خُلودِ الجِنان، فطمِعَت وأَطْمَعْتُها…

View original post 465 more words

Tingkatan dan Tahapan Tazkiyatun Nafs

*kangeeeeen jogjaaaa.. ='(

nCes_Chan

Kajian Jum’at Pagi
25 Januari 2013
Tema : Tazkiyatun Nafs #2

Oleh : Ustadz Sholihun

Tingkatan dan Tahapan Tazkiyatun Nafs
heart_cloud
Berbicara tentang tingkatan Iman itu memiliki derajat,dan derajat keimanan itu sesuai dengan seseorang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan, hanya saja tidak seorangpun tahu mengetahui derajat keimanannya di sisi Allah karena itu hanya hak –Nya Allah swt. Ibn ‘Athoilah memberikan pandangan bagaimana mengetahui derajat iman seseorang, tingkatan-tingakatan iman ini dapat dilihat dari
1. sur’atul istjabah — respon seseorang ketika menghadapi kebaikan, tidak terburu-buru menjalankan perintah dan tidak menunda melaksanakan kebaikan. Ada kesempatan ia langsung mengambil kebaikan itu.
2. kebencian dia terhadap keburukan sebagaimana kebencian ia sekiranya ia dilemparkan ke api neraka. Sehingga berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya, jangankan berfikir terbetik dalam hati pun tidak, karena keburukan itu dianggap sebagai neraka.
Al Hujurat : 7
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah…

View original post 1,060 more words

Doa Agar Terhindar dari Banjir

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan tidak di atas kami.”

via Doa Agar Terhindar dari Banjir. [barusan baca di Fimadani]

*jadi teringat oleh-oleh dari ustadz Lutfi, pas ke tempat blio kami dapet ‘bonus’ ngehafal do’a ini.. =D berkesan sekali.. pulang ke Magelang langsung dipraktekin.. alhamdulillah beberapa kali ‘manjur’ =)

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu « Efrialdy’s Blog

*ngulang reblog karena yang tadi masuk ke reader aneh.. =D

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu

Click to visit the original post

Posted on 26 Mei 2012

Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita telah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

via Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu « Efrialdy’s Blog.

1. Tentang doa selamatan kematian 7, 40, 100 dan 1000 hari

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian pada hari yang ditentukan diatas tersebut bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) maupun Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia (Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192). Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samsara (menitis/reinkarnasi).

Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi :

Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”.

Sedangkan penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari (hari 1,7,4,….1000) terdapat pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi:

 “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.”

2. Tentang selamatan yang biasa disebut Genduri (Kenduri atau Kenduren)

Genduri merupakan upacara ajaran Hindu. Masalah ini terdapat pada kitab sama weda hal. 373 (no.10) yang berbunyi:

Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.

“Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan.

Juga terdapat pada kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’ dan pada Upadesa hal. 34, yang isiya:

a. Dewa Yatnya (selamatan) Yaitu korban suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling-eling) dengan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini (unggahan).

3. Tentang upacara untuk wanita hamil ( Telonan, Mitoni dan Tingkepan)

Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarkat adalah tradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana (garba : perut, Wedana : sedang mengandung). Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan/sesaji  Telonan, Mitoni, Tingkepan.

Intisari dari sesajinya adalah (terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46) :

1.  Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip)

2.   Sambutan, yaitu upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) pada si jabang bayi

3.  Janganan, yaitu upacara suguhan terhadap “Empat Saudara” (sedulur papat) yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu : darah, air, barah, dan ari-ari (orang Jawa menyebut  kakang kawah adi ari-ari)

Hal ini dilakukan untuk panggilan kepada semua kekuatan-kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada ‘Saudara Empat” yang bersama-sama ketika sang bayi dilahirkan, untuk bersama-sama diupacarai, diberi pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu dijaga oleh unsur kekuatan alam.

Sedangkan upacara terhadap ari-ari, ialah setelah ari-ari terlepas dari si bayi lalu dibersihkan dengan air yang kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil atau guci. Ke dalamnya dimasukkah tulisan “Aum” agar sang Hyang Widhi melindungi. Selain itu dimasukkan juga berbagai benda lain sebagai persembahan kepada Hyang Widhi. Kendil kemudian ditanam di pekarangan, dikanan pintu apabila bayinya laki-laki, dikiri pintu apabila bayinya perempuan.

Kendil yang berisi ari-ari ditimbun dengan baik, dan pada malam harinya diberi lampu, selama tiga bulan. Apa yang diperbuat kepada si bayi maka diberlakukan juga kepada Saudara Empat tersebut. Kalau si bayi setelah dimandikan, maka airnya juga disiramkan kepada kendil tersebut. (Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh : Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007)

 *****

Dengan beberapa contoh kasus diatas cukup jelas bagi kita bahwa tradisi-tradisi tersebut sebenarnya berasal dari ajaran agama Hindu. Pada awalnya langkah akulturasi ini dilakukan para ulama pelopor penyebaran Islam di Indonesia (Wali Songo) dengan maksud agar masyarakat Indonesia – yang awalnya memang beragama Hindu – lebih mudah untuk menerima Islam. Namun strategi dakwah ini tentu tidak berhenti sampai disana saja. Keislaman seperti itu butuh ‘pemurnian’ karena seperti sabda Rasulullah :

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).

“Sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad sholullah alaihi wasalam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”(HR Abu dawud , an-Nasa’i, Akhmad)

Baca : Mengapa Islam Bersikap Keras dalam Masalah Bid’ah?

Sebagian saudara-saudara muslim kita mungkin tetap bergigih mempertahankan pencampuran (senkretisasi) ritual hindu –islam tersebut dengan dalih untuk menghormati kebijaksanaan para leluhur/nenek moyang. Namun sebagai muslim yang baik apakah kita akan lebih memegang perkataan nenek moyang kita daripada apa-apa yang di perintahkan Allah dan RasulNya?

Allah berfirman :

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs Al Baqarah : 170)

Kita tentu tak mau agama kita yang mulia ini mengalami nasib serupa seperti agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen) dimana alasan adat budaya telah mengambil alih dalil-dalil utama kitab suci sendiri. Karena alasan menghormati leluhur dan budaya lokal itulah kenapa umat kristiani sampai hari ini masih memperingati 25 Desember (hari kelahiran  dewa matahari bangsa Romawi)  itu menjadi hari kelahiran Yesus. Baca : Asal-usul Penetapan 25 Desember Sebagai Hari Kelahiran Yesus

Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs Al Baqarah : 42)

Allah menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah?

Selanjutnya Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.(Qs. Albaqarah : 208).

Allah menyuruh kita dalam berislam secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Setengah Islam setengah Hindu.

 *****

Karena seperti yang telah umum diketahui bahwa tradisi-tradisi Islam diatas banyak dilakukan oleh masyarakat Islam yang mengaku dari kalangan nahdliyin (NU), maka kami coba kutipkan beberapa fatwa ulama NU untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan NU tentang pencampuran  (sinkretisasi) ritual islam-hindu ini.

1. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 1 

Keputusan Masalah Diniyyah No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926

Tanya :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

Jawab :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. Tapi banyak mudharatnya .

 2. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 5 

 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M.
Lihat halaman : 58.

Tanya :

Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri upacara peringatan bulan ke tujuh dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?

Jawab :

Ya, perbuatan tersebut hukumnya haram karena termasuk tabdzir.

3. Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 7 

Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M.
Lihat halaman : 71.

Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya haram, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa’atnya.

Semoga jadi bahan perenungan bagi kita semua. Wassalam..

Tradisi Masyarakat Islam Yang Bersumber Dari Ajaran Hindu

sinkretisme.. yang berasal dari ajaran Hindu..

 

Efrialdy's Blog

Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita telah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

1. Tentang doa selamatan kematian 7, 40, 100 dan 1000 hari

Kita mengenal sebuah ritual keagamaan di dalam masyarakat muslim ketika terjadi kematian adalah menyelenggarakan selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 harinya. Disini kami mengajak anda untuk mengkaji permasalahan ini secara praktis dan ilmiah.

Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian pada hari yang ditentukan diatas tersebut bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) maupun Ijma Sahabat, malah kita bisa melacaknya dikitab-kitab agama hindu.

Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang…

View original post 1,321 more words

Hukum Jual Beli Dinar Menggunakan Fasilitas m-Dinar (Mobile Payment)

yang memilih investasi emas.. ini penting buat dibaca..
jangan sampai terjerumus ke riba… *ngelirik beberapa orang.. hehehe

PKJ 4.0

Pengertian m-Dinar (Mobile Payment)

m-Dinar merupakan salah satu produk tabungan dinar emas yang memiliki fungsi seperti halnya tabungan dalam sistem perbankan umum, baik yang syariah ataupun konvensional (ribawi).

Dari situs dinaremasku.com dijelaskan sebagai berikut:

Tabungan m-Dinar(Online Transactions Record) memungkinkan kita semua pengguna dinar untuk mencicil tabungan, tidak harus dalam kelipatan 1 dinar. Tabungan m-Dinar memiliki prosedur dan mekanisme yang sama dengan tabungan di bank syariah, dilakukan dengan akad mudharabah, jadi akan ada bagi hasil dari tabungan tersebut yang akan masuk secara otomatis setiap awal bulan, insyaAllah. Bedanya dengan tabungan bank, tabungan m-Dinar ini dalam satuan dinar, termasuk bagi hasilnya juga dalam satuan dinar.

Bukti kepemilikan Tabungan m-Dinar adalah berupa nomor rekening m-Dinar dan juga akan dapat buku tabungan m-Dinar, serta histori transaksi ataupun saldo tabungan dapat dipantau di situs http://m-Dinar.com/indo, sama seperti internet banking pada bank.

m-Dinar ini merupakan produk dari Koperasi Daarul Muttaqqiin yang digagas…

View original post 1,578 more words